All for Glory of Jesus Christ

Sebelum menceritakan kisah perjalanan saya bersama orang tua saya menuju Perancis dan empat negara di Eropa lainnya: Jerman, Belanda, Belgia, dan Italia; terlebih dahulu saya akan menuliskan ayat ini:

1 Korintus 2:9: Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Ya, ayat ini sungguh-sungguh terjadi dalam hidup saya. Saya tidak pernah bermimpi untuk mendapat kesempatan berjalan-jalan menuju lima negara di Eropa. Saya hanyalah orang sederhana dengan tidak banyak keinginan yang muluk-muluk.

Bisa mengajar orang untuk hidup benar sesuai dengan yang Tuhan inginkan itu sudah merupakan kebahagiaan bagi saya. Bisa menuntun orang yang sedang dalam masalah untuk bisa menang atas masalahnya dengan berpegang pada Firman Tuhan, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi saya. Bisa mendoakan orang, kemudian orang tersebut bisa mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya, itu kebahagiaan bagi saya.

Lalu bagaimana dengan berjalan-jalan ke luar negeri? Itu sama sekali di luar impian saya. Namun, ya! Itulah yang Tuhan sediakan bagi saya. Seorang kakak saya tinggal di luar negeri, Perancis tepatnya karena suaminya memang sedang ditugaskan di sana. Lalu ternyata perusahaan kakak ipar saya memberikan tiket pesawat pulang pergi bagi tiga orang keluarga yang didaftarkan untuk berkunjung ke sana. Lalu kakak dan kakak ipar saya menanggung segala akomodasi bagi saya dan orang tua kami selama di sana.

Ya, hal yang tidak pernah saya pikirkan, tidak pernah saya impikan Tuhan berikan bagi saya. Oleh karena itu saya bersyukur kepada Tuhan untuk kesempatannya yang indah. Saya juga bersyukur karena Tuhan menggerakkan kakak dan kakak ipar saya sehingga semua ini dapat terjadi.

Oleh karena itu sebelum menceritakan kisah perjalanan pada 20 Juni 2009, terlebih dahulu saya ucapkan syukur kepada Tuhan Yesus atas karunia ini. Tanpa Engkau, ini semua tidak mungkin terjadi. Terima kasih, Tuhan.

Lalu saya ucapkan juga terima kasih kepada kakak dan kakak ipar saya untuk kemurahan hati mereka. Sis and Bro, thanks for inviting us to go there. It’s a very great moment in my life. Thanks for your great heart. May God bless you more in coming years.

Saya mempersembahkan notes catatan perjalanan saya dari tanggal 15 Juli – 31 Juli 2009 untuk Ci July dan Ko Ferry. Once again, many thanks for both of you.

Saya akan memulai cerita saya dengan cerita saat kami mendaftar untuk membuat paspor. Untuk saya dan ibu saya, kami menggunakan jasa biro perjalanan untuk memudahkan. Setelah itu, karena paspor ayah saya masih berlaku beberapa bulan lagi dan untuk memperpanjang paspor ternyata dikenakan penalti, ayah saya menunggu beberapa waktu berselang untuk membuat paspor.

Karena melihat proses pembuatan paspor saya dan ibu saya sangat mudah, ayah saya memutuskan untuk tidak memakai jasa biro perjalanan dan mengurusnya sendiri ke kantor imigrasi. Saya menemani beliau saat itu.

Pada saat menunggu, tiba-tiba saya melihat ada secarik kertas pengumuman di dekat pintu masuk. Tulisan pengumuman itu memberitahukan bahwa saat di foto, setiap pelamar paspor tidak boleh mengenakan kacamata ataupun lensa kontak. Seketika saya menjadi panik.

Mengapa tiba-tiba saya menjadi panik? Karena saya mengenakan lensa kontak saat difoto. Setelah ayah saya selesai dengan proses pembuatan paspornya, kami menanyakan masalah foto tersebut ke petugas di imigrasi. Petugas itu menanyakan hal itu ke atasannya karena menurut petugas tersebut hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Saya semakin berdebar-debar. Lalu petugas itu mengatakan bahwa atasannya mengatakan tidak menjadi masalah dan semoga lancar-lancar saja di sana. Ayah saya kuatir karena pada perjalanan beliau beberapa tahun sebelumnya ke suatu negara lain bersama ibu saya, terdapat pemeriksaan mata. Penggunaan lensa kontak menyebabkan dapat ditolaknya orang yang bersangkutan karena data yang ada akan berbeda.

Namun kemudian saya berpikir, jika memang ini Tuhan izinkan saya yakin Tuhan akan mengantarkan saya selamat melewati pemeriksaan. Lalu setelah pembuatan paspor kami mendaftar untuk membuat visa. Untuk membuat visa, kami perlu mendaftar di internet terlebih dahulu untuk membuat janji pendaftaran. Setelah membayar untuk membuat janji pendaftaran, kami mendaftar lagi untuk melamar visa ke negara-negara di Eropa (disebut sebagai Visa Schengen).

Jadi dengan satu visa saja, untuk sejumlah negara yang termasuk dalam Schengen hanya dibutuhkan satu visa saja. Hal ini tentu saja memudahkan bagi setiap orang yang ingin berkunjung ke sejumlah negara di Eropa. Pada saat mendaftar di internet, untung sekali saya mencetak catatan pendaftaran untuk saya dan kedua orang tua saya. Padahal sebelumnya tidak ada informasi tersebut dari sejumlah informasi yang berhasil saya kumpulkan dari internet.

Lalu saya beserta kedua orang tua saya berangkat ke Jakarta untuk proses pengajuan permintaan visa Schengen di Kedutaan Besar Perancis. Tentu saja kami berdoa terus malam sebelumnya dan hari-hari sebelumnya. Saat sampai untuk melamar visa, ternyata dibutuhkan cetakan hasil pendaftaran. Puji Tuhan saya cetak dan dokumen itu kami bawa. Tadinya tidak akan saya cetak karena hasil cetakannya aneh (tidak WYSWYG – tidak What You See is What You Get, jadi hal yang tertera di layar komputer dengan yang dicetak di kertas berbeda).

Setelah itu, dibutuhkan copy dokumen untuk masing-masing orang pendaftar, jadi bukan satu keluarga saja cukup. Hal tersebut tidak diinformasikan dalam website sehingga ayah saya segera mencari tempat fotocopy terdekat.

Setelah itu ternyata dibutuhkan surat lahir kakak saya untuk menyatakan yang bersangkutan adalah anak dari orang tua saya. Kami seketika menjadi lemas karena itu berarti kami harus kembali lagi untuk mendapatkan surat lahir kakak saya.

Namun tiba-tiba saya mendapat gagasan untuk menghubungi kakak saya dan meminta kakak saya mengirimkan scan akta lahirnya lewat internet, itu saja sudah cukup merepotkan. Karena kami perlu mencari warnet terdekat untuk mengakses internet dan mencetak scan tersebut, saya tiba-tiba mendapat gagasan lain lagi.

Karena di dinding terdapat nomor fax kedutaan saya berpikir untuk meminta di-fax saja akta lahir tersebut, hanya saja ternyata saya mendapat kejutan lain. Ketika kami bertiga (saya dan kedua orang tua saya) sedang berdiam diri, petugasnya berkata bahwa dalam surat nikah kakak saya sudah terdapat informasi tersebut sehingga tidak dibutuhkan lagi akta lahir kakak saya.

Puji Tuhan! Kami lega sekali. Sekitar dua minggu kemudian, saya dan ayah saya kembali ke Jakarta untuk mengambil visa. Ketika datang kami diinformasikan untuk menunggu sampai jam perjanjian yang telah ditentukan. Namun ketika jam tersebut tiba, ayah saya mendapati suatu fakta bahwa sesunguhnya tidak perlu menunggu sampai jam tersebut dan seharusnya sudah sedari awal bisa mengantri.

Ayah saya memutuskan bahwa beliau yang mengantri dan saya menunggu di luar. Saya menjadi berdebar-debar ketika pukul 13.30 ada pengumuman bahwa antrian ditutup dan semua yang belum mendapat giliran masuk harus kembali keesokan harinya. Ketika saya lihat, ternyata ayah saya sudah di dalam. Puji Tuhan! Jika saja kami meleset sedikit saja, maka kami harus kembali keesokan harinya.

Pelajaran dari mendaftar paspor dan visa: perencanaan dan informasi yang banyak itu sangat penting. Mengenai perencanaan, telah saya bahas dalam “Planning”. Namun perencanaan dan informasi yang banyak saja belum cukup. Doa dan tuntunan Roh Kudus adalah kunci dari segalanya. Mengenai doa dan aspek-aspek doa telah dibahas dalam “Power of Prayer” dan “Dimensions of Prayer”. Mengenai tuntunan Roh Kudus telah dibahas dalam “In Holy Spirit’s Guidance”.

Lalu sampailah pada hari H, yaitu 20 Juni 2009. Kami (saya dan kedua orang tua saya) berangkat pukul 12.00 ke Bandung Super Mall (BSM) untuk menaiki bis ke Bandara Sukarno-Hatta. Kami tiba di sana pukul 12.25. Seharusnya tiket kami adalah pukul 13.00 tapi ternyata memungkinkan untuk diubah menjadi pukul 12.30. Oleh karena itu segera kami menaiki bis dan berangkat ke Bandara Sukarno-Hatta.

Kami tiba di Bandara sekitar pukul 15.30. Karena jam keberangkatan pesawat masih lama, kami makan dahulu sampai pukul 16.00. Setelah itu kami mengurus bagasi, pajak bandara, dan keterangan bebas fiscal. Semua selesai pada sekitar pukul 16.30. Kami kemudian menunggu di depan Gate D2 dari pukul 16.30 – 17.30. Hal ini terjadi karena memang Gate D2 belum dibuka.

Pada pukul 17.30 kami masuk ke ruang tunggu Gate D2 sampai pukul 19.45. Pada pukul 19.45 kami mendapat informasi bahwa penerbangan ditunda 15 menit karena keterlambatan penerbangan dari Singapura.

Jadi jadwal yang tadinya pukul 19.05 mundur menjadi 19.20. Pada pukul 19.05 ada pengumuman lagi mengenai pengaturan urutan penumpang untuk masuk ke pesawat. Hal ini diperlukan karena begitu banyaknya penumpang yang akan masuk. Akhirnya pada pukul 19.30 kami dapat duduk dengan nyaman juga di pesawat. Pesawat yang kami naiki adalah Boeing 777-200.

Ternyata kami tidak langsung berangkat karena terdapat penundaan lagi. Baru pukul 20.00 kami berangkat. Di dalam pesawat sangat menyenangkan karena saya dapat menonton sejumlah film yang sangat menarik. Setidaknya saya menonton dua film, yaitu Handsome Suit dan He’s Just Not That Into You. Nanti dalam waktu-waktu ke depan saya akan menuliskan resensinya.

Bukan hanya film menarik yang dapat saya tonton. Makanan di pesawat cukup bervariasi. Untuk dinner (makan malam) kami diberi dua pilihan antara nasi dengan ayam atau pasta. Saya dan ayah saya memilih nasi sedangkan ibu saya memilih pasta. Nasinya kurang berasa, sedangkan pastanya luar biasa nikmat. Selain itu juga diberi macam-macam makanan lain sebagai pelengkap. Untuk minuman kami boleh meminta minuman yang tertera dalam daftar. Saya mencoba red wine (anggur merah). Rasanya pahit hahaha, yah namanya juga ingin tahu. Tapi red wine baik untuk kesehatan, yaitu khasiatnya untuk mencuci darah sehingga dari informasi yang saya tahu: dianjurkan untuk meminum red whine satu sloki satu bulan sekali.

Kami sampai di Singapura sebagai tempat transit sebelum terbang lagi ke Paris, yaitu pada pukul 22.15 waktu Singapura atau 21.15 waktu Indonesia. Begitu kami turun, kami mendapatkan informasi bahwa kami perlu masuk ke Gate B4, namun ketika kami ke Gate B4 petugasnya menyatakan kami harus ke Gate A2.

Karena mendapatkan dua informasi yang sangat berbeda, akhirnya kami menanyakan hal ini ke Bagian Informasi. Dari Bagian Informasi kami mendapatkan Informasi bahwa yang benar adalah Gate A2. Jadi kami perlu mencari Gate A2. Perjalanan cukup jauh dari Bagian Informasi ke Gate A2 karena Bandara Changi, Singapura sangat luas.

Kami akhirnya sampai di Gate A2 pada pukul 22.40 waktu Singapura. Lalu setelah menunggu, kami duduk di pesawat pada pukul 23.15 waktu Singapura dan 5 menit kemudian pesawat lepas landas.

Begitu banyak awan tebal dalam perjalanan sehingga pesawat beberapa kali terguncang-guncang. Untungnya karena pesawat yang kami naiki adalah pesawat yang besar, yaitu Air Bus A380 yang berkapasitas 800 orang penumpang sehingga relatif cukup stabil walaupun ada guncangan yang terjadi. Supper (makanan tengah malam) kemudian dihidangkan. Untuk supper terdapat dua pilihan juga: nasi dengan ayam bumbu atau daging sapi dengan saus red whine. Kami memilih menu kedua dan kami benar-benar tidak kecewa. Rasanya sungguh nikmat hahaha. Saya memilih minuman white wine (anggur putih). Kembali ini karena rasa ingin tahu. Rasanya pahit tapi tidak sepahit red wine.

Pelajaran dari cerita perjalanan 20 Juni 2009: dalam hidup Tuhan memberikan kepada kita berbagai macam pilihan. Pilihan kita ditentukan oleh informasi-informasi yang kita miliki. Selain itu juga ditentukan oleh kesediaan kita untuk mengambil resiko. Untuk itu, kita butuh hikmat dari Tuhan. Mengenai hikmat telah dibahas dalam “Hikmat”.

(Bersambung ke Bagian-2)

Iklan

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-1 (20 Juni 2009)" (8)

  1. FB Comment from SyM:
    Very interesting read….ditunggu bagian keduanya 🙂

  2. FB Comment from EHC:
    biarpun holiday tetep aja ada kesaksian yang memberkati arch, share aja kesaksianmu biar kamu terus mendapat hal2 yang ajaib dab luar biasa begitupun kami yang membaca ^^

  3. FB Comment from KRC:
    get used with it, who knows ke depan bakal sering2 buat pelayanan di luar.
    (i’ll pray for that, supaya titipannya bener2 dicariin)
    wakakakakakakakakakakakakaka

    • Amen. Thanks, benernya g juga lagi doa supaya bisa lebih lagi melayani Tuhan (PS: wakakakaka, ternyata ada udang di balik bakwan. Ga terima titipan, adanya makan di tempat wakakkakaa :P).

  4. FB Comment from MF:
    Wow…amazing yach san 🙂 Bener2 Berkat N dari kamu kesana Share km menguatkan N bener2 indah pada waktunya :p ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: