All for Glory of Jesus Christ

Memaki

Hari ini dan beberapa hari ke depan kita akan bicara mengenai kebiasaan buruk yang berkaitan dengan perkataan. Topik hari ini adalah mengenai memaki atau kata-kata makian. Seberapa sering Anda memaki? Seberapa sering Anda berkata-kata kasar?

Yakobus 3:9: Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

Yakobus 3:10: dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

Sebagai anak-anak Tuhan, standar yang Tuhan kenakan bagi kita sangat tinggi. Kita tidak boleh memaki, mengutuk, menyumpahi orang, mendoakan yang jelek bagi orang, bahkan terhadap yang bersalah atau menyakiti kita, kita perlu mengampuni dan memberkati.

Luar biasa tinggi bukan standar Tuhan? Ya, memang. Tuhan tidak pernah berkompromi dan bertoleransi. Standarnya memang sangat tinggi dan di atas rata-rata. Mungkinkah kita memenuhi standar itu? Mungkin, asalkan kita mengandalkan Tuhan senantiasa dan tidak mengandalkan kemampuan dan kekuatan kita yang terbatas.

Pertanyaannya mengapa kita tidak boleh mengutuk? Karena memang kita dipanggil sebagai terang-Nya untuk membawa terang-Nya bagi setiap orang. Bagaimana kita bisa menjadi terang jika perkataan kita tidak membangun?

Hosea 7:16: Mereka berbalik kepada Baal, mereka adalah seperti busur tipu; pemuka-pemuka mereka akan tewas oleh pedang karena ucapan mereka yang kasar. Inilah yang akan menjadi olok-olok kepada mereka di tanah Mesir.

Lihat akibat dari perkataan kasar dalam Hosea 7:16 bagi Bangsa Israel, sangat tragis akibatnya. Mereka mati terbunuh dan yang mati terbunuh ini adalah pemuka-pemuka. Pemuka berarti bukan orang sembarangan. Siapapun kita, kecil atau besar, tua atau muda, terkemuka atau tidak, jika kita tidak menjaga perkataan kita maka akibatnya fatal.

Senada dengan di Hosea 7:16 di Amsal dikatakan berikut ini:

Amsal 18:21: Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Jika kita lebih suka memaki daripada membangun, akibatnya kematian yang menanti kita. Untuk para pengusaha (pedagang) ini efeknya sangat langsung. Jika Anda sering memaki dan mengutuk pelanggan Anda, sudah pasti usaha Anda akan mati. Ini sudah sangat terbukti, tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Bagi kita yang bukan pedagang sekalipun, kata-kata yang kita keluarkan ini sangat penting. Bagi para pekerja, jika Anda suka mengeluarkan kata-kata kasar, hubungan antara rekan kerja tidak akan harmonis. Akibatnya ‘kematian’ di pekerjaan, entah karena rekan kerja Anda tidak menyukai Anda sehingga tidak mau bekerja sama dengan Anda atau malah Anda akan berselisih dengan atasan Anda sehingga Anda diberhentikan.

Bagi orang tua dan anak, suami dan istri, dan pasangan kekasih, jika Anda atau pasangan Anda suka memaki, jelas akan terjadi kematian dalam hubungan Anda. Tidak ada orang yang suka dimaki. Kalaupun pihak yang dimaki akan bertahan tersebut, itu adalah usaha mempertahankan kapal yang bocor dan siap tenggelam setiap saat.

1 Samuel 2:3: Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.

1 Petrus 3:9: dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:

1 Petrus 3:10: “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

Sangat jelas bahwa alasan tidak boleh memaki itu karena memang Tuhan tidak berkenan atas hal tersebut. Alasan kedua karena kita dipanggil untuk memberkati. Saat kita memaki orang berarti berkat akan jauh dari kita. Bahkan alasan ketiga kata-kata kita akan membawa kita pada hidup yang baik atau tidak baik. Jika kita gemar memaki, jelas hidup dengan hari-hari buruk yang sudah menanti.

1 Petrus 2:23: Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Lukas 23:34: Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

Mari kita meneladani Kristus. Bahkan Ia yang tidak berdosa setitikpun, yang tidak melakukan kesalahan dan kejahatan apapun, harus menderita disiksa, dilecehkan, dikhianati, dicaci maki, sampai mati di kayu salib. Bahkan bukan hanya tidak membalas mencaci maki, Yesus juga berdoa supaya Bapa mengampuni dosa setiap orang yang menyakiti-Nya.

Luar biasa bukan? Teladan inilah yang Tuhan inginkan kita pelajari dari-Nya. Inilah yang Ia tantang bagi kita. Menjaga perkataan kita, bukan hanya tidak memaki orang yang bersalah kepada kita, tapi juga mengampuni mereka.

Standar-Nya memang tinggi, sangat tinggi bahkan. Tapi jangan kuatir, dengan adanya Roh Kudus, Roh-Nya sendiri dalam kita, kita akan dimampukan melakukan segala kebenaran dan hidup menghidupi setiap firman-Nya. Siapkah Anda?
Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: