All for Glory of Jesus Christ

Bermuka Dua

Hari ini pembahasan kita adalah mengenai kebiasaan bermuka dua atau yang biasa dikenal sebagai munafik. Sebenarnya hal ini sudah pernah dibahas dalam “Dimensions of Sacrificing (Tetralogi-3)“. Tetapi karena ini adalah sesuatu yang penting, saya angkat lagi.

Contoh yang paling sering dibahas mengenai orang bermuka dua adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Begitu banyaknya bahasan mengenai ini, bahkan Tuhan Yesus mengecam mereka dengan serta-merta. Saya ketika menulis ini berpikir-pikir, kog bisa-bisanya yah Tuhan Yesus yang begitu sabar dengan orang pendosa tahu-tahu mengecam dengan keras para ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi?

Setelah saya renungkan mungkin jawabannya karena memang sudah keterlaluan dalam pandangan Tuhan Yesus.

Matius 23:13: Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Ini merupakan suatu kecaman yang luar biasa tajamnya. Dalam bayangan saya, mungkin Tuhan Yesus sudah demikian gregetan melihat perilaku ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tahu gregetan kan ya?

Lebih lanjut lagi disebutkan lagi dalam Matius 7:5 mengenai nasehat bagi orang munafik:

Matius 7:5: Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Ini merupakan suatu nasehat yang keras. Memang kerap kali lebih mudah melihat setitik kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Oleh karena itu, Tuhan Yesus memperingatkan kita dengan keras hal ini.

Perilaku tidak munafik ini merupakan perilaku yang perlu kita semua latih dan biasakan setiap saat. Untuk menjadi tidak munafik itu sungguh membebaskan lho. Percaya tidak? Memang tidak mudah, tapi saat dilakukan sangat melegakan.

Saya akan menceritakan satu contoh kecil. Saya umumnya merupakan orang yang tidak enakan dengan orang lain. Jadi, kalau orang meminta pendapat saya mengenai bagus/buruk sesuatu hal berdasarkan selera, umumnya saya akan mengatakan bagus tapi……

Namun semakin ke sini, saya semakin diajar untuk berkata apa adanya. Jadi kalau memang saya suka, saya katakan suka. Kalau saya tidak suka, saya katakan tidak suka. Bukan hanya untuk masalah sepele mengenai selera, tetapi juga untuk hal-hal yang lain.

Memang hal ini menimbulkan banyak gesekan dan konflik. Padahal saya tidak terlalu menyukai gesekan. Di sisi lain, saya juga diajar untuk berkata apa adanya. Jadi suka tidak suka, mau tidak mau resiko konflik itu saya harus terima.

Akan tetapi efeknya sangat melegakan, kalau tidak percaya silakan coba. Bicara apa adanya, bukan berarti berbicara secara kasar. Tetap berbicara secara baik-baik. Teman-teman dekat saya sudah sangat terbiasa dengan cara saya berbicara apa adanya itu dan tidak ada masalah dengan itu.

Bahkan dengan berkata-kata apa adanya, saya jadi belajar untuk bisa menghargai perbedaan pendapat. Hanya saja memang saya masih jauh dari sempurna. Jadi tentu saja masih banyak cacat di sana sini.

Sebenarnya menulis notes demi notes merupakan tantangan yang besar sekali bagi saya. Saya sedari dulu senang menulis, namun bukan notes semacam ini. Menulis mengenai ajaran, kebenaran, dan konsep moralitas dalam standar yang sangat tinggi yaitu standarnya Tuhan Yesus dan Alkitab, itu sebenarnya sangat berat bagi saya.

Mengapa demikian? Karena saya sadar saya juga masih banyak kurang di sana sini, sementara dalam penulisan topik terkadang memang langsung muncul sendiri topik A, B, dan C. Saya terkadang berpikir, dalam sejumlah notes itu saya sedang diajari Tuhan dengan notes saya sendiri.

Hal yang menyakitkan ketika orang salah paham kepada saya lalu mengungkit mengenai notes yang saya tulis, padahal intinya adalah kesalahpahaman. Dua permasalahan yang berbeda, tapi dicampuradukkan. Mungkin juga Tuhan sedang melatih saya untuk terus belajar menjadi seperti Dia setiap hari.

2 Korintus 6:6: dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;

Dalam 2 Korintus 6:6 ditulis mengenai kasih yang tidak munafik. Supaya ketidakmunafikan kita itu dapat diterima orang lain, itu harus disertai dengan kasih. Dalam segala sesuatu, perlu dilengkapi dengan kasih.

Saat kita mengasihi orang lain, kita tidak perlu bermuka dua kepadanya. Kita bermuka dua biasanya karena kita tidak mengasihi orang tersebut bukan? Coba saja direnungkan, kapan Anda paling sering bermuka dua? Pasti jawabannya adalah dengan orang yang tidak kita kasihi.

Yakobus 3:17: Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

Untuk menjadi tidak munafik, bukan saja perlu dilengkapi oleh kasih tetapi juga dengan hikmat Tuhan. Menjadi tidak munafik diperlengkapi dengan kasih tapi tanpa dilengkapi dengan hikmat biasanya jadi naif dan lugu alias mudah dibodohi dan ditipu.

Menjadi tidak munafik diperlengkapi dengan hikmat, tapi tanpa dilengkapi dengan kasih biasanya terkesan tidak berperasaan dan kurang memahami perasaan orang lain. Saat menjadi tidak munafik diperlengkapi dengan hikmat dan kasih, saat itulah menjadi lengkap.

Mari kita semua belajar untuk terus mempraktekkan ketidakmunafikan dalam setiap aspek hidup kita sambil terus memperlengkapi diri dengan kasih dan hikmat dari Tuhan. Ingat: tidak ada yang tidak bisa, yang ada hanyalah tidak mau.

Amin.

Iklan

Comments on: "Bermuka Dua" (2)

  1. FB Comment from VS:
    tapi tanpa dilengkapi dengan kasih biasanya terkesan tidak berperasaan dan kurang memahami perasaan orang lain=brutal ya? 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: