All for Glory of Jesus Christ

Boros

Bulan Juli telah usai. Sekarang kita memasuki bulan yang baru, yaitu Agustus. Pada Bulan Agustus seperti kita semua tahu, ada satu bersejarah bagi bangsa kita yaitu hari kemerdekaan negara kita tercinta. Nah berkaitan dengan kata “kemerdekaan” maka pada bulan ini topik saya juga bertujuan seputar kemerdekaan kita semua.

Pertanyaannya adalah merdeka dari hal apa? Saya memilih berkaitan kemerdekaan dari kebiasaan atau sifat buruk. Kebiasaan merupakan kumpulan dari perilaku yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Kebiasaan membentuk sifat.

Oleh karena itu untuk membuang sifat buruk, kita perlu mengubah dulu kebiasaan buruk kita. Untuk mengubah kebiasaan buruk kita, kita perlu mengubah perilaku-perilaku buruk kita. Untuk mengubah perilaku-perilaku buruk kita, kita perlu mengubah pemikiran-pemikiran buruk dan akar-akar buruk yang masih tersimpan. Jadi tema Bulan Agustus adalah “It’s All about Bad Habit”. Selamat membaca!

Hari pertama di Bulan Agustus ini, saya akan mengambil topik mengenai “Boros”. Apakah Anda seorang yang boros? Apakah boros itu? Boros merupakan suatu sifat yang tidak berpikir panjang dalam merencanakan penggunaan sumber daya, baik yang dimiliki oleh diri sendiri atau orang lain.

Saat saya menuliskan hal ini, ada sesuatu yang terpikirkan, yaitu kategori boros. Kapankah kita disebut boros? Jawabannya adalah bila:

  1. Pengeluaran kita melebihi pendapatan kita.
  2. Kita membeli sesuatu atau mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak kita butuhkan.

Untuk poin 2, terdapat kekecualian yaitu:

  1. Jika memang kita ingin memberi sesuatu untuk orang lain. Itu bukan sesuatu yang kita butuhkan, namun orang lain butuhkan. Ini bukan boros, namun jelas perlu diperhitungkan juga dengan matang.
  2. Jika kita ingin memberi untuk pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Terkadang Tuhan menantang kita untuk memberi melebihi perhitungan kita. Kalau ini yang terjadi, lakukan. Jika bukan Tuhan yang menyuruh, jangan sembrono. Ada suatu perbedaan besar antara murah hati dengan boros (semberono). Hati-hati!

Beberapa akar permasalahan boros:

–         Kurangnya perencanaan. Mengenai perencanaan telah dibahas dalam “Planning”.

–         Kurangnya pengendalian/penguasaan diri. Mengenai pengendalian diri telah dibahas dalam “Buah Roh (Bagian-7)”.

–         Kurang berhikmat. Mengenai hikmat telah dibahas dalam “Hikmat”.

Silakan membaca di Lukas 15:12-19 mengenai kisah anak yang hilang. Mari kita menelaah satu per satu berkaitan kisah tersebut.

Lukas 15:12: Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Lukas 15:13: Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Di ayat 12 kita bisa lihat bahwa si anak bungsu ini meminta bagian warisannya padahal ayahnya belum meninggal. Ini sungguh perilaku yang benar-benar kurang ajar. Bagaimana mungkin seorang anak dapat meminta bagian warisan dari orang tuanya padahal orang tuanya masih hidup?

Lalu kita masuk ke topik pembahasan kita, di ayat 13. Setelah mendapatkan harta warisan bagiannya anak ini memboroskannya. Pertanyaannya: mengapa anak ini demikian mudah memboroskan harta miliknya? Saya cukup yakin 3 akar masalah di atas dapat menjadi alasannya.

Mari kita lanjutkan ke 3 ayat berikutnya:

Lukas 15:14: Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

Lukas 15:15: Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

Lukas 15:16: Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

Inilah akibat sifat boros: karena kurangnya perencanaan, kurangnya pengendalian diri, dan kurangnya hikmat saat ada masalah datang, mulailah kesulitan menimpa. Pernahkah Anda merasakan seperti kondisi ini?

Awal bulan seseorang mendapat gaji, lalu sibuk berbelanja di toko. Dalam satu hari orang tersebut bisa menghabiskan gajinya selama sebulan. Lalu untuk hari ke-2 sampai hari ke-30 atau ke-31, orang tersebut melarat dan mengharapkan belas kasihan teman-teman atau orang di sekitarnya untuk makan. Pernah mengalami hal seperti itu? Inilah akibat dari kebiasaan boros.

Mari kita lanjutkan ke ayat 15 dan 16. Si anak bungsu akhirnya bekerja untuk mendapatkan uang ternyata ia diminta untuk menjadi penjaga babi. Babi itu hidup di dalam lumpur. Jadi bisa dikatakan, si anak bungsu jatuh begitu dalam dari anak seorang yang begitu kaya raya dan terpandang menjadi seorang penjaga bagi.

Hal yang menarik bagi saya saat membaca ayat ini adalah mengapa si majikan memberikan pekerjaan sebagai penjaga babi? Mengapa bukan pemetik di kebun anggur? Ini menarik sekali.

Awal dari permasalahan si anak bungsu adalah keserakahan dan boros. Boros sendiri juga bisa terjadi karena keserakahan ingin menikmati segala sesuatu tanpa pikir panjang akan hari esok. Keserakahan ini merupakan salah satu perbuatan daging, yaitu hawa nafsu: tidak bisa mengendalikan diri sendiri (berlawanan dengan buah roh penguasaan diri).

Galatia 5:19-21a: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Padahal kita tahu bahwa kedagingan ini merupakan dosa. Dosa itu identik dengan lumpur tempat tinggal babi di ayat 15: kotor. Ya, akibat dari sifat boros, kita jadi berdosa. Akibat dosa, hubungan kita dengan Tuhan terkotori.

Saat seseorang kehabisan uang setelah memboroskannya untuk bersenang-senang, lalu untuk hari selanjutnya ia kebingungan untuk menghidupi hidupnya. Akhirnya meminta belas kasihan orang lain.

Saya pernah membaca satu buku novel “Cewek Matre” yang ditulis oleh Alberthiene Endah yang menceritakan situasi yang mirip. Namun permasalahannya tokoh dalam novel tersebut boros untuk menaikkan gengsinya di hadapan teman-teman sekantornya, yaitu membeli barang-barang bermerek yang harganya bahkan menghabiskan gajinya sebulan.

Setelah itu ia menempuh cara ekstrim: menjadi (maaf) wanita simpanan pria beristri yang kaya raya. Inilah kejatuhan pada dosa. Mudah-mudahan bila Anda seorang yang boros, Anda tidak sampai jatuh sejauh itu. Walaupun begitu, sekecil apapun kita jatuh, sekecil apapun kita berdosa, dosa tetaplah dosa. Bila setelah kehabisan uang lalu kita mengeluh, itu juga dosa.

Hal yang sama dialami si anak bungsu di ayat 16. Ketika ia lapar ia ingin meminta makan ampas babi yang menjadi makanan babi, tetapi tidak ada yang memberikannya kepadanya. Akibatnya: si anak bungsu kelaparan.

Jadi rumusannya adalah:

“Boros = dosa = kelaparan.“

Jika Anda boros, itu merupakan dosa. Akibat dosa itu Anda kelaparan. Kelaparan di sini tentu saja bisa dalam arti jasmani, bisa juga dalam arti rohani: yaitu Anda kekurangan dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Ya, akibat dosa hubungan Anda dapat jauh dengan Tuhan.

Permasalahannya tidak ada manusia yang dapat hidup 100% kudus, tanpa dosa. Sehebat-hebatnya seorang manusia, tidak ada yang dapat hidup 100% kudus tanpa dosa. Lalu bagaimana kalau begitu? Mari kita lanjutkan ke ayat 17 sampai 19.

Lukas 15:17: Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Lukas 15:18: Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

Lukas 15:19: aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Lukas 15:20: Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Pertama kita perlu menyadari keadaan kita. Kalau kita boros maka kita memberi teladan yang tidak baik bagi orang di sekitar kita. Kalau kita boros maka kita lebih mengutamakan memuaskan keinginan hati kita. Setelah menyadari itu, kita perlu mengambil sikap seperti anak bungsu ini.

Sikap yang perlu kita contoh dari si anak bungsu:

–         Ia menyesal dan berniat kembali kepada bapanya (ayat 18-19): kita saat berdosa perlu menyesali dosa yang kita perbuat dan perlu berniat kembali kepada Allah.

–         Ia mengakui dosanya (ayat 18): kita mengakui dosa kita kepada Allah.

–         Ia bangkit dan pergi kepada bapanya (ayat 20): kita perlu melakukan niat kita tersebut untuk kembali kepada Allah, yaitu untuk minta kasih-Nya mengampuni kita, memberikan kita kekuatan untuk menang atas dosa kita, dan melangkah maju.

Sangat mengerikan ya dari suatu kebiasaan boros, bisa berakibat pada kemelaratan dan dosa? Ya itulah yang terjadi. Mari kita bebas dari kebiasaan boros dan beralih ke mengatur keuangan kita dengan sebaik-baiknya.

Amin.

Iklan

Comments on: "Boros" (13)

  1. FB Comment from SM:
    Ok.. untuk yg satu ini aku belum bisa, apa ada kiat2nya agar terhindar dari boros ….!!!!

  2. Memang perlu pengendalian diri. Kiat2nya ada:
    1. Buat suatu daftar anggaran yang berisi pendapatan per bulan dan juga pengeluaran. Untuk pos pengeluaran dipecah2 lagi ke dalam masing-masing pos: misal untuk makan, untuk transport, d…st.

    Setiap bulan harus dibuat anggaran pengeluaran untuk setiap pos pengeluaran. Di atas kertas, pendapatan tidak boleh lebih kecil dari pengeluaran. Jadi kalau memang pengeluaran selalu lebih besar, berarti boros.

    Untuk mengatasinya ada 2: mengurangi pengeluaran yang tidak perlu atau untuk mencari pekerjaan tambahan, tapi saya lebih menyarankan untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dulu. Mengapa demikian? Karena walaupun mendapat pekerjaan tambahan, kalau memang akar masalah borosnya tidak dihilangkan, tetap saja tidak akan menyelesaikan masalah.

    2. Catat setiap pengeluaran dalam setiap harinya. Lalu buat total pengeluaran per minggu yang datanya diambil dari catatan pengeluaran harian. Masukkan datanya di sebelah data anggaran. Lakukan terus sampai akhir minggu dalam bulan tersebut (jadi untuk tanggal 29-31 dimasukkan ke minggu ke 4 juga).

    3. Pada akhir bulan atau awal bulan baru, harus ditotalkan untuk setiap pos pengeluaran dan juga untuk total pengeluaran per b…ulannya.

    4. Cek pos pengeluaran yang memberikan deviasi negatif (selisih antara pengeluaran dan anggaran) yang paling besar dari anggaran. Coba teliti alasan terjadinya deviasi yang terbesar tersebut. Jika memang sifatnya insidental (mendadak: misal ada teman atau kerabat yang menikah sehingga harus membuat pengeluaran tambahan) dan memang penting, maka dapat dimaklumi dan beralih ke pos pengeluaran yang memberikan deviasi negatif terbesar kedua. Begitu seterusnya.

    5. Untuk setiap pos pengeluaran yang melebihi anggaran untuk bulan berikutnya harus sangat waspada supaya tidak terjadi lagi deviasi negatif seperti itu.

    6. Jelas anggaran dan pencatatan hanya akan tinggal di atas kertas jika perencanaan ini tidak dilakukan dengan baik. Aspek perencanaan harus ditunjang pelaksanaan. Aspek pelaksanaan harus mengingat 2 akar permasalahan boros: pengendalian diri dan hikmat. Untuk pengendalian diri: pertama-tama perlu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

    Untuk keinginan,… jika keuangan tidak mencukupi, maka tidak boleh memenuhinya. Sifat keinginan ini optional (suka-suka), boleh dipenuhi ataupun tidak. Jika kebutuhan, maka memang perlu dipenuhi namun jika keuangan tidak mencukup, maka perlu hikmat dalam pemenuhannya. Misalnya: butuh makan setiap hari, nah tidak perlu harus makan di restoran mahal saja, bisa makan di restoran yang biasa atau bahkan memasak sendiri.

    Lakukan terus setiap bulan dan semakin terbiasa melakukan hal ini, maka akan mempermudah untuk mengatasi boros. Ingat: sifat dibentuk kebiasaan, kebiasaan dibentuk perilaku.

    7. Jangan lupa untuk pada awal bulan melakukan persepuluhan dan persembahan kepada Tuhan. Persepuluhan sesuai namanya berarti 10% dari gaji atau penghasilan. Persembahan itu tergantung Tuhan menaruh dalam hati kita harus memberi sejumlah t…ertentu.

    Hal ini selain kita memang taat kepada perintah Tuhan, juga membuat kita belajar mengendalikan diri dari awal bulan.

    8. Tips terakhir: jangan lupa membuat pos tabungan. Sekecil apapun perlu ada pos tabungan. Jika telah sering berlatih dari 1-8, maka biasanya pos tabungan akan lebih besar.

    Bukan masalah besar kecil pendapatan yang terpenting, tetapi cara kita mengelolanya dengan penuh hikmat dan pengendalian diri, dengan hati yang penuh syukur kepada Tuhan dan rasa cukup.

    Selamat berlatih :). Tuhan memberkati.

  3. FB Comment from DT:
    Boros, aku pernah boros. Maunya sih hemat2 nabung mengurangi beli2 tapi malah jadi boros.Sekarang sudah lebih baik bisa hemat walaupun kadang masih boros juga.I believe Lord Jesus will help me about this case.So help me GOD.

  4. FB Comment from TA:
    about boros….mungkin mau share dikit aja dari pengalaman gw jadi gini…pernah waktu gw terima gaji alias awal bulan gw nga merencanakan sama sekali kuangan gw..tapi pas bulan berikut nya gw merencanakan kaya gini… setiap bulan gw terim…a gaji yang pertama gw keluarkan itu adalah :
    1. uang buat perpuluhan
    2. uang buat bayar listrik, telp, air dll
    3. kasih ortu terserah buat apa entah itu buat dapur or apa soal nya ortu punya penghasilan sendiri buat urusan dapur.
    4. baru gw simpen…
    nah kok dimana bagian gw??bagian gw itu adalah sisa dari tabungan karena gw comit buat tabung sekian persen dari gaji gw setelah di bagi2 in ke keperluan masing2…

  5. FB Comment from ICS:
    Nice share ci… Baidewei kpn tuh Tuhan ‘nantangin’ kita buat memberi lebih dari 10% yg notabene wajib dikasiin? Tanda2nya gtu hehe…

    • Tanda2nya? Hahahaha ga ada tanda2 yang pasti kog. Tapi kadang2 Tuhan bicara dalam hati kita, saat ada suatu kebutuhan untuk pekerjaan Tuhan. Bukan cuma 10% tapi bisa jadi saat itu sampe 100% alias tabungan kita juga. Nah saat itu ditan…tang beneran 😛

  6. FB Comment from ICS:
    Hahaha… OK dah ci… Siap2in tabungan aja ya buat nerima tantangan haha… GBU!!

    • Hhahahaa, siap ga siap kalau udah ditantang harus berani maju :). Tapi tenang, imbalannya pantas kog. Kalau ditantang Tuhan, pasti Dia kasih damai sejahtera. Bahkan saat kita kasih dengan tulus, Dia balikin berlipat kali ganda :). Sela…mat bersiap menerima tantangan. Gbu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: