All for Glory of Jesus Christ

Menghakimi

Hari ini pembahasan adalah mengenai kebiasaan menghakimi. Menghakimi adalah menilai seseorang secara keliru padahal yang bersangkutan belum tentu seperti yang kita pikirkan.

Lukas 6:37: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Dalam Lukas 6:37 dinyatakan bagi kita semua untuk tidak akan dihakimi. Apakah dasarnya? Karena dalam dunia ini berlaku hukum tabur-tuai. Siapa yang menabur sesuatu akan menuainya. Kalau kita menabur penghakiman, maka kita akan menuai penghakiman juga.

Bahkan lebih lanjut dalam :

Matius 7:2: Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Dikatakan bahwa ukuran yang kita gunakan untuk menghakimi orang lain, akan dipakaikan kepada kita. Siapakah yang sempurna di dunia ini? Tidak ada! Bahkan yang sempurna sendiri, yaitu Kristus tidak menghakimi dengan semena-mena.

Yesaya 11:3: ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

Dalam nubuatan Nabi Yesaya mengenai Tuhan Yesus, ditulis dalam Yesaya 11:3. Bahkan Kristus yang sempurna saja benar-benar menghakimi dengan adil. Mengapa Dia layak menghakimi? Pertama karena Dia Tuhan. Kedua karena Dia sempurna. Ketika karena Dia adil.

Ada satu ilustrasi yang bagus mengenai menghakimi. Ketika kita menunjuk orang lain dengan satu jari telunjuk kita, 3 jari yang lain akan menunjuk ke arah kita. Ini sejalan dengan ayat di Matius 7:5.

Matius 7:5: Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Sering kali kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri kita sendiri. Mudah sekali mengatakan orang begini dan begitu, tetapi saat kita kembalikan kepada diri sendiri, itulah saatnya untuk penghakiman yang jujur.

Seberapa banyak kita sudah hidup sesuai kehendak Tuhan sampai-sampai kita berhak menghakimi orang lain? Justru semakin kita hidup sesuai kehendak Tuhan, semakin kita tidak menghakimi orang lain.

Saya memiliki pengalaman yang menarik berkaitan penghakiman ini. Ternyata orang yang sedang memiliki masalah, luka, tertekan, atau kepahitan sangat rentan membuat asumsi bahwa orang lain sedang menghakimi dirinya, bahkan saat orang tidak sedang menghakiminya.

Pada saat itu terjadi, yang terjadi adalah penghakiman yang telah ditetapkan oleh dirinya sendirilah yang dilemparkan kepada orang lain. Jadi bukan orang lain yang membuat penghakiman, tapi diri sendirilah yang membuat penghakiman itu.

Memang orang luka akan melukai orang lain dan juga saat ia melukai orang lain, ia akan melukai dirinya sendiri lebih dalam. Ini merupakan suatu lingkaran yang akan terus terjadi sampai akhirnya orang yang bersangkutan mengambil keputusan untuk memutus lingkaran luka tersebut.

Satu contoh yang sangat menarik terjadi ketika seorang perempuan akan dirajam oleh rakyat karena kedapatan berbuat zinah dan perempuan ini dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus.

Pertanyaannya: apakah berzinah itu benar? Jelas tidak! Bahkan dosa seksual merupakan salah satu dosa yang ditekankan keburukannya karena dilakukan di dalam tubuh, sementara dosa lain dilakukan di luar tubuh (1 Korintus 6:18).

Akan tetapi Tuhan Yesus memang luar biasa, ia menyadarkan para rakyat, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi akan pentingnya untuk tidak menghakimi:

Yohanes 8:7: Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Bukan hanya itu, Ia juga melepaskan pengampunan dan menyuruh sang wanita untuk tidak berbuat dosa lagi. Saya akan membagikan pengajaran yang saya peroleh hari ini saat saya menonton DVD dengan pembicara Pendeta Billy Lantang dengan judul kotbah mengenai “Wisdom” atau Hikmat.

Dikatakan bahwa Tuhan itu selalu menjawab kebutuhan kita terlebih dahulu. Kebutuhan kita adalah keselamatan, persekutuan dengan Tuhan, mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Jika ada dosa yang masih tertinggal, Tuhan akan membuat kita memenuhi kebutuhan kita dulu untuk mengakui dosa kita dan bertobat.

Itulah inti hikmat Ilahi. Jadi Tuhan mampu memperhatikan yang paling penting dalam hidup kita. Dalam kasus si wanita pezinah, kebutuhan si wanita pezinah adalah kasih. Dari sekian banyak artikel, buku, kotbah, kaset yang pernah saya baca dan dengar, saya mendapati bahwa kebutuhan wanita yang paling besar adalah kasih.

Itulah sebabnya dikatakan pada para suami untuk mengasihi istri. Nah, masalahnya adalah karena kebutuhan ini begitu besar kadang-kadang wanita bahkan mengorbankan hartanya yang paling berharga, yaitu kekudusannya untuk setia pada kehendak Tuhan, untuk mendapatkan kasih yang dibutuhkannya itu.

Mengapa demikian? Karena wanita yang dikasihi merasa dirinya berharga, aman, dan tercukupi. Perhatikan saja jika ada kasus wanita yang kehilangan keperawanannya sebelum waktunya pada umumnya akan merasa tidak berharga, tidak aman, dan sangat ketakutan akan masa depannya.

Ketika berhadapan dengan wanita yang berzinah, Tuhan Yesus tahu benar kebutuhan sang wanita tersebut. Dengan memberikan kasih yang penuh kemurahan hati, Tuhan Yesus memenuhi kebutuhan wanita tersebut akan kasih, sekaligus memenuhi kebutuhan wanita tersebut akan pertobatan (pemulihan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri).

Sungguh luar biasa Tuhan kita! Bukannya menghakimi wanita itu, tapi malah memberikan kasih dan pengampunan. Mengoreksi itu akan dapat dilakukan setelah seseorang merasa diterima dan dikasihi. Ia akan membuka diri dan hatinya untuk dikoreksi. Mari kita semua belajar untuk membagikan kasih dan bukan penghakiman.

Amin.

Comments on: "Menghakimi" (4)

  1. FB Comment from VH: aku gk pernah di tag tp commet paling dulu hahaha
    Yup mari belajar….

  2. FB Comment from RS:
    Memang manusia lebih mudah dan menginginkan segala sesuatunya instan. Solusi instan.
    Ada yang tidak beres, langsung tembak.
    Ada yang (maaf) beragama lain, langsung negur.
    Ada yang kurang sempurna, langsung dicaci maki.

    …Segala2nya instan, sementara mereka sendiri tidak memberikan usaha dan upaya untuk menjadikan orang yang dia tegur menjadi lebih baik.

    Singkatnya, being part of the problems and not being part of the solutions.

    Padahal, manusia adalah makhluk sosial, dan manusia mempunyai hasrat terpendam
    untuk dimanusiakan,
    untuk dimengerti,
    untuk dihargai

    walaupun mereka melakukan suatu kesalahan.

    Seperti orang yang kehabisan udara di dalam air, mereka menginginkan udara untuk bernafas, bukan teguran atau bahkan nasehat untuk cara berenang.

    Inilah yang disediakan Tuhan bagi mereka yang memerlukan. Tuhan Yesus menyediakan udara untuk bernafas bagi perempuan di atas itu, baru memberikan nasehat bagaimana cara untuk ‘berenang mengarungi hidup’

    Coba bandingkan dengan orang Farisi.
    That’s my 2 cents🙂 actually kebanyakan, jadi 20 cents. Haha.

    Thanks.
    Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: