All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan menceritakan kisah perjalanan saya tanggal 23 dan 24 Juni 2009. Cerita perjalanan tanggal 23 Juni 2009 dimulai dengan kami dari pagi sampai makan siang masih di apartemen. Setelah makan siang, kami berangkat menuju ke China Town di Paris pukul 13.30. Perjalanan naik metro kurang lebih 30 menit. Di China Town kami ke groceries Tang Freres unuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Hal yang menarik adalah China Town di sana ternyata didominasi oleh tempat usaha Vietnam. Jadi entah tempat makan atau tempat usaha lainnya banyak didominasi oleh nama Vietnam. Saya sempat berpikir, mungkin nama yang tempat bukan China Town tapi Vietnam Town hehehe.

Setelah dari Tang Freres kami membeli burger di toko sebelah Tang Freres. Burgernya menarik, tidak seperti burger Amerika pada umumnya. Burger ini mungkin burger Vietnam, karena ada acarnya. Jadi ada mentimun dan wortel di dalamnya dan untuk dagingnya bisa memilih sendiri jenis dagingnya. Saya memilih daging babi panggang. Kami membungkus burger tersebut untuk dimakan di apartemen.

Lalu pukul 15.30 kami pulang dan sampai di apartemen sekitar pukul 16.00. Setelah membereskan barang belanjaan, saya makan burger yang baru dibeli. Rasanya nikmat! Walau tidak seperti burger pada umumnya, burger yang satu ini enak rasanya. Saya perlu menyisihkan daun tertentu yang saya tidak sukai karena bau dan rasanya agak menusuk. Sambil memakan burger perlahan-lahan, ini benar-benar cara yang nikmat untuk menghabiskan senja hari.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita perjalanan tanggal 23 Juni 2009: hal-hal yang biasa (rutinitas) dan hal-hal yang tidak biasa dalam hidup itu merupakan hal yang indah jika kita bisa menikmatinya. Pergi ke groceries adalah hal yang biasa. Makan burger adalah hal yang biasa. Menemukan rasa yang tidak biasa itu juga keunikan. Semuanya adalah hal yang indah dan menyenangkan jika kita bisa menikmatinya. Mengenai menikmati hidup sudah pernah dibahas dalam “Menikmati Perjalanan”. Silakan mengacu ke sana untuk pembahasannya.

Sambil makan burger, saya sambil menikmati buku yang dipinjam untuk keponakan saya, yaitu Asterix and the Soothsayer yang ditulis oleh Rene Groscinny dan dibuat ilustrasinya oleh Albert Uderzo. Ceritanya kurang lebih seperti demikian. Desa yang ditempati orang-orang Galia ternyata didatangi oleh seorang peramal (Soothsayer). Peramal ini berlaku sedemikian rupa sampai-sampai membuat orang-orang Galia di desa tersebut percaya kepadanya.

Mengapa mereka bisa percaya kepadanya? Karena peramal ini pandai membaca situasi dan meramal berdasarkan keinginan hati seseorang. Orang yang tidak percaya akan ramalannya hanyalah Asterix. Saat itu Panoramix, ahli ramu obat-obatan dan merupakan orang yang cerdas di desa itu, tidak ada di tempat.

Hal yang menarik ketika akhirnya orang-orang Galia malah menuruti kata-kata si peramal dan bukannya mengikuti akal sehat mereka. Bahkan lebih menarik lagi ketika peramal ini dimanfaatkan oleh seorang pemimpin tentara Romawi untuk menundukkan desa tersebut.

Jadi si peramal diminta untuk memberikan suatu ramalan palsu sehingga membuat segenap penduduk pergi dari desa itu. Desa itu dengan begitu mudahnya direbut. Untungnya ketika Panoramix kembali, Asterix telah bisa menyadarkan Obelix, dan bersama-sama mereka membuat orang desa mengerti kondisi yang sesungguhnya. Mereka kemudian berperang mengusir tentara Romawi yang menduduki desa mereka.

Peramal ini kemudian ditangkap dan pemimpin pasukan Romawi ini juga diturunkan pangkatnya karena memberikan informasi yang salah kepada pasukannya. Cerita berakhir dengan pesta di desa orang-orang Galia, bersama dengan celeng-celeng bakar di bawah cahaya bulan purnama.

Pelajaran dari cerita “Asterix and the Soothsayer”: ada sejumlah orang yang tidak bisa menggunakan akal sehatnya dan percaya secara membuta kepada peramal atau “orang-orang pintar”. Padahal kalau mau menggunakan akal sehat saja, kalau memang peramal ini sungguh-sungguh dapat meramal dengan jitu, seharusnya ia tidak perlu menjadi peramal.

Ia dapat memperkaya dirinya sendiri dan tidak usah susah-susah meramal orang lain. Bahkan dalam Firman Tuhan juga sudah jelas sekali bahwa kita tidak boleh mempercayai peramal dan sejenisnya, termasuk hasil karyanya. Hal ini telah pernah dibahas dalam “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-4)”. Silakan mengacu ke sana untuk pembahasannya.

Lalu saya akan melanjutkan cerita saya dengan kisah perjalanan tanggal 24 Juni 2009. Hari ini kami bersiap-siap untuk pergi ke Menara Eiffel (Eiffel Tower). Dari apartemen kami berangkat pukul 09.30. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan bis dan sampai sekitar di sana sekitar pukul 10.00.

Pada saat datang, ternyata orang yang sudah datang terlebih dahulu sudah cukup banyak sehingga kami mengantri cukup panjang. Ketika setelah membeli tiket dan sampai giliran kami untuk masuk, kami menaiki lift untuk naik ke lantai paling atas Eiffel.

Di lantai paling atas, kami bisa melihat pemandangan kota Paris dari atas. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan! Saya terpesona ketika menikmati Kota Paris dari atas Eiffel Tower. Indah sekali! Tiupan angin yang kencang dan udara yang sangat dingin tidak menyurutkan langkah kami untuk menikmati pemandangan.

Selain melihat-lihat pemandangan kota Paris dari atas, kami juga menikmati miniatur Eiffel dalam berbagai bentuk. Bahkan juga ada film yang menuturkan sejumlah film yang menggunakan Eiffel sebagai latar belakang filmnya. Juga ada informasi mengenai Eiffel Tower itu sendiri. Silakan melihat album foto saya untuk menikmati Eiffel Tower dan pemandangan Kota Paris yang diambil dari atas Eiffel Tower.

Setelah berkeliling dan puas berfoto-foto, sekitar pukul 13.00 kami meninggalkan Eiffel Tower. Tapi kami tidak pulang ke apartemen terlebih dulu, kami justru menuju ke Trocadero (bangunan di seberang Eiffel). Di sana juga kami menemukan sejumlah bangunan, patung-patung, dan air mancur yang indah.

Bahkan ada semacam parade mobil yang dapat dilihat dan mobil dalam berbagai hiasan diparkir di dalam Trocadero. Menarik sekali! Memang tidak terlalu banyak mobil yang dihias di sana, tapi cukup menjadi suatu obyek pemandangan yang dapat dinikmati.

Di Trocadero kami kembali berfoto-foto dan juga mengambil foto Eiffel dengan lebih jelas. Ya, karena Menara Eiffel begitu tinggi sehingga sulit untuk diambil fotonya secara jelas dari dekat. Dari dekat Trocadero juga terdapat sungai Seine yang mengaliri Perancis. Saya sempat melihat sejumlah kapal berlayar di sana.

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan di Trocadero, pukul 14.00 kami pulang. Kami sampai di apartemen sekitar pukul 14.30.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 24 Juni 2009: Eiffel Tower, Trocadero, dan seluruh Paris merupakan pemandangan yang indah dan merupakan karya masterpiece dari manusia. Bagaimana dengan kita? Kita adalah karya masterpiece dari Tuhan.

Saat kita menikmati dan terkagum-kagum oleh karya masterpiece manusia, sebenarnya kita sedang menikmati karya masterpiece Tuhan. Segala bentuk arsitektur dunia yang luar biasa yang lahir dari karya tangan manusia, dari otak dan kerja keras manusia, dengan menggunakan segala bentuk teknologi, itu merupakan buah karya manusia yang menakjubkan.

Siapakah pencipta manusia yang menakjubkan yang dapat melahirkan karya-karya spektakular itu? Tidak lain dan tidak bukan dari Tuhan! Perjalanan melihat Eiffel Tower, Trocadero, dan seluruh Paris merupakan pengalaman indah bagi saya. Melihat betapa karya Tuhan luar biasa dalam menciptakan manusia sehingga mampu menciptakan karya yang monumental.

Jika Tuhan saja menganggap kita masterpiecenya, maka sudah selayaknya kita juga menghargai diri kita sendiri dan hidup sesuai harapan Sang Pencipta kita: sebagai masterpiece. Mengapa demikian? Penjelasannya ada di ayat berikut ini:

Kejadian 1:26a: Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,”

Tuhan sendiri telah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, sehingga kita sesungguhnya amat baik. Oleh karena itu, selain menghargai diri sendiri, kita juga perlu hidup sesuai citra tersebut: sebagai citra Allah di dunia.

Untuk mengikuti cerita perjalanan saya selanjutnya, silakan kembali esok hari.

(Bersambung ke Bagian-5)

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-4 (23 – 24 Juni 2009)" (2)

  1. FB Comment from C:
    film ‘eiffel i’m in love’ termasuk salah satunya gak ??🙂

    • Saya sih nontonnya agak telat, rasa-rasanya ga liat film itu disebut. Di spanduknya di dalem juga rasa-rasanya ga ada. Sayang ya, padahal judulnya ada kata “Eiffel”-nya hihihi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: