All for Glory of Jesus Christ

Ingkar Janji

Hari ini pembahasan masih mengenai kebiasaan buruk seputar perkataan. Topik kita hari ini adalah mengenai ingkar janji. Di pembahasan sebelumya mengenai “Bersumpah Palsu” kita telah membahas bahwa kita tidak boleh bersumpah apalagi bersumpah palsu.
Indikasinya dengan itu perkataan kita haruslah merupakan kebenaran. Jadi saat kita berkata sesuatu orang dapat percaya bahwa perkataan kita benar adanya.

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Janji merupakan hal yang menegaskan perkataan kita. Janji itu semacam penguat perkataan kita. Sesungguhnya setiap perkataan kita dapat dianggap sebagai janji. Jadi tanpa kita mengatakan:

“Saya berjanji……”

, sesungguhnya secara tidak langsung perkataan kita itu haruslah merupakan janji kita. Sayangnya karena janji tingkatannya bisa dilihat di bawah sumpah, maka orang relatif cenderung menyepelekannya.

Berapa banyak orang yang berjanji kemudian melupakannya? Berapa banyak orang yang mengucapkan janji hanya sebagai cara untuk meloloskan diri dari situasi sulit? Hal yang menyedihkan adalah janji itu sekarang banyak dipandang sebagai sekumpulan kata-kata manis belaka. Diucapkan dengan mudah, tanpa dilakukan.

1 Raja-raja 8:20: Jadi TUHAN telah menepati janji yang telah diucapkan-Nya; aku telah bangkit menggantikan Daud, ayahku, dan telah duduk di atas takhta kerajaan Israel, seperti yang difirmankan TUHAN: aku telah mendirikan rumah ini untuk nama TUHAN, Allah Israel,

Terdapat begitu banyak contoh mengenai Allah yang menepati janji-Nya. Dalam 1 Raja-raja 8:20 saya hanya sebutkan satu saja dari sekian banyak janji Tuhan yang ditepati. Karena kalau saya tuliskan semua, berarti saya menyalin seluruh Alkitab hahaha.

Ya, janji Tuhan itu semua tertuang dalam Alkitab. Bahkan kita semua yang percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat atas hidup kita, memiliki hak atas semua janji Tuhan.

2 Petrus 3:9: Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Tuhan itu sempurna. Ia tidak pernah salah, tidak pernah berdosa, tidak pernah lalai. Saat Ia berjanji, Ia menepatinya. Bukankah ayat 2 Petrus 3:9 berkontradiksi (berlawanan) dengan ayat:

Roma 6:23a: Sebab upah dosa ialah maut;

Jawabannya adalah tidak! Tuhan itu sempurna, jadi Ia tidak akan pernah berkontradiksi: baik dalam rancangan, baik dalam perkataan, baik dalam kehendak, baik dalam perbuatan-Nya.

Upah dosa adalah maut. Kita berdosa seharusnya mati. Namun karena Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, Ia tidak ingin kita semua binasa. Di sisi lain, Ia adalah Allah yang adil dan kudus.

Upah dosa adalah maut dan tidak bisa tidak harus demikian. Oleh karena itu, untuk memenuhi semua itu: kasih, adil, kudus, Ia memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi kita. Bahkan saat kita sekarang berdosa setelah menerima Kristus dalam hidup kita, Allah masih bersabar untuk menunggu kita bertobat.

Bukan karena Ia lalai menepati janji-Nya, semua semata karena Ia terlalu mengasihi manusia. Ya, Anda dan saya, kita semua adalah manusia berdosa yang hidup dalam anugerah Allah yang luar biasa. Karena anugerah itulah kita bisa hidup sampai sekarang ini, terpujilah Tuhan!

2 Timotius 2:13: jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Mengapa Tuhan menepati janji-Nya? Jawabannya ada di 2 Timotius 2:13. Karena Ia Allah yang setia, Ia Allah yang tidak pernah berubah: dulu, sekarang, dan sampai selama-lama-Nya.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita bukan Tuhan yang sempurna. Kita orang-orang yang mudah berubah-ubah, entah dari skala terendah sampai tertinggi. Kesetiaan kita kadang juga berubah-ubah. Lalu bagaimana kita dapat menepati janji?

Kita hidup di masa anugerah. Oleh kebaikan Tuhan yang memberikan kita Roh Kudus, Penolong itu dalam diri kita, kita akan dimampukan untuk melakukan segala kehendak-Nya. Memang tidak mudah untuk melakukan segala kehendak Tuhan, namun jika Tuhan berfirman pasti Ia tahu kita sanggup melakukannya, termasuk dalam hal menepati janji.

Jika kita berani berjanji, kita perlu berusaha menepatinya. Jika kita tidak bisa menepati sesuatu, jangan berjanji dan jangan menyanggupi sesuatu. Saat kita berjanji atau jangankan berjanji, saat kita menyanggupi sesuatu, kita sudah memberikan harapan kepada seseorang.

Harapan itu adalah sesuatu yang kalau tidak dipenuhi akan memberikan efek beragam bagi orang yang memiliki harapan tersebut. Mulai dari sedikit kecewa, kecewa, sangat kecewa, sedih, kesal, sakit hati, sampai ke kepahitan, dendam, kebencian yang amat sangat, ya mungkin agak ekstrim tapi itulah efeknya.

Saya sekian waktu lalu menonton di televisi mengenai seorang pria yang tega membunuh ibu kandungnya sendiri karena yang bersangkutan tidak mendapatkan motor yang dijanjikan ibunya. Mengerikan sekali bukan?

Lalu bagaimana jika kita dijanjikan sesuatu namun orang yang menjanjikan lupa atau malah tidak memenuhi hal itu? Kita bisa melakukan berbagai macam: mulai dari meminta janji itu dipenuhi sampai ke menganggap janji itu tidak pernah ada. Hal yang pasti jangan sampai kita mengalami kekecewaan mendalam, apalagi sampai kepahitan, sakit hati mendalam, dendam, dan benci yang mendalam jika janji seseorang tidak digenapi.

Saya pernah mengalami sendiri. Ketika seseorang berutang uang kepada saya, padahal yang bersangkutan berjanji akan mencicil uang tersebut. Ketika saya tagih, tidak ada respon. Setelah itu, saya menghubungi orang tuanya.

Ibunya berjanji akan melunasi utang tersebut. Akan tetapi janji tinggal janji. Saya waktu itu ingat sekali bahwa ibu tersebut berjanji sampai 7 kali dan mengingkari ketujuh-tujuhnya. Ketika janji pertama diingkari, saya berusaha sabar.

Janji kedua diingkari terus berusaha sabar. Sampai janji ketujuh diingkari, saya sangat kesal tapi tetap tidak memaki-maki ibu itu. Walaupun saya sangat kesal sekali dan sebenarnya ingin sekali memaki-maki ibu itu, apalagi saat itu saya harus membayar uang kost dan saat itu saya belum mendapat gaji. Benar-benar sungguh susah payah untuk dapat tetap berkata baik-baik kepada ibu itu.

Ya, mulai dari kesal sekali, kecewa, sakit hati, merasa dibohongi habis-habisan dan macam-macam lagi saat itu perasaan saya. Akan tetapi sekarang saya jadi berpikir ketika menuliskan hal ini. Entah bagaimana saya sering berhubungan dengan angka 7 ini. Jika kita ingat, angka 7 berkaitan dengan kesempurnaan. Saya yakin ini proses yang diizinkan Tuhan untuk membentuk saya.

Ketika saya beribadah di gereja, saya merasakan beban yang teramat sangat karena teringat hal itu. Ketika itu saya yakin sungguh bukan kebetulan ketika kotbah mengucapkan untuk mengampuni dan merelakan. Sungguh hal itu bukan hal yang mudah bagi saya. Bagi saya, janji adalah sesuatu yang perlu dipegang erat. Tapi karena memang saya saat itu mendengar Firman Tuhan yang dibagikan, apa boleh buat. Saya berusaha taat.

Tidak mudah memang karena melibatkan jumlah uang yang relatif cukup banyak bagi saya. Juga saya waktu itu meminjamkan karena yang bersangkutan mengalami permasalahan pelik sehingga ketika yang bersangkutan meminta untuk meminjam uang, saya penuhi. Saat saya memutuskan untuk merelakan uang itu, saya merasakan kedamaian.

Memang dari segi kedagingan saya merasa marah sekali. Ya, niat untuk menolong ternyata berbalik merugikan diri sendiri. Akan tetapi kalau saya pikir sekarang, memang saya belajar banyak hal dari kejadian itu.

Setelah itu, saya sekian waktu lewat, saya teringat kembali akan hal tersebut saat saya sedang membutuhkan uang. Saya sudah menulis surat kepada orang tuanya, namun ketika saya sudah selesai menuliskan surat itu, Tuhan menegur saya.

Saya ingat sekali Tuhan saat itu menanyakan integritas saya. Ketika Tuhan menegur, saya tersentak. Akhirnya surat itu saya hapus dan tidak jadi saya kirimkan. Yah, dalam segala hal saya hanya manusia biasa yang penuh keterbatasan dan cacat cela, namun saya bersyukur saya memiliki Allah yang luar biasa.

Perkataan kita adalah janji kita. Dengan perkataan dan janji kita, integritas kita diukur. Mari kita semua berusaha untuk menjadi orang yang menepati janji. Ingat: asalkan kita mau, pasti bisa karena Tuhan yang akan memampukan kita.

Amin.

Iklan

Comments on: "Ingkar Janji" (8)

  1. FB Comment from EHC:
    ‎(masih belajar untuk menepati janji)

    • Ga masalah :). Ga ada orang yang sempurna. Justru kemauan untuk belajar merupakan tanda2 yang sangat bagus untuk maju. Yuk kita semua sama2 belajar. Gbu.

  2. FB Comment from ECSD: c bedany janji sama ikrar?

    • Ikrar? Bukannya sama ya? Cici taunya itu sumpah dan janji. Kalau sumpah itu levelnya di atas janji. Masalah term ini coba ditanya ke yang lain, siapa tau ada yang punya jawaban lain.

  3. FB Comment from HS:
    Kalo menurut sy.. :
    Janji dan sumpah itu pada dasarnya sama..intinya komitmen akan apa yang sudah kita sepakati.

    Kalau sumpah pasnya hanya dipakai pada instiusi resmi seperti contohnya pada saat pelantikan pejabat negara/ lainya.

    …Intinya keduanya ya sama” komitment saja & tidak boleh asal bersumpah / berjanji menggunakan atas naman Tuhan :

    so,

    “Jika ya katakan iya..& jika tidak katakan tidak , selebihnya dari si jahat”

    • Saya setuju. Intinya memang bukan di term-nya, tapi dalam kita dapat dipercaya saat mengucapkan sesuatu.

      Pada dasarnya umumnya orang kalau berjanji kan tidak menggunakan nama Tuhan tapi diri sendiri saja, sedangkan bersumpah ada meli…batkan diri sendiri dan Tuhan. Di situ perbedaan janji dan sumpah. Pembahasan ini sudah pernah ada dalam “Bersumpah Palsu”

      Tapi saya setuju bahwa keduanya tetap harus dipenuhi. Substansi yang paling penting bukan di term, tapi di pemahaman dan pelaksanaan.

  4. FB Comment from RS:
    Sekedar mengingatkan
    Soempah Pemoeda:

    …* PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

    * KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

    * KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

    Sekarang tinggal di Oz gini serasa ingkar janji 😐
    Buat yang masih sekolah di Indo, pikir2 dulu sebelum ikut Soempah Pemoeda yah. :))

    • Hahahaa, liat esensi dong Pak. Sumpah Pemuda kan bukan berarti wajib tinggal di Indo, tapi hati dan cintanya tetap buat Indo walaupun di Oz or di negara lain :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: