All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan menceritakan kisah perjalanan saya bersama keluarga saya pada tanggal 10 – 11 Juli 2009. Cerita perjalanan tanggal 10 Juli 2009: Hari-hari menjelang pulang ke Indonesia sudah dekat. Jadi karena internet di sini cepat sekali, saya  mulai meng-upload foto-foto ke facebook. Tadi kami sempat ke Quatre Le Temps untuk berbelanja. Seperti biasa kami berbelanja ke Auchan.

Pada waktu akan pulang ternyata ada antrian sejumlah besar orang yang rasa-rasanya tidak biasa. Setelah didekati, ternyata Nestle sedang mengeluarkan produk es krim baru. Kabar menyenangkannya adalah diadakan promosi dengan cara… membagi-bagikan sample gratis.

Hore! Jadi saya mendapat 1 cup es krim gratis. Ada dua rasa yang bisa dipilih, yaitu antara rasa coklat dan rasa creme brule. Karena saya masih terngiang-ngiang akan kelezatan creme brule di Hippopotamus, saya tanpa ragu memilih yang creme brule.

Rasanya nikmat hahaha. Ukuran cup es krimnya pun standar. Jadi tidak kecil, ya sebesar cup es krim pada umumnya. Sudah rasanya enak, ukurannya mantap, dan gratis pula hahaha. Enaknya jadi tiga kali lipat rasanya wakakkaa.

Suasana menjelang pulang ke Indonesia sudah semakin terasa. Pukul 20.45 ternyata tanpa diduga kami masih pergi dan berkesempatan naik cruise menyusuri Sungai Seine untuk melihat-lihat pemandangan Paris di waktu malam.

Di awal catatan perjalanan liburan ini saya mengatakan bahwa sesudah datang,  melihat, merasakan, dan menikmati Kota Paris rasa-rasanya tidak merasakan romantisnya Kota Paris itu. Akan tetapi ternyata tidak dibiarkan meninggalkan Kota Paris tanpa menikmati eksotisme dan romatisme Paris. Ketika pergi saat malam hari itu, ternyata barulah saya bisa melihat romantisme kota Paris. Kalau siang hari, memang benar-benar tidak ada romantisnya Kota Paris.

Sampai di tepi Sungai Seine sekitar pukul 21.10 dan pukul 21.15 kami sudah di atas kapalnya. Jadwalnya pukul 21.30. Jadi kami menunggu 15 menit dulu. Dulu di Amsterdam, Belanda dan Brugge, Belgia kami juga berkesempatan melihat-lihat kota dari atas cruise ship.

Sekarang di Paris, Perancis juga ternyata kami masih sempet melihat kota dengan berlayar di atas kapal. Cuma bedanya adalah dua pelayaran terdahulu itu siang hari, sedangkan yang ini adalah malam hari.

Pukul 21.00 itu di sini masih seperti sore hari, terang. Walaupun terang, udara sangat dingin. Anehnya walaupun udara begitu dingin, masih ada ikut pelayaran dengan menggunakan celana pendek dan gaun terbuka juga. Wah, wah, wah, sudah kebal dengan udara dingin barangkali.

Pemandangan sangat indah. Apalagi sesudah langit mulai gelap. Ketika kami melewati Eiffel Tower, saya sungguh terpesona. Eiffel Tower saat siang dan saat malam sangat jauh berbeda. Saat siang memang Eiffel Tower juga sudah cukup menakjubkan.

Ya, membayangkan bangunan dengan tinggi lebih dari 1000 kaki dengan berat 6.400 ton yang dibentuk oleh 15.000 sambungan logam dengan menggunakan 2.500.000 rivet. Sungguh menakjubkan jika membayangkan bahwa bangunan monumental tersebut dibangun oleh manusia. Bayangkan saat monumen tersebut dibalut oleh lampu-lampu kecil (sepanjang tinggi Eifffel) dan lampu-lampu tersebut menyala pada saat bersamaan.

Itu sungguh pemandangan yang luar biasa. Terpesona, terkagum, dan masuk dalam pusaran magis romantisme Paris; kurang lebih itulah perasaan saya saat itu. Sayangnya keindahan itu agak terenggut oleh serombongan ABG (anak baru gede) yang begitu berisik.

Jadi tidak memungkinkan bagi saya untuk mendengarkan keterangan pemandu cruise-nya. Sayang sekali, padahal saya sudah memasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama. Untungnya ada booklet sebagai sumber informasi. Jadi sedikit banyak masih bisa mengikuti dari booklet.

Karena sudah gelap, mengambil foto-foto pemandangan di luar sudah tidak memungkinkan. Sayang sekali. Pukul 22.30 selesai. Sesudah selesai kami berjalan-jalan dan berfoto-foto dulu di depan Museum Louvre.

Sebenernya dulu waktu baru saja pulang dari Milan, kakak dan kakak ipar saya telah membuat rencana bagi kami untuk mengunjungi Louvre. Akan tetapi karena saya terlalu lelah dan tertidur sampai sore, jadi tidak sempat ke sana.

Saat berfoto di belakang Museum Louvre di waktu malam, dengan latar belakang piramida yang terbuat dari kaca, kemudian memperhatikan bentuk bangunan Louvre wah….. sungguh magis suasana rasanya. Indah, menakjubkan, terpana, takjub, heran, dan ….. saya kekurangan kata-kata untuk dapat menggambarkan suasana di sana.

Sayang sekali begitu terbatasnya kata-kata untuk menggambarkannya. Luar biasa! Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan dapat melihat pemandangan yang sungguh elok.

Ternyata sungguh-sungguh Kota Paris ingin menampilkan seluruh pesonanya kepada saya. Ya, benar, Paris adalah kota yang luar biasa romantis. Saya tidak bisa mengatakan teromantis, karena saya belum pernah ke seluruh dunia hahahaa.

Romantis sekali, apalagi bila berjalan-jalan dengan ditemani sang kekasih, diterangi cahaya rembulan, sambil menikmati keindahan Louvre, Eiffel, dan berbagai pesona Paris di waktu malam. Hahahha, jadi berangan-angan sendiri. Kami pulang dari Louvre pukul 23.10 dan sampai apartemen pukul 23.45.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 10 Juli 2009: romantisme Paris ternyata baru bisa saya benar-benar rasakan pada malam hari. Saat siang hari saya melihat Paris terasa biasa. Indah, tapi tidak romantis.

Dalam kita berhubungan dengan orang lain, sering kita cepat menilai seseorang. Padahal sebelum kita sungguh-sungguh dalam mengenal orang tersebut, belumlah dapat kita katakan bahwa kita mengenal orang tersebut.

Kita cenderung lebih mudah dan lebih cepat menilai seseorang itu buruk daripada baik. Padahal sesungguhnya setiap orang diciptakan oleh Allah sungguh amat baik.

Kejadian 1:31a: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.

Ya, dalam perjalanannya manusia yang sungguh amat baik itu bisa berubah. Hal yang dapat mengubahnya adalah respon seseorang dalam menghadapi segala sesuatu yang menimpa dirinya. Jadi, sesungguhnya bukan kejadiannya yang mengubah seseorang, tetapi reaksi seseorang terhadap kejadian itu.

Dalam hidup ini, tidak selalu hal yang menyenangkan terjadi dalam hidup kita. Hal yang menyakitkan, menyedihkan, dan mengecewakan itu mungkin sekali terjadi dalam hidup ini. Mungkin ada di antara Anda yang sedang bertanya-tanya saat ini:

“Katanya Allah adalah Allah yang baik.  Lalu mengapa Ia membiarkan segala hal menimpa hidup kita?”

Kalau Tuhan hanya membiarkan hal-hal yang baik saja dalam hidup kita, kita tidak akan dapat bertumbuh, tidak akan dapat berkembang. Justru melalui hal-hal yang menyakitkan, menyedihkan, dan  mengecewakan, Tuhan sedang bekerja untuk membentuk Anda menjadi umat yang lebih dari pemenang.

Roma 8:37: Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Sebaliknya jika kita memilih untuk menjadi pahit saat hal yang menyakitkan, menyedihkan, dan mengecewakan terjadi dalam kehidupan kita; maka kita akan kehilangan banyak hal dalam hidup kita. Kepahitan menutup kemungkinan bagi berkembangnya hubungan yang dalam, membuat kita terasing, sendiri; ingin memiliki hubungan, namun apa daya takut dengan kemungkinan disakiti, menjadi sedih, dan dikecewakan lagi.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

1 Yohanes 4:18: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Kita butuh kasih yang sempurna untuk melenyapkan ketakutan. Bagaimana untuk memiliki kasih yang sempurna? Hanya dalam Tuhan kita bisa memperoleh kasih yang sempurna itu. Salah satu unsur dalam kasih adalah pengampunan. Pertanyaannya maukah Anda mengampuni? Jika Anda mau, maka Anda bisa. Bagaimana caranya? Silakan baca secara mendetail di “For the Love of Myself”.

Cerita perjalanan tanggal 11 Juli 2009: kami hari ini sampai siang di apartemen dan beristirahat. Pukul 14.00 ternyata kami masih sempat berjalan-jalan juga hahaha. Saya mengira bahwa kami sudah akan tinggal di apartemen dan beristirahat aja.

Kami ke Champs-Elysees. Itu merupakan nama suatu jalan yang penuh toko-toko barang merek terkenal di dunia. Kami sampai di sana pukul 14.20. Ya menarik juga melihat-lihat dan berfoto-foto di sana.

Saya sempat melihat toko Rolex. Ternyata ditutup. Jadi tokonya buka, tapi pintunya ditutup dan untuk masuk harus menekan bel dulu. Wah, wah, wah, baru tahu ada yang seperti itu.

Kemudian sementara keluarga saya beristirahat, kakak saya memberitahu saya bahwa di sana ada taman (Jardin des Touileres). Itu merupakan tamannya Museum Louvre. Kakak saya mengatakan kalau memang saya mau melihat-lihat silakan saja.

Jadi saya masuk ke dalam Jardin des Touileres sendiri. Louvre itu dulunya istana raja dan Jardin des Touileres itu adalah taman istana. Jadi yah, kalau tamannya menakjubkan ya tidak heran.
Banyak patung-patung artistik di sana. Ada kolam juga di sana. Banyak orang sedang duduk-duduk dan berjalan-jalan menikmati udara yang cerah sekali hari itu. Sesudah itu saya kembali ke tempat keluarga saya beristirahat dan kami berjalan ke Champs-Elysees lagi. Kami selesai melihat-lihat pada pukul 15.40 lalu pulang. Sampai apartemen pukul 16.10. Sesudah istirahat, kami mulai packing barang untuk pulang ke Indonesia.

Pelajaran dari cerita perjalanan tanggal 11 Juli 2009: jam Rolex merupakan salah satu jam termahal di dunia. Karena itu kelihatannya toko tersebut membuat suatu pengamanan tertentu untuk memastikan jam tersebut aman dari tangan pencuri.

Apakah yang termahal yang kita miliki? Apakah rumah Anda? Apakah mobil Anda? Apakah jam tangan Anda? Apakah keluarga Anda? Apakah pasangan Anda? Apakah hidup Anda sendiri? Semuanya salah.

Hal yang termahal yang kita miliki adalah keselamatan dan iman yang kita peroleh. Kita menerimanya secara cuma-cuma namun hal yang kita peroleh secara cuma-cuma tersebut merupakan harta termahal yang kita miliki: darah Kristus yang tercurah bagi hidup kita, bagi penebusan dosa kita.

Karena kita memperoleh secara cuma-cuma harta yang termahal itu, jelas kita harus menjaga dan menghargainya dengan sebaik-baiknya. Bagaimana caranya? Dengan melakukan segala perintah Tuhan, taat pada setiap ketentuannya. Taat berarti tanpa syarat.

Sejumlah orang sering mengadakan tawar-menawar dengan Tuhan berkaitan dengan ketaatan. Contoh:

–         Saya akan taat kalau hidup saya baik.

–         Saya akan taat kalau saya mendapatkan hal yang saya inginkan.

–         Saya akan taat saat perasaan saya sedang senang.

–         Saya akan taat kalau saya sudah tua (jadi sekarang masih muda, masih ada waktu untuk bersenang-senang dengan kedagingan)

Taat adalah taat, tanpa syarat. Tanpa perlu mengerti alasannya. Hal yang cukup kita ketahui adalah Tuhan begitu mencintai kita sampai rela mengambil rupa seorang manusia, menjadi sama dengan manusia. Ia yang adalah Allah yang Agung dan Mulia, rela mengosongkan diri untuk menjadi seorang manusia sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa.

Ia bahkan rela menderita sengsara dan mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Ya, untuk menebus dosa, diperlukan korban dan Tuhan Yesus telah memberikan diri-Nya untuk menjadi korban ganti kita. Seharusnya kitalah yang berada di salib itu. Seharusnya kitalah yang menderita sengsara. Seharusnya kitalah yang mengalami semua itu.

Itulah anugerah. Sesuatu yang bahkan kita tidak layak menerimanya, diberikan begitu saja untuk kita tanpa kita sudah melakukan perbuatan baik, kecuali hanya dengan mengaku dengan mulut dan dalam hati kita bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan juru selamat kita.

Jika kita melakukan sesuatu dan mendapatkan sesuatu, itulah imbalan. Imbalan itu sesuatu yang memang kita layak menerimanya karena kita telah melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Imbalan dalam Tuhan hanya mungkin kita terima jika kita telah menerima anugerah-Nya.

Mengapa demikian? Karena harga anugerah-Nya tidak mungkin dibayar dengan imbalan yang kita miliki, seberapa banyaknya pun imbalan yang kita miliki. Jadi perbuatan baik tidak bisa membeli anugerah-Nya.

Lalu mengapa Ia mau memberikan kita anugerah? Padahal kita orang berdosa. Padahal dengan berdosa kita telah menyakiti-Nya. Padahal dengan berdosa kita telah menyebabkan Ia harus menderita sengsara dan mati di kayu salib yang merupakan simbol kehinaan. Mengapa?

Semua karena cinta. Semua karena kasih. Kasih-Nya begitu besar sampai rela memberikan diri-Nya untuk memberikan kita keselamatan, hidup yang baru. Karena Ia tetap adalah Allah walapun mengambil rupa seorang manusia, pada hari ketiga Ia dapat bangkit, mengalahkan maut. Hal yang tak seorang manusia pun dapat lakukan.

Tidak berhenti sampai di situ. Bahkan karena cinta, karena kasih-Nya yang begitu besar bagi kita, sebelum kembali ke Surga, Ia meninggalkan Penolong bagi kita, yaitu Roh Kudus, Roh-Nya sendiri, Roh Allah sendiri. Karena cinta, karena kasih-Nya yang begitu besar, Ia tidak ingin kita seperti seorang yatim piatu di dunia ini.

Dengan adanya Roh Kudus di dalam kita, inilah waktunya bagi kita untuk menghargai hal-hal yang begitu besar yang telah Dia berikan kepada kita. Biarlah kasih-Nya yang mengubah hidup kita, bisa kita sampaikan dan kita teruskan kepada orang lain yang rindu untuk memperoleh kasih-Nya. Karena kasih lebih besar dari segala-Nya, Ia sendiri adalah Kasih.

Saat kita membagikan dan meneruskan kasih-Nya kepada orang lain, saat itu berarti kita sedang membagikan dan meneruskan Allah itu sendiri kepada orang lain. Bersyukurlah! Bersoraklah! Ini suatu kehormatan besar. Jangan mau ketinggalan dalam mengambil bagian untuk membagikan Allah kepada orang lain! Ini saatnya untuk perlombaan iman.

Bukan hanya bagi diri kita sendiri iman itu dihadirkan Tuhan bagi kita

Mulai dari Kasih, bekerja dengan Kasih, kembali kepada Kasih.

(Mulai dari Tuhan, bekerja dengan Tuhan (lewat Roh Kudus yang ada dalam kita), dan kembali kepada Tuhan semua hal yang kita lakukan untuk kemuliaan nama-Nya).

Untuk cerita perjalanan selanjutnya, silakan kembali besok.
(Bersambung ke Bagian-16)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: