All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan mengisahkan cerita perjalanan saya bersama keluarga pada tanggal 5 – 6 Juli 2009. Cerita perjalanan tanggal 5 Juli 2009 adalah sebagai berikut: hari ini kami pagi sampai sore di rumah. Pukul 18.30 kami pergi makan malam (dinner) ke Restoran Hippopotamus di La Defense. Ini masih terletak di Mal Les Quatre Temps.

Menu dinner kami adalah steak. Karena menunya adalah paket, antara memilih menu makanan pembuka (appetizer) dan menu utama (main course) atau main course dan makanan penutup (dessert). Untuk pelengkap main course-nya juga bisa memilih antara rata touile (yang merupakan judul film kartun itu) atau buncis.

Saya memilih rata touile karena sudah sering memakan buncis di Indonesia. Ya saya pikir tidak masalah untuk saya akan mencoba hal yang baru. Ternyata enak juga. Sayurannya itu semacam terung (zucchini kalau tidak salah) diberi tomat dan bumbu tomat.

Dessert juga boleh dipilih di antara sekian banyak pilihan menu antara krim coklat, es krim dan creme brulee. Kembali saya mencoba memilih sesuatu yang belum pernah saya makan. Pilihan saya creme brulee. Agak ndeso ya saya, belum pernah makan creme brulee sebelumnya ahahahha. Ternyata….. sungguh-sungguh saya tidak menyesal. Luar biasa enak!

Creme brulee itu semacam puding, mungkin terdiri dari telur putih, diberi susu, dan gula (saya tidak tahu persis tapi dari yang saya makan mungkin demikian) lalu di atasnya diberi karamel (gula yang dibakar).

Teksturnya bagian bawahnya lembut dan kontras dengan tekstur karamel di bagian atas yang keras. Serasa meleleh di lidah itu rasanya. Sangat nikmat! Manis tapi tidak membuat giung. Giung itu Bahasa Sunda untuk terlalu manis sampai membuat mual.

Setelah selesai makan kami berfoto-foto lagi di La Defense. Sayang air mancurnya tidak diaktifkan. Menurut kakak saya kalau air mancurnya ada itu bagus sekali dan biasanya kalau sudah gelap, lampu di sekitar air mancur menyala.

Di sana juga ada semacam tanda-tanda seperti tanda lalu lintas di deket air mancurnya. Seharusnya kalau air mancur ada dan lampu menyala, tanda-tanda itu juga akan berputar-putar melengkapi keindahan air mancurnya tersebut. Sayang sekali. Kami pulang ke apartemen pukul 20.30.

Pelajaran dari cerita perjalanan 5 Juli 2009: kita sungguh-sungguh perlu hikmat dalam hidup ini, terutama dalam menentukan perlu atau tidaknya kita mengambil resiko dalam hidup. Ada kalanya kita harus berhati-hati dan tidak mengambil resiko, namun ada kalanya kita perlu mencoba mengambil resiko.
Kapankah kita perlu mengambil resiko atau tidak? Kalau hal itu tidak membahayakan diri Anda dan orang lain serta kehidupan Anda atau orang lain, jelas tidak ada salahnya mencoba mengambil resiko. Bila sebaliknya, jelas jangan.

Ada kalanya ada suatu situasi yang membuat kita berada di persimpangan jalan. Jika kita tidak mengambil resiko, kita aman tapi tidak pernah maju. Jika kita mengambil resiko, bisa jadi sangat tidak aman tapi kalau berhasil kita akan sangat maju.

Untuk itu kita perlu hikmat. Jelas kalau itu menyangkut urusan harta, jangan terlalu mudah tergiur untuk hal yang mudah tapi hasilnya besar. Tidak ada yang seperti itu. Ingat pepatah ini:

“No pain, no gain.”

(“Tidak ada kerja keras, tidak ada yang diperoleh.”)

Hal yang menarik adalah kadang orang begitu terbiasa dengan hidup aman, stabil, bahkan cenderung statis sehingga untuk hal terkecil sekalipun tidak mau mengambil resiko. Akibatnya memang hidup yang dialami adalah aman-aman saja, tapi tidak pernah menikmati kemungkinan-kemungkinan lain dalam hidup.

Contoh: Anda menyukai suatu musik jenis A. Lalu Anda ditawari musik jenis B. Karena Anda menyukai musik jenis A, maka Anda menolak musik jenis B. Padahal ada kemungkinan Anda juga bisa menyukai musik jenis B kalau Anda mencoba mendengarkannya.

Tidak dalam semua hal kita perlu mengambil resiko. Untuk resiko yang tidak perlu jelas tidak perlu diambil. Contoh: melompat tanpa parasut dari sebuah pesawat. Ini tidak perlu diambil. Jelas sangat bodoh bila Anda melakukannya.

Saya sering memperhatikan bahwa Tuhan juga suka mengajar kita untuk mengambil resiko untuk hal-hal besar yang memang sesuai dengan rancangan-Nya. Nah, untuk tahu sesuai itu rancangan-Nya atau bukan, jelas perlu hubungan yang akrab dengan Tuhan, tidak ada jalan lain.

Ingat: dalam Tuhan tidak ada yang instan. Segala sesuatu itu butuh proses. Ya, mujizat masih terjadi sampai hari ini, tapi mujizat itu adalah untuk membuat kita bisa mengerti kedahsyatan dan kuasa Tuhan. Jika tidak ada mujizat, apakah kita bisa mengerti kedahsyatan dan kuasa-Nya? Bisa, namun butuh proses.

Sebenarnya kejadian sehari-hari pun butuh mujizat. Anda tahu mengapa kalau Anda bersin kalau di dunia Barat dikatakan:

”Bless you.”
(“Terberkatilah kamu.”)
Apakah Anda mengerti? Saya membaca ini di sebuah email. Alasannya karena saat kita bersin sebenarnya kita berhenti bernafas sekian detik. Berhenti bernafas sekian detik berarti suplai (pasokan) oksigen juga berhenti. Padahal otak kita itu butuh suplai oksigen terus. Jika suplai oksigennya berhenti, otak bisa mengalami kerusakan.

Herannya, saat kita bersin, otak kita baik-baik saja. Bukankah ini mujizat? Bahkan banyak sekali mujizat yang diadakan Tuhan setiap hari. Udara gratis yang kita hirup setiap hari sehingga kita bisa hidup, cahaya matahari pagi yang membentuk vitamin D sehingga memperkuat tulang-tulang kita; air, tanah, segala sesuatu yang ada di alam ini; dan masih begitu banyak lagi mujizat yang ada sehari-hari.

Karena ada sehari-hari, kita merasa itu bukan mujizat lagi. Bahkan keberadaan diri kita itu adalah mujizat. Aneh bukan seorang bayi bisa lahir? Menakjubkan seorang bayi yang begitu besar bisa lahir dari tubuh seorang ibu, apalagi bila sang ibu berperawakan mungil. Namun itulah mujizat-mujizat yang ada di sekitar kita, hal yang kalau kita mau perhatikan dengan seksama segala sesuatu yang ada adalah mujizat Tuhan.

Kembali ke masalah mengambil resiko, saya sama sekali tidak menyarankan bagi Anda untuk mengambil resiko untuk hal-hal yang berdosa dan melanggar hukum/aturan. Tidak, sekali-sekali tidak! Jika Anda mengambil resiko untuk hal-hal yang berdosa dan melanggar hukum/aturan lalu Anda mendapatkan ganjaran berat, itu sudah sangat wajar dan sepantasnya.

Ayub 36:21: Jagalah dirimu, janganlah berpaling kepada kejahatan, karena itulah sebabnya engkau dicobai oleh sengsara.

Pelajaran kedua yang dapat saya ambil dari cerita perjalanan tanggal 5 Juli 2009: air mancur yang tidak diaktifkan di La Defense sedikit membuat saya kecewa. Dalam hidup kita, di dalam diri kita juga memiliki Air Mancur, jika kita sudah menerima keselamatan.

Air Mancur itu adalah Roh Kudus, Roh Allah sendiri. Kapankah Roh Kudus aktif? Jika kita mendengarkan-Nya, jika kita menyapa-Nya, jika kita hidup dekat dengan-Nya, sehingga kita sungguh hidup sesuai kehendak Allah.

Roma 8:13: Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Roh pada Roma 8:13 itu adalah Roh Kudus. Jika kita mengikuti perkataan-Nya, Ia akan aktif selalu di dalam hidup kita, akan tetapi jika kita hidup mengikuti hawa nafsu (kedagingan kita), Roh Kudus tidak akan aktif dalam hidup kita.

Bahkan, bukan sekedar tidak aktif, karena Roh Kudus itu sifatnya Kudus, Ia tidak bisa mendiami bait yang tidak kudus. Oleh karena itu, hendaklah kita menjaga diri kita dan minta kekuatan pada Tuhan untuk dapat hidup dalam kekudusan senantiasa.

Selanjutnya saya akan menceritakan kisah perjalanan tanggal 6 Juli 2009. Hari ini kami seharian di rumah. Saya dan kakak saya pukul 15.00 ke American Library in Paris untuk mengembalikan buku. Di jalan kami melewati Eiffel. Ternyata oh ternyata, waktu dulu kami ke Eiffel antriannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan hari ini. Penuuhhh sekali orang! Sampai-sampai ke belakang-belakang lapangan terlihat penuh orang. Padahal saya melihat itu dari dalam bis, tapi terlihat penuh sekali di sana.

Karena Library tutup pada hari itu (Minggu), kami hanya mengembalikan buku (dropping) saja. Menariknya ternyata walaupun pintu library tutup, disediakan semacam celah di samping dinding untuk mengembalikan buku. Jadi walaupun library tutup pun tidak masalah, kami masih bisa mengembalikan buku. Sesudah dropping buku, kami pulang ke apartemen lagi. Sebelum pulang kami ke Boulanger dekat apartemen untuk membeli cake. Pukul 16.00 sampai apartemen.

Cake-nya yummy! Enak sekali! Mungil-mungil namun penampilannya cantik. Rasanya lebih menggiurkan lagi (maaf ya pembaca, saya sebenarnya tidak berniat memancing selera Anda tapi jika Anda penasaran boleh melihat foto-fotonya di album berjudul “Food and Beverage” hahahah).

Hari ini lalu kami merencanakan akan memasak jenis-jenis makanan untuk seminggu dan jenis-jenis bahan yang perlu dibeli. Hal ini kami lakukan karena hari-hari kepulangan kami ke Indonesia sudah semakin dekat, jadi kami merencanakan hal-hal yang akan dimasak terlebih dahulu agar tidak repot dalam berbelanja.

Seudah selesai merencanakan menu dan daftar belanja, kami menonton rekaman Final “Britain’s Got Talent”. Terdapat 10 Finalis yang diperoleh dari 5 kali Semifinal. Jadi ada semifinal 1 sampai 5. Setiap kali semifinal 2 kontestan untuk masuk final, dengan ketentuan sebagai berikut: diambil 1 kontestan dengan perolehan sms (vote) terbanyak, sedangkan 1 kontestan sisanya diambil dari 2 kontestan dengan vote terbanyak selanjutnya dan jurilah yang kemudian mengadakan pemungutan suara (vote) untuk memilih peserta yang akan masuk ke Final.

Dari 5 Semifinal diperoleh 10 kontestan sebagai berikut:

  1. Susan Boyle (penyanyi yang pernah dipandang sebelah mata oleh juri dan penonton, namun ternyata dapat berpenampilan luar biasa).
  2. Diversity (grup tari yang beranggotakan sekitar 10 orang dengan usia berbeda-beda, sangat kompak dengan koreografi yang menekankan pada kekompakan grup).
  3. Flawless (grup tari beranggotakan sekitar 8 orang, sangat kompak dengan koreografi berbentuk cerita).
  4. Shaun Smith (penyanyi yang memiliki suara merdu, muda, dan ganteng).
  5. Shaheen Jafargholi (penyanyi cilik yang memiliki suara merdu).
  6. Stavros Flatley (ayah dan anak laki-lakinya yang memiliki restoran Yunani di Inggris, menampilkan tarian ala Yunani. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari tariannya, namun mereka berdua tampak begitu akrab, kompak, lucu, menggemaskan, dan ayah serta anak ini kelihatan memiliki karakter yang menyenangkan dan ramah sehingga mencuri perhatian juri dan penonton).
  7. Julian Smith (guru musik yang bermain saxophone secara brilian).
  8. 2 Grand (kakek dan cucu perempuanya yang menyanyi bersama. Suara keduanya sangat bagus, dengan si kakek pada suara rendah dan sang cucu pada suara tinggi. Sungguh perpaduan suara yang indah).
  9. Aidan Davis (penari cilik yang sangat luar biasa spektakuler).
  10. Hollie Steel (penyanyi cilik dengan suara bening. Sebenarnya menurut saya Hollie tidak selayaknya masuk final karena gugup pada saat semifinal, menangis, dan berhenti di tengah pertunjukkan. Karena dia masih kecil, para juri berbelaskasihan dan memberi kesempatan kepadanya untuk tampil kembali kedua kalinya).

Final itu berjarak waktu hanya satu hari dari waktu semifinal yang terakhir. Jadi Minggu sampai Kamis itu adalah waktu untuk Semifinal 1 sampai 5 dan Final diadakan pada hari Jumatnya. Jadi penampilan Finalis hampir seluruhnya mengulang penampilan sebelumnya (pada Semifinal) atau pada penampilan sebelumnya lagi. Ternyata yang menang adalah Diversity. Kedua Susan Boyle. Ketiga Julian Smith.

Saya cukup puas dengan hasil kali ini, karena memang Diversity berpenampilan sangat spektakuler, baik dari awal (penyisihan) sampai akhir (final), begitu pula dengan Susan Boyle dan Julian Smith. Memang mereka bertiga pantas menjadi pemenang.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 6 Juli 2009: hal-hal yang besar itu bermula dari kerja keras, kerja cerdas, dan ketekunan. Seperti cake dengan rasa yang nikmat dan bentuk yang indah, saya yakin merupakan hasil latihan yang lama dari pembuatnya.

Seperti para Finalis acara “Britain’s Got Talent” bisa menampilkan bakat dan kemampuan yang luar biasa, itu tidak terjadi dengan sendirinya namun merupakan latihan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Begitu pula dengan diri kita. Jika kita ingin meraih sesuatu yang besar, namun kita tidak mau bekerja keras, bekerja cerdas, tekun, bahkan ada dua faktor lagi yang tak boleh dilupakan, yaitu mengandalkan dan setia pada kehendak Tuhan senantiasa dalam hidup kita, sulit bagi kita untuk mencapai hal-hal yang besar. Siap mencapai hal-hal yang besar dalam hidup? Lakukan 5 hal itu.

Untuk cerita perjalanan saya selanjutnya, silakan kembali besok.

(Bersambung ke Bagian-13)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: