All for Glory of Jesus Christ

Membocorkan Rahasia

Hari ini juga masih membahas kombinasi sejumlah kebiasaan buruk di area perkataan. Topik pembahasan hari ini adalah mengenai membocorkan rahasia.

Pernahkah Anda bercerita mengenai sesuatu kepada seorang teman, lalu ternyata beberapa saat kemudian ada teman lain yang menanyakan hal itu kepada Anda atau ternyata Anda mendengar cerita yang sama dari orang lain? Apa yang Anda rasakan saat itu?

Jelas sangat mengecewakan jika kita memiliki teman yang tidak bisa menjaga rahasia. Dalam hal ini ada 2 sisi yang dapat kita lihat. Pertama, saat kita memilih teman yang akan kita ceritakan suatu rahasia, jelas perlu berhikmat.

Amsal 20:19: Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut.

Tidak ke semua orang kita bisa menceritakan rahasia kita. Hal yang pasti kita tidak bisa bercerita ke teman yang kesulitan mengunci mulutnya. Jadi kalau kita memiliki teman yang memiliki kecenderungan bocor mulut, lebih baik bagi kita untuk tidak menceritakan rahasia kita sama sekali kepadanya.

Bagaimana untuk mendeteksi teman kita bocor mulut atau tidak? Tinggal kita perhatikan saja, jika teman kita memiliki kecenderungan menceritakan rahasia orang lain kemungkinan besar juga demikian yang akan terjadi jika kita menceritakan rahasia kita kepadanya.

Bagaimana bila kita sendiri demikian?

Amsal 11:13: Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.

Dalam Amsal 11:13 dikatakan bagi kita semua untuk setia. Kesetiaan merupakan salah satu unsur dari kasih dan merupakan bagian dari Buah Roh. Menyimpan rahasia juga merupakan tanda bahwa orang tersebut dapat mengendalikan diri.

Orang yang memiliki kecenderungan mengumpat (memaki) sulit untuk mengendalikan dirinya. Dalam hal itu, bisa saja yang terjadi yang bersangkutan saat emosinya sedang tersulut membuka rahasia orang lain.

Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk dapat mengendalikan diri, setia, dan penuh kasih. Ketiga hal itulah yang menjadi kunci untuk dapat menyimpan rahasia. Bahkan bagi pekerjaan seperti psikolog atau psikiater, menyimpan rahasia pasien itu merupakan hal yang mutlak bagi mereka.

Amsal 25:9: Belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain,

Saya jadi teringat suatu buku novel berjudul “Psycho-love” atau bisa juga dibaca “Psycho-logy” karena ada tulisan “gy” yang dicoret di judulnya. Buku ini ditulis oleh Syafrina Siregar. Ceritanya adalah ada seorang psikolog bernama Mira yang memiliki klien (Ayu) yang ternyata adalah istri dari mantan kekasihnya.

Mira pada satu kesempatan dalam talk show besar ternyata dikonfrontasi oleh Ayu bahwa Mira dituduh sebagai perebut suaminya. Karir Mira hancur, namun Mira tidak membongkar rahasia Ayu karena Mira memegang teguh etika profesinya untuk tidak membocorkan rahasia pasien.

Ternyata pada akhirnya Ayu tahu yang sesungguhnya bahwa Mira tidak merebut suaminya dan kemudian menulis permohonan maaf di surat kabar kepada Mira. Cerita pun berakhir bahagia.

Kasus Mira hanyalah cerita fiksi. Namun ada satu kisah sungguhan mengenai menjaga rahasia, yaitu kisah Tuhan Yesus dengan Yudas Iskariot. Tuhan Yesus sudah tahu bahwa Yudaslah yang akan menjual diri-Nya. Mengapa Ia bisa tahu? Karena walaupun Ia 100% manusia, Ia juga 100% Tuhan. Jadi Ia tahu segala sesuatu.

Akan tetapi Tuhan Yesus tidak membocorkan hal ini kepada murid-murid-Nya yang lain. Tuhan Yesus hanya memberikan petunjuk yang tidak diketahui oleh para murid yang lain. Padahal kalau memang mau, bisa saja Tuhan Yesus mengatakan bahwa Yudaslah pelakunya.

Matius 26:21: Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Matius 26:22: Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”

Matius 26:23: Ia menjawab: “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.

Matius 26:24: Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

Matius 26:25: Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya.”

Bahkan sampai ketika Yudas menanyakan hal itu kepada Tuhan Yesus, Tuhan Yesus tidak memperjelas hal itu agar murid-murid-Nya yang lain dapat mengerti. Pengendalian diri dan kemampuan Tuhan Yesus begitu besar.

Kita memang hanya manusia biasa, namun kita dapat belajar dari Tuhan Yesus yang telah memberikan contoh keteladanan yang luar biasa dalam hal tidak membocorkan rahasia. Biarlah kita semua belajar menjadi orang yang dapat dipercaya sehingga nama Tuhan dipermuliakan karenanya.

Amin.

Iklan

Comments on: "Membocorkan Rahasia" (2)

  1. FB Comment from RS:
    memang hal yg sensitif. Aku sendiri sgt berhati2 saat menceritakan sesuatu yg bersifat “tidak perlu disebar”. Hny kpd orang2 yg bisa kupercaya, objektif dan positif saja aku bs terbuka. Thank you.

    • Ya memang ga semua hal perlu diceritakan ke semua orang. Hanya orang2 tertentu (istilah temenku “inner circle”) yang biasa menjadi tempat cerita. You’re welcome, R, I hope it blessed you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: