All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan mengisahkan cerita perjalanan saya bersama keluarga pada tanggal 7 Juli 2009. Hari ini kami pergi ke Disneyland Resort in Paris. Kami berangkat pukul 09.00 dari apartemen dan kami naik kereta pukul 09.20. Sampai di sana pukul 10.15. Perjalanan lumayan jauh juga. Di sana begitu masuk ternyata ada banyak bunga semacam bunga mirip bunga terompet warna pink dan putih. Cocok sekali untuk menjadi latar berfoto-foto.

Di sini ada yang namanya fast pass. Jadi untuk wahana (ride) tertentu kita bisa memasukkan tiket masuk ke satu mesin tertentu dan mendapatkan fast pass tersebut. Jadi kalau orang dengan tiket masuk biasa mengantrinya harus panjang, dengan fast pass tersebut tidak terlalu panjang karena ada jalur khususnya. Pukul 10.40, semua kecuali saya dan ibu saya naik Ride 1: “Space Mountain: Mission 2”.

Saya tidak mau naik ride tersebut dan meliat-lihat sekitar sambil menfoto-foto atraksi yang ada. Sebab saya sudah cukup ngeri mendengar deskripsi ride tersebut dari kakak dan keponakan saya. Hahaha, saya sudah tidak seantusias dulu untuk main ride yang ngeri-ngeri semacam itu. Sesudah mereka keluar, ternyata dari cerita ayah saya memang menakutkan kedengarannya. Untung saya tidak naik hahahaha.

Lalu kami melanjutkan ke Ride 2: “Buzz Lightyear Laser Blast”. Dalam ride ini kami naik semacam mobil dan mobilnya berjalan dalam jalur. Mobil tersebut dapat diputar-putar. Sementara mobil tersebut berjalan, kami bisa menembak sasaran-sasaran yang ada. Seru hahahaha. Rasanya saya pribadi jadi anak-anak lagi. Nilai dari menembak sasaran tertera di layar di mobil yang kami naiki. Satu mobil untuk dua orang dan di setiap kursi ada layar masing-masing.

Setelah itu dari Ride 2 kami menuju Ride 3: “Honey, I Shrunk the Audience”. Ride 3 ini kami menonton film 3D. Sayang filmnya diganti dan kurang menggigit ceritanya. Satu situasi yang paling menarik adalah saat di film ternyata ada adegan tikus berkeliaran, ternyata lampu kemudian dimatikan sesuai di film. Hal yang menarik di kaki kami lalu ada sesuatu yang melintas. Kageettt sekali saya! Hahahaha. Sampai-sampai saya mengangkat kaki saya hahahah.

Kemudian kami ke Ride 4: “Star Tours”. Ini kami ceritanya menaiki simulator ruang angkasa. Saya agak berdebar-debar, karena sudah lama sekali tidak bermain hal-hal seperti ini. Sempet berdebar-debar juga ketika cerita dalam simulatornya pesawat ruang angkasa kami terbang ke angkasa dan kemudian menukik ke bawah. Tetapi memang sangat seru, permainan yang sangat menarik.

Dari Ride 4, kami tadinya ingin ke “Disneyland Railroad – Discovery Station”. Itu adalah kereta api yang melintasi seluruh Disneyland Resort, tapi antriannya begitu panjang. Akhirnya kami batal naik ride tersebut.

Pukul 13.15 kami makan siang dulu di Hakuna Matata. Makan siangnya nikmat. Saya makan ayam gorengnya. Lezat! Pukul 14.00 kami selesai makan dan kami kemudian masuk ke Ride 5: Le Passage Enchante d’Aladdin. Jadi itu semacam lorong yang di dalamnya ada cerita Aladdin.

Sesudah itu kami masuk ke Ride 6: “Phantom Manor”. Ini rumah hantu. Semula sudah berdebar-debar waktu mau masuk. Saya paling tidak suka segala sesuatu yang berkaitan dengan hantu. Pengalaman saya dengan rumah hantu yang terakhir itu mungkin saat saya SMP atau SMU dan sangat seram bagi saya. Untungnya kali ini setelah masuk, ternyata tidak seseram yang saya bayangkan.

Kemudian kami ke Ride 7: “Thunder Mesa Riverboat Landing”. Ini kami naik kapal yang namanya Mark Twain dan dibawa berlayar melihat-lihat pemandangan di situ. Tadinya kami hampir batal menaiki kapal tersebut karena sesudah mengantri ternyata ada pengumuman ada pemeriksaan teknis dahulu.

Ketika kami baru saja keluar sedikit, ternyata orang-orang berbondong-bondong masuk ke sana. Jadi kami kembali ikut mengantri masuk. Cukup menarik menaiki kapal tersebut. Kami sempat berfoto-foto di sana, termasuk sejumlah foto-foto lucu yang tidak saya masukkan ke album foto.

Dari Kapal Mark Twain kami melanjutkan acara kami di Disneyland Resort in Paris ke Ride 8, yaitu “Sleeping Beauty Castle”. Di sini ada puri berisikan cerita Sleeping Beauty (Putri Tidur). Jadi ada jendela-jendela yang berlukiskan rangkaian cerita Putri Tidur dan ada patungnya di akhir ceritanya. Di bawah puri ada sejumlah toko untuk membeli merchandise (barang-barang khas) Disney.

Sebelum naik Ride 9 ternyata hujan. Jadi kami mengantri Ride 9 sambil menunggu hujan selesai. Ramalan cuaca di sini ternyata sangat tepat sehingga kami sudah bersiap dengan jaket dan payung. Ride 9: “Les Voyages de Pinocchio”.

Ini kami naik semacam kendaraan lalu dibawa berputar-putar sambil melihat-lihat cerita Pinokio. Menyenangkan sebenarnya menaikinya, tapi durasi waktunya sangat singkat. Rasanya tidak sepadan dengan waktu mengantrinya yang begitu lama.

Ketika keluar dari Ride 9, untungnya hujan sudah reda sehingga kami bisa melanjutkan ke ride selanjutnya. Ride 10: “Indiana Jones and the Temple of Peril”. Ini semacam “Halilintar” di Dufan (Dunia Fantasi, Jakarta). Sebenarnya yang ingin sekali naik adalah keponakan saya. Ya dia sedang berada dalam usia yang senang akan hal-hal yang menegangkan.

Akan tetapi, sayangnya tinggi badan keponakan saya kurang dari batasan tinggi yang ditetapkan. Jadi kakak ipar saya memiliki 1 fast pass yang berlebih. Saya tadinya tidak ingin ikut, tapi ayah saya memanas-manasi saya untuk naik. Saya pikir ya sudahlah saya akan tutup mata saja begitu naik. Ride 10 hanya dinaiki oleh saya, kakak saya, dan kakak ipar saya.

Begitu naik…… astagaaaaaaa! Copot jantungggg!!! Saya sungguh takut sekali waktu di dalam ride tersebut. Walaupun sudah menutup mata juga masih takut, ah sungguh-sungguh pengalaman yang tidak ingin saya ulangi lagi. Sepanjang ride saya berteriak-teriak penuh ketakutan. Serasa akan jatuh setiap saat.

Saya beritahu Anda, “Halilintar” di Dufan itu benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan kengerian “Indiana Jones and the Temple of Peril”. Ini jauh lebih mengerikan. Sementara saya berteriak-teriak, kakak saya yang duduk di sebelah saya malah tertawa-tawa.

Mengapa dia tertawa? Ada dua alasan: pertama karena geli melihat saya yang begitu ketakutan dan juga karena dia malah jadi berkonsentrasi pada saya dan bukan pada ride-nya. Kedua karena dia telah mencoba ride lain yang jauh lebih menakutkan lagi di Disneyland Amerika.

Begitu ride tersebut selesai, saya sungguh lega. Menakutkan sekali! Kami kemudian melanjutkan ke Ride 11: “Peter Pan’s Flight”. Ini juga sejenis dengan Ride 9, tapi ceritanya Peter Pan. Lumayan sesudah stres karena ride sebelumnya, dihibur dengan ride yang menenangkan.

Dari “Peter Pan’s Flight” kami beralih ke Ride 12: “Le Carrousel de Lancelot”. Ini naik Carrousel jadi komidi putar (naik semacam kuda terus ada lagunya) hehehe. Ya saya sungguh-sungguh merasa jadi anak kecil lagi saat itu. Kapan lagi ada kesempatan kembali menjadi anak kecil kalau bukan di taman main seperti ini?

Dari komidi putar kami ke Ride 13: “Dumbo the Flying Elephant”. Ini juga sejenis sama Ride 11, tapi kendaraannya Dumbo, si gajah terbang itu lho. Kalau di Dufan namanya “Gajah Beleduk” kalau tidak salah. Senang sekali saya menaiki Ride 13 ini, karena dulu saya ingat waktu kecil juga saya pernah naik “Gajah Beleduk” di Dufan.

Akhirnya kami sampai ke Rider 14. Inilah ride terakhir kami: “Big Thunder Mountain”. Ini adalah kereta api yang agak mirip “Jet Coaster” di Dufan. Saya kembali berdebar-debar sewaktu naik, tapi kakak saya mengatakan mestinya tidak seseram “Indiana Jones and the Temple of Peril” karena batasan tinggi yang diizinkan lebih rendah. Jadi akhirnya saya ikut juga.

Sesudah naik, ternyata memang seru! Kencang dan memacu adrenalin! Tapi jauh dibandingkan “Indiana Jones and the Temple of Peril”. Jadi saya masih bisa menikmati sensasi ketegangannya hahaha. Kali ini teriakan saya bukan karena takut, tapi karena senang.

Pukul 20.00 ketika kami akan pulang ternyata hujan lagi, besar pula. Jadi kami berteduh dulu, menunggu hujan mereda. Lalu pukul 20.15 kita naik kereta dan sampai apartemen pukul 21.00. Dalam keadaan dingin karena sedikit banyak terkena hujan walaupun telah membawa payung dan jaket, kami sampai rumah memakan mie rebus. Ahhh nikmatnya. Hari ini sangat menyenangkan. Perasaan kembali menjadi anak kecil yang tidak bisa terjadi di kehidupan sehari-hari, itu bisa diwujudkan di Disneyland Resort in Paris.

Pelajaran cerita perjalanan tanggal 7 Juli 2009: dalam kenyataan banyak orang yang ingin kembali menjadi anak-anak dalam hidup sehari-hari. Menjadi anak-anak berarti bebas dari kewajiban dan tanggung jawab. Hal yang saya ingat pernah dikatakan kakak saya adalah sebagai berikut:

“Menjadi dewasa adalah melakukan hal yang kadang tidak disukai tapi harus dilakukan.”

Ini sungguh perkataan yang dalam. Ya, untuk menjadi dewasa memang bukan hal yang mudah. Bukan proses sehari dua hari. Menjadi dewasa merupakan proses yang panjang. Kadang kala peristiwa mengecewakan, menyakitkan, menyedihkan, memalukan, dan merugikan yang menimpa diri kita itu diizinkan Tuhan untuk mendewasakan kita.

Menjadi dewasa berarti menerima bahwa tidak semua keinginan kita itu dapat terwujud. Menjadi dewasa berarti menerima bahwa kita hidup dengan kewajiban dan tanggung jawab. Menjadi dewasa berarti hidup bukan untuk diri kita sendiri.

Menjadi dewasa tidak identik dengan menjadi sinis dan pahit, karena banyak orang yang berpikir menjadi dewasa berarti mereka akan menjadi sinis dan pahit. Mengapa demikian? Karena derasnya tempaan hidup yang dialami sehingga mengakibatkan orang bisa menjadi sinis dan  pahit.

Itu sesungguhnya adalah pilihan. Dalam menghadapi ketidaksempurnaan dunia ini, dalam menghadapi segala hal yang mengecewakan, menyakitkan, menyedihkan, memalukan, dan merugikan yang kita alami; kita senantiasa bisa memilih untuk bereaksi.

Reaksi kita sepenuhnya merupakan pilihan kita. Apakah kita akan memilih menjadi sinis dan pahit? Apakah kita akan memilih untuk menjaga jarak dari semua orang dan hidup seorang diri saja (karena ya, setiap orang khususnya orang-orang terdekat kita berpotensi besar untuk membawa luka dalam hidup kita)? Apakah kita akan memilih untuk hidup dengan hati yang mengeras dan membatu?

Itu adalah pilihan. Apakah kita akan memilih untuk menerima itu sebagai bagian dari perjalanan hidup kita? Apakah kita akan memilih untuk belajar dari hal itu sebagai hal yang diizinkan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita?

Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Apakah kita akan memilih untuk hidup bukan sebagai orang naif dan bodoh, tapi sebagai orang dengan kesadaran baru bahwa ya kadang-kadang sejumlah orang tidak berniat baik pada kita, tapi sebagian lagi adalah orang-orang yang sungguh baik? Itu adalah pilihan.

Bahkan menjadi dewasa itupun adalah pilihan. Saya teringat suatu peribahasa:

“Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.”

Seiring dengan usia kita bertambah, jika Tuhan mengizinkan kita hidup sampai usia tua, maka menjadi tua itu pasti. Akan tetapi, menjadi dewasa itu pilihan. Tidak serta-merta saat usia kita bertambah, demikian pula dengan kedewasaan.

Ibrani 5:14: Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Makanan keras adalah perintah Tuhan yang sifatnya sulit untuk diterima atau dilaksanakan karena kekerasan hati. Semua perintah Tuhan mungkin untuk dilakukan, kalau tidak tentu tidak akan diperintahkan oleh Allah.

Akan tetapi dalam perjalanan hidup kita, kita cenderung lebih senang menjadi seorang kanak-kanak rohani yang hidup dengan susu saja.

Ibrani 5:13: Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

Susu adalah perintah Tuhan yang sifatnya mudah untuk diterima dan dilaksanakan karena sifatnya menyenangkan hati. Kita membutuhkan susu waktu kita kecil untuk membuat kita bertumbuh menjadi besar. Akan tetapi saat kita besar, kita membutuhkan makanan keras (nasi dan lauk-pauknya) untuk membuat kita kuat.

Seiring dengan kita besar, kebutuhan kita akan kalori dan energi makanan itu besar sehingga tidak mungkin disuplai oleh susu saja. Begitu juga dengan pertumbuhan rohani kita. Waktu kita menjadi pengikut Kristus baru, kita belajar hal-hal yang sifatnya mudah diterima.

Semakin kita masuk dalam menjadi pengikut Kristus yang total, kita belajar hal-hal yang sifatnya menantang totalitas kita dalam beriman dan dalam berkarya bagi kemuliaan Allah. Saat itulah mulai terasa tantangan yang sungguhnya dalam kehidupan kita bersama Tuhan.

Masih ingatkah Anda ketika Anda menjadi petobat-petobat baru? Ketika Anda baru saja menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi Anda? Rasa-rasanya semua doa kita cepat terjawab dan banyak hal terasa lancar.
Seiring perjalanan waktu, apakah Anda merasakan tantangan dan masalah mulai menghadang? Apakah Anda berdoa dan Tuhan terasa jauh? Jangan takut! Itulah saat Anda lebih dalam berdoa dan mengimani Dia lebih lagi. Ia mau membawa Anda masuk ke dalam hadirat-Nya yang Maha Kudus.

Untuk masuk ke dalam hadirat-Nya yang Maha Kudus, Anda perlu dimurnikan dan diuji.

Zakaria 13:9a: Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: Mereka adalah umat-Ku, dan mereka akan menjawab: TUHAN adalah Allahku!”

Api adalah yang digunakan untuk memurnikan perak. Jadi jika ada persoalan dan tantangan, bisa jadi itulah api yang digunakan Tuhan untuk memurnikan Anda. Berikutnya disebutkan bahwa Tuhan akan menguji seperti orang menguji emas.

Emas adalah hal yang sangat berharga dan menjadi dewasa itu suatu hal yang sangat berharga. Untuk menjadi dewasa, diperlukan ujian dari Tuhan dan kita harus lolos dari ujian itu. Jika ada masalah dan tantangan padahal Anda hidup sesuai kehendak-Nya, itulah ujian dari Tuhan.

Selanjutnya adalah hasil dari pemurnian dan pengujian itu: pendewasaan rohani yang sejati: melewati masalah, persoalan, dan tantangan, kita tetap akan memanggil nama Tuhan dan akhirnya Tuhan akan menjawab kita. Ia menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya.

Bukan hal yang mudah, tapi bisa! Mari kita bersama belajar untuk mencapai kedewasaan yang total di dalam Tuhan. Amin.

Untuk cerita perjalanan selanjutnya, silakan kembali besok.
(Bersambung ke Bagian-14)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: