All for Glory of Jesus Christ

Personal Touch

Pembahasan hari ini adalah mengenai “Personal Touch” atau hubungan personal dalam dunia bisnis dan dunia kerja. Saya yakin Anda pernah mendengar peribahasa berikut ini:

“Tak kenal maka tak sayang.”

Ya, dalam dunia kerja pun berlaku hal ini. Saya pernah mendapati seorang teman yang berkeluh kesah kepada saya karena merasa tidak terlalu diabaikan di tempat kerja. Kemudian setelah saya bertanya lebih lanjut, saya mendapati bahwa memang hubungan personal antara teman saya dengan rekan kerjanya kurang baik.

Hal ini bukan satu orang saja. Ada beberapa orang yang bercerita hal seperti ini. Memang hubungan kerja adalah hubungan yang sifatnya profesional. Begitu pula dalam bisnis. Dalam bekerja jika kita memperoleh rekan kerja dan bukannya sahabat itu wajar. Dalam bisnis jika kita memperoleh rekan bisnis dan bukannya sahabat itu wajar.

Namun seperti yang kita sepakati sebelumnya karena bisnis dan pekerjaan kita bukan hanya sarana mencari nafkah, bahkan lebih jauh dari itu adalah demi kemuliaan Tuhan (pelayanan), kalaupun kita tidak memperoleh sahabat di tempat kerja atau di tempat bisnis, tetap kita perlu mengembangkan hubungan personal yang baik.

Matius 7:12: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Jika Anda ingin suatu iklim berbisnis dan bekerja yang menyenangkan, jelas Anda perlu mengembangkan hubungan Anda. Untuk mengembangkan hubungan bisnis dan pekerjaan, Anda perlu diterima dan dimengerti. Untuk dapat dimengerti dan diterima, mengerti dan terimalah dahulu rekan-rekan bisnis dan rekan-rekan kerja Anda.

Ya, sejumlah orang ingin diterima dan dimengerti dalam bisnis dan pekerjaan, namun yang bersangkutan tidak menerima dan mengerti orang lainnya. Bukannya berpikir berubah malah mengharapkan orang lain yang berubah. Ingat: seluruh dunia tidak akan berubah hanya karena Anda mengharapkan demikian. Dunia baru akan berubah jika Anda yang berubah terlebih dahulu.

Perubahan apa yang perlu kita lakukan?

Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kita memang perlu berubah dahulu baru dunia berubah, namun bukan perubahan yang sesuai dunia ini. Dunia di sini berarti dunia bisnis dan pekerjaan karena konteks kita adalah mengenai dunia bisnis dan pekerjaan.

Saya pernah membaca mengenai jargon gaya katak dalam berenang. Berubah dalam hal hubungan personal bukan berarti menjilat atasan atau asal bapak senang (gaya tangan ke atas dalam gaya katak: menghormat). Berubah dalam hubungan personal juga bukan berarti menginjak bawahan (gaya kaki ke bawah dalam gaya katak: menginjak).

Saya beberapa tahun yang lalu pernah mendengar di radio Maestro ketika seorang pengusaha diwawancarai mengenai kesaksiannya dalam membangun bisnisnya. Lalu yang sangat membuat saya heran, ternyata banyak yang menelpon atau mengirimkan sms kepada radio tesrebut dan ternyata yang menelpon atau mengirimkan sms tersebut adalah pegawai di perusahaan tersebut.

Ternyata setelah diwawancarai lebih lanjut, Bapak ini memperlakukan pegawainya sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya pegawainya luar biasa loyal kepada perusahaan ini dan kepada Bapak ini.

Hal itu saya ketahui karena ada seorang satpam dari perusahaan tersebut yang menelpon dan memberikan kesaksian tentang pengusaha ini. Satpam tersebut menuturkan bahwa bapak pimpinan perusahaan ini sering mendatanginya hanya untuk menyapanya.

Suatu waktu satpam tersebut anaknya sakit dan membutuhkan biaya besar. Pada saat itu pengusaha  ini memang bertanya kabar satpamnya ini. Ketika mengetahui kabar tersebut, pengusaha ini langsung memberikan semua uang yang ada di dompetnya kepada satpam ini.

Sungguh mengharukan! Tidak heran kalau pegawainya sangat loyal kepada pengusaha ini dan kepada perusahaan tersebut. Iklim usaha dan bekerja yang positif itu merupakan salah satu hal yang mendorong orang untuk produktif dan efektif. Iklim usaha dan bekerja yang positif juga merupakan salah satu hal yang membuat pekerja betah tetap di perusahaan tersebut, walaupun mungkin perusahaan lain menawarkan gaji yang lebih besar.

Berubah menurut kehendak Tuhan dalam hal hubungan personal berarti berubah untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hal ini juga berlaku dalam hubungan personal Anda di dunia bisnis dan pekerjaan.

Kolose 3:10: dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

Seperti apakah manusia baru yang terus-menerus diperbaharui tersebut? Jawabannya adalah yang bertumbuh dalam firman dan yang hidup dituntun oleh Roh Kudus. Dalam hubungan personal di tempat bisnis dan pekerjaan, jika Anda merupakan manusia baru yang hidup dalam Tuhan, maka  pasti Anda akan tampak berbeda.

Bagaimana perbedaan tersebut? Jawabannya adalah di Buah Roh (baca “Buah Roh (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7)”). Saat Anda menghasilkan Buah Roh dalam kehidupan Anda, baik di kehidupan sehari-hari maupun di dunia bisnis dan pekerjaan, pasti hubungan personal Anda akan meningkat.

Jika hubungan personal Anda meningkat, jelas suasana bisnis dan kerja akan lebih menyenangkan dan kondusif. Jika suasana bisnis dan kerja lebih menyenangkan dan kondusif, jelas akan lebih mudah bagi Anda untuk melakukan peran, tugas, dan fungsi Anda dengan sebaik-baiknya dan efektif. Dengan kata lain, hubungan personal berperan penting dalam membentuk kesuksesan Anda di dunia bisnis dan kerja.

Hubungan personal bukan berarti jadi kolusi dan nepotisme. Profesionalisme kerja tetap harus terjaga. Bahkan Tuhan Yesus sendiri walaupun sangat luar biasa dalam hubungan personalnya, tidak menerapkan kolusi dan nepotisme.

Ketika Yakobus dan Yohanes meminta tempat di sebelah kanan dan kiri Tuhan di Surga (Markus 10:35-45), Tuhan Yesus tidak mengiyakan, padahal Yakobus dan Yohanes merupakan rasul yang paling dekat dengan Tuhan Yesus. Malah Tuhan Yesus menjawab:

Markus 10:40: Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

Jadi Tuhan Yesus pun walaupun hubungan personalnya sangat luar biasa, Ia tetap menjaga profesionalisme. Jadi bukan karena ada hubungan baik, bukan karena memang dekat, maka tempat terbaik diberikan. Jika Tuhan Yesus telah memberikan teladan demikian, sudah seharusnya kita sebagai murid-murid-Nya juga mencontoh hal tersebut.

Jadi, binalah “Personal Touch” yang positif di dalam bisnis dan pekerjaan Anda.

Amin.

Iklan

Comments on: "Personal Touch" (2)

  1. FB Comment from DHK:
    Benar bila dalam dunia kerja atau apapun kita tdk bs merangkul (dalam arti menjadikan sesama dgn sewajarnya) sesama rekan niscaya cepat ato lambat pasti akan timbul masalah!
    Spti cerita pengusaha yg mau memberi perhatian sdkt saja misal cuma…n menyapa bwhannya, dr cuman menyapa bg bwhan itu mrpkan kebanggaan tersendiri sbab dia mrsa diperhatikan oleh atasannya maka lambat laun timbul rasa simpatik dan loyal yg tinggi.
    Ibarat kita menabur benih yg baik ditmpt yg baik niscaya akan tumbuh baik pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: