All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan menceritakan kisah perjalanan pada 22 Juni 2009. Setelah istirahat yang cukup kemarin, kami (saya dan orang tua saya) bangun sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Mungkin karena masih belum terbiasa dengan perbedaan waktu 5 jam antara Perancis dan Indonesia, sehingga kami bangun cukup pagi.

Pada pukul 08.15, kami (saya, orang tua saya, dan kakak saya) mengantar Nicky (keponakan saya) ke depan apartemen untuk naik bis sekolah. Hari ini adalah hari terakhir Nicky bersekolah sebelum menikmati liburan panjang kenaikan kelas dan liburan musim panas (summer). Kakak ipar saya sudah berangkat bekerja terlebih dahulu.

Sesudah mengantar Nicky naik bis sekolah, kami (saya, orang tua saya, dan kakak saya) menyusuri jalan sepanjang Neuilly untuk menuju sekolah Nicky. Ternyata, berjalan-jalan di sepanjang trotoar harus sangat berhati-hati terhadap (maaf) kotoran anjing dan burung yang banyak terdapat di sana. Maklumlah pecinta anjing sangat banyak di sini dan burung-burung begitu jinak dan tampak tidak takut kepada manusia. Banyak sekali terdapat burung gereja di sana.

Saat kami menyusuri jalan-jalan, kami sempat mendapati mobil pembersih (maaf) kotoran anjing juga. Menarik juga ternyata di sana ada hal yang seperti itu hahaha. Satu lagi hal baru yang tidak saya temukan di Indonesia. Setelah sampai di sekolah Nicky, kami juga melewati sekolah dasar lainnya, juga rumah sakit (American Hospital), Balai Kota (Hotel de Ville).

Sesaat sebelum kembali ke apartemen, kami mampir ke toko roti terlebih dahulu (Boulanger) untuk membeli sejumlah roti. Perancis sangat terkenal akan roti berbentuk sabit, yaitu croissant (dibaca kroasang) dan juga roti berbentuk panjang yang seperti pentungan itu, yaitu bagguete (dibaca baget). Sebelum sampai apartemen, kami juga sempat melewati gereja Eglise Saint Pierre. Sampai ke apartemen adalah sekitar pukul 09.30.

Setelah beristirahat lalu sekitar pukul 10.30 kami berangkat ke supermarket (groceries) Auchan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Groceries Auchan terdapat di Mall Les Quatre Temps. Untuk sampai ke sana, kami harus naik kereta bawah tanah (metro) terlebih dahulu.

Ternyata mesin penerima tiket metro tidak berfungsi, sehingga akhirnya kami tidak membayar untuk metro alias gratis hehehe. Hore! Di sana kembali saya menemukan hal-hal yang menarik lainnya. Untuk menggunakan kereta belanja (trolley), ternyata perlu memasukkan dulu uang logam (coin) 1 Euro. Kalau dikurs ke rupiah, nilai Euro sekarang sekitar Rp 14.290,00. Mahal sekali bukan?

Namun untungnya setelah digunakan dan dikembalikan, coin 1 Euro tersebut dapat diambil kembali. Rupanya itu semacam sistem jaminan agar trolley-nya dikembalikan. Saya tidak tahu sistem ini diberlakukan karena sebelumnya banyak orang tidak mengembalikan trolley ke tempat semula atau tidak.

Hal lain lagi yang menarik (namun cukup mengesalkan) adalah tidak diberikannya kantung plastik untuk memuat belanjaan. Jadi, jika ingin mendapatkan kantung plastik harus membayar dahulu sekitar 20 sen Euro. Astaga! Ya, mungkin maksudnya adalah untuk mendukung usaha pelestarian lingkungan.

Hanya saja karena terbiasa dengan kemudahan-kemudahan di Indonesia, hal seperti itu terasa begitu aneh bagi saya hahaha. Jadi jangan selalu melihat bahwa negara lain lebih baik dari negara kita. Selalu ada sisi untuk bisa bersyukur jika kita mau melihat sisi positif, bahkan sekecil apapun itu.

Kami akhirnya sampai ke apartemen sekitar pukul 12.00 dan bersiap untuk memasak makan siang. Satu hal yang bisa dianggap positif dalam perjalanan ini adalah saya belajar lebih jauh mengenai masak-memasak. Ya, di Perancis saya menjadi asisten ibu saya untuk memasak.

Mulai dari membantu menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, membersihkan, mengiris, memotong, menuangkan bumbu-bumbu, mencicipi, menggoreng, merebus. Sebenarnya sedikit-sedikit saya sudah bisa memasak, namun ibu saya sangat ahli dalam memasak sehingga saya hampir tidak pernah terjun ke dapur di rumah. Apalagi di rumah kami memiliki pembantu rumah tangga yang siap membantu ibu saya, sehingga tentu saja saya tidak perlu membantu ibu saya lagi.

Hari itu seperti hari sebelumnya, ternyata siang di Eropa benar-benar panjang. Pukul 20.15 saja masih seperti siang hari. Mungkin terangnya itu seperti pukul 15.00 di Indonesia. Memang ada informasi bahwa beberapa waktu ke depan Perancis akan mengalami waktu siang terpanjang bahkan sampai sekitar pukul 22.00. Hal yang sangat menarik karena di Indonesia, pukul 18.00 saja sudah gelap.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita perjalanan tanggal 22 Juni 2009: banyak orang berpikir dan menganggap bahwa negara lain lebih indah, lebih bagus, lebih menyenangkan dari negerinya sendiri. Bukan hanya negara, tapi juga kehidupannya.

Banyak orang berpikir bahkan mengangan-angankan, bahkan tidak cukup sampai berharap, juga malah iri akan kehidupan orang lain: pekerjaan, harta milik, kekasih, atau pasangan orang lain. Hal ini merupakan hal yang pernah saya bahas di “Orang Ketiga” sebagai mentalitas rumput tetangga.

Mentalitas rumput tetangga ini merupakan mentalitas yang menganggap semua hal di luar diri adalah hal yang baik dan menakjubkan, sedangkan hal yang di dalam diri adalah hal yang buruk, membosankan, dan tidak menarik. Ini adalah bentuk mentalitas yang perlu dibasmi dan dimusnahkan secepatnya.

Setiap negara memiliki keunikannya masing-masing. Setiap negara memiliki keindahan dan pesonanya masing-masing. Selain keindahan dan pesonanya, setiap negara juga memiliki persoalannya sendiri-sendiri. Ya, jika hanya melihat sekilas Perancis dari televisi atau dari buku yang saya baca, saya membayangkan kota yang luar biasa romantis.

Keromantisan yang ada itu namun tidak terlalu saya rasakan ketika saya berada di sana. Ketika melihat realitas yang sama, bahwa di Perancis pun orang bekerja, orang berbelanja, anak-anak bersekolah, dan seterusnya. Di Perancis pun orang-orang bepergian dengan kendaraan pribadi, sedangkan sebagian lagi bepergian dengan kendaraan umum. Sama saja dengan di Indonesia.

Bahkan kakak saya mengatakan bahwa kalau hanya berlibur sebagai turis di Perancis terasa menyenangkan, tapi saat tinggal di Perancis ya rasanya sama saja. Saya setuju, bahwa sebenarnya di manapun itu sama saja. Permasalahannya adalah bukan tempatnya namun hati kita.

Saat hati kita penuh dengan sukacita, di tempat yang paling sederhana pun itu terasa sebagai surga. Sebaliknya, saat hati kita penuh dengan keluh kesah dan sungut-sunggut, di tempat yang paling mewah pun itu terasa tidak pernah cukup.

Filipi 4:7: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Mengapa banyak orang berharap hal yang tidak dimilikinya? Karena ia tidak bersukacita! Mengapa banyak orang tidak bersukacita? Karena ia kuatir. Mengapa ia kuatir? Karena damai itu tidak ada dalam dirinya.

Jika Allah yang telah begitu baik kepada kita sampai-sampai mati demi kita demi penebusan dosa kita, untuk apa kita bersungut-sungut? Untuk apa kita kuatir? Untuk apa kita iri akan hal yang dimiliki orang lain? Nyawa-Nya sendiri Ia berikan untuk kita, tidakkah Ia juga akan memberikan setiap kebutuhan kita?

Bahkan seperti yang sudah saya bagikan mengenai payung pink dan kepiting dalam “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-4)”, bukan hanya kebutuhan saya yang Tuhan perhatikan, tapi juga keinginan saya. Terlebih lagi hari-hari ini saya dapat bersaksi lebih lagi. Bukan hanya keinginan saya Ia perhatikan, hal yang saya tidak pernah pikirkan, hal yang tidak pernah saya bayangkan, juga Ia berikan kepada saya! Apalagi kebutuhan saya, jelas Tuhan pasti berikan bagi saya.

Hal yang sama juga berlaku bagi Anda. Jangan pernah ingin menjalani kehidupan orang lain. Bersyukurlah untuk hidup yang Tuhan anugerahkan bagi Anda. Setiap orang memikul salibnya dan masing-masing dan ukuran yang Tuhan berikan bagi setiap orang berbeda-beda, namun sama dalam hal: tidak akan melebihi kekuatan kita.

Matius 11:29-30: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan”.

Untuk mengikuti cerita perjalanan saya selanjutnya, silakan kembali besok.

(Bersambung ke Bagian-4).

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-3 (22 Juni 2009)" (10)

  1. FB Comment from SM:
    Kuk itu apa Shanti ?, makasih, mdh2an dgn membaca ceritamu, bisa mengubah perilaku seseorang kejalan yg lurus dan diridhoi oleh alloh amin…..

    • Kuk itu adalah pikulan. Biasanya dipasang pada 2 ekor sapi supaya kedua sapi ini bisa berjalan bersamaan. Di Matius 11:29-30 disebutkan oleh Yesus untuk memikul kuk yang Dia pasang sebab kuk yang dipasang-Nya enak dan ringan. Hal i…ni terjadi karena satu beban kita pikul, sedangkan beban yang lain (dosa, kutuk) telah Tuhan Yesus pikul di kayu salib demi penebusan dosa kita. Kalau kita menerima Dia sebagai Tuhan dan juru selamat pribadi kita, maka beban dosa dan kutuk telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus.

      Karena beban terberat telah Kristus pikul, beban yang tertinggal (masalah sehari-hari) yang ada dalam hidup kita itu sifatnya tidak akan melebihi kekuatan kita sehingga mampu kita tanggung. Itu sebabnya dikatakan oleh Tuhan Yesus: “Pikullah kuk yang Kupasang”.

  2. FB Comment from AWB:
    semua hal di luar diri adalah hal yang baik dan menakjubkan, sedangkan hal yang di dalam diri adalah hal yang buruk, membosankan, dan tidak menarik. Ini adalah bentuk mentalitas yang perlu dibasmi dan dimusnahkan..

    Ok..!!

    • Amin. Ya, kalau di luar diri kita adalah hal yang baik dan menakjubkan sekalipun, itu bukan alasan bagi kita untuk menjadi iri. Malah merupakan sarana bagi kita untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik. Jadi bukan sekedar melihat dan… menginginkan milik orang lain, tapi justru bersyukur dengan hal yang sudah Tuhan beri dan memacu kita untuk terus menjadi lebih baik.

  3. FB Comment from DS:
    iya Ci… di Taiwan jg sama tentang kantong plastik
    kl pas belanja udah ngambil ini-itu, pas nyampe kasir baru nyadar kagak bawa kantong kresek… “oh my God!!” hehe
    [d]

  4. FB Comment from DS:
    tapi jadi lebih ramah lingkungan Ci…😀
    dan kita jadi lebih menghargai betapa berharganya dari si kantong kresek tsb haha!!
    [d]

    • Hahaha, tul en jadi ga berserakan di rumah wakkakaka. Cuma kalau mikir 1 kantong kresek itu 20 sen Euro, beuh, kalau dikurs ke Rupiah kan brarti sekitar Rp 2.850 selembar! Weleh2 hahahaha, ga ku ku.

  5. FB Comment from EHC:
    jadi kepingin melihat keunikan setiap negara, tapi I am still love Indonesia ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: