All for Glory of Jesus Christ

Hari ini saya akan membahas cerita perjalanan tanggal 12 – 13 Juli 2009. Cerita perjalanan tanggal 12 Juli 2009 adalah sebagai berikut: hari ini adalah hari kepulangan kami ke Indonesia. Rasa-rasanya hati masih belum ingin meninggalkan Paris, tapi memang ada waktu berlibur, ada pula waktunya untuk kembali bekerja.

Pengkotbah 3:1: Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Pukul 08.40 kami sudah berangkat dari apartemen ke Bandara Charles de Gaulle karena perjalanan cukup jauh untuk sampai bandara. Inilah kesempatan terakhir untuk melihat-lihat Paris. Kami sampai bandara sekitar pukul 09.45. Ternyata di bandara sudah sangat ramai dengan para penumpang yang akan berangkat. Kami lalu antri untuk memasukkan bagasi.

Sesudah memasukkan bagasi, kami langsung check in. Hal ini terjadi karena petugas yang nerima bagasi menganjurkan pada kami untuk langsung check in saja mengingat begitu ramainya penumpang yang akan berangkat..

Pukul 11.15 kami sudah masuk di ruang tunggu. Sambil menunggu, kami sempet makan siang dulu: nasi goreng yang dibawa dari apartemen. Sebenarnya begitu kami masuk ruang tunggu, kakak saya sudah berpesan untuk mengirimkan sms kepadanya. Tapi ternyata ketika akan mengirim sms, berkali-kali saya coba gagal terus. Saya bingung karena sinyalnya ada. Setelah dicek ternyata habis pulsa.

Ironis juga ya, penjual pulsa kehabisan pulsa wakakakkaka. Dari Indonesia padahal pulsa handphone saya masih sekitar 40 ribu lebih. Memang selama di sana, ada beberapa orang teman maupun keluarga yang sms, tapi saya jarang sekali sms. Selain itu, provider kartu yang saya gunakan sering sekali mengirimkan pesan-pesan iklan.

Kelihatannya itu penyebabnya yang menyebabkan pulsa handphone saya cepat habis. Ketika saya mencoba handphone yang lain, ternyata nasibnya juga sama: kehabisan pulsa. Ketika mencoba handphone ayah saya, pertama-tama tidak ada sinyal. Setelah ditunggu ternyata juga gagal.

Saya pikir habis pulsa juga, ternyata masa aktifnya yang sudah habis hahahaha. Aduh aduh, bisa-bisanya pada saat penting malah habis pulsa. Akhirnya karena memang tidak bisa apa-apa lagi, saya terpaksa tidak mengabari kakak saya.

Pukul 12.10 kami sudah berada di atas pesawat. Saat kami mengantri ternyata kami bertemu beberapa orang Indonesia juga. Pukul 13.00 barulah take off pesawatnya. Selama di pesawat saya menonton 3 film, mendengarkan 1 audio book (walau hanya sedikit dan tidak sampai selesai), dan mendengarkan sejumlah musik klasik.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita perjalanan tanggan 12 Juli 2009: persiapan yang cukup itu sangat penting. Seperti saya yang tidak memiliki persiapan yang cukup sehingga tidak dapat mengirim kabar kepada kakak saya, seharusnya itu tidak terjadi kalau malam sebelumnya saya sudah memeriksa.

Untungnya ini baru hal yang kecil. Bagaimana kalau misalnya kecerobohan yang terjadi untuk hal-hal yang besar? Sungguh tidak terbayangkan. Perencanaan dan persiapan itu penting. Mengenai perencanaan telah dibahas dalam “Planning”.

Berikut ini saya akan tuliskan ringkasan ketiga film tersebut. Film pertama yang akan saya bahas adalah: Film-film yang saya tonton adalah:

Film pertama: Marrying the Mafia.

Sutradara: Jeong Heun Soon.

Pemeran: Jeong Joon Ho, Kim Jeong Eun.

Durasi film: 113 menit.

Marrying the Mafia merupakan film Korea. Jin-Kyung merupakan anak perempuan satu-satunya dari seorang mafia, yaitu Jang Jung-Jong (Tripple J). Ibunya sudah meninggal waktu Jin-Kyung masih kecil. Jin-Kyung memiliki tiga orang kakak laki-laki.

Diceritakan bahwa Tripple J merupakan legenda di Korea. Tripple J menjadi legenda karena ia dapat membasmi 10 orang dari Keluarga Dolsan yang sebelumnya memegang daerah kekuasaan di Korea dengan hanya seorang diri saja.

Di awal film diceritakan Jin-Kyung yang terbangun dan mendapati dirinya sedang (maaf) tidur di samping seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, yaitu Dae-Suh. Dae-Suh juga bangun dengan kaget karena ia tidak mengenal Jin-Kyung sama sekali.

Jin-Kyung yakin bahwa ini merupakan siasat licik dari ayah beserta ketiga orang kakaknya. Jin-Kyung bekerja sebagai peneliti sedangkan Dae-Suh diceritakan merupakan lulusan dari jurusan hukum Universitas Nasional Korea yang di film diceritakan sebagai salah satu universitas paling bergengsi dan bekerja sebagai seorang konsultan hukum.

Lalu ketika Dae-Suh sampai di kantornya ternyata ia telah ditunggu oleh ketiga orang kakak laki-laki Jin-Kyung. Dae-Suh kemudian dihajar habis-habisan oleh ketiga orang kakak laki-laki Jin-Kyung, bahkan diintimidasi akan dibunuh dengan cara melemparnya dari atas gedung kantornya.

Akhirnya Dae-Suh menyerah dan bersedia untuk menikahi Jin-Kyung walaupun saat itu ia memiliki kekasih. Ketiga kakak laki-laki Jin-Kyung kemudian membayar seorang model untuk merayu kekasih Dae-Suh.

Dengan sedikit siasat ketiga kakak laki-laki Jin-Kyung mengajak Dae-Suh untuk pergi minum dan saat itu Dae-Suh melihat kekasihnya sedang bermesraan dengan model tersebut. Ternyata kekasih Dae-Suh memang tidak setia.

Hal yang menarik ketika Dae-Suh sempat marah kepada Jin-Kyung karena memiliki ayah dan tiga kakak laki-laki yang mafia. Kata-kata Jin-Kyung saat itu sangat menarik bagi saya. Kurang lebih seperti ini:

“Benar ayahku adalah mafia, benar ketiga kakak laki-lakiku adalah mafia. Tetapi sejahat-jahatnya mereka, mereka adalah ayahku dan kakakku. Mereka menyayangiku dan aku menyayangi mereka.”

Sangat mengharukan. Konflik dimulai ketika Dae-Suh pergi minum dan mabuk bersama teman-temannya. Kelompok mafia lain berusaha memeras Dae-Suh dengan menaruh begitu banyak botol bir bekas ke atas meja Dae-Suh dan dua temannya.

Pertengkaran terjadi dan Dae-Suh beserta dua temannya disiksa oleh kelompok mafia ini. Kemudian ketiga kakak Jin-Kyung beserta anggota mafia Tripple J menyelamatkan Dae-Suh beserta kedua temannya. Akan tetapi ternyata hal ini yang menjadi bibit konflik di kemudian hari.

Ketua kelompok mafia tersebut yang menganggap bahwa Tripple J mengotori daerah kekuasaannya menculik Jin-Kyung. Ketiga kakak laki-laki Jin-Kyung beserta Dae-Suh menyelamatkan Jin-Kyung.

Lalu Tripple J mendesak Dae-Suh menikahi Jin-Kyung. Hal yang menarik adalah ketika Dae-Suh dan Jin-Kyung mulai dekat, ternyata kekasih Dae-Suh mulai lagi datang dan mengganggu hubungan Dae-Suh dan Jin-Kyung, bahkan menyebabkan kesalahpahaman di antara keduanya.

Jin-Kyung yang patah hati akhirnya meninggalkan rumahnya dan pergi. Dae-Suh yang akhirnya mengetahui kejadian sesungguhnya pergi ke rumah Jin-Kyung. Ketika tahu bahwa Jin-Kyung telah pergi, Dae-Suh segera berusaha keras mencari Jin-Kyung. Akhirnya Dae-Suh bisa menemukan Jin-Kyung dan mereka memutuskan untuk menikah.

Pada hari pernikahan Dae-Suh dan Jin-Kyung ternyata ketua kelompok mafia yang merasa diganggu, datang mengacau. Ketiga kakak Jin-Kyung yang tidak mau merusak kondisi pesta, memohon kepada ketua kelompok mafia tersebut sambil berlutut, namun ternyata ketua kelompok mafia tidak bersedia pergi dan menghajar ketiganya.

Ketika akhirnya upacara pernikahan sudah selesai dan Dae-Suh serta Jin-Kyung resmi menjadi suami istri, ketiga kakak laki-lakinya kemudian akhirnya bangkit untuk bertempur. Cerita selesai sampai di situ.

Film ini dari segi cerita biasa saja, namun cukup menarik karena ada sejumlah adegan yang menyentuh perasaan. Akhir cerita sayangnya tidak mengesankan, namun karena hanya merupakan film hiburan dan masih bisa ditarik pelajaran, film ini cukup segar untuk ditonton sebagai hiburan.

Pelajaran yang dapat ditarik dari “Marrying the Mafia” adalah pertama kita tidak pernah bisa memilih orang tua dan keluarga kita. Baik atau buruk, merekalah orang tua kita, keluarga kita. Segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, itu ada maksud Tuhan di dalamnya, yaitu untuk membawa kebaikan bagi kita.

Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Tidak ada seorang pun yang sempurna, kita pun tidak sempurna. Inilah proses untuk belajar menjadi dewasa: belajar menerima kenyataan dan belajar menerima bahwa tidak segala sesuatu yang kita inginkan itu dapat terwujud.

Jika orang tua dan keluarga kita merupakan orang tua dan keluarga yang baik serta mendukung, bersyukurlah. Saya sangat diberkati oleh orang tua dan keluarga yang luar biasa. Mereka tidak sempurna, saya apalagi masih jauh dari sempurna, tetapi saya merasakan bahwa mereka adalah salah satu bagian terbaik dalam hidup saya yang diberikan Tuhan pada saya.

Jika orang tua dan keluarga kita merupakan orang tua dan keluarga yang buruk serta menjatuhkan, tetap bersyukurlah. Segala sesuatu terjadi masih dalam kendali Tuhan dan tidak ada kebetulan dalam Tuhan. Jika kita berdoa agar orang tua dan keluarga kita berubah, mungkin saja Tuhan mengubah hati mereka sehingga menjadi baik.

Lebih penting lagi adalah kita berdoa agar Tuhan mengubah hati kita lebih dahulu untuk memberi kesaksian hidup yang baik bagi mereka. Berdoa saja tidak cukup, perlu diikuti dengan tindakan, yaitu kita perlu melakukan hal-hal yang baik kepada orang tua dan kelurga kita.

Matius 7:12: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari film “Marrying the Mafia” adalah dalam mencapai tujuan kita, jangan sampai kita sampai menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak baik, bahkan jahat. Ini merupakan hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Jangan beralasan bahwa:

“Orang-orang lain juga melakukan hal yang sama.”

Kita adalah kita dan orang lain adalah orang lain. Hidup adalah pilihan dan pilihan kita menentukan hidup kita. Jadi tidak ada urusannya dengan urusan orang lain mau berbuat seperti itu juga atau tidak. Itu sepenuhnya keputusan kita.

Apakah kita ingin menyenangkan hati Tuhan? Lakukan segala hal yang berkenan bagi-Nya, walaupun kadang jalan yang harus kita tempuh jadi sulit dan lebih berbatu, akan tetapi ujungnya adalah aman dan damai sejahtera.

Jika kita menempuh segala cara yang tidak baik untuk mencapai tujuan kita, mungkin jalan yang kita tempuh menjadi mudah dan mulus, tetapi ujungnya adalah malapetaka dan hilang rasa damai sejahtera karena dikejar rasa bersalah dalam hati.

Amsal 2:20: Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.

Amsal 2:21: Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ,

Amsal 2:22: tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ.

Berikutnya cerita film kedua yang saya tonton adalah sebagai berikut:

Film kedua: Elizabeth: The Golden Age.

Sutradara: Shekhar Kapur.

Pemeran: Cate Blanchett, Geoffrey Rush.

Durasi film: 115 menit.

Film ini merupakan film pemenang Academy Award 2008 (Piala Oscar, penghargaan tertinggi di dunia untuk karya seni berupa film) untuk kategori perancang kostum terbaik. Film ini diangkat dari kehidupan Ratu Elizabeth I, Ratu Inggris, tetapi dengan banyak perubahan di sana sini.

Ceritanya adalah sebagai berikut (mudah-mudahan tidak ada yang salah, karena tidak ada teks Inggrisnya di sana sehingga mengandalkan kepada pendengaran saya yang masih sangat pas-pasan): Tahun 1585 adalah tahun saat Spanyol merupakan kerajaan terkuat di dunia dan Spanyol memulai holy war (perang yang mengatasnamakan Tuhan, padahal sesungguhnya bukan dan hanya ditunggangi oleh motif-motif politis dan mengangkat masalah perbedaan antara agama Katolik dan Kristen).

Jadi yang terjadi adalah Spanyol saat itu dipimpin oleh Raja Philip II dan ia ingin menguasai Inggris dan memberikan tampuk kekuasaan Inggris kepada putrinya, yaitu Isabela yang saat itu masih kecil.

Inggris saat itu dipimpin oleh Ratu Elizabeth I, seorang Kristen Protestan, berusia 52 tahun saa itu dan belum menikah, sehingga disebut sebagai Virgin Queen. Penasihat ratu berusaha meminta Ratu Elizabeth I menikah dengan seorang bangsawan muda dari Austria, namun ditolak oleh ratu. Jika Ratu Elizabeth I meninggal, ia akan digantikan oleh sepupunya, yaitu Mary Stuart (Ratu Skotlandia).

Kemudian muncul seorang tokoh perompak (bajak laut) yang bernama William Raleigh yang baru saja berhasil memperoleh emas dari kapal Spanyol, bersama dengan sejumlah hasil bumi dari New World yang berhasil ditemukan. Raleigh menawarkan kepada ratu semua itu untuk dia bisa tinggal di Inggris sementara.

Saat itu utusan dari Spanyol juga datang sehingga menimbulkan konflik di antara perompak ini dengan utusan dari Spanyol. Ratu menolak pemberian emas dari Raleigh tapi menerima uluran persahabatan darinya.

Ternyata lama kelamaan Ratu jatuh cinta kepada Raleigh, sementara itu untuk menyampaikan pesan-pesannya Ratu meminta kepada salah satu wanita bangsawan yang biasa mengiringinya, Bess (yang juga memiliki nama Elizabeth) untuk menjadi pengantar pesan.

Ternyata sayangnya Raleigh dan Bess saling jatuh cinta. Sementara itu terjadi konspirasi antara Mary Stuart, kelompok di Inggris, dan Raja Philip untuk membunuh Ratu Elizabeth dan menggantikannya dengan Mary Stuart.

Akan tetapi ternyata konspirasi ini merupakan tipuan belaka karena ternyata sesungguhnya pembunuh yang dibayar untuk membunuh Ratu Elizabeth menembakkan peluru kosong.

Penasehat Ratu kemudian menemukan surat Mary Stuart yang berisikan keseluruhan rencana untuk membunuh Ratu. Jadi yang terjadi adalah Mary Stuart merupakan korban konspirasi antara kelompok di Inggris dan Raja Philip.

Mary Stuart kemudian dihukum mati dengan cara dipenggal dan hal ini dijadikan alasan bagi Raja Philip kepada Paus saat itu untuk memulai holy war. Karena memang saat itu dinilai bagi Paus dan para pemimpin Katolik saat itu bahwa memang Mary Stuartlah yang lebih berhak untuk menjadi ratu dan akhirnya perang disetujui.

Padahal niat sesungguhnya dari Raja Philip memang untuk menaklukkan Inggris dan yang menariknya lagi adalah ia mengatakan kepada seluruh kerajaannya bahwa ia mendapati Tuhan berkata kepadanya untuk menggulingkan Elizabeth dari tahtanya.

Mary Stuart dijadikan tumbal karena memang Mary Stuart anak dari Ratu Perancis dan dibesarkan di Perancis sehingga lebih dekat dengan Perancis daripada dengan Inggris. Padahal Perancis merupakan salah satu musuh terkuat Spanyol saat itu.

Ratu kemudian menemukan bahwa Bess dan Raleigh sudah menikah padahal Bess merupakan wanita yang harus melayani ratu dan tidak boleh menikah tanpa seizin Ratu. Apalagi saat itu Ratu menemukan Bess sudah dalam keadaan hamil.

Dalam murkanya Ratu Elizabeth memerintahkan untuk memenjarakan Raleigh dan mengusir Bess dari Istana. Sementara itu pemenggalan Mary Stuart menyebabkan terjadinya perang antara Spanyol dan Inggris dan kekuatan Spanyol lebih kuat daripada Inggris.

Ratu Elizabeth akhirnya membebaskan Raleigh dan Raleigh kemudian bergabung dengan armada laut Inggris. Walaupun jumlah armada Spanyol lebih banyak, badai yang kuat ternyata di pihak Inggris. Saat kapal-kapal Spanyol sedang menurunkan Jangkar, armada Inggris menyerbu sehingga Spanyol kalah telak.

Akhir film ditutup dengan manis ketika Ratu Elizabeth menggendong anak Bess dan Raleigh dan memberi berkat atas anak itu. Ia tetap memimpin Inggris dan tidak menikah.

Pelajaran dari film “Elizabeth: The Golden Age” adalah jangan pernah mengatasnamakan Tuhan atau agama atau apapun sebagai dasar untuk melegalitas kepentingan pribadi. Sebenarnya dalam holy war yang terjadi bukan perang antara Katolik dan Kristen Protestan, tapi justru penunggangan Tuhan dan agama untuk mengizinkan terjadinya perang yang tujuan sebenarnya adalah untuk menaklukkan Inggris dan Elizabeth sebagai ratunya saat itu.

Jadi sesungguhnya holy war terjadi karena seluruh kekejian yang dibenci Tuhan berikut ini:

Amsal 6:16: Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:

Amsal 6:17: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,

Amsal 6:18: hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan,

Amsal 6:19: seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Jangan sampai kita mengulang kesalahan sejarah.

Untuk film ketiga dan cerita perjalanan selanjutnya akan saya bahas esok. Silakan kembali besok.

(Bersambung ke Bagian-17 – Bagian Terakhir)

Iklan

Comments on: "Cerita Perjalanan Bagian-16 (12 Juli 2009)" (2)

  1. FB Comment from DHK:
    Kalo film2 sinetron indonesia yg kejar tayang pelajaran yg didpt apa yah? 🙂
    apalagi film2 dgn judul suster ngesot, pocong ato kuntilanak bermutu ato tidak he he…
    Bukan bermaksud nyindir karya bngsa sendiri

    • Hohoho, jangan salah, ada kog. Pelajaran dari sinetron drama Indonesia:
      1. Harus sabar: soalnya filmnya ceritanya muter-muter, jalannya pelan-pelan. Jadi harus sabar nontonnya.
      2. Harus cerdas: nonton awal-awal, tengah-tengah, dan akhi…r-akhir udah cukup. Soalnya jalannya pelan-pelan, jadi cukup nonton yang kira-kira bisa ngasih cerita hihihi. Lebih cerdas lagi cukup baca resensinya di majalah atau di tabloid, atau denger dari temen/keluarga, hemat waktu hahaha.
      3. Terbiasa mencari pola: soalnya biasanya ada pola yang sama untuk setiap sinetron drama Indonesia: tokoh protagonis saking “baik”-nya ga pake hikmat, jadi ditindas terus sama yang tokoh antagonis. Kalau udah gitu, tar ditolong sama sang pahlawan. Trus tar ada tokoh antagonis yang dihilangkan- entah jadi baik, entah mati, entah hilang, pokoknya kurang yang jahat deh, tapi muncul tokoh antagonis baru wakakkakaka. Jadi idem aja. Trus tar kalau udah bingung jalan ceritanya mau diapain, mulai dicampur action: kekerasan dll. Kalau udah bosen dengan action, dicampur horor, ntar tau2 ada hantu. Kalau misal horor terlalu dipaksakan, dicampur sama mistik, tar ada paranormal dan dukun yang muncul. Atau kalau udah abis cerita banget, tokoh protagonis m…alah ada yang jadi antagonis hahahahha.

      Pelajaran dari sinetron yang ada kekerasan atau horor:
      1. Jangan biarin anak nonton: ntar niru. Kalau nonton harus ditemenin ortu. Alhasil, ortu jadi banyak waktu sama anak hahaha.
      2. Jadi kreatif: tar pulas muka sendiri pake putih2 itu, pake gorden yang putih, trus pas malem2, muncul buat ngagetin orang wakakakaka (don’t try this – ide gila).

      Tapi ada kog sinetron yang bagus. Saya sesekali nonton juga itu “Kepompong” kalau pas buka TV dan pas sinetronnya itu. Pelajaran yang diambil: persahabatan yang kuat dan saling mendukung. Bagus sinetronnya, ga ada kekerasannya, ga ada yang aneh2, normal dan wajar lah. Apalagi ya sinetron yang bagus? Jarang nonton TV soalnya sekarang. “Cinta Fitri” season 1 lumayanlah, walau ada masih mengandung pelajaran drama sinetron Indonesia yang di atas. Ya kadarnya masih mending waakkakaka. Cuma begitu udah ke Season 2, wah bye bye dah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: