All for Glory of Jesus Christ

Manja

Hari ini saya akan membahas kebiasaan manja. Kebiasaan manja timbul umumnya karena dibiasakan untuk berpikir bahwa diri sendiri adalah yang paling penting. Akibatnya jika kemauannya tidak dipenuhi maka yang bersangkutan akan marah, kesal, mengomel, atau istilah dalam Bahasa Sunda yang populer dikenal adalah “pundung”.

Kebiasaan manja ini bukan hanya melekat pada anak-anak, tapi juga orang dewasa. Pada dasarnya kebiasaan manja ini merupakan ciri seseorang belum dewasa. Ada dua ayat dalam ulangan yang membahas mengenai hal ini yaitu:

Ulangan 28:54: Dan orang laki-laki yang paling lemah dan paling manja di antaramu akan kesal terhadap saudaranya atau terhadap isterinya sendiri atau terhadap anak-anaknya yang masih tinggal padanya,

Ulangan 28:56: Perempuan yang lemah dan manja di antaramu, yang tidak pernah mencoba menjejakkan telapak kakinya ke tanah karena sifatnya yang manja dan lemah itu, akan kesal terhadap suaminya sendiri atau terhadap anaknya laki-laki atau anaknya perempuan,

Dalam Bahasa Inggris kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Deuteronomy 28:54: Even the most gentle and sensitive man among you will have no compassion on his own brother or the wife he loves or his surviving children.

Deuteronomy 28:56: The most gentle and sensitive woman among you – so sensitive and gentle that she would not venture to touch the ground with the sole of her foot – will begrudge the husband she loves and her own son and daughter.

Dalam Bahasa Inggrisnya kata yang digunakan adalah kata “sensitive”. Sensitive berdasarkan Kamus Inggris Indonesia yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily artinya peka (mudah tersinggung) atau rapuh hati. Jelas-jelas dalam dua ayat di Ulangan tadi dinyatakan bahwa perilaku ini merupakan kelemahan.

Dalam Ulangan 28:54 terdapat contoh perilaku manja, yaitu tidak bertanggung jawab. Jika seseorang tidak punya belas kasih kepada saudaranya sendiri, atau kepada istri yang dia cintai, atau pada anak-anaknya, ini merupakan sikap manja. Jadi dikatakan dengan jelas bahwa orang manja bisa mengasihi seseorang tapi tidak punya belas kasih kepadanya.

Ketika saya menemukan ayat ini saya berpikir bukankah ini menjadi suatu hal yang bertolak belakang? Seseorang mengasihi tapi tidak berbelas kasih? Namun penjelasan dalam ayat tersebut membuat jelas bahwa kata “kasih” yang ada dalam Ulangan 28:54 ini bukanlah kasih yang ada dalam 1 Korintus 13, tapi merupakan kasih dalam bentuk perasaan (emosi) semata.

Padahal kita tahu bahwa kasih itu bukan perasaan (emosi) semata, melainkan perbuatan/tindakan nyata. Dengan demikian terlihat jelas suatu kejanggalan di sini. Seorang mengasihi tetapi tidak berbelas kasih. Aneh sekali bukan? Dengan mengaitkan pada penjelasan tadi, hal ini menjadi dapat dimengerti.

Bukti nyata dari penjelasan tadi adalah begini: dikatakan bahwa seseorang yang paling lemah dan mudah tersinggung itu tidak memiliki belas kasih tapi memiliki emosi cinta. Padahal jika kita bandingkan dengan kasih di 1 Korintus 13, kasih justru yang paling utama/besar, di atas nubuat, bahasa roh, dan pengetahuan.

Mengapa paling utama? Karena kasih itu kuat! Jauh melebihi ketiganya. Begitu kuatnya sampai di Kidung Agung 8:6b dikatakan “cinta kuat seperti maut”. Bahkan dalam Kristus, Kasih (Yesus) itu sendiri mengalahkan maut, karena Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8b). Jadi di sini juga diberikan korelasi bahwa Yesus = Allah sendiri. Memang pengertian di Alkitab ini sangat kaya dan saling menjelaskan satu dengan lainnya.

Mengerti maksud saya? Jadi begini: emosi semata itu bukan kasih, karena kasih adalah bukan hanya emosi (perasaan) belaka tapi diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Orang yang manja itu lemah dan mudah tersinggung karena ia tidak memiliki kasih yang sesungguhnya (kasih dalam bentuk perbuatan). Ia mengira memiliki kasih, tapi yang dimilikinya hanyalah emosi belaka.

Dalam 1 Korintus 13:4 dikatakan kasih itu sabar, murah hati. Orang yang memiliki kasih, tidak akan mudah tersinggung dan ia murah hati (berbelas kasih). Oleh karena itu saya katakan bahwa kata kasih dalam Ulangan 28:54 dan juga yang ditemukan dalam Ulangan 28:56 ini bukanlah kasih yang sesungguhnya, tapi hanya dalam bentuk emosi (perasaan) saja dan emosi itu bukanlah kasih.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa “kasih” yang disebutkan dalam Ulangan 28:54 dan 56 itu bukan kasih yang sesungguhnya karena kasih yang sesungguhnya itu kuat. Kasih yang paling utama bahkan begitu kuatnya sampai dapat mengalahkan maut, yaitu dalam diri Kristus yang telah menang atas maut. Karena Kristus = Allah dan Allah itu adalah kasih (1 Yohanes 4:8b). Mudah-mudahan sudah cukup jelas penjelasan ini.

Satu lagi contoh tindakan manja kita temui dalam Ulangan 28:56. Tidak pernah menjejakkan telapak kaki ke tanah berarti tidak mau melakukan tugasnya. Kalau tidak mau melakukan tugasnya, berarti untuk membuat tugas itu selesai seseorang akan bergantung pada orang lain.

Padahal kita hanya boleh bergantung pada Tuhan, bukan pada manusia. Tidak boleh tergantung pada manusia bukan berarti tidak memerlukan manusia lainnya, tetapi pada saat kita bergantung pada manusia, berarti kita memberhalakan manusia.

Tidak pernah menjejakkan telapak kaki ke tanah berarti juga tidak mandiri. Pada gilirannya akan terus menunggu orang lain untuk membantunya dan saat tidak dibantu akan kesal, marah, dan pundung tadi itu.

Menarik sekali bahkan kitab Ulangan yang ditulis pada 1405 SM sumber dari sini, ini dapat menjelaskan suatu kebiasaan yang umum kita perhatikan sekarang ini. Memang Alkitab ini tidak pernah usang dan dapat selalu sesuai dengan perkembangan zaman.

Kembali ke topik bahasan kita hari ini, lalu bagaimana bila kita memiliki suami yang manja? Dari buku “Pernikahan Plus” ditulis oleh Ray Mossholder yang saya sedang baca akhir-akhir ini, istri dapat memenangkan suami dengan tanpa perkataan. Bagaimana bisa? Berdoalah. Bukan berarti tidak boleh seorang istri untuk mengoreksi suaminya, boleh mengoreksi tapi dengan lembut dan melihat situasi yang tepat.

Jika suami tidak dapat dikoreksi dan tetap saja dengan sikap manjanya, maka berdoalah. Jadi jangan terus terbawa manja: mudah tersinggung karena suami tidak mengikuti mau istri dan bergantung pada kemauan suami untuk berubah, tapi sebaliknya bergantunglah kepada Allah untuk mengatasi hal itu.
Bahkan di buku itu lebih lanjut disebutkan bahwa kadang-kadang Allah bekerja bukan langsung mengubah sikap sang suami, tapi terlebih dahulu mengubah sikap sang istri dan pada waktu yang tepat baru mengubah sikap sang suami. Ini buku yang sangat menarik dan saya merekomendasikan buku ini untuk pasangan suami-istri membacanya.

Bagaimana bila suami memiliki istri yang manja? Dalam buku itu dituliskan suami adalah kepala istri, seorang suami bertugas untuk mengoreksi istri dalam kasih. Lihat perbedaan antara cara menangani istri dan suami di sini?

Ini bukan pilih kasih atau mengutamakan gender pria (patrilineal), tapi memang Allah sudah mengatur demikian dan pengaturan Allah kalau kita mau ikut di dalamnya adalah yang sempurna. Hanya saja banyak orang yang merasa lebih pintar dari Allah dan mau coba membuat pengaturan sendiri dan akhirnya jatuh sendiri.

Bagaimana jika memiliki anak yang manja? Dalam Alkitab disebutkan dengan jelas bahwa:

Amsal 13:24: Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.

Orang tua memiliki otoritas atas anak dan sudah merupakan kewajiban (kehormatan) bagi orang tua untuk mendidik anaknya. Mendidik anak tidak selalu dengan hal yang manis tapi juga dengan hal yang keras.

Amsal 29:15: Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Jika anak Anda manja dan terus dibiarkan maka anak itu akan besar dan membuat persoalan saat dia besar. Hal ini sudah dicatat dalam Amsal 29:15 dan memang saya perhatikan demikianlah kenyataannya. Orang tua yang memanjakan anaknya akan hidup menuai hasil perbuatannya: anaknya kelak yang akan membuat orang tuanya stress.

Ingatlah dalam saat kita mendisiplinkan anak: kasih itu dalam bentuk tindakan bukan hanya dalam bentuk perasaan (emosi) semata. Kalau kita merasa sayang pada anak kita tapi kita tidak mendidiknya, ini berarti kita keliru. Mengapa demikian? Karena kasih bukan hanya perasaan tapi perbuatan.

Bagaimana jika kita yang manja? Jelas seperti yang saya sudah saya katakan berulang kali, untuk mengubah suatu kebiasaan gantilah dengan kebiasaan yang baru. Kebiasaan yang baru tersebut jelas harus merupakan kebiasaan yang positif karena kalau tidak ini adalah ibarat lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.

Jika kita mau, maka kita akan bisa. Jika kita tidak bisa, kita bisa bergantung pada Tuhan dan minta agar dimampukan. Setelah dimampukan, kembali ke tekad kita untuk benar-benar mengubah kebiasaan itu. Tidak ada yang tidak bisa, yang ada hanya tidak mau.

Amin.

Iklan

Comments on: "Manja" (2)

  1. sita.inverse said:

    Saya baru tahu kalau manja itu adalah kelemahan.. Thank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: