All for Glory of Jesus Christ

Berkata-kata Mempermalukan

Hari ini pembahasan kita adalah mengenai kebiasaan berkata-kata yang mempermalukan atau menjatuhkan. Nah terutama bagi pasangan suami istri atau pasangan kekasih perlu dicamkan baik-baik: kata-kata yang Anda lontarkan kepada pasangan Anda bisa membangun, bisa juga menjatuhkan.

Efesus 4:29: Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Hati-hati dengan kata-kata Anda karena sedikit banyak pasangan Anda akan dibentuk oleh kata-kata yang Anda lontarkan. Memang ada sejumlah orang yang begitu sensitif sehingga tanpa Anda ingin mempermalukan atau menjatuhkan yang bersangkutan menjadi begitu peka dan defensif.

Itu kasus yang lain lagi. Bila berhadapan dengan pasangan yang seperti itu, jelas yang bersangkutan perlu untuk menyembuhkan luka yang dialaminya dahulu. Sebelumnya telah kita bahas bahwa orang luka akan cenderung melukai orang lain dan hari ini kita bahas yang lain bahwa orang luka juga akan cenderung begitu sensitif akibatnya akan sulit baginya untuk mengembangkan atau mempertahankan suatu hubungan.

Bayangkanlah sebuah gelas kaca. Terbuat dari kaca yang sangat tipis dan licin. Jika Anda ingin memegang gelas tersebut, tentunya Anda harus ekstra hati-hati bukan? Karena walaupun Anda tidak ingin menghancurkan gelas tersebut, kondisi gelas tersebut sangat rentan untuk pecah.

Seandainya Anda berhati-hati pun, seberapa lama Anda sanggup mempertahankan sikap hati-hati Anda? Bisa saja suatu kali, tangan Anda juga dalam keadaan licin atau kurang berhati-hati memegang gelas itu sehingga akhirnya gelas itu pun jatuh dan pecah berkeping-keping.

Hal yang sama terjadi dengan orang luka. Jika pasangan kita adalah orang dengan luka hati, maka jelas akan sulit berhubungan dengannya. Selain banyak menuntut dan sulit sekali untuk dibuat senang, orang ini biasanya juga sangat posesif dan mudah sekali sakit hati.

Untuk itu jelas Anda perlu membantunya untuk sembuh dari luka masa lalunya terlebih dahulu, yaitu dengan datang pada Tuhan dan mengakui luka yang ada, mengampuni orang atau hal-hal yang membuatnya luka, dan berjalan dalam kasih serta firman Tuhan yang memperbarui hidup.

Jika tidak disembuhkan terlebih dahulu, jelas hubungan itu akan sulit sekali dipertahankan. Sebaliknya jika Anda berkecenderungan mengucapkan kata-kata yang mempermalukan dan menjatuhkan, itu juga merupakan ciri-ciri adanya sesuatu yang salah dalam diri Anda.

Dalam hati seseorang memang tidak ada yang tahu, tapi seperti buah yang mencerminkan pohon yang menjadi asal buah tersebut, begitu pula dengan kata-kata yang keluar dari mulut seseorang.

Bukan hanya dalam kehidupan berkeluarga atau berpacaran, tapi dalam pergaulan dan pekerjaan dan bisnis (dunia usaha) juga demikian. Jika seseorang sering mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan dan menjatuhkan pihak lain, ini jelas suatu hal yang salah.

Hubungan yang sehat terbentuk karena adanya dua pihak yang berdiri sama tinggi. Jika salah satu sudah mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan dan menjatuhkan pihak lain, hubungan itu berubah menjadi hubungan yang sakit.

Seseorang dengan kondisi hati yang sehat akan mengeluarkan kata-kata yang sehat pula, sedangkan bila seseorang memiliki kondisi hati yang sakit, kata-kata yang dikeluarkannya akan menunjukkan hal itu juga.

Kadang-kadang orang mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan atau menjatuhkan untuk membuat pihak yang bersebrangan dengannya menjadi mundur. Contoh dalam hal politik atau bisnis sering kali ditemui hal seperti ini. Ini merupakan hal yang tidak baik.

Sebenarnya dengan mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan atau menjatuhkan, secara tidak langsung kita sedang menunjukkan jati diri kita yang sesungguhnya. Bahwa kita begitu malu akan diri kita sendiri dan begitu rendah sehingga untuk mempertahankan diri kita, maka kita perlu mempermalukan dan menjatuhkan pihak lain untuk menjadi sejajar dengan kita (ingat prinsip hubungan: kedudukan yang setara).

Akan tetapi yang terjadi bukannya terjadi hubungan yang sejajar, tapi malah menjadi hubungan yang rusak.

2 Korintus 10:8: Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.

Rasul Paulus menunjukkan suatu contoh menggunakan kata-kata untuk membangun dalam koridor bermegah atas kuasa yang dikaruniakan Tuhan, namun untuk membangun jemaat dan bukan untuk meruntuhkan jemaat. Akibatnya adalah dengan membangun terjalin hubungan yang sejajar sehingga tidak ada pihak yang dipermalukan.

Mari kita menjaga kata-kata kita untuk senantiasa membangun sehingga dapat membentuk hubungan yang positif.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: