All for Glory of Jesus Christ

Silent Anger

Hari ini saya akan membahas mengenai kemarahan. Ada dua jenis kemarahan yang tergolong dalam kebiasaan buruk. Hari ini saya akan membahas salah satunya, yaitu silent anger atau kebiasaan mendiamkan saat marah.

Diam dan mendiamkan ini dua hal yang berbeda.

Mazmur 4:5: Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela

Jika kita saat marah berdiam diri terlebih dahulu untuk menenangkan dan mengendalikan emosi kita, ini adalah hal yang baik dan berhikmat. Saat perasaan (emosi) kita yang memegang peranan dan tidak terkendali, ini memang sangat berbahaya. Sangat baik bila kita mengambil waktu terlebih dahulu untuk menenangkan diri dan untuk menyurutkan emosi.

Mengapa demikian? Karena memang saat kita emosi, biasanya kita cenderung untuk mengucapkan kata-kata yang tidak pada tempatnya dan akan menyakiti pihak lain. Jika pihak yang disakiti juga ternyata tidak dapat mengendalikan diri, maka akan kembali menyakiti dan begitu seterusnya.

Luka paling parah karena masalah emosi dan kemarahan ini disebabkan oleh orang-orang terdekat. Mengapa demikian? Karena semakin dekat suatu hubungan, semakin besar peluang luka terjadi.

Lalu bagaimana? Apakah kita perlu menjaga diri untuk tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang-orang? Tentu saja tidak! Itu bukan solusi yang benar. Karena manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial oleh Tuhan sehingga membutuhkan orang lain.

Saat kita menghindari timbulnya hubungan yang dekat dengan orang-orang sekitar kita, saat itulah timbulnya masalah baru. Dari sejumlah survei yang diadakan, orang yang paling berbahagia adalah orang yang memiliki hubungan akrab yang sukses dengan orang lainnya.

Nah kuncinya di sini adalah hikmat. Saat marah, jelas kita perlu berdiam diri dulu sejenak. Setelah itu baik untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dan bukan menyimpan (memetieskan) hal tersebut.

Efesus 4:26: Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

Mendiamkan seseorang saat kita marah dengannya, ini bukanlah yang yang baik. Mengapa demikian? Karena biasanya yang terjadi, saat mendiamkan orang lain, permasalahan yang ada semakin besar dan rusaknya hubungan yang ada.

Apalagi semakin lama mendiamkannya (lebih dari 1 hari saja itu sudah bahaya, apalagi sampai seminggu atau lebih), sakit hati yang ada semakin dalam. Jika kedua pihak tidak ada yang mau mengalah, maka ya sudah selesailah sudah hubungan itu.

Kalau hal ini terjadi pada hubungan bisnis, paling-paling tidak akan berhubungan lagi dengan pihak tersebut. Bagaimana bila hal ini terjadi pada pernikahan? Fatal akibatnya!

Apalagi bila pernikahan tersebut telah memiliki anak-anak. Anak-anak belajar paling cepat bukan dari perkataan orang tua, tapi dari perbuatan orang tua. Apalagi saat mereka masih kecil, mereka meneladani (meniru) setiap perbuatan orang tuanya walaupun mereka tidak mengerti itu hal yang baik atau buruk.

Saya memperhatikan hal ini dari kehidupan kakak-kakak saya, maupun dalam keluarga besar saya. Anak-anak sewaktu kecil menganggap orang tuanya adalah pahlawannya, sehingga apapun yang dilakukan orang tua cenderung mereka tiru.

Itulah sebabnya penting sekali bagi kita untuk belajar berhikmat dan mengendalikan diri saat marah. Walaupun pasangan suami istri saling mendiamkan, anak-anak tidak bodoh. Mereka lebih peka daripada yang kita duga. Lebih parah lagi bila sudah sampai ke tahap anak menjadi media penyambung komunikasi antara ayah dan ibu.

Mazmur 37:8: Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Mazmur 37:8 memberikan nasehat yang luar biasa berkaitan dengan kemarahan. Untuk tidak marah caranya adalah berhenti marah dan tinggalkan panas hati itu. Berhenti dan meninggalkan merupakan dua kata kerja. Kata kerja itu berarti tindakan yang dilakukan. Tindakan itu berarti bukan perasaan.

Sama seperti cinta yang sebenarnya bukan hanya sekedar perasaan, tapi tindakan yang dilakukan. Akan menjadi suatu kebohongan besar jika seseorang mengatakan mencintai/mengasihi Anda tapi tidak pernah melakukan sesuatu pun untuk Anda.

Kalaupun Anda belum menikah, kebiasaan untuk pengendalian emosi yang tepat ini perlu terus dipelajari. Baik Anda telah memiliki kekasih atau belum, kemampuan ini sangat diperlukan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Salah satu kalimat yang dibagikan teman saya adalah:

“Yang waras mengalah.”

Nah jadi berhentilah untuk saling mendiamkan ketika marah, dan ambillah inisiatif untuk mengalah dan memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi.
Amin.

(Footnote: Thanks to Ronny “Ryonn” S for sharing about the quote. Gbu.)

Iklan

Comments on: "Silent Anger" (2)

  1. FB Comment from NK:
    Hihihihihihihi. Klo kita yang didiemin gmn??? Dia yg usaha menjlnkan silent anger?? Heheheheh

    Tapi emang bener sih… Semakin kita diem, masalah semakin berlarut2 & kita semakin BT.

    • Hehehe, ya kasih waktu sebentar biar dia tenang dan trus deketin coba :P. Dulu juga g pernah digituin, ya berusaha berbaikan walau awalnya ga enak. Lama2 baikan lagi :P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: