All for Glory of Jesus Christ

Bohong Putih

Saya akan memulai pembahasan hari ini dengan tidak bosan-bosannya mengatakan:

“Tidak ada kebetulan dalam Tuhan.”

Saya sudah merencanakan topik bulan ini pada saat liburan yang lalu (Bulan Juni – Juli lalu). Jadi pada awal Agustus topik bulan ini sudah siap beserta topik per harinya, walaupun pada 2 atau 3 hari awal saya masih sempat mengatur-atur sejumlah topik agar lebih representatif.

Sungguh bukan kebetulan topik hari ini adalah mengenai “Bohong Putih” atau yang biasa disebut sebagai “White Lies” atau istilahnya adalah “Berbohong demi Kebaikan”. Lalu apa kaitan topik hari ini dengan pernyataan saya di awal tadi? Karena hari ini kotbah di gereja saya adalah mengenai Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran. Wow, God is so amazing! (Wow, Tuhan itu begitu luar biasa menakjubkan!)

Saya begitu Pak Pendeta, yang merupakan pendeta tamu namun sudah beberapa kali berkotbah juga pada kesempatan-kesempatan sebelumnya di gereja saya, menyampaikan tema kotbah hari ini, saya sungguh terperangah. Ya, topik yang sama dengan rencana topik saya saat ini. Walaupun “Bohong Putih” merupakan sub topik, ini masih dalam kerangka yang sama. Benar-benar luar biasa!

Saya akan membagikan sedikit dari yang saya peroleh tadi pagi. Tidak ada manusia yang benar. Semua manusia adalah berdosa. Satupun tak ada manusia yang benar.

1 Yohanes 1:8: Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.

Semua orang berdosa. Oleh karena itu semua orang butuh Yesus Kristus. Jika ada satu manusia yang tidak berdosa, maka ia tidak butuh Tuhan Yesus. Namun semua manusia berdosa, sehingga semua manusia butuh Tuhan Yesus.

Yohanes 14:6: Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Ialah satu-satunya cara untuk bisa sampai kepada Allah Bapa. Tanpa melalui Kristus, tidak ada satupun yang bisa sampai kepada Bapa. Tuhan Yesus bukan hanya menebus dosa kita, tapi juga memberikan kita Penolong, yaitu Roh Kudus, Roh Allah sendiri, yaitu Roh Kebenaran itu.

Yohanes 16:8: Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

Yohanes 16:9: akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;

Yohanes 16:10: akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;

Yohanes 16:11: akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

Yohanes 16:12: Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

Yohanes 16:13: Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Jika Kristus tidak mati untuk menebus dosa kita, betapa kita semua akan berjalan menuju kehancuran karena upah dosa adalah maut. Jika Kristus tidak bangkit pada hari ketiga, betapa malang kita yang percaya kepada-Nya, karena iman kita berarti iman yang mati. Syukur kepada Allah, Kristus mati bagi kita, bangkit pada hari ketiga mengalahkan maut.

Ya, sesuatu yang tidak ada seorangpun yang dapat melakukannya: bangkit dari maut dengan sendirinya. Ya, ada banyak mujizat saat orang mati didoakan ternyata bisa bangkit kembali, namun tidak ada orang mati yang bangkit dari maut dengan sendirinya kecuali Kristus.
Bahkan begitu cinta-Nya Kristus kepada kita manusia sampai-sampai Ia sebelum kembali ke Surga, Ia menjanjikan kepada kita Penolong: Roh Kudus, Roh-Nya sendiri, Roh Allah sendiri dan sesudah Ia kembali ke Surga, Roh Kudus itulah yang memimpin hidup kita dalam seluruh kebenaran.

Kita yang adalah orang berdosa ditebus dosanya sehingga tidak lagi mendapatkan upah maut akibat dosa kita. Tidak cukup hanya itu, Ia memberikan Roh Kebenaran dalam diri setiap kita untuk memimpin setiap kita hidup dalam kebenaran.

Dari sini saya akan mengaitkan pada topik hari ini. Apakah bohong putih itu dibenarkan? Bukankan segala sesuatu kembali dari hati?

Benar, segala sesuatu kembali pada motivasi kita, akan tetapi firman Tuhan bukan hanya mengenai masalah motivasi hati kita, tapi juga cara kita untuk tetap hidup dalam kebenaran.

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Dengan tegas di Matius 5:37 dibahas bahwa tidak ada kebohongan putih atau hitam atau abu-abu. Bohong adalah bohong. Ya adalah ya, tidak adalah tidak. Masih ingat cerita saya tentang Simon Cowell yang telah saya bahas dalam “Cerita Perjalanan Bagian-8 (29 – 30 Juni 2009)”?

Saat saya menonton Britain’s Got Talent, saya harus mengakui bahwa banyak orang tidak siap untuk mendengar kebenaran. Ya, banyak orang yang memang sama sekali tidak memiliki bakat menyanyi atau menari, namun yang bersangkutan tidak menyadarinya dan ketika dikatakan bahwa dirinya tidak berbakat dalam dua bidang tersebut malah menjadi marah dan tidak terima.

Kita tidak perlu menjadi berlidah tajam seperti Simon Cowell tentu saja. Kejujuran tidak identik dengan kekasaran. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh seorang kawan saya sekian tahun yang lalu.

“Kejujuran terkadang memang pahit tapi buahnya manis.”

Berapa banyak orang yang lebih senang mendengar pujian dan sanjungan daripada kritik? Berapa banyak orang yang lebih senang di-‘jilat’ dan dipuja daripada diberikan masukan yang terus terang?

Amsal 28:23: Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.

Terbukti memang Simon Cowell memperoleh reputasi sebagai seseorang yang berintegritas. Bahkan saya perhatikan para kontestan dari sejumlah talent show yang saya tonton dengan Simon Cowell sebagai jurinya, tampak begitu menunggu komentar dari Simon Cowell dibandingkan komentar dari juri lain.

Lalu bagaimana jika kita telah terbiasa mengucap dusta? Entah itu bohong putih, bohong hitam, bohong abu-abu, bohong merah, bohong biru, dan sebagainya ahahhahaa, intinya segala macam bohong. Bagaimana kita mengatasinya?

1 Yohanes 1:9: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Jika kita mau bertobat, tidak ada kata tidak mungkin. Ya, saat kita bertobat sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mengampuni kita. Memang tetap konsekuensi dosa itu tetap ada. Orang yang kita bohongi tidak serta-merta langsung menjadi percaya kepada kita. Butuh waktu untuk mempercayai kembali dan tidak langsung kita peroleh begitu kita bertobat.

Integritas perlu dibangun. Kejujuran yang menjadi faktor utama integritas itu perlu dibentuk. Untuk membentuk suatu kebiasaan jelas tidak instan. Dibutuhkan proses yang cukup lama untuk menghasilkan emas murni. Begitu pula diperlukan proses yang cukup lama untuk menghasilkan manusia yang berintegritas. Selain lewat waktu, kejujuran dibangun lewat masalah dan ujian.

Bagaimana jika kita sudah terlanjur terbiasa mengucapkan bohong putih? Ya kita misalnya berniat baik, tapi lidah sudah terbiasa berbohong entah karena tidak enak dengan orang atau tidak mau menyakiti orang. Kejujuran tidak selalu menyakiti. Itu hanya masalah perspektif seseorang saja.

Untuk mengganti suatu kebiasaan buruk, ada baiknya menggantinya dengan suatu kebiasaan baik. Karena kejujuran ini berkaitan dengan lidah dan mulut, maka saya mengusulkan mengganti kebiasaan berbohong putih ini dengan kebiasaan yang berkaitan dengan lidah dan mulut juga, yaitu mengucapkan firman Tuhan dan setiap janji-Nya dalam Alkitab bagi kita.

Keuntungannya banyak. Selain kita bisa menggantikan kebiasaan berbohong putih, menjadi berkata jujur, juga kita dibangun dengan pengucapan firman Tuhan dan janji-Nya bagi kita.

Roma 10:17: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Jadi, siap berkata-kata jujur?

Amin.

Iklan

Comments on: "Bohong Putih" (15)

  1. FB Comment from HC:
    hmmm ada yang mau ditanyaken … kalo ditanya dan tidak berbicara (menyimpan rahasia) … jadi ga ngomong apa2 itu gimana ya ??? bohong atau bohong putih atau apa y ? kayanya ga berbohong ya ???

    • Itu namanya berhikmat hahaha. Kalau kita menyimpan rahasia, ga salah dong :). Misal: si A curhat ke kita, trus orang lain tanya ke kita si A crita apa? Kita berhak ga jawab :).

  2. FB Comment from DHK:
    Kalo mama saudara punya penyakit jantung dan punya darah tinggi lalu ada suatu kejadian yg terjadi dgn anaknya apakah langsung disampaikan berita yg akan bikin orng syok?
    Menurut penilaian saya pribadi alangkah bodohnya orng yg langsung meny…ampaikan hal2 yg demikian karena bukan selesai masalahnya tapi menambah masalah dan bisa2 fatal …
    Tentu saya pasti tdk akan melakukan bicra apa adanya tp saya akan berbohong krn kalo jujur bisa gawat ato mama saudara sdng sakit keras apakah saudara cepat2 mengatakan kalo sebentar lagi dia wafat tentu kurang bijaksana, tp kalo saya akan memberi dukungan dan semangat meskipun saya harus berbohong pada mama saya yg masih tergolek sakit keras…
    Kalo bohong itu dosa biarin saya yg menanggungnya toh Tuhan jauh lebih mengerti efek dari tindakan saya!

    • Ah, Deni menyampaikan 2 kasus ya. Ok yuk kita bahas di bawah ini. Supaya lebih jelas saya tulis dulu ya kasusnya. Ada 2 kasus:
      1. Ada ibu punya sakit jantung dan darah tinggi, lalu terjadi sesuatu pada anaknya. Pertanyaannya perlukah s…ecara jujur menyampaikan langsung berita itu?
      2. Ada ibu punya sakit keras dan mungkin menurut dokter sudah tidak dapat disembuhkan. Pertanyaannya apakah perlu secara jujur cepat2 menyampaikan hal itu?
      Begitu ya. Nah setelah jelas pertanyaannya, yuk kita bahas.

      Jawaban untuk kedua pertanyaan adalah: Jelas harus pakai hikmat ya. Dalam segala sesuatu kalau ga pake hikmat ya fatal akibatnya. Jujur tapi kasar dosa. Jujur tapi ga pakai hikmat itu bodoh.

      Tuhan memberi firman jelas lebih tahu dari apa yang kita pikirkan. Kalau Dia memberi suatu perintah jelas Dia mengerti segala konsekuensinya. Karena Ia lebih mengerti, Ia beri perintah itu. Tidak selalu mudah mengikuti perintah-N…ya tapi kalau kita setia dan taat, maka damai itu akan selalu beserta kita.

      Dalam memberi perintah, Tuhan tidak memberikan suatu pengecualian ya. Jadi dalam Matius 5:37 itu tidak dituliskan: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. (kecuali kalau kondisi-kondisi sebagai berikut…..) Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

      Tidak seperti itu. Tuhan memberikan perintah secara tegas. Tentu saja kejujuran seperti apa yang dilakukan? Jujur yang berhikmat. Kejujuran tanpa hikmat itulah kebodohan. Tapi melakukan perintah Tuhan itu tidak pernah bodoh.

      1 Korintus 1:27: Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

      Tuhan memberi firman jelas lebih tahu dari ap…a yang kita pikirkan. Kalau Dia memberi suatu perintah jelas Dia mengerti segala konsekuensinya. Karena Ia lebih mengerti, Ia beri perintah itu. Tidak selalu mudah mengikuti perintah-Nya tapi kalau kita setia dan taat, maka damai itu akan selalu beserta kita.

      Untuk kasus 1, tentu saja perlu minta hikmat dari Tuhan untuk menyampaikan kejadian buruk yang menimpa anak si ibu setelah kondisi si ibu cukup stabil dan kuat atau malah tidak menyampaikan sama sekali. Akan tetapi saya banyak melihat bahwa setiap ibu pasti ingin tahu kondisi anaknya. Oleh karena itu mintalah hikmat pada Tuhan jika harus menyampaikan berita itu saat yang tepat dan cara yang tepat.

      Bahkan ada orang yang kalau dibohongi setelah tahu ia dibohongi akan jadi benci sekali dan tidak bisa mempercayai orang yang membohonginya seterusnya.

      Ingat di sini: kejujuran menggunakan hikmat.

      …Untuk kasus kedua, sebenarnya ini juga jawabannya sama. Ada 2 pilihan, tapi saya pikir untuk kasus 2 lebih tepat jujur berhikmat. Contoh jujur berhikmat dalam kasus 2 (bisa digunakan kalimat lain): “Memang dokter mengatakan sudah tidak ada harapan, tapi dokter juga manusia biasa yang punya keterbatasan. Sementara bagi Tuhan yang tidak terbatas, bisa saja terjadi berbagai mujizat lain. Mari kita berdoa dan berusaha, karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.” Misalnya seperti itu. Jadi memang tetap perlu pakai hikmat. Toh kalau memang orang sudah sakit keras, yang bersangkutan juga tanpa diberitahu dokter pasti sudah merasakan sendiri kog kondisi dirinya.

      Saat kita berbohong dengan mengatakan,”Ibu baik-baik saja kog, tidak apa-apa.” Itu malah bisa mencelakakan yang bersangkutan karena bisa saja si ibu ini malah tidak mau dirawat di rumah sakit lagi karena biayanya mahal.

      Jujur tida…k selalu menempuh jalan yang mudah, tapi saat kita setia untuk melakukan seluruh perintah-Nya, Ia akan menuntun kita sampai pada akhirnya. Semoga penjelasan ini membantu. Gbu.

  3. FB Comment from DHK:
    Ok. Kalau gue bekerja sbgai intelijen apakah harus jujur smua terhadap khalayak ramai kalo jujur itu namanya mati konyol, bukan tuntas malah bisa2 lawan tahu smua seluk beluk dan aktivitas kita!
    U. Kasus si ibu diatas aku gak pernah menyuruh… bohong selamanya tp aku ambil langkah yg terbaik dan bijaksana aja, jadi bohong u. Kebaikan dan bila sudah tepat waktu bru diungkapkan he he… ^_^”, u/ orang yg sakit keras ato kena kecelakaan serius saya sndri lho ditanya ma2 drmana dapet duit u/ pengobatan lalu lukanya kayak apa, pada waktu itu jelas sekali saya berbohong tp itu smua u/ kesiapan mental ma2 saya dan setelah kondisi membaik artinya dah pulang baru dijelasin uangnya drmana? Lukanya kayak apa? Parahnya kayak apa? Itu smua dijelaskan dgn hati2 supaya gak nyinggung perasaan si ma2 gt lho…

    • Kan berhikmat, bukan bohong. Jadi intelijen juga kan ga usah ngomong2 ke orang. Apapun yang terjadi selalu minta hikmat dan kekuatan pada TUhan untuk jujur karena saat kita berbohong, akan membuat kita harus berbohong yang lain lagi….

      Bahkan disebutkan dalam: Yohanes 8:43-44
      8:43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.
      8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

      Kita tidak bisa mengikuti 2 tuan, harus memilih hanya salah satu.

  4. FB Comment from CDK:
    cici arigatoo uda dibahas..
    ada yg mo saya challenge, di paragraf ini:
    “Bahkan begitu cinta-Nya Kristus kepada kita manusia sampai-sampai Ia sebelum kembali ke Surga, Ia memberikan kepada kita Penolong: Roh Kudus, Roh-Nya sendiri, Roh Allah sendiri.”
    menurutku, bukan sebelum kembali k surga, tapi setelahnya. Tuhan Yesus kan bilangnya “lebih baik Aku pergi supaya penolong itu diberikan kepadamu” (kurang lebih gt)..
    trus ada pertanyaan: kisah rahab di perjanjian lama, dia kan nyumputin 2 pengintai dr Israel. dia bilang pengintainya uda pergi padahal ada di rumahnya. itu bohong kan? tapi di perjanjian baru, perbuatan Rahab dibenarkan karena imannya. any comment?

    • Ah, thank you, salah emang. Harusnya memang sesudah :P. Thanks for correction :). Maklum kadang kalau ngetik di otak apa, yang keketik suka ada yang salah :). Thanks. Tentang Rahab tar doa dulu, cari ilham dari Tuhan :).

      Thanks ya, sudah dikoreksi menjadi: ”
      Bahkan begitu cinta-Nya Kristus kepada kita manusia sampai-sampai Ia sebelum kembali ke Surga, Ia menjanjikan kepada kita Penolong: Roh Kudus, Roh-Nya sendiri, Roh Allah sendiri dan sesudah Ia kemb…ali ke Surga, Roh Kudus itulah yang memimpin hidup kita dalam seluruh kebenaran.” Jadi janjinya sebelum kembali, tapi pemberiannya itu sesudah 🙂

  5. FB Comment from DHK:
    Sapa juga yg ngikut 2 nahkoda?
    Tapi asyik ya kalo nahkodanya 2 yg satu maju dan yg satu mundur jadinya jalan ditempat lalu awaknya pada binggung mending nonton wayang kulit drpada nonton 2 nahkoda saling berkelahi

  6. FB Comment from CDK:
    sama2 ci.. dulu sich saya dapetnya kalo ttg rahab, ga dosa. karena dia melakukan bohong putih itu berdasar pada iman. maybe you could explain the better way ^&^

  7. shallom k, aq pgn donk mnt link pnjelasan ttg rahab, q buka linknya, tp udh g bs lg.

    • Oh ok. Tentang Rahab itu dijelaskan memang dia berbohong dan untuk itu salah, tapi Rahab punya iman bahwa Allah akan membuat Bangsa Israel menduduki negeri itu.Jadi Rahab itu dibenarkan karena imannya bukan karena dia berbohong demi kebaikan para pengintai itu. Mudah-mudahan penjelasannya bisa memberi pengertian dalam kasus Rahab itu ya,Fexy. Gbu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: