All for Glory of Jesus Christ

Moody

Hari ini saya akan membahas salah satu kebiasaan yang umum terjadi, namun mungkin jarang dibahas, yaitu mengenai moody. Apakah moody itu? Kalau dibuat pelesetannya mungkin moody itu singkatan dari mo mo-nya dya (dibaca: mau maunya dia, alias terserah dia maunya apa) hihihi. Bisa jadi belum menangkap maksud saya nih sampai sini.

Jadi moody itu adalah suatu sikap dan perbuatan yang berubah-ubah dengan cepat tergantung dengan suasana hati. Jadi mo mo-nya dya tadi itu. Bagaimana sekarang sudah mengerti mengenai moody?

Mudah membedakan orang yang moody atau tidak. Cukup perhatikan saja perilakunya. Saat suasana hatinya sedang bagus, maka kelihatannya gembira, bersemangat, berenergi tinggi, dan tercermin di status yahoo messenger atau di facebook-nya demikian.

Saat suasana hatinya sedang kelam, maka itu juga langsung terlihat seketika. Perubahan itu biasanya terjadi secepat cuaca berganti. Pertanyaan saya: bolehkah orang merasa senang dan sedih? Ayo, coba dipikirkan.

Sudah memiliki jawaban? Jawabannya: tentu saja boleh. Ya kita manusia kan diberi Tuhan tubuh, jiwa, dan roh. Di dalam jiwa salah satu aspek yang ada di sana adalah perasaan. Jadi tentu saja karena ada perasaan dalam diri kita, kita boleh merasa senang dan sedih.

Akan tetapi mengapa moody tergolong kebiasaan buruk? Karena memang hidup kita ini seharusnya tidak dikendalikan oleh suasana hati, perasaan, dan emosi.

Filipi 2:5: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.

Nah dinyatakan dengan jelas dalam Filipi 2:5 supaya kita semua menaruh pikiran dan perasaan kita yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Maksudnya apa menaruh pikiran dan perasaan ktia yang terdapat juga dalam Kristus Yesus? Jika kita melihat pada Bahasa Inggrisnya dinyatakan sebagai berikut:

Philippians 2:5: Your attitude should be the same as that of Christ Jesus.

Jadi perilaku kita harus sama seperti Kristus. Nah seperti apakah perilaku seperti Kristus itu? Sepanjang yang kita bisa baca di Alkitab, Tuhan Yesus ekspresif dalam mengungkapkan emosi/perasaannya, tetapi tidak moody.

Ia bisa marah, bisa terharu, bisa sedih, bisa bergembira, tetapi hal yang pasti Ia tidak moody. Mengapa moody berbahaya? Karena manusia cenderung lebih mudah melihat hal buruk daripada hal baik, dan jika kecenderungan ini dipupuk maka hasilnya adalah hilangnya damai sejahtera.

Coba saja bayangkan seperti ini: hari hujan, macet, becek. Ketika berjalan ternyata ada mobil mengebut, lalu tersiram air menggenang, baju kotor. Emosi meluap, lalu sampai ke kantor dengan penuh luapan kekesalan. OB (office boy) menyapa pun tak lupa mendapat dampratan.

Lalu dari kesal itu, banyak pekerjaan tambah kesal. Belum lagi rekan sekerja sulit dicari menambah kemelut hati. Apalagi sang kekasih membatalkan janji bertemu, padahal hari itu malam minggu. Hahahahah, sengaja saya cari padanan katanya supaya berima.

Ini permasalahannya apakah yang menjadi biang keladi itu karena hujan? Karena macet? Karena becek? Atau karena rentetan kejadian lainnya? Kalau mau ditelusuri terus seperti itu, akan banyak sekali hal-hal yang bisa membuat kita moody. Mengapa demikian? Karena hidup ini penuh dengan ketidakidealan.

Hari ini saya mengalami sesuatu yang saya yakin sungguh bukan kebetulan, apalagi kembali temanya pas sekali hahahaha. Lord, I’m so amazed by You. You’re so incredible! Saya akan bagikan berikut ini.

Jadi hari ini saya ada janji dengan seorang dosen di kampus karena beliau mengajak saya untuk menjadi partner riset. Puji Tuhan! Saya sungguh bersyukur karena ini. Sebelumnya saya menemui koordinator saya untuk menanyakan beberapa hal mengenai perkuliahan.

Ternyata saya kemudian setelah bertemu dengan koordinator saya mendapatkan suatu kenyataan bahwa terjadi miskomunikasi sekian minggu yang sudah lewat. Pada saat itu saya sudah menanyakan tapi karena terjadi salah tangkap, akhirnya informasi yang didapat juga salah. Akibatnya memang jumlah jam mengajar saya berkurang. Kalau jumlah jam mengajar berkurang berarti beban berkurang, tetapi gaji juga berkurang hahahaa.

Saat itu saya terkejut juga (wajarlah saya masih manusia hahahaha). Saya sempat merenung juga. Kemudian saya pikir-pikir lagi, mungkin ada sesuatu yang mau Tuhan ajarkan kepada saya. Jadi saya tidak berlarut-larut dalam kekecewaan saya.

Ketika saya bertemu dengan dosen yang mengajak saya menjadi partner riset, saya mendapati bahwa memang kemungkinan besar saya perlu meluangkan waktu cukup banyak untuk mempelajari riset tersebut. Apalagi karena saya sudah memiliki satu rencana lain yang juga berkaitan dengan masa depan saya, yang juga memerlukan waktu banyak untuk mempersiapkannya.

Ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berpikir. Ternyata Tuhan mengetahui jauh melebihi pemikiran saya. Ia yang mengaturkan segala sesuatunya supaya beban saya tidak terlalu berat sehingga bisa berkonsentrasi juga melakukan segala sesuatunya.

Jadi saya hanya bisa bersyukur dan bersukacita. Walaupun kalau saya berfokus pada kekecewaan, bisa jadi hasilnya sepanjang hari ini saya uring-uringan atau kesal.

Filipi 4:7: Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Filipi 4:7 dituliskan oleh Rasul Paulus dan Paulus itu hidup sesudah Yesus naik ke surga. Mengapa Paulus bisa menuliskan sejumlah surat kepada jemaat dan kepada orang-orang tertentu di dalam sepanjang Alkitab Perjanjian Baru? Tentu saja ini tidak lepas dari Roh Kudus, sang Penolong yang dijanjikan Tuhan Yesus, yaitu Roh Kristus, Roh Allah sendiri.

Bersukacita bukan tergantung pada keadaan tapi tergantung pada pengendalian diri kita dalam hal ini pengendalian hati kita. Maksudnya adalah ke arah yang kita ingin tujukan hati kita ke sanalah kita akan condongnya. Jadi kalau kita ingin menujukan hati kita pada kesedihan, kekecewaan, kemarahan, ya ke sanalah akan condongnya. Sebaliknya jika kita ingin menujukan hati kita pada berkat-berkat Tuhan, sukacita dan damailah yang akan menjadi arah condongnya hati kita.

Amsal 4:23: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Lebih lanjut lagi diperingatkan kepada kita dalam Amsal 4:23 supaya kita senantiasa menjaga hati kita. Menjaga hati berarti pengendalian diri, pengendalian hati, menjaga focus dan arah kecondongan hati kita.

Menjaga hati itu merupakan kata kerja, sesuatu yang kita lakukan. Jadi bukan perasaan (emosi) kita. Bukan juga yang kita hadapi (pengalaman) kita. Tetapi lebih ke cara kita melakukan pengendalian fokus hati kita.

Jika kita moody, siap-siaplah untuk mengalami roller-coaster dalam hidup kita terus-menerus. Mari kita semua belajar untuk terus menjaga hati kita sehingga apapun yang terjadi dalam hidup kita kita bisa tetap bersukacita senantiasa.

Amin.

Iklan

Comments on: "Moody" (6)

  1. wahh artikel yg kembali mngingatkan utk selalu mnjaga hatiku.. Thnks artikelnya..
    Thnks God… Gbu

  2. thanks .. aku baru mencari arti kata moody. eh .. malah ketemu artikel yang mencerahkan ini.
    Terimakasih. Tuhan memberkati 🙂

  3. FB Comment from ECSD: Good..^.^

  4. FB Comment from LM: bagus juga singkatannya…OK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: