All for Glory of Jesus Christ

Professional Attitude

Pembahasan hari ini adalah mengenai “Professional Attitude” atau perilaku profesional. Kemarin dalam “Personal Touch” saya sudah membagikan mengenai perilaku profesional Tuhan Yesus. Perilaku profesional Tuhan Yesus yang tidak menganggap hubungan kedekatan sebagai patokan untuk menetapkan orang terbaik.

Itu adalah salah satu contoh perilaku profesional. Jadi pemilihan orang terbaik, bukan berdasarkan kedekatan, kolusi, nepotisme; tapi memang berdasarkan kemampuan, pengalaman, loyalitas, dan kontribusi terhadap bisnis dan pekerjaan

Saya akan membahas contoh lain untuk perilaku profesional adalah dapat menjaga hati senantiasa. Menjaga hati berarti erat kaitannya dengan menjaga pikiran.

Amsal 4:23: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Berlaku profesional berarti Anda dapat bekerja secara jujur dan baik. Jangan sampai hati Anda dipenuhi ketamakan sehingga Anda melakukan hal-hal yang tidak benar. Jangan sampai hati Anda dipenuhi kebencian sehingga ingin menjatuhkan rekan bisnis atau rekan kerja. Jangan sampai hati Anda dipenuhi kemarahan, sehingga tidak dapat membedakan yang benar dan yang salah.

Contoh lain perilaku profesional: saat Anda memiliki permasalahan di rumah atau di manapun lalu di tempat bisnis dan tempat kerja Anda tidak menumpahkannya pada orang lain yang tidak tahu-menahu.

Maksud saya dengan menumpahkan itu bukan curhat atau konseling, tapi justru melampiaskan emosi Anda pada orang lain. Benar saat kita mengalami masalah di rumah atau di manapun, itu akan membuat kita merasa berat. Akan tetapi karena kita telah berkomitmen bahwa bisnis dan pekerjaan kita adalah bentuk pelayanan kita kepada Tuhan, jelas kita harus melakukan yang terbaik.

Menumpahkan emosi pada orang yang tidak bersalah ini dapat mengakibatkan kerusakan hubungan. Bahkan lebih dalam dari itu, orang yang bersangkutan dapat menjadi down, kecil hati, terluka, marah, atau malah jadi membenci. Ini adalah suatu rantai yang harus kita putuskan.

Jadi saat kita sedang memiliki permasalahan di luar tempat bisnis dan tempat kerja atau di tempat bisnis dan kerja, yang harus kita lakukan adalah datang kepada Tuhan.

Matius 11:28: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Ya, saat kita datang kepada Tuhan, Tuhan akan memberi kelegaan kepada kita. Ini merupakan resep yang sudah terbukti dari sekian ribu tahun lalu. Raja Daud merupakan orang yang sangat hafal benar dengan resep mujizat ini.

Mazmur 23:4: Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Resep kedua bila menghadapi masalah di luar tempat bisnis dan tempat kerja untuk tetap professional dalam bisnis dan tempat kerja adalah pengendalian diri.

Amsal 25:28: Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.

Ya, jika Anda tidak dapat mengendalikan diri dan cenderung melampiaskan emosi Anda pada orang yang tidak terlibat dalam permasalahan Anda, berarti Anda adalah orang yang kurang dapat mengendalikan diri.

Bahkan kalaupun Anda memiliki permasalahan dengan rekan bisnis ataupun rekan kerja sekalipun, tetap Anda tidak bisa melampiaskan emosi secara membabi buta. Pengendalian diri bicara tentang menyelesaikan masalah dengan emosi yang terkendali, pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, pada situasi yang tepat, pada orang yang tepat.

Anda boleh marah, tapi jelas harus terkendali. Jangan membabi buta! Intinya yang Anda inginkan adalah menyelesaikan masalah dan bukan hanya untuk membuat diri Anda lega. Jika Anda melampiaskan emosi secara membabi buta, mungkin Anda lega namun permasalahan sesungguhnya tidak selesai. Malah bisa jadi timbul masalah baru yang lebih besar dari permasalahan semula.

Solusi terbaik adalah dengan berprinsip saling mengasihi, yaitu mengusahakan win-win solution (solusi menang-menang). Jadi Anda dapat mengutarakan permasalahan, mengutarakan keberatan dan kekesalan Anda secara proporsional. Begitu pula dengan pihak yang membuat masalah dengan Anda dapat menjelaskan pandangan dari pihaknya dan memungkinkan terjadinya penyelasaian masalah bagi kedua pihak.

Yohanes 13:34: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Saling mengasihi ini kalau mau dijabarkan akan banyak dan panjang sekali, namun saya pikir cukup saya jelaskan satu itu saja. Penjelasan lain tentang kasih dan mengasihi telah dijelaskan dalam “All about Love (Part-2)”.

Saya akan membagikan tips berkaitan dengan pengendalian diri sehubungan dengan berlaku profesional. Saya pernah mengalami saat akan mengajar dan pada kesempatan lain saat akan presentasi di hadapan dosen pembimbing S2 saya waktu itu, saya menghadapi konflik dengan kekasih saya waktu itu. Bukan hanya konflik yang saya alami, tetapi bahkan sudah mengarah ke situasi genting, yaitu putus.

Tentu saja secara emosi, saya merasa berat, sedih, marah, dan berbagai perasaan lainnya, namun saya tahu saya sebentar lagi harus mengajar dan pada kesempatan lain saya harus presentasi. Oleh karena itu, saya membuka “kantung” imajiner saya, menyimpan sementara semua emosi pribadi saya, dan menutupnya sementara.

Saat mengajar dan juga saat presentasi saya berusaha tidak mengingat-ingat hal yang saya alami dan berusaha fokus dalam mengajar dan dalam berpresentasi.  Seperti yang saya pernah bagikan sebelumnya, saat mengajar merupakan saat yang mengasyikan bagi saya. Kondisi apapun yang saya alami, saat saya mengajar rasanya semua jadi terlupakan. Ya, puji Tuhan, Tuhan memberikan saya passion dalam mengajar. Begitu juga, saat presentasi puji Tuhan, Tuhan membantu saya melewati presentasi itu dengan baik.

Setelah selesai mengajar dan berpresentasi, saya membuka kembali “kantung” imajiner itu di rumah dan  mencoba untuk menyelesaikan permasalahan saya. Ya, hal ini berfungsi dengan baik bagi saya.

Pernah juga suatu kali ketika sudah tidak tahan, saya menangis dahulu saat tidak ada orang di situ. Setelah menangis saya merasa lega dan saya meminta kekuatan pada Tuhan untuk bisa kembali fokus. Ya, Tuhan tidak mengecewakan saya. Ia tidak pernah mengecewakan saya. Saya bisa kembali fokus mengajar walaupun permasalahan yang saya hadapi belum selesai.

Masih banyak contoh perilaku profesional yang dapat dibahas, namun intinya perilaku profesional itu dapat terjadi dengan cara: belajar dari Kristus yang telah memberikan teladan perilaku profesional terlebih dahulu, menjaga hati senantiasa, mengendalikan diri, dan saling mengasihi sehingga selalu memikirkan win-win solution.

Selamat berperilaku profesional.
Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: