All for Glory of Jesus Christ

Pamer

Hari ini pembahasan masih seputar kebiasaan buruk yang berkaitan dengan masalah uang/harta, yaitu kebiasaan pamer. Saya yakin Anda semua pernah pergi ke pameran, entah itu pameran buku, pameran barang-barang elektronik, pameran segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, dan lain-lain.

Apa tujuan pameran tersebut? Memperlihatkan sesuatu yang akan dijual agar orang tertarik dan berniat membelinya. Berarti tujuan pameran adalah sangat positif karena mempromosikan produk/jasa yang akan dijual dan juga memberikan informasi berkaitan dengan produk/jasa yang akan dijual tersebut. Akibat positif dari pameran adalah membuka peluang bagi orang yang melihat dan mengetahui informasi lebih lanjut mengenai produk/jasa tersebut tertarik untuk membelinya.

Dalam pameran bahkan sering diadakan potongan harga yang sifatnya menguntungkan bagi pembeli. Karena harga lebih rendah, otomatis permintaan lebih tinggi. Sesuai dengan hukum ekonomi. Akibatnya omzet dari perusahaan menjadi meningkat. Jadi intinya pameran sifatnya adalah win-win solution (solusi menang-menang) bagi pembeli untung, bagi penjual juga untung.

Tentu saja win-win solution ini hanya akan terjadi jika memang pembeli dan penjual sama-sama berhikmat, baik dalam membeli maupun dalam menjual. Jika tidak, jelas tidak bersifat win-win solution.

Nah lalu bagaimana dengan pamer? Pamer memiliki unsur yang sama dengan pameran, yaitu memperlihatkan produk atau barang yang dimiliki kepada orang lain, namun perbedaannya adalah pada motivasinya.

Jika pameran tujuannya agar pembeli membeli produk/jasa yang ditawarkan dan juga memberikan informasi lebih lanjut sehingga kesadaran konsumen akan produk/jasa tersebut semakin tinggi. Sementara pamer tujuannya adalah untuk kepuasan pribadi karena berhasil menyombongkan diri kepada orang lain.

Yeremia 9:23: Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

Kata lain dari pamer adalah bermegah. Dalam Yeremia 9:23 dikatakan dengan jelas merupakan perintah Tuhan untuk kita tidak pamer, entah karena kebijaksanaan kita, karena kekuatan kita, ataupun karena kekayaan kita.

Mengapa demikian? Kebijaksanaan, kekuatan, kekayaan kita, semua itu sifatnya hanya sementara. Siapalah diri kita? Orang berdosa yang jika bukan karena anugerah Allah akan menerima hukuman kebinasaan dan kesengsaraan kekal. Ingatlah pepatah:

“Di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi.”

Kalau kita pamer karena kita berpikir kita bijaksana, ada lebih banyak orang yang jauh lebih bijaksana daripada kita. Jika kita pamer karena kita berpikir kita kuat, jauh lebih banyak lagi orang yang lebih kuat dari kita. Andai kita pamer karena kita berpikir kita kaya, jauh lebih banyak orang yang kaya dibandingkan kita.

Yeremia 8:9: Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, akan terkejut dan tertangkap. Sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?

Di luar Tuhan, kebijaksanaan kita hanya menjadi suatu kebodohan belaka. Saat orang sudah menganggap dirinya bijaksana, yang terjadi ia merasa tidak membutuhkan siapapun lagi, bahkan Tuhan. Akhirnya kebinasaanlah yang menanti di ujung perjalanannya.

Yeremia 17:5: Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”

Bahkan Tuhan mengatakan orang yang berpikir dirinya kuat itu adalah terkutuk. Mengapa demikian? Sama kasusnya dengan saat orang berpikir dirinya bijaksana.

Wahyu 18:16: mereka berkata: “Celaka, celaka, kota besar, yang berpakaian lenan halus, dan kain ungu dan kain kirmizi, dan yang dihiasi dengan emas, dan permata dan mutiara, sebab dalam satu jam saja kekayaan sebanyak itu sudah binasa.”

Begitupun untuk orang yang pamer dengan kekayaannya. Pada akhir zaman, segalanya itu dengan sangat mudah dan cepat musnah.

Ada satu kisah di Alkitab yang menceritakan ketragisan sifat suka pamer ini yang sangat fatal, yaitu kisah Raja Hizkia (2 Raja-raja 20:12-21). Ketika ada utusan raja Babel datang, Hizkia memperlihatkan seisi kerajaannya kepada utusan tersebut. Akhirnya apa yang terjadi?

2 Raja-raja 20:15: Lalu tanyanya lagi: “Apakah yang telah dilihat mereka di istanamu?” Jawab Hizkia: “Semua yang ada di istanaku telah mereka lihat. Tidak ada barang yang tidak kuperlihatkan kepada mereka di perbendaharaanku.”

2 Raja-raja 20:16: Lalu Yesaya berkata kepada Hizkia: “Dengarkanlah firman TUHAN!

2 Raja-raja 20:17: Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN.

Karena Hizkia memperlihatkan semua isi istananya kepada utusan raja Babel, pada zaman Raja Zedekia menjadi akhir dari Kerajaan Yehuda. Seluruh hal yang ada di istana diangkut ke Babel (2 Tawarikh 36:18) seperti nubuatan yang disampaikan oleh Nabi Yesaya dalam 2 Raja-raja 20:15.

Tidak cukup hanya itu, Bait Allah yang begitu indah yang dibangun oleh Salomo sebelumnya yang memakan waktu 7 tahun untuk mendirikannya (1 Raja-raja 6) juga dihancurkan, Yerusalem dibumihanguskan, lalu orang-orang yang tidak meninggal diangkut sebagai budak ke Babel.

Tragis sekali bukan? Jika kita melihat dari firman Tuhan, memang jika itu adalah Firman dari Tuhan jelas akan terjadi dan tidak meleset. Terbukti bahwa hal yang disampaikan oleh Nabi Yesaya tergenapi. Hal ini juga bahkan didukung oleh nubuatan yang disampaikan oleh Nabi Yeremia yang menyatakan bahwa Yehuda akan dibuang ke Babel selama 70 tahun (Yeremia 25) dan Bait Suci akan musnah (Yeremia 26). Itu semua tergenapi.

Jika kita melihat dari logika, sangat bodoh hal yang dilakukan Hizkia memperlihatkan seluruh isi istananya sehingga membuat utusan Raja Babel tersebut dapat melaporkan hal ini kepada Raja Babel dan membuat Raja Babel tergiur akan kekayaan Kerajaan Yehuda.

Tapi Allah itu luar biasa baik, sesungguhnya Ia telah memberikan cara untuk meluputkan dari semua yang akan terjadi asalkan segenap kaum Yehuda dan penduduk Yerusalem mau bertobat (Yeremia 25:5-6). Namun, karena tetap tidak mau taat dan tidak mau bertobat akhirnya binasa dan kesengsaraanlah yang dituainya.

Kontradiksi dengan pamer yang telah dibahas tadi, hal yang menarik adalah kita dapat pamer tapi jika dan hanya jika dalam Tuhan.

Yeremia 9:24: tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

Ya kalau kita memamerkan kasih dan kesetiaan Tuhan, keadian dan kebenaran-Nya itu baik sekali. Mungkin ada yang merasa bingung? Kalau kita pamer untuk hal yang kita miliki yang bersifat sementara, itu sungguhlah bodoh. Alasannya karena hal-hal tersebut dapat dengan mudah musnah.

Jika kita pamer untuk kasih, kesetiaan, keadilan, dan kebenaran Tuhan yang memang kekal adanya, tidak berubah dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya, bukankah memang sudah pantas demikian? Ia memang pantas kita pamerkan karena memang Ialah Allah, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Rahim, Yang Maha Baik.

Yohanes 3:16: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Bahkan begitu besar kasih-Nya kepada kita sehingga Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita.

Roma 3:27: Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!

Ya, hanya atas dasar iman kita kepada Kristus dasar kita bermegah. Bahwa Ia begitu luar biasa mengasihi kita dan bukan hanya berhenti sampai menebus dosa-dosa kita, Ia juga memberikan hidup baru bagi kita yang mau membuka hati bagi-Nya.

Bukankah itu sesuatu yang perlu kita pamerkan? Sesuatu yang perlu kita bagikan kepada orang-orang lain? Bahwa Ia, Allah yang luar biasa karya-Nya dalam hidup kita dan akan berkarya juga dalam setiap orang yang mau menerima-Nya.

Jauhkan sifat pamer yang berpusat pada kesombongan diri dan ke depankan sifat pamer yang berpusat untuk mengagungkan Allah.
Amin.

Iklan

Comments on: "Pamer" (4)

  1. FB Comment from DHK:
    Orang yg suka pamer kekayaan berarti suka mengundang malapetaka

  2. FB Comment from FD:

    Harta ku tak punya,ga ada yg bisa kupamerkan. Bersyukur aku miskin sehingga tak jatuh dlm pencobaan bermegah diri. Thanks for this note

    • Bersyukurlah senantiasa untuk segala keadaan. Kalau kita miskin, biarlah kita tetap bersukacita karena Ia yang memelihara kita. Kalau kita kaya, biarlah kita gunakan kekayaan kita untuk memuliakan dia. Tidak ada alasan untuk bermegah. Walaupun begitu, Tuhan menjanjikan kita untuk hidup dalam segala kelimpahan, termasuk dalam hal materi. Kita hanya perlu hidup dalam kehendak-Nya dan taat pada setiap kehendak-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: