All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan membahas kisah perjalanan saya bersama keluarga pada tanggal 4  Juli 2009. Cerita perjalanan tanggal 4 Juli 2009 adalah sebagai berikut: pukul 08.10 kami makan pagi (breakfast) di tempat makan sebelah hotel, Squisito namanya. Kami beruntung sekali mendapatkan potongan 2 Euro per orang untuk makan pagi. Hal ini terjadi karena kami mendapat kupon dari hotel dari hasil menanyakan info tempat makan buat breakfast.

Pukul 08.45 kami check out dari hotel. Ternyata kami mendapat potongan 1 Euro lagi karena pembayaran breakfast ditagihkan ke hotel sehingga ketika membayar harga menginap semalam juga sekalian membayar untuk harga breakfast. Pukul 09.00 kami sudah sampai Stasiun Roma Termini untuk naik kereta menuju Milan. Jadwalnya pukul 09.30 berangkat dan kali ini relatif cukup tepat waktu karena keberangkatan adalah pukul 09.35.

Hal yang menarik saya perhatikan di Roma Termini ternyata suatu TV kabel mempromosikan siarannya dan ternyata salah satunya adalah mengenai siaran sepak bola. Memang ternyata aura Italia sebagai negara bola cukup terasa, bahkan sampai stasiun kereta sekalipun :D.

Pukul 13.40 kami sampai Milan. Sepanjang jalan dari Roma ke Milan banyak terlihat padang bunga matahari. Dari kejauhan terlihat kecil-kecil namun jumlahnya sangat banyak. Jadi terlihat dengan jelas bahwa itu bunga matahari. Ada juga terlihat pepohonan dan gunung-gunung di kejauhan. Pemandangan yang sungguh indah.

Di dalam kereta, ada seorang ibu mungkin dari Korea atau Jepang. Dia menggendong anaknya melintasi lorong. Saya perhatikan ternyata jika ibu ini duduk, anaknya yang berada dalam gendongan dia turut duduk pula dan ternyata anaknya itu tidak suka berada dalam posisi duduk diam saja. Kelihatan sekali bayi laki-laki tersebut senang diajak berjalan-jalan. Anaknya gemuk dan lucu sekali. Hm… membuat saya jadi ingin mempunyai anak sendiri segera hahahaha.

Selama berlibur saya juga belajar juga seni parenting (menjadi orang tua) dari orang tua saya, dari kakak dan kakak ipar saya kepada keponakan saya dan saya juga belajar untuk menerapkan kepada keponakan saya. Selama ini saya telah melihat, membaca, mendengar dari kehidupan sehari-hari, buku-buku, radio, TV, dan internet mengenai seni parenting.

Kesempatan berpraktik secara total adalah saat saya memiliki anak sendiri. Sebelum itu tiba, saya tentu saja harus belajar banyak dan nanti pada saat itu tiba, saya bersama suami saya kelak tentu saja perlu mendiskusikan seni parenting yang akan kami gunakan bersama.

Dari bayi, saya akan beralih ke orang-orang Italia pada umumnya. Kalau diperhatikan, antara orang Italia dan Perancis, jauh lebih modis orang Perancis. Orang Perancis saya perhatikan mungkin termasuk orang termodis di Eropa mungkin (setidaknya dari 5 negara di Eropa yang saya kunjungi). Bayangkan aja, setiap hari orang lalu lalang mengenakan jas (bagi yang laki-laki) atau memakai sack dress, bahkan baju pesta (bagi yang perempuan) ke mall!

Orang Italia mirip dengan orang Jerman dalam hal penampilan: biasa aja, tidak terlalu modis, tapi keramahan dan kehangatan orang Italia terasa jauh lebih tinggi dibandingkan orang Perancis.

Seudah sampai Milan, kami mencari tempat penitipan tas lalu kami pergi makan siang (lunch). Pukul 14.05 kami menemukan satu tempat makan yang kami coba. Namanya Ristorante Caffe Lepetit. Saya dan orang tua saya masing-masing memesan pizza karena kami sudah mencoba pasta sebelumnya sehingga yang belum kami coba adalah pizza di negeri asalnya.

Saya berpikir hanya akan mendapatkan 1 slice (iris) pizza, ternyata yang membuat saya kaget pizza yang didapat adalah 1 loyang. Ukurannya itu bukan personal pan (small) tapi antara medium atau bahkan large hahahaha. Bentuknya persis seperti pizza di Indonesia, tapi karena pizza di Indonesia sudah dimodifikasi dengan selera kita maka saya nilai jauh lebih enak pizza di Indonesia. Yah, seperti saya katakan kemarin:

“Tak biasa maka tak terbiasa.”

Keponakan saya memesan pizza yang ada di etalase. Pizzanya sangat tipis dan menurut keponakan saya rasanya sangat enak. Ternyata harga pizza tipis tersebut 21 Euro hahahaha. Sangat di luar dugaan karena kami pikir dari segi ukuran dan ketebalan berbeda dengan pizza yang kami pesan, tapi ternyata yang di etalase malah lebih mahal. Pukul 15.00 kami selesai lunch.

Setelah itu kami berjalan-jalan ke Duomo Millano. Duomo artinya katedral. Sampai sana pukul 15.15. Di sana bagus sekali sayang tidak boleh berfoto di dalamnya. Kembali hipotesis saya terbukti. Saat suatu gereja tidak boleh berfoto di dalamnya, suasananya terasa sangat khidmat dan agung, akan tetapi saat di suatu gereja boleh berfoto di dalamnya dan digunakan sebagai obyek wisata, hilanglah kekhidmatan dan keagungannya.

Pukul 15.45 kami keluar dari Duomo Millano dan berjalan-jalan sambil berfoto-foto di situ. Di samping katedral ada bangunan mirip L’Arc de Triomphe di Perancis. Ternyata itu pertokoan besar. Di pertokoan itu kembali merek-merek terkenal bertebaran. Mulai dari Louis Vuitton, Gucci, Prada, dan lain-lain.

Dari sana pukul 16.10 kami mencoba naik tram. Tram adalah sejenis kereta yang melintasi jalan-jalan dan ada relnya di jalanan. Jadi mobil dan trem bisa bersisian saat melaju. Karena kereta menuju Paris itu jadwalnya pukul 00.00, kami masih memiliki banyak sekali waktu untuk berputar-putar menggunakan tram itu. Maklum di Indonesia tidak ada tram, jadi penasaran ahahhaa.

Saya sempat juga memfoto sejarah tram yang ada di dalam tram tersebut. Pengaturan letak kursi dalam tram ada dua jenis, yaitu tram yang pengaturan kursinya seperti bis kota di Indonesia (jadi menghadap ke depan semua) dan yang pengaturan kursinya saling berhadapan (seperti kursi angkot (angkutan kota) di Indonesia).

Sepanjang jalan banyak bunga-bunga mawar, mulai dari warna merah muda, putih, kuning, dan oranye muda. Terasa asri sekali. Waktu turun dari tram dan kembali ke tempat pertama (sebelah katedral), kita menemukan toko-toko lain lagi di sana.

Ternyata Toko Mango sedang sale dan diserbu pembeli, terutama kaum Hawa. Kaum Adam ada beberapa orang dan juga tidak ketinggalan memborong barang. Sama saja ternyata antara perempuan dan laki-laki yang memang hobi berbelanja.

Di sana saya hanya meliat-lihat sebab kalau menurut selera saya sih rasanya modelnya biasa aja dan bukan selera saya. Ya, tiap orang memiliki selera sendiri dalam berpenampilan, jadi kalaupun Anda menyebut selera saya rendah itu bagi saya tidak  masalah hahahaha. Untuk masalah selera memang sulit ditemukan kata sepakat.

Satu-satunya barang yang saya suka di sana adalah sepatu merah menyala setinggi 11 cm yang harganya 69 Euro setelah didiskon dari 109 Euro. Jelas tidak mungkin bagi saya untuk memakai sepatu setinggi itu. Lagipula mahal sekali.

Karena sekedar seneng saja melihatnya, saya sempat mencobanya juga hahaha, ternyata pas! Akan tetapi saya pernah menonton di tv bahwa sepatu berhak tinggi tidak baik bagi kesehatan karena bisa menimbulkan kelelahan, berubahnya struktur tulang kaki, bahkan sampai ke migren dan gangguan pada punggung. Oleh karena itu jika Anda mengenal saya, sepatu saya umumnya datar.

Seudah dari sana kami kemudian menunggu di depan Duomo Millano lagi. Di depannya ada panggung terbuka jadi seolah-olah mendapatkan hiburan gratis. Sayangnya pertunjukkannya belum mulai dan baru cek sound (memeriksa suara alat musiknya) saja. Ada lagu pop masa kini, juga ada sejumlah lagu klasik. Asyik sekali untuk didengarkan!

Sayangnya cuaca berubah mendung sehingga kami cepat-cepat ke Stasiun Centrale. Pukul 20.30 kami sampai stasiun. Selama menunggu, kami sambil memakan pizza yang dibeli tadi siang. Sisanya masih 1 dus mengingat begitu besarnya porsi pizzanya. Mungkin karena kalorinya tinggi sehingga kami tidak merasa terlalu lapar sejak dari makan siang tadi.

Di stasiun selagi menunggu dan yang lain sedang berjalan-jalan di sana sambil menghabiskan waktu, saya sempet menyanyi lagu-lagu penyembahan sendiri di kursi. Ada sejumlah orang lain yang sedang menunggu juga, tapi saya pikir mereka tidak mengerti bahasa saya. Yah, walaupun ada lagu dalam Bahasa Inggris juga yang saya nyanyikan. Jadi saya dengan santainya bernyanyi-nyanyi sendiri.

Setiap kali selesai penyembahan rasanya luar biasa sekali. Ya mengingat saat liburan ini saya sulit memiliki waktu hanya sendiri saja dan jadwalnya padat. Memang setiap hari saya tetap bersaat teduh selama liburan, tapi saya merasa kualitasnya berbeda saat saya dengan santai di rumah saya dan dalam kesendirian saya.

Lalu ada pengumuman yang memberitahukan bahwa keberangkatan ditunda 20 menit. Jadwal keberangkatan seharusnya pukul 23.35. Pukul 00.00 kami naik kereta. Kali ini satu kompartemen untuk enam orang. Jadi terdapat dua kursi yang saling berhadapan. Di atas kedua kursi yang dapat dijadikan tempat tidur tersebut, di atasnya terdapat 2 tempat tidur susun lagi. Jadi total ada 6 tempat tidur. Sekitar pukul 07.00 kami akhirnya sampai di Paris.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 4 Juli 2009: bunga matahari yang berkumpul bersama membentuk satu padang bunga matahari yang terlihat jelas. Jika kita melihat bunga matahari itu, setiap bunga matahari selalu mengarah ke arah matahari.

Begitu pula seharusnya kita. Seperti bunga matahari yang berkumpul bersama membentuk padang matahari, kita perlu berkumpul bersama orang-orang percaya untuk saling menguatkan dan membangun. Bahkan bukan sekedar untuk saling menguatkan dan membangun,

Matius 18:20: Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Ya, Tuhan ada di tengah kita saat kita berkumpul dalam nama-Nya. Seperti bunga matahari yang terus tumbuh mengikuti arah matahari, demikian juga seharusnya kita hidup: terus tumbuh mengikuti arah Matahari kita, yaitu Kristus sendiri, Tuhan dan Allah sendiri.

Seperti bunga matahari yang berkumpul bersama membentuk padang matahari sehingga terlihat jelas bahkan dari kejauhan, seperti itu jugalah kita seharusnya bersama orang-orang percaya lainnya, saling bersehati dan berkumpul bersama dalam doa dan ucapan syukur.

Hal yang perlu diingat: berkumpul bukan sekedar berkumpul, bukan untuk menunjukkan ekslusivitas, bahwa kami adalah orang percaya. Bukan itu! Justru kita perlu menghindari hal itu. Sebaliknya kita berkumpul untuk saling bersehati dan untuk saling membangun sehingga akhirnya nama Tuhan dipermuliakan.

Tidak perlu kita mengumumkan bahwa kita pengikut Kristus. Jika setiap tindakan kita dan kata-kata kita “berteriak” begitu keras bahwa kita adalah pengikut-Nya, setiap orang juga akan langsung dapat melihatnya. Ingat: tindakan dan kata-kata kita memberi kesaksian bagi semua orang. Jadi pastikan tindakan dan kata-kata kita senantiasa memuliakan Tuhan.

Pelajaran kedua yang saya peroleh dari perjalanan tanggal 4 Juli 2009: proses pembelajaran untuk menjadi orang tua (seni parenting) itu merupakan proses seumur hidup. Hal yang saya pelajari dari sekian banyak sumber adalah demikian: pada saat anak kecil sampai menginjak usia 12 tahun peran orang tua adalah sebagai orang tua dalam porsi utamanya (mungkin sekitar 80%), peran sahabat memegang porsi relatif kecil (mungkin sekitar 20%).

Setelah anak menginjak usia remaja, peran orang tua dalam porsi terbesar sebagai teman (mungkin sekitar 60%) dan porsi yang relatif lebih kecil sebagai orang tua (mungkin sekitar 40%).

Setelah anak menginjak usia dewasa, peran sebagai orang tua relatif sangat kecil (mungkin sekitar 10 – 20%) dan peran orang tua sebagai teman jauh lebih besar lagi (mungkin sekitar 80 – 90%).

Hal yang saya sudah pernah pelajari lagi dan ingin saya bagikan pada Anda, baik bagi Anda yang sudah, akan, atau masih merencanakan dan menunggu menjadi orang tua seperti saya: jangan sampai terlambat menerapkan disiplin kepada anak Anda.

Dari informasi yang saya peroleh sampai sebelum anak berusia 10 tahun, disiplin dan pendidikan nilai-nilai dasar seperti tata krama, sopan santun, menaati aturan, juga yang sangat penting di dalamnya adalah pendidikan mengenai Tuhan. Jika lewat dari usia 10 tahun, terutama untuk disiplin dan menaati peraturan, akan sulit bagi anak untuk dikendalikan.

Ingat: hal yang ditanamkan pada anak sedari kecil akan berpengaruh besar pada kehidupannya.

2 Timotius 1:5: Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Surat Rasul Paulus kepada Timotius ini menuliskan dengan jelas mengenai iman Timotius yang tertanam karena pengaruh iman nenek dan ibunya. Jika Anda sebagai orang tua, Anda bertanggung jawab penuh pada arah yang akan anak Anda ambil kelak. Pastikan Anda telah menanamkan hal-hal yang baik dan benar dalam kehidupannya sejak dari kecil.

Mazmur 127:4: Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

Para orang tua, Andalah sang pahlawan. Cara Anda mendidik anak Anda akan menentukan jauh atau dekatnya anak Anda (anak-anak panah) dapat melesat. Pastikan Anda membekali mereka dengan hal-hal yang benar dan baik sehingga ketika mereka besar kelak, Anda akan menuai hal-hal yang benar dan baik yang Anda tanamkan.

Pelajaran ketiga dari kisah perjalanan tanggal 4 Juli 2009: sungguh tidak ada kebetulan dalam Tuhan. Hari ini renungan harian saya membahas mengenai tidak ada saat liburan saat membina hubungan dengan Tuhan. Ternyata pembahasan kali ini juga membahas hal yang sama.

Ya, saat menyembah, saat memuji Tuhan tidak mengenal waktu libur. Seperti yang saya bagikan tadi pagi melalui sms kepada teman-teman saya:

“Kita bisa berlibur pada hari minggu dan hari libur dari pekerjaan kita untuk dapat beristirahat, tapi berlibur dari membina hubungan dengan Allah itu adalah kematian.”

Ingat: saat kita di Surga kelakpun kita tidak berhenti dari membina hubungan dengan Allah.

Wahyu 19:1: Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,

Kapan saat kita berhenti membina hubungan dengan Allah? Saat kita masuk ke neraka, baik di bumi maupun di kekekalan kelak. Neraka adalah kematian: saat tidak ada Tuhan, saat hanya ada kertak gigi dan ratapan. Ya, pastikan diri Anda tidak masuk dalam kematian tersebut.

Untuk membaca kisah perjalanan saya selanjutnya, silakan kembali esok hari.

(Bersambung ke Bagian-12)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: