All for Glory of Jesus Christ

Membual

Hari ini pembahasan kita adalah mengenai membual. Membual merupakan salah satu kebiasaan yang mungkin sudah dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari. Membual merupakan kebiasaan yang membentuk sifat sombong. Membual merupakan kebiasaan berbicara melebih-lebihkan hal yang sesungguhnya.

2 Timotius 3:2: Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

Tanda-tanda akhir zaman telah dituliskan dalam 2 Timotius 3:2, yang salah satunya adalah kebiasaan membual dan menyombongkan diri. Padahal Tuhan membenci orang yang sombong. Jangankan manusia, malaikat saja saat sombong langsung jatuh! Hal ini merupakan hal yang perlu kita waspadai.

Lucifer (Iblis) asalnya merupakan malaikat Tuhan. Ia adalah pemimpin pujian di Surga. Namun karena merasa bangga dan sombong akan dirinya, akhirnya ia jatuh.

Yesaya 14:12: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Yesaya 14:13: Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.

Yesaya 14:14: Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Kata-kata berasal dari hati. Jadi bila seseorang berkata-kata sombong tapi mengatakan dirinya sesungguhnya rendah hati, ini sangat tidak mungkin. Pada dasarnya tidak ada dasar kita untuk membual, tidak ada dasar kita untuk sombong.

Siapalah kita ini? Hanya manusia yang berdosa yang oleh kemurahan Tuhan bisa memperoleh kesempatan kedua, untuk hidup baru di dalam Dia. Setiap saat kita perlu memeriksa dan menjaga hati kita, jangan sampai ada noda-noda kesombongan menempel di sana.

Kemampuan, kepintaran, kehebatan, pengalaman, bahkan kekudusan kita yang kita usahakan dengan kekuatan sendiri itu benar-benar bagaikan jauhnya langit dari bumi jika dibandingkan dengan standar yang Tuhan berikan. Mengapa demikian?

Apakah dengan seluruh kemampuan, kepintara, kehebatan, dan pengalaman kita, kita bisa menyelesaikan permasalahan dunia? Jangankan permasalahan dunia, permasalahan diri kita sendiri saja sering kali kita bingung. Apa hak kita untuk membual?

Apakah dengan segala kekudusan kita, kita bisa diselamatkan? Tidak! Kekudusan kita itu ibarat kain kotor di hadapan Allah yang kudus. Tanpa Tuhan, segala sesuatu yang kita miliki dan kita usahakan itu semuanya tidak berarti.

Saat malam tiba dan saat cuaca sedang cerah, coba layangkan pandangan Anda ke langit. Saat Anda melihat luasnya langit dengan bintang-bintang yang begitu banyak di angkasa sana, apa yang Anda rasakan? Anda hanyalah satu titik kecil dalam besarnya semesta alam ini.

Saya akan menuliskan salah satu lagu yang saya sukai. Lagu tersebut berjudul “Who am I”. Saya ingin kita semua merenungkan makna di balik lagu ini.

Who Am I Lyrics

by: Casting Crowns

Who am I? (Siapakah aku?)
That the Lord of all the earth, (Sehingga Raja dari seluruh bumi)
Would care to know my name, (Peduli untuk tahu namaku)
Would care to feel my hurt. (Peduli untuk merasakan rasa sakitku)
Who am I? (Siapakah aku?)
That The Bright and Morning Star, (Sehingga Terang dan Bintang Pagi)
Would choose to light the way, (Memilih untuk menerangi jalan)
For my ever wondering heart. (Untuk hatiku yang selalu bertanya-tanya)

Not because of who I am. (Bukan karena siapa aku)
But because of what You’ve done. (Akan tetapi karena apa yang Kau lakukan)
Not because of what I’ve done. (Bukan karena apa yang aku telah lakukan)
But because of who You are. (Tetapi karena siapa diri-Mu)

Chorus:
I am a flower quickly fading, (Aku adalah sekuntum bunga yang dengan cepat lenyap)
Here today and gone tomorrow. (Hari ini ada dan besok tak ada)
A wave tossed in the ocean, (Gelombang yang dihempaskan di lautan)
A vapour in the wind. (Uap dalam angin)
Still You hear me when I’m calling, (Tetap Kau dengar aku saat aku memanggil)
Lord You catch me when I’m falling, (Tuhan, Kau menangkap aku saat aku jatuh)
And You told me who I am. (Dan Kau katakan siapa aku)
I am Yours. (Aku milik-Mu)
I am Yours. (Aku milik-Mu)

Who am I? (Siapakah aku?)
That the eyes that see my sin (Sehingga mata yang melihat dosaku)
Would look on me with love (Melihatku dengan kasih)
And watch me rise again (Dan melihatku bangkit kembali)
Who am I? (Siapakah aku?)
That the voice that calm the sea, (Sehingga suara yang menenangkan lautan)
Would call out through the rain, (Akan memanggil melewati hujan)
And calm the storm in me. (Dan menenangkan badai dalam diriku)

Not because of who I am. (Bukan karena siapa aku)
But because what of You’ve done. (Tetapi karena apa yang Kau telah lakukan)
Not because of what I’ve done. (Bukan karena apa yang aku telah lakukan)
But because of who You are. (Tetapi karena siapa diri-Mu)

Repeat Chorus.

Whom shall I fear? (Siapa yang harus aku takuti?)
Whom shall I fear? (Siapa yang harus aku takuti?)

‘Coz I am Yours. (Karena aku milik-Mu)
I am Yours. (Aku milik-Mu)

Tidak ada alasan bagi kita untuk membual. Tidak ada satupun hak kita untuk membual. Bila hari ini kita masih hidup, itu saja semata kemurahan Tuhan. Segala oksigen yang kita hirup, cahaya matahari yang Tuhan berikan, itu semua anugerah-Nya. Bagaimana kita bisa membual dan berkata:

“Ini semua karena aku?”

Tidak bisa. Ini semua karena Tuhan yang memungkinkan semuanya terjadi. Bahkan sesungguhnya, seseorang dengan kualitas luar biasa tidak perlu mengatakan dirinya memiliki kualitas luar biasa. Contoh: orang kaya tidak perlu mengatakan dirinya kaya, semua orang sudah tahu dia kaya. Jadi tidak perlu kita membual dan melebih-lebihkan ke sana-sini. Itu sungguhlah sia-sia dan bahkan merupakan tindakan yang dibenci Tuhan.

Amsal 18:21: Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Biarlah hidup kita di dunia yang hanya satu kali ini, sungguh-sungguh kita gunakan sebaik-baiknya untuk kemuliaan Allah dan bukan untuk mencari kemuliaan diri kita.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: