All for Glory of Jesus Christ

Berutang

Pembahasan hari ini masih seputar kebiasaan buruk dalam hal keuangan, yaitu berutang. Pernah punya teman yang suka berutang atau apakah Anda suka berutang? Saya sudah pernah membuktikan teori bahwa sifat ditentukan kebiasaan dan kebiasaan ditentukan perilaku.

Begini ceritanya. Saya sebenarnya tidak suka berutang, tapi sekian waktu lalu teman yang mengajak saya bisnis pulsa menawarkan kepada saya.

“Kalau kamu misalnya sedang tidak sempat transfer uang untuk deposit pulsa, tidak apa-apa untuk utang dulu.”

Jadi memang teman saya ini baik sekali. Niatnya adalah untuk menolong saya dalam mempermudah bisnis. Suatu kali, saya sedang sangat sibuk dan tidak sempat sama sekali untuk ke ATM. Jadi waktu itu saya menghubungi dia dan meminta berutang dulu.

Memang begitu saya pulang dari kampus, saya langsung ke ATM terdekat dan membayar utang saya kepadanya. Waktu itu fasilitas untuk elektronik banking saya belum selesai diproses sehingga saya masih harus mengunakan ATM.

Akan tetapi, dari 1 kali kesempatan berutang, berubah jadi 2 kali, dan tiga kali. Walaupun setiap kali pasti saya begitu sempat langsung ke ATM untuk membayar utang, tetap saja ini kebiasaan yang buruk. Sampai akhirnya teman saya keberatan dan mengatakannya kepada saya. Untung saja dia mengatakannya kepada saya, jadi kebiasaan suka berutang itu berhenti.

Ada lagi satu orang yang suka berutang. Dia awalnya mendatangi saya untuk meminjam uang sejumlah kecil untuk kebutuhan mendesak. Karena saya kasihan, saya pinjamkan. Ternyata, dia kemudian meminjam lagi. Saat itu saya berpikir,

“Sebagai seorang Kristen saya harus bermurah hati meminjamkan.”

Matius 5:42: Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Akan tetapi dari situ, setiap kali orang ini selalu meminjam pada saya dan saya jadi kesal. Waktu satu kali saya menolak, orang ini jadi sedikit berubah pada saya. Tidak semanis dulu lagi. Hmm hmmm, ternyata memang untuk meminjamkan juga perlu hikmat.

Kakak rohani saya dulu waktu pemuridan pernah menceritakan hal yang serupa. Ada yang meminjam uang padanya lalu tidak mengembalikan. Ketika ia bertemu dengan orang yang meminjam, orang yang meminjam menjauh. Mungkin takut ditagih utangnya.

Sejak itu kakak rohani saya memutuskan untuk tidak meminjamkan uang, tapi memberi yang memang ia mampu saja. Karena memang dalam meminjamkan uang kita perlu berhikmat, jangan sampai kita ingin menolong orang malah menjerumuskan orang.

Roma 13:8: Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

Berutang bukan hanya meminjam ke teman, tapi bisa juga dalam bentuk kartu kredit atau cicilan atau pinjaman ke bank dan lembaga keuangan lainnya. Permasalahannya, sungguh-sungguhkah kita tidak boleh berutang?

Sebisa mungkin memang demikian. Bagaimana jika kita membutuhkan untuk modal usaha yang jika kita tidak berutang, tidak ada cara untuk kita mengembangkan usaha? Bukankah sejumlah perusahaan juga mengembangkan sistem pembayaran di belakang?

Setahu saya untuk perusahaan bangunan untuk pembelian proyek-proyek besar, sistemnya pembayaran di belakang. Jadi ada perjanjian untuk sekian bulan baru membayar. Begitu juga untuk usaha jual beli baju, tas, sepatu; ada yang menerapkan sistem tersebut.

Nah bagaimana dengan itu? Dalam hal ini kita harus berhikmat. Jika memang hal tersebut sifatnya bukan untuk berfoya-foya, bukan untuk mengikuti keinginan diri pada membeli barang-barang yang sifatnya konsumtif, dan memang diperlukan untuk kemajuan usaha itu boleh saja. ASALKAN: ingat untuk mengelola keuangan Anda dengan hati-hati dan bijaksana.

Apakah penggunaan kartu kredit itu tidak boleh? Boleh! Asalkan Anda bisa bertanggung jawab dengan baik atasnya. Jika memang dengan menggunakan kartu kredit Anda bisa mendapat manfaat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tidak menggunakan kartu kredit, ya tidak masalah mengunakan kartu kredit.

Akan tetapi, ini yang perlu diwaspadai. Jika Anda bukan tipe orang yang dapat mengendalikan diri, lebih baik tidak menggunakan kartu kredit. Karena saya sering mendengar cerita orang yang kebablasan menggunakan kartu kredit sampai over limit dan akhirnya tidak membayar. Jadi kuncinya: pengendalian diri dan berhikmat.

Mazmur 37:21: Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

Jangan sampai kita menjadi orang fasik. Kalau kita meminjam, kita harus membayar. Lebih baik lagi untuk memastikan kita tidak menjadi orang fasik, jangan berutang sama sekali hehehe.

Lalu bagaimana jika misalnya ini bukan untuk usaha, tapi untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak? Contoh: untuk membeli rumah. Nah, kalau misalnya memang dananya belum ada, saya setuju untuk kredit karena sifatnya jangka panjang. Pertimbangannya adalah dibandingkan dengan sewa rumah yang pada akhirnya rumah itu tidak menjadi milik kita juga, lebih baik kredit.

Permasalahannya adalah: sanggupkah kita membayar bunga dan pokoknya setiap bulannya? Kalau tidak sanggup, jangan berani-berani mengambil kredit rumah tersebut atau kredit-kredit yang lain. Intinya adalah berhikmat.

Alasan lain kita tidak boleh berutang adalah:

Amsal 22:7: Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.

Saat kita berutang, secara tidak langsung kita menjadi budak yang mengutangi. Mungkin tidak secara ekstrim dalam pengertian kita harus mengikuti semua perintah si pemberi utang, tetapi pasti sedikit banyak ada rasa tidak enak kalau kita tidak mengikuti kemauan si pemberi utang.

Contoh dalam cerita adalah orang tua Siti Nurbaya yang akhirnya harus ‘menjual’ anaknya sebagai pelunasan utang kepada Datuk Maringgih. Saya yakin hal-hal semacam ini juga masih terjadi sekarang ini dan ini sangat memprihatinkan. Jangan sampai kita berutang, lalu anak, cucu, kerabat, atau teman kita yang mendapat akibatnya.

Alasan terakhir kita tidak boleh berutang adalah:

Mazmur 109:11: Biarlah penagih hutang menyita segala kepunyaannya, dan orang-orang lain menjarah hasil jerih payahnya.

Resiko yang paling besar saat berutang adalah disitanya segala milik kita jika kita tidak bisa membayar utang. Oleh karena itu, lebih baik tidak berutang sama sekali. Jika memang terpaksa harus berutang, pikirkan dengan cermat segala sesuatu karena satu tindakan dapat mempengaruhi keseluruhan hidup Anda.

Ingat: hidup adalah pilhan dan pilihan Anda menentukan hidup Anda.
Jadi, pilihlah dengan bijak dan jauhi sifat serta kebiasaan suka berutang.

Amin.

Comments on: "Berutang" (6)

  1. FB Comment from VH:
    punya kartu kredit,ada untungnya loh…
    kita boleh beli barang atau belanja dan bayarnya nanti sebulan lagi…itu juga harus bayar lunas ya, jgn nyicil hehehe

    • Iya ci, bagusnya gitu. Cuma buat yang ga bisa kendaliin diri, jangan dah😀. Lagipula kadang2 karena mikirnya tar bayarnya bisa sebulan lagi, bisa2 beli barang yang bukan dibutuhin (konsumtif). Ya, kalau memang bisa kendaliin diri sih ga masalah🙂.

  2. FB Comment from DHK:
    Utang… Hmm
    stiap kali mengutangi yg diutangi kalo ditagih muter2 dan akhrnya kabur …
    Maksud membantu ech malah dibw kabur, tp gak pa2 “siapa yg menabur jelek pasti menuai jelek”

    • Makanya jauh lebih baik ga ngutangi tapi kasih semampunya dan serelanya aja daripada CPD (cape deh). Sama pernah ngalami gitu ditagih ga bayar2, sampe akhirnya jadi keki. Tapi trus Tuhan bilang suru direlain, ya sudah anggap menabur… aja🙂. Toh kalau kita menabur yang baik, pasti akan menuai yang baik juga. Gbu.

  3. FB Comment from DHK:
    Gak ngutangi juga salah apa sebab jaman skrng kalo dagang kalo gak dikasih hutang gak jalan jadi smua ada resikonya dalam hidup, misal dlm dagang dulu lancar krn ada suatu hal tiba2 macet wah berabe donk kalo pasrah aja gt bisa2 gak makan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: