All for Glory of Jesus Christ

Sebelum memulai cerita perjalanan pada tanggal 21 Juni 2009, terlebih dahulu saya akan menuliskan sejumlah hal yang tertinggal. Maklumlah ada begitu banyak hal yang terjadi, sehingga jadi lupa hahaha. Sebelumnya saya sudah tuliskan mengenai saya memakai lensa kontak saat akan difoto untuk pembuatan paspor. Ternyata puji Tuhan, ketika di bandara, sama sekali tidak ada pemeriksaan mata sama sekali untuk mencocokkan identitas, baik di Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta; di Bandara Changi, Singapura, maupun di Bandara Charles de Gaulle, Perancis.

Lalu ketika akan memasuki ruang tunggu di Gate D2 di Bandara Sukarno-Hatta, terdapat pemeriksaan tas yang dibawa (hand-carriage) dan itu kembali saya menjadi was-was. Masalahnya adalah satu orang tepat di depan kami ternyata diminta untuk membongkar tasnya. Untungnya kami dipersilakan untuk lewat begitu saja. Fiuhhhh, lega!

Pelajaran dari cerita yang tertinggal pada tanggal 20 Juni 2009: tetap kita harus mengikuti peraturan yang berlaku, saat kita tidak mengikuti peraturan yang berlaku dan timbul masalah itu adalah hal yang sangat wajar terjadi. Jelas peraturan yang perlu diikuti adalah untuk hal-hal yang benar. Ingat: peraturan dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk peraturan.

Yah, memang semua aturan yang ada dalam penerbangan itu dirancang demi keselamatan. Jadi tidak ada alasan untuk mengabaikannya. Memang ada situasi-situasi sangat khusus yang memang membuat kita jadi tidak mengikuti peraturan yang ada. Dalam hal ini, Tuhan Yesus juga memberi contoh untuk masalah menyembuhkan orang saat hari Sabat (Markus 3:1-6), padahal hari Sabat seharusnya adalah hari untuk berdiam diri dan tidak melakukan apapun.

Jelas perlu hikmat untuk itu. Jadi bukan berarti kita dengan mudah mengabaikan peraturan dan hukum, tapi kalau kita melakukannya karena memang dalam situasi yang khusus dan memang kita yakin Tuhan berkehendak demikian.

Selanjutnya saya akan memberikan ringkasan cerita tentang dua film yang saya tonton pada tanggal 20 dan 21 Juni.

Film pertama adalah Handsome Suit.

Sutradara: Tsutomu Hanabusa.

Pemeran: Muga Tsukaji, Shosuke Tanihara, Keiko Kitagawa, Miyuki Oshima.

Durasi film: 115 menit.

Ini adalah film Jepang tentang seorang pria yang bertubuh gemuk dan berparas tidak menarik berusia 33 tahun yang ditawari mengenakan pakaian yang bisa membuatnya menjadi kurus dan tampan. Pria ini bernama Takuro. Takuro merupakan seorang chef di suatu tempat makan. Takuro jatuh cinta pada seorang pelayan yang cantik jelita, yaitu Hiroko.

Pada saat Takuro menyatakan cinta pada Hiroko, Hiroko menanyakan kepada Takuro mengenai hal yang disukai Takuro dari Hiroko. Takuro mengatakan bahwa ia menyukai keseluruhan penampilan Hiroko, bahwa Hiroko sangat sempurna di matanya. Namun ternyata Hiroko bukannya senang malah kecewa, Hiroko ingin orang menilai dirinya lebih dari parasnya.

Kemudian Takuro dengan mengenakan handsome suit-nya menarik banyak sekali perhatian wanita, bahkan Ia ditawari menjadi model. Takuro mencoba mendekati Hiroko lagi karena Ia berpikir Hiroko akan tertarik. Ternyata Takuro keliru, Hiroko malah lari ketakutan.

Karena Hiroko keluar dari pekerjaannya, rumah makan itu kemudian membuat iklan dan melamarlah seorang wanita yang gemuk namun cekatan dan baik hati. Lambat laun, Takuro merasa tertarik pada pelayan baru ini, namun dalam benaknya masih ada batasan antara kecantikan dengan karakter.

Sampai akhirnya pada peragaan busana, Takuro menyadari bahwa ia telah membohongi dirinya sendiri dan orang lain. Ia ingin kembali ke dirinya sendiri. Kejutan terjadi pada akhir film. Pelayan wanita gemuk tersebut ternyata Hiroko yang mengenakan Ugly Suit yang dikembangkan oleh ayahnya sendiri. Hiroko melakukan itu karena ia ingin Takuro menilainya bukan hanya dari penampilannya saja.

Pelajaran dari film Handsome Suit: film ini merupakan film yang sangat menarik bagi saya. Lucu dan menghibur sekaligus memiliki pesan yang sangat dalam. Banyak orang menilai hanya dari hal yang terlihat di luar, sebenarnya hal yang di dalam justru malah perlu mendapat penilaian yang lebih seksama. Mengenai hal ini telah pernah dibahas dalam “Minder, Sombong, dan Percaya Diri (Trilogi-2)” walau tidak secara spesifik.

Mengenai film kedua akan saya simpan dahulu. Cerita perjalanan tanggal 21 Juni akan saya paparkan berikut ini. Setelah menikmati supper yang nikmat, kami disuguhi makan pagi (breakfast) yang tak kalah lezatnya. Terdapat dua pilihan menu, yaitu antara mie dengan bebek atau telur dengan susis ayam. Kami semua memilih mie dengan bebek dan memang rasanya luar biasa nikmat. Bebeknya dimasak kering dan tidak ada lemaknya. Nikmat!

Tentu saja breakfast kami bukan hanya itu, masih ada lainnya lagi. Saya tidak ingat keseluruhannya tapi yang saya ingat ada yoghurt, kue, buah-buahan, dan lain-lainnya yang tidak saya ingat. Setiap kali makan selalu bukan hanya menu utama yang ada, tapi juga ada pelengkapnya dan tidak saya sebutkan. Benar-benar perut dan lidah kami dimanjakan rasanya.

Kami sampai tepat waktu, yaitu pukul 6.55 waktu Perancis atau pukul 11.55 waktu Indonesia. Sesudah menunggu bagasi dan mencari-cari koper yang kami bawa, akhirnya sekitar pukul 7.30 kami dijemput oleh kakak, kakak ipar, dan keponakan saya. Kami lalu naik bis dan kereta bawah tanah (metro) untuk menuju apartemen kakak saya.

Sepanjang jalan saya perhatikan ternyata terdapat banyak graffiti (coret-coretan) juga di sepanjang tembok-tembok di jalan yang kami lewati. Pengamen juga ada di kereta. Kami sampai di apartemen pukul 8.30. Saat itu suhu udara 10 derajat celcius. Angin yang bertiup sangat dingin, padahal itu adalah musim panas (summer). Seolah-seolah menyambut kami dan mengucapkan:

“Bienvenue.”

(“Selamat datang.”)

Setelah itu kami membongkar bawaan kami dan beristirahat. Ya, setelah menempuh perjalanan panjang, beristirahat merupakan hal yang sangat nikmat hehehe.

Pelajaran dari cerita perjalanan 21 Juni 2009: setiap tempat memiliki keunikan masing-masing. Cuaca yang berbeda termasuk di dalamnya, namun tetap kita masih bisa menemukan hal-hal yang sama dengan tempat asal kita juga. Dalam kehidupan ini juga demikian. Dalam diri setiap orang itu bersifat unik, kita bisa menemukan hal-hal yang berbeda dalam diri setiap orang, namun kita juga bisa menemukan hal-hal yang sama dengan diri kita dalam diri setiap orang.

Hal yang baik bila kita bisa melihat hal yang berbeda itu sebagai hal yang baik: berbeda bukan selalu berarti salah. Bahkan bila kita melihat dalam perspektif Allah saat menciptakan manusia, kita akan bisa mengucapkan hal yang sama:

Kejadian 1:31a: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Memang dalam perjalanannya, manusia bisa berubah menjadi tidak amat baik lagi. Bila itu terjadi, pengampunan dan hikmat adalah kuncinya. Pengampunan adalah untuk membebaskan kita dari belenggu yang menahan langkah kita untuk maju dan hikmat untuk menolong kita untuk tidak terlalu banyak jatuh ke dalam kekecewaan. Mengenai pengampunan telah dibahas dalam “For the Love of Myself”. Silakan mengacu ke sana untuk pembahasannya.

Untuk menutup cerita perjalanan 21 Juni 2009 ini, saya akan melanjutkan ringkasan cerita film kedua yang saya tonton.
Judul film: He’s Just Not That Into You

Sutradara: Ken Kwapis

Pemeran: Jennifer Aniston, Ben Affleck, Scarlett Johansson, Drew Barrymore, Bradley Cooper.

Durasi film: 129 menit.

Film ini diangkat dari buku yang berjudul sama dan ditulis oleh Greg Behrendt and Liz Tuccillo. Saya sudah pernah membaca buku ini dan saya merekomendasikan kepada Anda untuk membacanya. Ini buku yang sangat menarik dan akan sangat membantu bagi para wanita yang sedang bingung dalam masalah percintaannya.

Bahkan selain difilmkan, penulis buku ini juga pernah diwawancarai dan memang dibuatkan segmen acara dengan judul yang sama dalam satu talkshow terkenal, yaitu Oprah Winfrey’s show yang kembali saya sudah pernah menontonnya. Benar-benar dalam hidup ini tidak ada yang serba kebetulan dalam Tuhan hehehe.

Cerita film ini adalah mengenai wanita yang sering menebak-nebak dan memberikan alasan, jika seorang pria yang dikencaninya tidak menghubunginya lagi. Padahal alasan sesungguhnya sederhana, yaitu judul buku ini yang berarti si pria tidak tertarik padamu! Ya, suatu pernyataan sederhana dan jujur yang menohok hati.

Dikisahkan dalam film ini banyak wanita yang kebingungan mengenai pria yang mereka kencani dan kemudian memberi kesan seolah-olah pria tersebut menyukai mereka namun tidak menghubungi mereka lebih lanjut.

Konflik demi konflik disajikan dengan apik dan tertata rapi. Saya sangat menikmati setiap cerita yang ditampilkan dalam film ini. Saya tidak ingat satu per satu peran yang ada, namun saya cukup ingat beberapa konflik dalam film ini.

Ada seorang pria yang sudah beristri yang tergoda oleh wanita lain yang memang menarik dari segi penampilan. Suami dan istri ini sedang merenovasi rumah mereka dan mereka telah sepakat bahwa sang suami tidak boleh merokok lagi. Suatu ketika sang istri menemukan sebungkus rokok dan sang suami tidak mengakui bahwa itu rokoknya.

Kemudian sang suami terlibat perselingkuhan dengan wanita lain yang telah saya sebutkan di awal tadi. Sang suami mengakui hal itu dengan terus-terang. Sang istri masih mempertimbangkan mengenai kemungkinan mereka untuk berbaikan, namun kemudian ia menemukan begitu banyak rokok yang tersembunyi dalam lemari sang suami sehingga sang istri dengan begitu marah akhirnya mengusir sang suami.

Namun sang istri setelah sekian waktu berlalu berpikir bahwa pernikahan mereka masih bisa diselamatkan dan mencoba memenangkan kembali hati sang suami dan hal itu terjadi tepat di saat sang suami akan berselingkuh lagi dengan wanita lain tersebut. Sang wanita lain yang disembunyikan di lemari di kantor sang suami akhirnya pergi dengan marah dan hubungan suami istri ini kembali normal.

Konflik kedua adalah ketika seorang pria jatuh cinta pada seorang wanita namun ternyata pria itu memiliki trauma untuk memiliki hubungan yang akrab dengan wanita. Sang wanita mengalami kekecewaan dan kesedihan ketika melihat sang pria mendekati wanita lain.

Sang wanita menyadari bahwa sang pria mengalami suatu bentuk ketakutan yang memang perlu dihadapinya dan sang wanita memberitahukan hal ini kepada sang pria. Sang wanita sudah putus asa dan mencoba menjajaki hubungan dengan pria lain. Untungnya sang pria akhirnya menyadari hal itu dan mencoba memenangkan hati si wanita kembali. Konflik kedua berakhir bahagia.

Konflik ketiga adalah ketika seorang pria dan wanita yang saling mencintai namun tidak menikah dan mereka hidup bersama selama 7 tahun. Sang wanita mencoba bertahan dan tidak menuntut si pria untuk menikahinya, namun akhirnya sang wanita tidak tahan juga. Mereka akhirnya berpisah.

Saat berpisah mereka merasa sangat tersiksa dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali hidup bersama. Si wanita berjanji tidak akan menuntut si pria untuk menikahinya asalkan si pria mau membuang pakaian yang tidak disukai si wanita. Hal yang sangat menyenangkan terjadi, benar-benar di luar dugaan saya. Sang pria akhirnya melamar si wanita. Si pria mengatakan bahwa ia mencintai wanita tersebut dan ia ingin menikahinya. Ah, indah sekali. Saat menonton hal itu saya sampai meneteskan air mata karena terharu.

Pelajaran dari film “He’s Just Not That Into You” yang pertama adalah hal yang masih terus saya pelajari. Ya, masalah menebak-nebak dan menganalisis hubungan ini kerap melanda saya dan sekarang saya sudah relatif lebih berkurang banyak hahaha, yah masih terus harus menjaga untuk tidak menebak-nebak karena menebak-nebak dan menganalisis tidak membawa saya ke solusi malah membuat semakin bingung. Mengenai masalah menebak-nebak telah dibahas dalam “Harapan, Menjaga Hati dan Pikiran”.

Pelajaran kedua diperoleh dari konflik pertama. Pernikahan akan berjalan dengan baik jika kedua pihak tidak saling menuntut, mempercayai, dan saling menjaga cinta yang ada. Hal ini berpusat pada kasih. Selain itu, timbulnya orang ketiga tidak akan menjadi masalah saat pondasi hubungan mereka kuat. Mengenai kasih telah dibahas dalam “All about Love (Part-2)” sedangkan mengenai orang ketiga telah dibahas dalam “Orang Ketiga”.

Pelajaran ketiga diperoleh dari konflik kedua. Trauma masa lalu jika tidak dibereskan hanya akan membelenggu dan menahan kita untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan kita. Mengenai masa lalu dapat dibaca dalam “Time (Trilogi-1)” dan untuk mengatasi trauma masa lalu, khususnya dalam cinta telah dibahas dalam “Takut Mencintai”.

Pelajaran keempat diperoleh dari konflik ketiga. Pernikahan adalah hal yang dituliskan dalam Alkitab dan bukan hidup bersama. Pernikahan adalah mengenai menempatkan kepentingan pasangan sebagai yang lebih utama. Hal yang sangat indah jika kita bisa berkorban bagi pasangan kita demi mencapai tujuan bersama. Mengenai pengorbanan telah dibahas dalam “Pengorbanan”.

Untuk kisah perjalanan saya selanjutnya silakan tunggu besok.

(Bersambung ke Bagian-3).

Iklan

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-2 (21 Juni 2009)" (4)

  1. FB Comment from AWB:
    kq prjalanny tgl 21 singkt bgt..
    tpi, pglmn2 yg dibagikan bgs kq…hehehe,,..
    be blessd owes kak..

  2. FB Comment from SM:
    Okk, saya menunggu cerita selanjutnya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: