All for Glory of Jesus Christ

Hari ini merupakan hari terakhir pembahasan cerita perjalanan saya bersama keluarga, yaitu cerita perjalanan tanggal 13 Juli 2009 dan hari istirahat pada tanggal 14 Juli 2009. Sebelum saya menceritakan cerita perjalanan tanggal 13 Juli 2009 dan hari istirahat pada tanggal 14 Juli 2009, saya terlebih dahulu akan menceritakan ringkasan cerita film ketiga yang saya tonton.

Film ketiga: The Reader.

Sutradara: Stephen Daldry.

Pemeran: Ralph Fiennes, Kate Winslet, David Kross

Durasi film: 124 menit.

Film ini sebenarnya saya awalnya tidak berniat menontonnya, akan tetapi saya sering melihat iklannya terpasang di dinding stasiun metro dan saya jadi penasaran karenanya. Apalagi waktu saya membaca di petunjuk film yang ada dalam buku petunjuk bahwa film ini meraih penghargaan Academy Award.

Selain itu, pemeran-pemeran terkenal yang biasa membintangi film bermutu juga turut andil membuat saya jadi ingin tahu mengenai jalan cerita film ini. Setelah hasil search di http://www.cnn.com/2009/SHOWBIZ/Movies/02/22/oscar.nominees.full.list/index.html ternyata memang Kate Winslet menyabet penghargaan aktris terbaik berkat aktingnya di film ini. Film ini juga ternyata dinominasikan untuk gambar terbaik, sutradara terbaik, adaptasi cerita, sinematografi; akan tetapi ternyata masih kalah oleh film lain.

Film dimulai dengan setting cerita adalah di Neudstadt, Jerman Barat pada tahun 1958. Dikisahkan Michael (saat itu berumur 15 tahun) terkena penyakit demam Scarlet. Lalu ada seorang wanita bernama Hana yang menolongnya.

Karena merasa sangat berterima kasih, Michael sering mendatangi rumah Hana. Singkat cerita terjadilah affair antara Michael dan Hana. Padahal saat itu Hana berusia 36 tahun. Akibat affair ini, terjadi perubahan drastis dalam diri Michael. Dari seorang anak yang jujur dan baik, Michael berubah menjadi anak yang suka berbohong.

Hal yang menarik dalam film ini, ternyata di rumah Michael terdapat suatu peraturan bahwa semua harus berkumpul untuk makan malam. Saya perhatikan bahwa ayah Michael tipe yang diktator dan suka menuduh. Ternyata ini berperan besar dalam membuat Michael semakin terpikat pada Hana.

Hal yang sangat aneh adalah Hana sangat senang diceritakan kisah dari buku-buku. Michael sekolah di jurusan sastra dan ternyata memang pandai membacakan cerita dalam buku-buku. Hana meminta syarat kepada Michael bahwa untuk (maaf) berhubungan seksual dengan Hana, Michael harus membacakannya buku terlebih dahulu.

Sebenarnya saya agak heran awalnya. Saya berpikir mengapa film ini bisa mendapat Piala Oscar? Karena saya lihat film ini penuh dengan kebobrokan moral. Mengerikan sekali seorang wanita yang lebih tua 21 tahun dari seorang anak laki-laki ternyata merusak kepolosan dan masa muda anak itu.

Saya sudah hampir mematikan TV di pesawat tetapi kemudian saya coba untuk mempercepat cerita film dan ternyata kisah awal tadi hanya sekedar bumbu saja. Inti cerita bukan di sana. Jadi saya putuskan untuk terus menonton.

Hana lalu menghilang dan berakhirlah affair pada musim panas itu. Cerita kemudian melompat ke tahun 1966 dengan setting di Heidelberg Law School. Saat itu Michael berusia 23 tahun dan sedang kuliah di jurusan hukum.

Ketika sedang berjalan-jalan bersama teman-temannya, Michael melihat terdapat begitu banyak orang berkumpul dan banyak polisi juga berdatangan. Ternyata terdapat demonstrasi anti Nazi. Saat itu sedang ada suatu persidangan untuk mengadili pelaku kejahatan perang.

Ternyata, sangat membuat kaget Michael, salah satu tersangkanya adalah Hana yang saat itu berusia 43 tahun. Hana ternyata menyimpan rahasia di masa lalunya sebelum dia bertemu dengan Michael. Dulu ia merupakan penjaga di kamp para wanita Yahudi yang ditahan Nazi.

Hal yang tragis dikisahkan dalam persidangan bahwa terdapat 8000 orang wanita yang bekerja di Auschwitcz (kamp Nazi) dan ternyata setiap bulan setiap penjaga memilih 10 orang wanita untuk dibunuh. Hana juga termasuk di dalamnya yang memilih 10 orang wanita tersebut.

Hal ini diakui Hana dengan terus terang dengan alasan bahwa kalau tidak ada wanita yang dibunuh maka tidak akan ada tempat untuk wanita-wanita baru yang datang. Hal yang sangat ironis terjadi ketika ada seorang korban yang selamat dari tragedi perang tersebut dan bersaksi di persidangan.

Sang korban bersaksi bahwa para tahanan mengira Hana berbeda dari semua penjaga lainnya karena Hana memilih wanita-wanita lemah dan sakit untuk membaca untuknya. Mereka mengira Hana seorang penjaga yang baik, akan tetapi ternyata Hana sama saja dengan penjaga yang lain. Karena pada akhirnya, 10 wanita yang dipilihnya akan dibunuh pula.

Hana juga menunjuk rekan-rekannya yang diajukan juga di persidangan sebagai yang menyetujui hal tersebut. Hal ini ternyata membuat rekan-rekannya membenci hana dan bersekongkol untuk menjatuhkan Hana.

Ada suatu peristiwa yang diungkapkan dalam persidangan oleh sang korban yang bersaksi, yaitu pada musim dingin di tahun 1944 kamp ditutup dan harus pindah. Pada malam hari mereka tiba di suatu gereja dan semua tahanan tidur di dalam gereja sedangkan para penjaga yang berjumlah 6 orang (termasuk Hana) mengambil rumah pendeta untuk menjadi tempat beristirahat mereka.

Ternyata malam itu terjadi penyerangan dan gereja tersebut terkena bom sehingga menyebabkan terjadi kebakaran. Para tahanan panik dan berusaha keluar namun apa daya karena pintu gereja dikunci dari luar oleh para penjaga. Akhirnya 300 tahanan yang masih ada tersebut mati semuanya terbakar hidup-hidup, hanya satu korban yang tertinggal itulah yang masih hidup.

Hana mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui hal yang terjadi dan mengunci para tahanan untuk memastikan mereka tidak melarikan diri. Ketika laporan dari kejadian tersebut diajukan sebagai bukti, semua penjaga lain menyebutkan bahwa Hanalah yang menulis laporan tersebut. Padahal sesungguhnya bukan!

Mengapa demikian? Hana ternyata buta huruf. Jangankan untuk menulis, membaca pun ia tidak mampu. Hal inilah yang diketahui Michael dalam persidangan tersebut. Hana mengakui bahwa ia yang menulis laporan itu karena ia malu untuk mengakui kenyataan kebutahurufannya.

Seharusnya Michael dapat menyelamatkan Hana, namun ternyata sejumlah pertimbangan pribadi menghalangi Michael dan akhirnya Hana dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sedangkan para penjaga lainnya hanya dijatuhi hukuman relatif ringan.

Lalu cerita melompat ke tahun 1976. Michael telah mempunyai seorang putri dari pernikahannya dengan Gertrud. Sayangnya Michael memutuskan untuk bercerai dengan Gertrud karena ternyata sekian lama waktu berlalu Michael mencintai Hana saja.

Michael karena merasa sangat bersalah pada Hana lalu merekam suaranya pada kaset dan mengirimkannya pada Hana. Begitu banyak kaset yang telah dikirimkan Michael sampai akhirnya Hana memutuskan untuk belajar membaca dan menulis sendiri.

Singkat cerita hubungan itu terus berlanjut sampai suatu hari Hana akan bebas dari tahanan karena memperoleh pengurangan hukuman. Michael sudah berjanji akan mencarikan Hana pekerjaan. Akan tetapi betapa Michael sangat terkejut karena pada hari kebebasannya, Hana memilih gantung diri dan meninggalkan Michael dengan wasiatnya untuk memberikan semua uangnya kepada sang korban yang selamat tersebut.

Ketika Michael menemui anak sang korban (karena sang korban sudah meninggal) dan mengutarakan maksud kedatangannya, anak sang korban menanyakan hubungan Michael dan Hana. Michael terpaksa menceritakan affair-nya dengan Hana pada saat ia remaja.

Anak sang korban menolak pemberian uang tersebut dan menyerahkan pada Michael mengatur untuk diapakan saja uang tersebut. Michael memutuskan untuk mendirikan yayasan untuk memberantas buta huruf dan menggunakan nama Hana sebagai pendirinya.

Pelajaran dari film “The Reader” adalah: pertama jangan pernah menunda untuk berbuat baik, apalagi jika itu bisa menyelamatkan hidup seseorang.

Yakobus 4:17: Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Kedua adalah rasa bersalah yang tidak diselesaikan akan berpengaruh ke masa depan. Jangan pernah terikat dengan rasa bersalah. Rasa bersalah identik dengan kesalahan dan dosa di masa lalu. Untuk mengatasinya silakan dibaca di “For the Love of Myself”.

Cerita perjalanan tanggal 13 Juli 2009 adalah sebagai berikut: saat di dalam pesawat ternyata banyak sekali guncangan yang terjadi. Hal ini dikarenakan banyaknya awan tebal. Saya sampai sudah takut dan banyak berdoa. Sewaktu ada banyak goncangan, saya sempat berpikir mungkin inilah gunanya Ride “Indiana Jones and the Temple of Peril” di Disneyland, yaitu untuk menyiapkan mental selama guncangan di pesawat hahahaha.

Hal yang menarik adalah saat naik ride tersebut ketakutan saya luar biasa besarnya padahal ride itu masih ada dalam rel (lintasannya) sedangkan pesawat terbang tidak ada lintasannya, tapi saya merasa lebih takut ketika berada dalam ride.

Sewaktu guncangan mulai begitu sering, satu hal yang membuat saya sedikit tenang adalah sejumlah orang yang berbeda dan tidak saling mengenal memberikan sejumlah nubuatan yang saling mendukung antara isi satu nubuatan dengan nubuatan lainnya kepada saya pada waktu lalu. Nubuatan-nubuatan ini belum tergenapi sehingga saya pikir berarti saya belum akan pulang ke rumah Bapa.

Hal lain juga saya berpikir bahwa kalaupun saya mati, saya akan pulang ke rumah Bapa. Bukankah malah enak ya? Wakakakka. Yah, tapi saya saat itu tidak ingin mati dulu sih. Rasa-rasanya masih banyak hal yang harus saya kerjakan di dunia ini. Saya cukup yakin waktu saya belum tiba saat itu.

Akhirnya kami sampai Bandara Changi pukul 07.00. Seudah menanyakan info, kami masuk ke Gate E5 dan check in pukul 08.00. Kali ini tidak terlalu ramai seperti waktu dari Bandara Charles de Gaulle. Pukul 08.20 sudah di pesawat dan berangkat pukul 09.00.

Sayangnya makanan di pesawat sewaktu pulang tidak begitu enak. Mulai dari Paris ke Singapura dan dari Singapura ke Jakarta. Pelayanan dari Paris ke Singapura bahkan sangat buruk, sedangkan dari Singapura ke Jakarta cukup bagus.

Saya tidak mengerti, mengapa banyak orang yang kalau menghadapi orang asing (Eropa, Amerika) itu sepertinya sangat tunduk dan hormat sekali, padahal kalau menghadapi orang Asia itu sepertinya sangat seadanya? Padahal sama-sama bayarnya, sama-sama duduk di kelas yang sama. Heran oh heran saya. Apakah ini yang namanya mental orang yang biasa dijajah?

Hal ini sangat mengesalkan saya karena penumpang Eropa dan Amerika dilayani dengan sangat baik sedangkan kami dilayani dengan seolah-olah ogah-ogahan. Saya ini menilai tidak subyektif tapi memang kenyataannya yang terjadi seperti itu. Sangat mengecewakan!

Akhirnya kami sampai Jakarta pukul 09.50. Sampai Bandara Sukarno-Hatta ternyata kami harus mengisi lembar kuning. Itu ternyata berkaitan dengan Flu Babi yang marak beredar sekarang ini. Sesudah itu, kami menunggu bagasi agak lama. Saya berdebar-debar juga, karena takut ada gangguan.

Sebenarnya kakak saya sebelumnya sudah berpesan supaya kami membayar portir saja supaya semua lancar. Saya juga tidak mengerti karena saya diam saja sewaktu akan mengambil bagasi. Kakak saya juga mengatakan hal yang sama ke ayah saya, tapi ayah saya juga ternyata diam saja, tidak meminta portir untuk mengambil bagasi.

Tapi ternyata semua berjalan mulus lus lus. Puji Tuhan. Sama sekali tidak ada hambatan sedikitpun. Koper keluar semua dan tidak ada yang hilang. Sesudah semua koper keluar, kami harus lewat security untuk pemeriksaan akhir.

Ini membuat saya saya lebih berdebar-debar lagi karena saya melihat ada yang dibongkar tasnya. Sewaktu kami akan lewat kami diminta memasukkan hand carriage kami ke conveyor (ban berjalan) untuk pemeriksaan. Ternyata… puji Tuhan, tidak ada masalah sama sekali.

Mulus sekali! Begitu keluar, kami langsung mencari tempat bis untuk mengantar kami kembali ke Bandung. Pukul 10.40 kami selesai membeli tiket bis dan langsung masuk bis buat kembali ke Bandung.

Kami sampai Bandung sekitar pukul 14.00. Di jalan kami sudah menelpon saudara kami yang menjanjikan akan meminta supirnya menjemput kami. Puji Tuhan kami diberkati oleh saudara yang baik! Begitu sampai Bandung, kami dijemput dan diantar sampai rumah.

Begitu sampai rumah, sesudah istirahat sebentar lalu kami membongkar koper supaya cepat selesai. Luar biasa capeknya, sehingga pukul 19.00 saya sudah tidur.

Pelajaran cerita perjalanan 13 Juli 2009: guncangan dalam pesawat mengajarkan saya akan guncangan dalam hidup. Mengapa Tuhan kerap mengguncang hidup Anda dan saya? Mengapa masalah dan ujian diizinkan Tuhan mengguncang hidup Anda dan saya?

Hal yang saya ingat adalah begini: saat saya berada di apartemen kakak saya, tidak ada bahaya, tidak ada guncangan, semua baik. Saya berdoa, saya bersaat teduh seperti biasa, namun saya merasakan sekali ketika saya berada dalam pesawat dan guncangan begitu keras saya lebih keras lagi berdoa dan saya merasa begitu dekat dalam Tuhan.

Apakah Anda ingat saat ketika Anda begitu dekat dengan Tuhan? Biasanya ada 2 saat kita begitu dekat dengan Tuhan, yaitu saat adanya masalah besar dalam hidup kita atau saat kita merasakan kebaikan Tuhan. Hanya saja sayangnya saat kita merasakan kebaikan Tuhan seringkali karena kita merasa aman, jauh lebih mudah kita menerima dan berterima kasih lalu sudah sampai di situ.

Bagaimana saat kita dalam masalah? Pada umumnya selain kita berdoa, kita beriman, kita mencari wajah Tuhan, mungkin kita juga berpuasa, kita lebih sungguh-sungguh dalam segala usaha kita untuk mengetahui kehendak Tuhan.

Dalam prosesnya, selain kita lebih dekat dengan Tuhan, juga kita membangun iman percaya kita kepada Tuhan, membentuk karakter kita untuk lebih tekun dan berpengharapan dalam Tuhan. Hal ini telah dibahas dalam “Hidup = Mengalami Masalah”.

Cerita liburan tanggal 14 Juli 2009: hari ini sempet lihat-lihat internet dan mengobrol sebentar dengan keponakan dan temannya yang main ke Bandung dan mengatur rumah selama saya dan orang tua saya pergi berlibur ke Eropa.

Ternyata luar biasa! Saya mengatur waktu mulai menulis lagi itu tanggal 15 Juli 2009 karena perkiraan saya saat itu pasti baru datang akan sangat lelah, sehingga butuh istirahat sehari. Ternyata tanggal 14 Juli keponakan saya dan temannya juga pulang ke Surabaya karena keponakan saya harus mengurus untuk FRS kuliahnya dan temannya juga belum sempat bertemu orang tuanya dan langsung berangkat ke Bandung waktu itu.

Mengapa bisa sangat tepat waktunya? Ya, saya yakin ini semua sudah dalam pengaturan yang sempurna dari Tuhan. Jelas saya tidak bisa berkonsentrasi menulis jika ada keponakan dan temannya karena memang jarang bertemu keponakan saya. Hal ini terjadi bukan karena keponakan saya atau temannya itu bandel, bukan, sama sekali tidak. Mereka anak yang sangat baik.

Hanya saja jelas saya pasti akan mengobrol dan menemani mereka walau mungkin tidak sepanjang hari. Sayang saya belum sempat mengobrol banyak karena bertemu mereka hanya sekitar 2 hari (1 hari sebelum pergi liburan, dan 1 hari sesudah pulang liburan).

Hari ini mereka pulang ke Surabaya. Sesudah mengantar mereka pulang, saya kembali bersiap untuk memulai kembali menulis pada 15 Juli 2009 seperti yang saya janjikan sebelum saya berangkat. Bersama dengan selesainya notes hari ini, selesai juga rangkaian cerita perjalanan saya dan keluarga ke Eropa. Liburan yang sangat berkesan, penuh dengan berkat Tuhan.

Saya pribadi banyak belajar dalam liburan ini. Ya, bukan sekedar menikmati keindahan, keunikan, kemegahan setiap tempat yang saya kunjungi, tapi saya juga belajar dan menikmati sekian buku yang saya baca, e-book yang saya dengarkan, lagu-lagu klasik, dan film serta acara demi acara yang saya tonton. Dari kesemuanya itu saya selalu mendapatkan satu atau lebih pelajaran yang berarti.

Bukan cuma itu saja, saya juga bisa menghabiskan waktu beristirahat dan bersantai bersama keluarga. Pada hari kerja, sangat sulit untuk beristirahat dan bersantai serta menghabiskan waktu bersama keluarga. Selalu saja ada hal yang harus dilakukan.

Selain itu juga saya belajar seni parenting, seni mengatur dan mengelola rumah, serta seni mengatur waktu. Hal ini penting bila saya kelak telah menjadi ibu rumah tangga. Saya memang sebelum liburan telah membeli beberapa buku mengenai mendidik anak dan juga mengenai pernikahan, selain itu juga saya sering mendengarkan acara di radio berkaitan dengan hal itu, namun belajar langsung dari kehidupan sehari-hari jelas berbeda dari belajar dari buku.

Semoga kelak jika Tuhan telah menentukan saatnya bagi saya untuk menjadi seorang istri dan ibu, saya bisa menjalankan tugas pelayanan sebagai istri dan ibu dengan sebaik-baiknya. Itu sungguh bukan tugas pelayanan yang mudah, maka saya harus bersiap dari sekarang.

Di atas semuanya, saya belajar mengenai kemurahan hati yang ditunjukkan oleh kakak dan kakak ipar saya. Mereka sungguh sangat murah hati. Bukan hanya kepada kami saja keluarganya, tetapi juga kepada teman-temannya. Sungguh suatu contoh teladan kemurahan hati yang baik.

Pelajaran dari seluruh rangkaian liburan: Tuhan adalah Allah yang luar biasa dalam kehidupan saya. Saya mengalami banyak hal dalam hidup saya, baik dalam rutinitas keseharian saya, maupun hal-hal yang di luar rutinitas yang kalau dipikirkan merupakan pengajaran langsung dari Tuhan.

Saya bersyukur sekali bisa mengalami liburan yang indah. Walau saat ini saya mengalami kesedihan dan sedang berusaha mengatasinya bersama dengan Tuhan (yah saya kan manusia biasa ya, bukan malaikat. Jadi ingat komentar teman saya di yahoo messenger tadi malam hahahaha. Teman-teman yang membaca ini juga jangan menganggap saya malaikat atau setengah malaikat ya, saya hanya manusia biasa yang serba terbatas dan lemah, yang karena anugerah Tuhan Yesus yang besar dimampukan untuk melakukan sesuatu untuk memuliakan nama-Nya), tapi saya percaya bahwa Ia selalu beserta saya.

Ada satu lirik lagu yang saya ingat saat ini, yaitu:

“Walaupun lewat lembah air mata, aku percaya.”

Kalaupun Anda mengalami lembah air mata pula, tetaplah percaya. Ia Allah yang tak pernah berubah: dulu, sekarang, sampai selama-lama-Nya. Ia adalah Allah yang luar biasa mengasihi kita.

Sedikit membuat saya terkejut ketika melihat seorang pembaca dapat menebak dengan jitu hal yang saya hadapi hahahaa. Yah, saya memang mengalami patah hati. Rasanya sakit sekali dan sangat sedih, namun herannya saya tidak pernah ada masalah dengan masalah makan dan tidur wakakkaka. Aneh ya?

Biasanya saya mendapatkan pengungkapan dari Tuhan atau saya biasanya berhasil menemukan alasan bagi patah hati saya, namun kali ini saya belum menemukan pengungkapan dari Tuhan maupun alasannya saya harus patah hati.

Tapi saya percaya apapun itu, segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Saya walau berkali-kali mengalami jatuh cinta dan patah hati, ternyata belum kebal juga untuk patah hati hahaha. Yah, berarti Tuhan masih ingin mengajarkan sesuatu pada saya.

Satu hal yang dapat saya saksikan bagi Anda semua, saya sungguh bersyukur pada Tuhan saat saya sedang menangis, saya selalu mendapati bahwa Tuhan sedang menghibur saya lewat musik yang saya dengarkan lewat iTunes. Saya jelas tidak mengatur urutan lagunya, namun ternyata setiap kali saya sedang sedih dan menangis, saya selalu mendapati lagu-lagu yang diputar ternyata sangat sesuai untuk menghibur saya.

Ini terjadi berkali-kali. Setiap kali saya menangis, saya mendapati Tuhan menghibur saya. Ketika saya selesai menangis, lagunya berubah menjadi lagu dengan tema lain. Aneh sekali bukan?

Bila Anda mengalami hal yang sama dengan saya atau entah apalagi yang Anda hadapi yang mungkin jauh lebih berat daripada sekedar patah hati yang saya alami, jangan pernah menyerah. Terus andalkan Tuhan. Ia tahu setiap yang Anda alami. Bukan hanya sekedar tahu, Ia juga mengerti dan Ia peduli akan semua yang Anda alami.

Tetap andalkan Dia. Tetap taruh pengharapan Anda kepada-Nya, karena Ia Allah yang tidak pernah mengecewakan kita.

Dengan ini berakhir juga catatan liburan saya. Liburan yang menjelajahi 5 negara di Eropa, dengan berbagai keindahan dan keunikannya, dengan berbagai pelajaran yang dapat saya ambil dalam setiap hal yang saya alami di sama, yang menghasilkan 6 lagu baru, dan 17 hari catatan perjalanan. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membacanya. Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: