All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan mengisahkan cerita perjalanan 29 – 30 Juni 2009. Cerita perjalanan tanggal 29 Juni adalah sebagai berikut: hari ini kami beristirahat di rumah. Selagi beristirahat kami menonton rekaman acara yang diselenggarakan di Inggris. Acara  ini merupakan salah satu acara yang menempati rating teratas di Inggris. Nama acaranya adalah Britain’s Got Talent.

Jadi dalam Britain’s Got Talent ini dikumpulkan sekian banyak orang yang mendaftar karena merasa memiliki bakat-bakat yang unik. Mulai dari menyanyi, menari, sulap, dan lain-lain. Juri dalam acara ini adalah Simon Cowell (yang sudah kita kenal dalam acara American’s Idol, si lidah tajam namun jujur), Amanda Holden (aktris), dan Piers Morgan (awalnya reporter dan kemudian menjadi entertainer).

Dari sekian banyak orang yang mengikuti acara penyisihan itu, saya akan menceritakan empat penampilan peserta di sini. Tentu saja karena begitu banyaknya peserta yang tampil.

Ada seorang peserta yang sangat menarik untuk dibahas adalah Susan Boyle. Umur Susan Boyle 48 tahun. Penampilannya gemuk dan sangat tidak meyakinkan. Ketika ditanya Simon Cowell, ternyata Susan punya impian untuk menjadi seperti seorang penyanyi terkenal. Ketiga juri dan semua yang hadir sudah memandang sebelah mata dan mereka begitu yakin bahwa ini hanyalah omong kosong belaka.

Lalu Susan Boyle diberi kesempatan untuk menunjukkan bakatnya, yaitu menyanyi. Ternyata suaranya…… astagaaaa! Suara emas yang membuat bulu kuduk merinding! Outstanding voice! Benar-benar suara yang indah sekali. Anda yang tertarik mendengarkan suara emas Susan Boyle? Silakan cari di youtube.com.

Setelah itu ada penampilan dari group dance “Flawless” yang beranggota sekitar 10 orang. Penampilan mereka juga sangat luar biasa. Kekompakan dan penampilan yang apik sungguh-sungguh sangat mengagumkan! Ketiga juri sampai standing ovation – berdiri dengan bertepuk tangan (tanda sangat menghargai, bentuk penghargaan tertinggi dalam pertunjukkan) – setelah penampilan Flawless.

Setelah itu, ada Julian Smith. Julian Smith adalah seorang guru musik yang bermain Saxophone. Penampilannya sungguh luar biasa. Saya yakin itu merupakan proses bertahun-tahun yang terus diasah. Bahkan setelah penampilan Julian Smith Amanda dan kedua host acara tersebut: Ant dan Dec, sampai menangis karena terharu.

Penampilan terakhir yang akan saya angkat di sini adalah penampilan Shaheen Jafargholi yang baru berusia 12 tahun. Ketika sedang menyanyi, tiba-tiba Simon menyuruh berhenti dan menyuruh mengganti lagu yang dinyanyikannya. Padahal dari yang sedang saya dengar, suara Shaheen bagus. Akan tetapi, ternyata dengan lagu barunya, suara emas Shaheen lebih jelas terdengar. Sangat luar biasa! Simon ternyata punya telinga yang sangat peka dan sangat jeli melihat kemampuan seseorang.

Hal yang sangat menarik saya perhatikan adalah dari ketiga juri yang ada, ternyata pendapat Simon Cowell-lah yang sangat dinantikan oleh setiap peserta. Saya perhatikan banyak sekali peserta yang sangat senang jika Simon memberikan pujian bagi mereka. Padahal ketika kedua juri lain memberikan pujian juga, peserta yang sama senang tapi terlihat tidak sesenang ketika Simon yang memberikan pujian.

Pelajran dari cerita perjalanan 29 Juni 2009: ada sejumlah pelajaran berharga yang bisa dipelajari dari acara penyisihan Britain’s Got Talent. Dari Susan Boyle saya mempelajari bahwa pepatah:

“Never judge the book by its cover.”

(“Jangan pernah menilai buku dari sampulnya – jangan pernah menilai orang dari penampilannya.”)

, itu merupakan suatu kebenaran yang telak. Bahkan Tuhan sendiri telah menyebutkan hal ini dalam Alkitab:

Amsal 31:30: Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

Kontekstual ayat ini adalah nasehat bagi para istri untuk menjadi orang yang takut akan Tuhan dan bukan hanya berfokus pada penampilan. Akan tetapi, memang benar bahwa penampilan itu sering kali menipu, sehingga memang kita perlu hikmat dan tidak menilai orang dari penampilan.

Dari “Flawless” saya belajar mengenai kerja keras dan kerja sama untuk mencapai tujuan. Mengenai kerja keras telah dibahas dalam “Kerja Keras dan Kerja Cerdas”. Mengenai kerja sama telah dibahas dalam “Sinergi”. Silakan membaca notes tersebut untuk pembahasannya.

Dari Julian Smith, saya belajar mengenai keteguhan dan konsistensi. Mempelajari suatu hal dalam waktu lama, memerlukan keteguhan dan konsistensi.

Yakobus 1:4: Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Ya, kita butuh ketekunan untuk selalu setia kepada Tuhan, bukan karena situasi sedang diberkati, sedang senang, sedang tidak ada masalah, tapi dalam segala situasi dan dalam segala waktu.

Dari Shaheen saya belajar bahwa usia bukanlah halangan untuk mengembangkan talenta. Tua atau muda, semua orang diberi Tuhan talenta, bakat, kemampuan. Itulah tanggung jawab kita untuk mengembangkannya dan menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan.

1 Timotius 4:12: Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Seberapapun usia Anda, entah Anda tua, terlebih bila Anda muda, ayat 1 Timotius tadi perlu Anda jadikan pegangan dalam hidup Anda. Kembangkan talenta, bakat, dan kemampuan Anda untuk menjadi teladan bagi orang-orang lain sehingga orang lain dapat memuliakan Tuhan karenanya.

Terakhir saya belajar banyak dari sosok Simon Cowell. Memang lidahnya tajam, saya tidak terlalu suka dengan hal itu. Akan tetapi memang sosok Simon Cowell ini memang sosok yang jujur dan berintegritas. Ia tidak munafik dan tidak mencari muka. Kalau bagus katakan bagus, kalau buruk katakan buruk.

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Ini hal yang sangat baik kita pelajari. Integritas memang dibangun tidak dalam satu hari, tapi melalui proses panjang. Sekali integritas itu terbangun, orang akan menilai Anda berdasarkan integritas itu. Tidak percaya? Lihat Simon Cowell. Ia menjadi juri untuk sekian acara pencarian bakat dan seluruh acara tersebut menempati rating teratas di setiap negara yang memutar acara tersebut. Reputasinya memang sudah terkenal sebagai orang yang jujur. Maukah Anda menjadi seperti itu?

Setelah itu, saya akan membahas mengenai cerita perjalanan 30 Juni 2009. Hari ini saya membaca “Complete Novels” yang ditulis oleh Jane Austen. Isinya ada 6 novel, yaitu: “Sense & Sensibility”, “Pride & Prejudice”, “Mansfield Park”, “Emma”, “Northanger Abbey”, dan “Persuasion”.

Sebenarnya saya hanya penasaran ingin membaca “Sense & Sensibility” dan “Pride & Prejudice” saja, tapi ternyata novel satuan untuk kedua judul tersebut sedang dipinjam semua. Buku-buku tersebut dipinjamkan oleh kakak saya untuk saya di American Library in Paris. Oleh karena itu akhirnya saya dipinjamkan “Complete Novel”-nya.

Pukul 11.45 kami berangkat dari rumah menuju ke Notre-Dame. Ini adalah salah satu gereja di Paris. Jika anda ingat film kartun “Hunchback of Notre-Dame”, ya Notre-Dame yang menjadi latar belakang film tersebutlah yang akan kami kunjungi hari ini. Kami sampai di Notre-Dame pukul 12.15. Setelah melihat-lihat ke dalam gereja, kami keluar pukul 12.45. Kali ini kami boleh berfoto di dalam bangunan gereja.

Sayangnya, saya merasakan bahwa suasana khidmat yang saya rasakan di sejumlah gereja sebelumnya yang saya kunjungi itu terasa kuat, di sini tidak saya rasakan. Setelah itu kami berfoto-foto di belakang gereja (tepatnya di taman gereja) sampai pukul 13.05. Setelah itu kami berfoto-foto di depan patung St. Mikael yang menginjak Iblis. Di sana ada air mancur juga. Kami kemudian ke stasiun metro pukul 13.30.

Waktu di dalam metro ternyata ada copet. Pelakunya adalah dua orang anak perempuan yang berusia sekitar 16 – 17 tahun. Cantik, putih, dan sungguh-sungguh tidak terlihat seperti copet. Menurut ayah saya kelihatannya yang tercopet adalah orang yang ada di sebelah ayah saya.

Awalnya saya tidak menyadari bahwa ada copet, bahkan sampai kedua copet itu berlalu saya masih tidak tahu. Ketika dua anak perempuan tersebut masuk metro, saya hanya mengherankan 1 hal. Metro saat itu memang sangat penuh sesak, tetapi saya sudah memberikan ruang bagi kedua anak perempuan itu untuk berpegangan pada besi metro. Akan tetapi, herannya kedua anak perempuan tadi malah tidak berpegangan.

Hal yang saya perhatikan adalah ketika metro berguncang, anak perempuan ini ikut doyong ke depan. Saya sungguh heran dan dia tidak menahan tubuhnya agar tidak membentur tubuh ayah saya yang kebetulan berada di samping anak perempuan ini.

Saya baru tahu bahwa kedua anak perempuan tadi copet karena saya menawarkan orang lain yang berposisi di depan saya (seorang bapak) untuk berpegangan. Sebab dia tidak memiliki ruang untuk berpegangan mengingat begitu sesaknya metro saat itu. Akan tetapi dia menolak sambil tersenyum.

Setelah itu Bapak tersebut berbicara dengan Bahasa Perancis. Saya tidak mengerti sedikitpun yang dia katakan, tapi dari bahasa tubuhnya yang menunjukkan dua jari dan menunjuk pada dua anak perempuan yang baru turun tadi, lalu dia terus berbicara dengan Bahasa Perancis dan dengan bahasa tubuh menyuruh saya untuk memegang erat tas saya. Barulah saya mengerti.

Sampai di apartemen sekitar pukul 14.00. Lalu saya menonton rekaman acara “Dancing with The Star” sampai tamat. “Dancing with The Star” merupakan acara yang menampilkan selebritis berpasangan dengan penari dan mereka perlu menari bersama dan bersaing untuk menjadi yang terbaik. Penyisihan dilakukan dengan menggunakan pilihan pemirsa. Pasangan dengan perhitungan sms dukungan tersedikit akan tersingkir.

Karena sudah menonton dari awal sampai semi final, di final tinggal tersisa 3 pasangan lagi. Ketiga pasangan itu adalah Mellisa Rycroft, Giles Marini, dan Shawn Johnson. Di luar dugaan yang menang adalah Shawn. Hal ini membuat saya sangat kecewa, karena saya mengikuti acara tersebut dari awal dan saya menjagokan Giles atau setidaknya Mellisa. Memang Giles dan Mellisa sangat konsisten dari awal, namun pada saat akhir harus diakui bahwa Shawn yang memang paling cemerlang penampilannya.

Pelajaran dari cerita perjalanan 30 Juni 2009: gereja hanyalah tinggal bangunan saja jika hadirat Tuhan tidak ada di dalamnya. Sama halnya dengan diri kita. Diri kita adalah Bait Allah.

1 Korintus 6:19: Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

Pastikan hadirat Allah senantiasa ada dalam diri kita sehingga kita sungguh-sungguh berfungsi sebagai Bait-Nya yang kudus.

Pelajaran kedua mengenai pepatah:

“Never judge the book by its cover.”

, ini sungguh-sungguh ditekankan Tuhan bagi saya. Karena dua kejadian (dari Susan Boyle pada hari sebelumnya) dan dari peristiwa pencopet tersebut, ini sungguh-sungguh pelajaran penting sekali yang perlu saya dan Anda ingat.

Pelajaran ketiga saya peroleh dari final “Dance with The Star”. Memang Giles dan Mellisa sangat memukau dari awal babak penyisihan, namun pada saat final mereka kurang sempurna dibandingkan dengan Shawn. Sementara Shawn memang pada awal-awal dia kurang sempurna, namun saat akhir dia sangat memukau.

Begitu menonton acara tersebut, saya sekejap teringat suatu ayat, yaitu:

Matius 20:16: Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Arti dari ayat ini adalah ada orang yang awalnya setia pada Tuhan tapi kemudian karena kekecewaan dan kepahitan, Ia berubah setia kepada Tuhan. Sebaliknya, ada orang yang awalnya tidak setia kepada Tuhan, tapi kemudian kembali setia sampai akhir.

Akhir adalah yang paling menentukan. Saat akhir hidup kita, itu hal yang paling penting dibandingkan saat awal hidup kita. Bukan berarti kita boleh berbuat dosa sesuka hati pada awal baru kemudian bertobat kemudian. Bukan! Jangan bermain-main dengan kemurahan hati Tuhan.

Hal yang terbaik adalah bila kita terus konsisten untuk hidup benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan, sampai pada akhirnya nanti. Semoga kita semua bisa mengucapkan kata-kata Rasul Paulus berikut ini pada akhir hidup kita:

2 Timotius 4:7: Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Untuk kisah perjalanan saya berikutnya, silakan kembali esok hari.

(Bersambung ke Bagian-9)

Iklan

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-8 (29 – 30 Juni 2009)" (4)

  1. FB Comment from SM:
    Sungguh sangat luar biasa, setelah membacanya aku jadi malu terhadap diriku sendiri yg penuh gelimang salah dan dosa, berharap Alloh bisa mengubah hidupku kejalan yg lurus. Amin….

    • Semua orang memang berdosa dan tidak ada satupun yang benar. Namun anugerah Tuhan memungkinkan setiap manusia yang berdosa untuk bisa mengalami hidup yang baru, yaitu saat ia menyerahkan hidupnya dan menerima Kristus sebagai juru s…elamat pribadinya. Roma 3:23-24: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

  2. FB Comment from EHC:
    don’t judge the book by the covernya, soalnya manusia kan selalu menilai luarnya dulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: