All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan mengisahkan cerita perjalanan saya dan keluarga saya pada tanggal 2 – 3 Juli 2009. Cerita perjalanan tanggal 2 Juli 2009 adalah sebagai berikut: hari ini kami bersiap-siap untuk berangkat ke Italia. Karena siang hari sangat panas, kakak saya membuat Smoothie Strawberry. Smoothie terdiri dari strawberry, yogurt, jus jeruk, dan es. Kesemua bahan tersebut diblender dan setelah jadi, ahhhh segarrr dan nikmat sekali! Sangat pas diminum pada saat cuaca panas.

Hari ini kami berangkat ke Roma menggunakan kereta antarnegara. Kami berangkat menuju Stasiun Paris Bercy. Harusnya pukul 18.52 kereta berangkat, tapi ternyata ada keterlambatan. Jadi waktu keberangkatan diundur 15 menit. Kami akhirnya berangkat pukul 19.20.

Kereta yang kami naiki kursinya itu bisa diubah menjadi tempat tidur dan ada 2 tempat tidur tingkat di atasnya. Jadi pada malam hari kami bisa beristirahat. Kereta terdiri dari kompartemen-kompartemen. Kompartemen itu semacam tempat duduk dalam ruangan yang dapat dikunci dari dalam. Satu kompartemen adalah untuk 3 orang penumpang. Malam terasa panas sekali, tapi untunglah menjelang subuh AC (air conditioning/pendingin udara)-nya terasa dingin juga.

Hal yang terasa mengganggu adalah ketika kompartemen di depan kami penumpangnya baru malam hari masuk kompartemennya. Jadi rupanya memang mereka baru saja naik di stasiun perhentian kereta. Jadi malam hari mereka baru masuk kompartemennya dan sangat ribut. Bukan hanya ribut, namun ada penumpang yang terus-menerus mencoba pintu pembatas antara kompartemen mereka dan kompartemen kami.

Kalau hanya satu kali itu wajar, tapi ini terjadi berulang kali sampai pintunya terbuka. Ayah saya memperingatkan orang tersebut, barulah hal tersebut tidak terjadi lagi.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 2 Juli 2009: dalam hidup kita, kita perlu menghormati orang lain. Kita tidak hidup di dunia yang isinya hanya kita saja, ada orang-orang lain juga.

Matius 7:12: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Jadi kalau kita ingin dihormati, hormatilah orang lain terlebih dahulu. Jika kita ingin dikasihi, kasihilah orang lain terlebih dahulu. Saat kita mengharapkan orang lain berubah dahulu baru kita mau berubah, biasanya hal yang kita harapkan tidak terjadi.

Saya ingin membahas sesuatu yang sebenarnya tidak ada kaitan langsung dengan cerita perjalanan ini, namun sangat erat kaitannya dengan menghormati orang lain. Sebagai seorang pengajar, saya mengalami dan melihat sendiri betapa rasa hormat dan sopan santun anak generasi muda itu merosot jauh.

Saya mengatakan ini lewat pengamatan setidaknya selama 5 tahun terakhir. Tahun ke tahun sikap para mahasiswa itu menurun. Ya, memang sejumlah mahasiswa masih tetap bersikap baik, yaitu hormat, sopan, dan penuh tata krama. Hal yang merupakan suatu titik yang menggembirakan.

Akan tetapi saya dengan berat hati harus mengatakan bahwa persentasenya sangat menurun. Mengapa hal ini saya angkat? Ada tiga alasan. Alasan pertama berdasarkan pemikiran logis-rasional. Alasan kedua berdasarkan hasil riset. Alasan ketiga berdasarkan tinjauan Firman Tuhan di Alkitab.

Saya akan mulai dari alasan pertama dulu, yaitu berdasarkan pemikiran logis-rasional. Ada dua pemikiran berkaitan pemikiran logis-rasional. Hal yang pertama berdasarkan akar katanya. Mahasiswa sesuai namanya adalah pelajar pada tingkatan yang tertinggi (maha = agung dan besar, siswa = murid, pelajar). Sesuai makna kata yang membangunnya seharusnya mahasiswa bukan hanya cerdas, tetapi juga pembelajar. Pembelajar artinya mempelajari segala hal, termasuk nilai-nilai kehidupan, yang diantaranya adalah sopan santun, hormat kepada otoritas, dan tata krama.

Akan tetapi dari yang saya alami, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, saya melihat nilai ini sangatlah kurang. Saya pribadi tidak mempermasalahkan masalah menyapa seorang pengajar dengan sebutan “Ibu” atau “Kakak” atau “Ci” atau “Mbak”. Itu bagi saya pribadi tidak merefleksikan suatu bentuk ketidaksopanan.

Namun yang memprihatinkan adalah ketika mahasiswa bertindak atau berkata-kata dengan sangat tidak patut, bahkan di dalam kelas sekalipun. Hal ini menurut saya sangat memalukan. Mengapa? Kita akan bergulir ke tinjauan rasional-logis yang kedua, yaitu berdasarkan akal sehat.

Mahasiswa merupakan manusia-manusia yang berpendidikan, terpelajar, dan dari segi usia mulai memasuki usia kematangan dan kedewasaan (walaupun ya saya tahu kedewasaan tidak diukur dari usia). Akan tetapi sayangnya, saya sering mendengar perkataan dan tindakan yang benar-benar mengherankan bisa dikatakan dan dilakukan oleh seorang yang katanya berpendidikan, terpelajar, mulai matang, dan dewasa tersebut.

Bahkan kadang-kadang mendengar atau melihat kelakuan yang seperti itu, saya sering melihat bahwa orang-orang dengan pendidikan yang lebih rendah, kurang terpelajar sekalipun, masih bisa berkata-kata dengan baik, santun, dan hormat. Sangat disayangkan!

Alasan kedua saya mengetengahkan hal ini adalah hasil riset. Saya yakin bukan kebetulan saya melihat TV kemarin dan acaranya adalah mengenai hari anak Indonesia. Di sana narasumber memaparkan hasil riset di sekian banyak negara mengenai faktor-faktor yang menandakan negara sudah mulai mengarah ke kehancuran.

Hal yang menarik disebutkan di poin keempat dari sepuluh poin yang ada, yaitu hilangnya rasa hormat kepada guru dan orang tua. Ini bukan kebetulan dan saya sendiri tercengang melihat hasil riset itu. Ketika saya merenungkan hal ini, saya setuju bahwa memang ini harus diperangi kalau negara kita tidak mau mengarah ke kehancuran.

Mengapa? Karena generasi muda inilah yang akan memegang negara ini kelak. Bilamana mereka saja sudah tidak memiliki rasa hormat pada guru dan orang tua (yang merupakan figur yang seharusnya dihormati), lalu akan seperti apa mereka menghormati orang lain?

Lebih lanjut saya akan merefleksikan hasil riset ini pada satu hal yang terkait pada ayat Matius 7:12 yang sudah saya paparkan di atas. Jika kita tidak memiliki rasa hormat pada orang lain, sebenarnya itu merupakan refleksi kita ke dalam bahwa kita tidak menghormati diri kita sendiri.

Saat kita tidak menghormati diri sendiri, bagaimana orang bisa menghormati diri kita? Ini menjadi satu lingkaran yang terjadi terus-menerus. Dari sini saya akan beralih ke alasan ketiga saya membahas hal ini, dari tinjauan Firman Tuhan.

2 Timotius 3:1-2: Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

Dari http://www.sabda.org/sabdaweb/biblical/intro/?b=55&intro=pfull&lang=indonesia&theme=clearsky saya memperoleh data bahwa Kitab 2 Timotius ditulis pada tahun 67. Jadi sudah 1942 tahun yang lalu. Akan tetapi, Alkitab memang tidak pernah usang walau ribuan tahun telah berlalu.

Memberontak terhadap orang tua (figur otoritas) ini merupakan cerminan ketidakpatuhan dan hilangnya rasa hormat. Padahal saling menghormati merupakan salah satu sendi yang menjaga kehidupan berjalan pada rel yang semestinya. Semoga setiap orang yang membaca hal ini bisa mengembalikan sendi-sendi yang mulai bergeser dari jalur semestinya ke rel yang benar. Amin.

Cerita selanjutnya adalah mengenai kisah perjalanan tanggal 3 Juli 2009. Pagi hari kami dikejutkan dengan berita bahwa dompet kakak ipar saya hilang dan hilangnya di kereta. Kami punya dugaan kuat mengenai pelaku pencurian tersebut, namun karena tidak ada bukti kami jelas tidak bisa menuduh sembarangan.

Saya mencoba membantu mencari-cari ke dalam kompartemen, koper, tas, dan sampai ke kantung celana jeans yang dipakai kakak ipar saya semalam. Nihil! Anehnya telepon genggam milik kakak ipar saya masih berada di dalam kantung celana jeansnya.

Untungnya uang di dalamnya tidak terlalu banyak sehingga tidak terlalu banyak uang yang hilang. Padahal pada saat sudah tiba di Stasiun Paris Bercy, kakak ipar saya ingin mengambil uang dulu dan sudah mencari ATM tetapi tidak menemukan ATM.

Saya pikir ini merupakan salah satu bentuk perlindungan juga dari Tuhan. Jadi tidak terlalu fatal kehilangan uang yang terjadi, walaupun sejumlah kartu penting seperti: surat izin mengemudi (SIM), kartu kredit, dan kartu identitas hilang.

Hari ini menurut jadwal, kami akan sampai Roma pukul 10.13. Ternyata kami sampai Stasiun Roma Termini pukul 11.15. Ya, terlambat 1 jam dari jadwal yang ditetapkan. Yah, tidak heran karena kerena banyak berhenti di stasiun-stasiun yang disinggahi dan dalam waktu yang relatif lama. Saya sendiri tidak mengetahui hal itu karena malamnya saya sudah tidur nyenyak hahahaha.

Begitu sampai Stasiun Roma Termini, kakak ipar saya langsung melaporkan kehilangan tersebut ke polisi yang ada di stasiun. Ternyata, kakak ipar saya bukan satu-satunya orang yang ada di sana. Banyak orang juga mengalami kecurian.

Lalu selagi menunggu proses pelaporan ke kepolisian selesai, kami mencoba mencari kamar kecil dahulu. Kali ini kami menemukan rekor biaya kamar kecil termahal, yaitu 80 sen Euro. Silakan dikurs ke dalam rupiah jika ingin tahu nilainya dalam rupiah (kalikan 14.290). Memang selama mengunjungi 5 negara di Eropa, jarang sekali kami menemukan kamar kecil yang gratis, bahkan di rumah makan sekalipun.

Hal yang sangat ironis menurut saya, karena kalau di rumah makan kita perlu membayar untuk makanan atau minuman yang kita beli dan tetap harus bayar untuk ke kamar kecil. Sejauh ini untuk kamar kecil yang bayar, rekor termurah adalah 20 sen Euro, yaitu di Restoran Mingkee, di Belanda.

Untungnya hilangnya dompet kakak ipar saya tidak memiliki dampak yang berlarut-larut. Kami masih bisa bersukacita walau lebih waspada dengan tas dan dompet kami. Kami menuju Museum Vatican I sebagai tempat tujuan pertama dan pukul 13.45 kami sampai di sana.

Museum tersebut sangat luas dan seperti bangunan-bangunan di Eropa, sangat artistik. Bagus sekali di dalamnya. Mulai dari lukisan, ukiran, patung, semuanya artistik sekali.

Kali ini ternyata kamar kecilnya gratis hahahaha. Kejutan yang menyenangkan. Kami melihat-lihat sampai pukul 15.15. Dari sana, kami kemudian menuju Basilica St. Peter. Pukul 15.45 kami sampai Basilica St. Peter.

Basilica St. Peter merupakan katedral tempat Paus biasa di sana. Jadi sudah terbayang betapa megah dan luasnya gereja tersebut. Namun, kembali saya harus merasa kecewa, suasana khidmat seperti di sejumlah gereja yang telah saya datangi sama sekali tidak terasa di sini. Ya, Basilica St. Peter sangat megah dan indah sekali. Itu tanpa ragu dapat saya katakan, akan tetapi memang sama sekali tidak terasa sebagai gereja. Sangat ironis, karena saya lebih merasa seperti mengunjungi sebuah obyek wisata saja. Kami keluar dari sana pukul 16.30.

Karena sangat lelah setelah berjalan-jalan di museum dan di gereja, kami duduk dulu dan minum air es jeruk lemon. Cuaca sangat panas, sehingga minum air es sambil duduk terasa bagai surga hahahaha. Menariknya es di dalam air jeruk lemon itu sangat halus sehingga seperti bubuk. Hm… ya tidak persis bubuk, tapi halus. Agak sulit untuk menggambarkannya, Anda perlu melihat dan meminumnya sendiri baru bisa mengetahuinya dengan persis.

Setelah segar kembali, kami menuju Stasiun Roma Termini lagi untuk mengambil titipan koper kami. Pada awal kami sampai, kami sudah menitipkan koper sehingga tidak perlu membawa-bawa koper tersebut. Jangan salah, penitipan koper itu tidak gratis. Jadi membayar 1 Euro per koper.

Kami sampai di sana pukul 18.00. Setelah mengambil koper, kami menuju Hotel Merulana Star Guest House. Kami beristirahat dulu sampai pukul 19.00 kemudian pukul 19.00 kami berangkat menuju Colloseum. Pukul 19.15 kami sampai ke Colloseum. Sesudah melihat-lihat dan berfoto-foto di sana, pukul 19.45 kami berangkat lagi untuk makan malam. Pukul 20.00 kami sampai ke sebuah tempat makan, yaitu I Buoni Amici.

Saya memesan fetuchini saus krim, jamur, dan ham. Hm.. sebenarnya fetuchininya enak pada suapan-suapan awal. Akan tetapi saya tidak terbiasa dengan pasta menggunakan saus krim sehingga akhirnya setelah memakan sampai sepuluh suap, mulai terasa kurang enak. Ya ini terjadi karena memang lidah saya tidak terbiasa dengan jenis makanan berkrim seperti itu. Kami selesai makan pukul 21.00 dan kami kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat.

Pelajaran cerita perjalanan 3 Juli 2009: kita perlu waspada terus-menerus dalam hidup ini, bukan hanya masalah harta yang terpenting, namun justru mengenai hidup kita. Harta/uang yang hilang dapat digantikan, akan tetapi jika hidup yang terhilang bagaimanakah menggantikannya?

Memang selalu ada jalan bagi orang yang mau kembali kepada terang-Nya, akan tetapi seperti kata pepatah:

”Lebih mudah mencegah daripada mengobati.”

Lebih mudah bagi kita untuk menjaga hidup kita berada pada jalan yang benar daripada untuk kembali ke jalan yang benar dari suatu jalan yang salah. Diperlukan suatu tekad yang kuat dan anugerah Tuhan untuk bisa kembali, oleh karena itu jangan sia-siakan hidup Anda.

Jika Anda berada pada jalur yang keliru, segera datang pada Tuhan dan bertobatlah. Jangan menunggu lama dan mengulur-ulur waktu, karena kita tidak tahu hari esok masih akan datang atau tidak.

Efesus 5:16: dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

Waktu yang kita gunakan sekarang ini masih sama 24 jam, akan tetapi apakah Anda merasa waktu yang kita miliki sekarang terasa lebih singkat? Ini karena tekanan hidup semakin berat sehingga menyita waktu kita lebih banyak. Akibatnya waktu terasa lebih singkat, padahal masih sama 24 jam.

Oleh karena itu jangan sia-siakan hari ini. Jika Tuhan masih beri hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini; itu berarti Ia masih bermurah hati untuk memberi Anda kesempatan bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Pelajaran kedua yang saya peroleh dari perjalanan tanggal 3 Juli 2009: sama seperti saya yang tidak terbiasa dengan pasta berkrim, seperti itu jugalah hidup kita. Saat kita tidak terbiasa dengan dosa, maka hidup kita menjadi baik adanya. Saat hidup kita tidak terbiasa dengan hal-hal yang benar dan kudus, maka hidup kita menjadi keliru.

Inilah saatnya, inilah waktunya untuk kita semua hidup dalam kekudusan dan dalam kebenaran. Jangan tunda-tunda lagi karena esok mungkin tak datang. Kalaupun esok datang, apakah Anda mau membuang-buang hidup yang hanya satu kali ini di dunia untuk kesia-siaan? Pilihlah dengan bijaksana. Hidup adalah pilihan dan pilihan Anda menentukan hidup Anda.

Untuk mengikuti kisah perjalanan saya selanjutnya, silakan kembali besok.

(Bersambung ke Bagian-11)

Iklan

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-10 (2 – 3 Juli 2009)" (6)

  1. info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s

    • archaengela said:

      Segala pujian hanya bagi Tuhan yang menginspirasikan hingga tulisan tersebut dapat dibuat. Tuhan memberkati.

  2. FB Comment from ECSD:
    Kpn critany dtanyankn ..pengn tau akhr dr critae cc..good ..sangat mendalam ..sangt bgs buat pelajarn hdp..

    • Puji Tuhan, thanks. Ntar akhir Juli selesai :). Segala pujian hanya bagi Tuhan. Semoga bisa diwujudkan dalam hidup kita semua dan bukan cuma sekedar menjadi bahan bacaan. Amin. Gbu. 🙂

  3. FB Comment from EHC:
    yah aku juga masih belajar dalam hal taat akan otoritas kepada pemimpin (masih sangat kurang)

    • Puji Tuhan. Thanks dah baca :). Semua kita harus belajar tentang hal itu seumur hidup kog. Jangan kuatir. Selama masih mau belajar, berarti masih ada harapan. Kalau merasa udah hebat, itu baru ga ada harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: