All for Glory of Jesus Christ

Cerita perjalanan tanggal 25 juni dimulai dengan pukul 10.15 kami dari apartemen berangkat menuju sebuah gereja yang terletak di atas bukit atau yang biasa dikenal sebagai Sacre-Coeur. Kami sampai di sana jam 10.45. Untuk mencapai bangunan gerejanya sendiri, kami perlu naik semacam kereta (bisa dilihat dalam foto).

Sebenernya bisa saja jika kami ingin naik tangga, tapi cukup jauh mulai dari gerbang sampai mencapai gereja. Ketika sampai di gereja, terdapat pengumuman tertempel di pintu masuk yang menyatakan tidak boleh mengambil foto atau film di dalam gereja.

Di dalam gereja tersebut arsitekturnya sangat indah. Sayang sekali kami tidak boleh mengambil foto-foto di sana. Suasana sangat khidmat. Sambil saya berdoa, tiba-tiba air mata saya menetes padahal saya tidak sedang sedih. Ya, Roh Kudus kembali beraksi. Sesudah berdoa, saya merenungkan sesuatu yang memang sudah saya pahami sebelum saya berangkat ke Eropa.

Gereja manapun, Kristen atau Katolik, itu tidak menjadi masalah sebenarnya. Bukan masalah gerejanya yang penting, bukan masalah alirannya yang penting, tapi saat Kristus memerintah dan meraja dalam hati kita, itulah yang terpenting. Sesudah berdoa dan merenung itu, tiba-tiba langsung timbul ide untuk membuat satu lagu. Di bangku gereja di Sacre-Coeur, lahirlah satu lagu baru.

Setelah selesai menulis lagu, kembali saya dan keluarga melihat-lihat lebih lanjut dan kemudian setelah puas melihat-lihat, kami keluar untuk berfoto-foto dari luar gereja. Dari sana kami bisa melihat pemandangan Kota Paris dari atas. Sungguh suatu pemandangan yang indah. Memang saat di atas Eiffel Tower juga kami bisa melihat pemandangan Kota Paris dari atas, tapi melihat Kota Paris dari atas Sacre-Coeur terasa berbeda.

Ada semacam suasana tertentu yang sulit saya ungkapkan. Mungkin ini karena pengaruh khidmatnya suasana di gereja yang sudah tersimpan ke dalam hati sehingga ketika melihat sesuatu di luar terasa suasana itu tertransfer. Sungguh sulit dijelaskan dengan kata-kata. Pukul 11.15 kami meninggalkan Sacre-Coeur dan berjalan-jalan sambil melihat-lihat.

Pukul 12.00 kami makan di BIP Burger. Kami makan kebab sapi entah kebab domba, saya juga kurang paham karena hanya melihat bentuk dagingnya saja. Kami bahkan melihat cara penyajiannya yang sangat unik. Jadi daging sapi (entah daging domba) yang digantung dalam semacam mesin yang berputar diserut dan hasil serutan dagingnya dimasukkan ke dalam roti. Porsi kebabnya luar biasa besar. Ditemani dengan kentang goreng, benar-benar ini porsi yang sangat besar dan melebihi kapasitas perut saya.
Walapun porsi kebabnya sangat besar, rasanya yang nikmat membuat menikmatinya terasa sedap hahaha. Hanya saja memang begitu besarnya porsinya sehingga tak sanggup saya untuk menghabiskannya dan membungkusnya untuk dimakan di apartemen.

Kami selesai makan pukul 13.00. Lalu kami meneruskan ke L’Arc de Triomphe. L’Arc de Triomphe merupakan monumen kemenangan yang dibangun oleh Napoleon. Pukul 13.20 kami sampai sana. Kami berfoto-foto dan meliat-lihat di sana. Di sana terdapat berbagai ukiran nama-nama pejuang yang gugur dalam peperangan, termasuk ukiran peringatan berbagai peperangan yang ada. Sementara kakak, keponakan, dan ayah saya ingin naik ke atas L’Arc de Triomphe, saya dan ibu saya menunggu di bawah sambil melihat-lihat.

Di L’Arc de Triompe juga ada satu api yang katanya tak terpadamkan. Jika api itu padam, maka akan segera dinyalakan kembali. Sungguh sangat menarik. Sambil menunggu, saya kembali mencari nada untuk lirik lagu yang telah dibuat di Sacre-Coeur.

Ketika kakak, keponakan, dan ayah saya telah sampai di bawah kembali, mereka bercerita bahwa di atas itu ada lubang yang dapat memotret ke bawah. Jadi Anda dapat lihat di album foto saya, ada foto yang memotret saya dan ibu saya dari atas L’Arc de Triomphe. Ternyata untuk naik ke atas L’Arc de Triomphe perlu menaiki 284 anak tangga.

Kami di sana sampai pukul 15.00. Pulang sampai apartemen pukul 16.00. Hari ini hari pertama hujan di Perancis. Cuaca mulai tidak terlalu dingin. Sesudah istirahat, kami bersiap-siap untuk pergi keesokan harinya menuju Jerman, Belanda, dan Belgia.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 25 Juni 2009: jangan sampai kita mempertengkarkan berbagai aliran gereja dan menganggap gereja kita serta aliran kita yang paling baik. Ini adalah suatu bentuk fanatisme yang bodoh!

Manakah yang paling benar? Gereja Kristenkah? Gereja Katolikkah? Aliran A kah? Aliran B kah? Tidak perlu kita memikirkan hal itu dan tidak pada tempatnya kita memikirkan hal itu. Tuhan Yesus sendiri tidak pernah memberikan label “Kristen” atau “Katolik” kepada pengikutnya. Label itu bukan hal yang penting bagi Tuhan Yesus, sebaliknya Ia mengatakan dalam:

Yohanes 13:35: Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Ya, kasih! Itulah label yang harus kita pakai. Dipenuhi kasih Kristus, memiliki kasih Kristus, dan membagikan kasih Kristus itu kepada semua orang. Itulah esensi menjadi pengikut Kristus.

Saat kita mengatakan bahwa gereja saya yang paling benar, sebenarnya kita sedang mengungkapkan kepicikan pikiran kita sendiri. Gereja itu adalah sarana bagi kemuliaan Tuhan, sama dengan hal-hal lainnya. Saat kita mengungkapkan hal itu dan merendahkan pihak lain, di manakah kemuliaan Tuhan ditempatkan?

Saat kita menganggap diri kita, gereja kita, aliran kita, kelompok kita yang paling benar, di manakah kasih kita berada? Padahal Tuhan telah mengatakan bahwa yang terbesar adalah kasih. Hal ini telah dibahas dalam “All about Love (Part-1)”.

Jadi, entah kita orang yang sangat kaya, sangat pintar, sangat berpengalaman, sangat bijaksana, dan sangat lainnya yang mengagumkan, jika kita tidak punya kasih Kristus, itu percuma saja. Kita belum bisa disebut pengikut-Nya, jika kita tidak punya kasih.

Bagaimana untuk bisa memiliki kasih? Tentu saja kita perlu minta dari sumber-Nya sendiri, Kristus sendiri. Saat Ia memenuhi hidup kita, kasih-Nya mengisi diri kita, dan melalui serangkaian proses yang diizinkan-Nya terjadi dalam hidup kita, kita dapat memiliki kasih itu dan membagikannya pada orang lain.

Hari ini saya membaca buku “Asterix and Caesar’s Gift”. Buku ini ditulis oleh Rene Groscinny dan dibuat ilustrasinya oleh Albert Uderzo. Ceritanya adalah sebagai berikut: para Jenderal Pasukan Romawi yang akan pensiun akan menerima hadiah atas pengabdiannya.

Di antara sekian banyak jenderal yang akan pensiun, ada satu jenderal yang bicaranya tidak enak atas diri Julius Caesar dan hal ini didengar langsung oleh Caesar. Caesar yang berang kemudian memikirkan untuk memenjarakan jenderal ini, tapi akhirnya Caesar memiliki ide lain yang lebih jitu.

Karena pada umumnya jenderal-jenderal yang akan pensiun ini diberi tanah, jenderal yang bicaranya tidak enak ini juga akan diberi tanah.. tapi ternyata bukan sembarang tanah. Tanah ini adalah desa tempat orang-orang Galia tinggal.

Lalu setelah surat tanah itu diberikan, pensiunan jenderal ini pergi ke satu losmen dan menjual surat tanah tersebut kepada pemilik losmen dan istrinya. Pemilik losmen, istri, dan anak perempuannya kemudian berangkat untuk melihat tanah yang mereka miliki.
Setelah sampai di sana mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki tanah satupun, tapi kepala desa menerima mereka dan memberikan mereka satu rumah untuk mereka tinggali. Selama tinggal di sana ternyata istri pemilik losmen mengalami percekcokan dengan istri kepada desa dan akhirnya mendorong suaminya untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa.

Istri pemilik losmen kemudian membeli sejumlah ikan pada penjual ikan. Lalu membuang ikan tersebut setelah ia sampai di losmennya. Hal ini terjadi hanya sebagai bentuk mencari dukungan dan merebut hati penduduk desa.

Sementara mereka cekcok dan saling berusaha merebut hati penduduk desa, orang Romawi mau menyerang desa tersebut. Lalu dengan menggunakan ramuan dari Panoramix, semua bersatu padu untuk mengusir tentara Romawi.

Pemilik losmen akhirnya menyadari bahwa sebenarnya memang ia tidak ingin menjadi kepala desa. Hal itu hanyalah tersulut emosi si istri. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kota asalnya. Istri pemilik losmen pun akhirnya menurut dan ia pun berbaikan dengan istri kepala desa.
Seperti biasa cerita ditutup dengan pesta di bawah sinar rembulan dan ditemani dengan celeng-celeng bakar. Walaupun telah membaca sekian banyak cerita Asterix dan Obelix, saya selalu suka dengan akhir cerita ini hahahaha.

Pelajaran yang dapat diambil dari “Asterix and Caesar’s Gift” yang saya peroleh ada dua, yaitu: pertama adalah untuk para wanita, khususnya untuk para istri. Para wanita, terutama para istri wajib sekali bagi kita semua untuk mempelajari Amsal 31:10-31, terutama pada ayat 12 dan 30b.

Amsal 31:12: Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya

Amsal 31:30b: tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji.

Istri pemilik losmen tidak membawa kebaikan pada suaminya dengan mendorong suaminya untuk menjadi kepala desa hanya karena sang istri merasa kesal dengan istri kepala desa. Tindakannya yang berbohong, pura-pura membeli karena menyukai ikan lalu membuangnya juga bukan hal yang baik. Bahkan dengan meruncingkan perselisihan antara warga desa, itu hal yang tidak baik.

Para wanita, terutama para istri, peran Anda sangat besar untuk membawa suami Anda menuju puncak kejayaan atau kehancuran. Oleh karena itu ingatlah selalu kunci di Amsal 31:30b.

Pelajaran kedua adalah mengenai persatuan. Saat orang Galia bersatu, mereka dengan mudah mengalahkan tentara Romawi. Bagaimana dengan persatuan kita? Ingat:

Pengkotbah 4:9-10: Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!

Matius 18:20: Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Dan saat Tuhan ada di tengah-tengah kita, bersama dengan orang-orang yang mendukung kita dalam doa dan persekutuan, inilah bentuk persatuan yang paling kuat!

Berkaitan dengan ramuan Panoramix yang membuat orang biasa menjadi luar biasa kuat, itulah karya Roh Kudus yang dinyatakan dalam setiap orang percaya yang mau dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam dirinya. Jadi jika Anda ingin seperti Asterix yang memiliki ramuan Panoramix untuk menjadi luar biasa, Anda perlu membuka diri Anda dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri Anda.

Untuk cerita perjalanan selanjutnya, silakan kembali besok.

(Bersambung ke Bagian-6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: