All for Glory of Jesus Christ

Violent Anger

Hari ini saya akan membahas satu tipe lain dari marah, yaitu violent angry atau marah yang meledak. Jadi ini tipe marah yang berkebalikan dari yang sudah kita bahas kemarin.

Sebelum membahas hal ini, saya ingin membagikan satu hal. Saya benar-benar tidak pernah habis terkagum-kagum akan kerja Tuhan yang tidak pernah kebetulan. Rencana dan rancangan-Nya itu sempurna sekali dan sangat tepat waktu. Mungkin Anda bingung mengapa tiba-tiba saya mengetengahkan hal itu?

Ini ada kaitannya dengan satu film yang saya tonton di bisokop pada hari ini. Saya yakin ini bukan kebetulan. Sebetulnya ketika saya melihat dari website 21cineplex.com, saya tertarik dengan film “The Proposal” karena melihat resensi ceritanya kelihatannya menarik. Tetapi saya melihat di website tersebut juga ada film berjudul “Burn after Reading”.

Ketika saya melihat mengenai resensi “Burn after Reading” saya lihat sekilas rasanya biasa saja, tapi saya lihat genre-nya adalah drama/komedi. Jadi ketika saya datang ke bioskop saya memutuskan ingin menonton “The Proposal” dulu. Ternyata sayangnya belum ada yang membeli tiket itu. Sigh. Saya yakin kalau saya sudah menonton “The Proposal” saya pasti tidak akan menonton “Burn after Reading”.

Jadi, daripada menunggu 2 jam dan tidak melakukan apa-apa, saya akhirnya memutuskan menonton “Burn After Reading” karena saya lihat di posternya pemainnya George Clooney dan Brad Pitt, lalu ada tulisan “Intellegence is Relative”.

Wah saya pikir ini pasti menarik. Apalagi di poster itu juga ada tulisan mengenai dinominasikannya film ini untuk dua kategori Golden Globe, yaitu untuk gambar terbaik dan aktris terbaik.

Ternyata oh ternyata, untuk pertama kalinya saya menguap beberapa kali selama menonton film tersebut. Saya tidak menemukan aspek lucu dalam film ini sama sekali. Sebaliknya film ini penuh dengan perselingkuhan, makian, dan amarah yang meledak.

Salah satu adegan mengerikan dari film ini adalah ketika Osborne Cox seorang mantan agen CIA menemukan bahwa istrinya mengambil seluruh uangnya dan kemudian menemukan seseorang sedang berada dalam rumahnya, Cox dalam amarah memuncak menembak orang tersebut. Astaga! Ketika orang itu berlari ke luar rumah, Cox mengejarnya dengan kapak….. dan …… menancapkan kapak itu berkali-kali kepada orang tersebut.

Saya serasa menonton film thriller saja. Sungguh-sungguh film dengan durasi 1,5 jam yang paling buruk yang pernah saya tonton. Jika ada nominasi untuk film terburuk, saya akan daftarkan film ini di nomor 1.

Bahkan George Clooney dan Brad Pitt yang saya sukai akting dan penampilannya di Ocean 11 dan Ocean 13 (untuk Ocean 12 tidak menarik), tidak sanggup membuat saya merasa tertarik sedikitpun di film ini. Benar-benar saya bingung sekali kog bisa-bisanya film ini meraih 2 nominasi Golden Globe Award.

Sungguh-sungguh film yang sangat mengecewakan. Untungnya hanya 1,5 jam dan itupun saya selalu menunggu-nunggu akan adanya sesuatu yang menarik. Tapi ternyata, nada! Tidak ada! Nihil!

Saya juga tidak mengerti mengapa orang yang ada di depan saya terus melirik ke arah belakang. Mungkin dia juga tidak menikmati film tersebut. Ketika film selesai, saya mendengus keras dan beranjak dan orang ini juga memperhatikan saya hahaha. Entahlah, saya juga tidak tahu mengapa orang ini memperhatikan saya. Hal yang pasti, saya “Burn after Watching” wakakakkaak. Benar-benar sebal sekali menonton film ini.

Setidaknya walaupun kecewa, tetapi saya jadi bisa menuliskan satu contoh yang sangat ekstrim tentang violent anger hahahaha. Mau contoh lain? Banyak di televisi kita. Cukup buka acara “Buser”, “Sergap”, “Patroli”, dan yang lain-lain itu.

Ada banyak contoh kemarahan yang meledak dan menjadi suatu bentuk kejahatan. Tepatlah ayat di Mazmur 37:8 berikut ini:

Mazmur 37:8: Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Hal yang mengerikan mengenai meledaknya amarah di Alkitab adalah ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada Hari Sabat (Lukas 6:6-11). Padahal dalam adat istiadat Yahudi, Hari Sabat adalah hari untuk Tuhan, jadi tidak boleh melakukan kegiatan apapun.

Mengapa Tuhan Yesus seolah-olah tidak menghiraukan mengenai aturan tersebut? Padahal Tuhan Yesus itu tahu dengan benar adanya aturan tersebut. Jawabannya adalah di Matius 12:7-8.

Matius 12:7-8: Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kuhendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Maksud dari ayat di Matius 12:7-8 bukan berarti Tuhan Yesus tidak menghormati peraturan agama, tetapi di atas itu Tuhan Yesus melihat esensi yang lebih penting, yaitu kasih. Akan tetapi hal ini dipandang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebagai suatu kejahatan.
Lalu apa yang terjadi?

Lukas 6:11: Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Inilah kemarahan yang meledak. Amarah yang meledak tidak selalu berbentuk memaki, mengutuk, melemparkan barang-barang, menghancurkan barang-barang, meninju dinding, tembok, atau apapun yang bisa ditinju, tetapi juga menyalurkannya dalam bentuk kejahatan.

Di kehidupan sehari-hari juga banyak sekali contoh yang bisa diangkat. Mungkin tidak seekstrim yang saya sudah sebutkan, tetapi kemarahan yang meledak sudah pasti akan menyebabkan satu hal, yaitu sakit hati bagi yang menerima kemarahan itu.

Dari sakit hati, bisa menimbulkan luka, hubungan yang retak, sampai ke kepahitan, bahkan lebih parah lagi sampai dendam dan ingin membalas dendam, ujungnya terjadi kejahatan. Sigh. Oleh karena itu, kita jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil, karena biasanya dari hal kecil itulah segala sesuatu bermula.

Lalu bagaimana untuk mengatasinya? Pengendalian diri: belajar untuk sabar.

Amsal 14:29: Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Memang kalau ingin menjadi orang sabar itu tidak mudah ya. Kemarin salah seorang teman baru mengirimkan email untuk bercerita mengenai permasalahan yang dialaminya. Ternyata memang ia sedang dilatih untuk bersabar.

Hal yang menarik adalah ketika saya selesai mengomentari emailnya, dia kemudian menyetujui karena katanya ia pada pagi harinya berdoa meminta kesabaran. Lihat: dalam Tuhan memang tidak ada kebetulan! Hahahaha.

Hal yang lebih menarik lagi, mulai dari film, lalu email, semua itu berhubungan sekali dengan topik ini. Ah, how wonderful You are Lord. Benar-benar semakin hari saya semakin terkagum-kagum akan perbuatan tangan-Nya.

Mendiamkan ketika marah tidak baik. Marah yang meledak-ledak juga mengerikan. Jadi apakah kita boleh marah? Marah itu boleh asal terkendali, tidak asal mencari sasaran untuk korban kemarahan kita (baik mendiamkan atau meledak), dan yang diutamakan (paling penting) adalah bukan untuk mengeluarkan amarah tapi untuk membereskan persoalan.

Mengeluarkan amarah itu juga penting, tapi tetap perlu dalam batas-batas yang tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri. Contoh mengeluarkan amarah yang aman: bercerita pada orang lain, menuliskan hal tersebut, atau menyalurkan energi amarah tersebut pada kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak energi seperti misalnya olahraga.

Mari kita semua belajar untuk lebih sabar lagi dari hari ke hari.

Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: