All for Glory of Jesus Christ

Pengikut

Hari ini pembahasan saya adalah mengenai kebiasaan menjadi pengikut. Apakah salah menjadi pengikut? Kalau dalam kadar yang normal tidak salah. Contoh: Anda di kantor bekerja sebagai bawahan. Kepada atasan Anda jelas Anda harus menghormati dan tunduk kepadanya. Tentu saja jika perintah atasan Anda merupakan hal yang benar.

Hal ini bukan hanya berlaku kepada atasan. Setiap pihak yang memiliki otoritas di atas kita, kita harus tunduk. Kepada Tuhan, itu sudah jelas. Kepada orang tua, kepada suami (jika Anda seorang istri) jelas Anda harus tunduk. Tentu saja tunduk ini bukanlah tunduk secara membuta. Untuk hal yang salah, Anda perlu memberitahukan kepada otoritas di atas Anda tersebut.

Dalam buku “Pernikahan Plus” yang ditulis Ray Mossholder dibahas mengenai istri harus tunduk kepada suami. Namun jika sang suami salah, istri wajib mengoreksi sang suami dengan kasih. Jika sang suami tetap tidak bisa dikoreksi dengan kasih, istri wajib mendoakan terus sang suami.

Diberikan contoh kasus Safira yang tunduk kepada Ananias (Kisah Para Rasul 5: 111) dalam membohongi Tuhan berkaitan dengan persembahan. Akhirnya karena sikap tunduk yang keliru, Safira ikut mendapatkan ganjaran yang sama atas kekeliruannya itu. Ya, mati seketika itu juga. Mengerikan bukan?

Jadi di sini saya ingin membagi dua pembahasan bahwa untuk menjadi pengikut dalam kadar yang normal dan untuk tunduk kepada otoritas di atas kita itu adalah hal yang sudah semestinya. Saya akan membahas sisi yang satu lagi dari kebiasaan menjadi pengikut, yaitu dilihat dari kebiasaan buruk.

Kebiasaan menjadi pengikut adalah keengganan untuk memimpin, menjadi kepala, mengambil tanggung jawab untuk mengatur, dan menyerahkan hal itu kepada orang lain. Jadi sebisa mungkin sang pengikut ini akan ikut arah angin. Ke arah angin bertiup, ke situlah ia condongnya.

Dari pembahasan mengenai “Personality Plus” yang sudah lalu, kita mendapatkan informasi bahwa terdapat empat golongan besar pembagian kepribadian manusia. Berkaitan dengan sikap menjadi pengikut ini umumnya paling banyak menjangkiti orang dengan kepribadian Plegmatis.

Mengapa demikian? Ada dua sebabnya. Sebab pertama adalah karena orang Plegmatis cenderung membenci konfrontasi dan konflik. Menjadi pemimpin, penanggung jawab, dan pengatur itu peluang konfrontasi dan konfliknya besar, apalagi melibatkan banyak orang. Oleh karena itu, bagi orang Plegmatis akan menjadi lebih aman jika ia cukup menjadi pengikut saja.

Sebab kedua karena orang Plegmatis memang tidak menyukai keterlibatan dan ia lebih suka santai. Jika harus menjadi ketua atau kepala, itu dia harus terlibat dan sangat sibuk, tidak ada kesempatan untuk bersantai. Jadi ia lebih suka menjadi pengikut saja. Aman!

Dari ketiga karakter yang lain, orang dengan kepribadian Kolerik yang paling memiliki sedikit kecenderungan untuk menjadi pengikut karena memang sifatnya yang secara alami memimpin. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan orang dengan kepribadian Kolerik akan menjadi pengikut.

Kembali saya mau menegaskan, jika memang telah diatur bahwa kita harus menjadi pengikut atau anggota, itu tidak masalah. Tidak harus semua orang menjadi ketua dan kepala. Akan tetapi menjadi masalah kalau saat kita ditunjuk atau diminta menjadi ketua, kita mengelak dengan berbagai alasan yang intinya adalah karena memang lebih suka menjadi pengikut.

Ulangan 28:13: TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,

Firman Tuhan dalam Ulangan 28:13 sudah sangat jelas mengenai hal ini. Tuhan ingin yang terbaik bagi kita. Ia ingin kita menjadi kepala, bukan ekor. Artinya Tuhan ingin kita bukan hanya memiliki kecenderungan untuk menjadi pengikut, apalagi pengikut yang pasif.

Jika kita memang diberi kepercayaan dan kesempatan untuk memimpin, memimpinlah dengan sebaik-baiknya. Tuhan tahu benar kemampuan kita. Tuhan jga tahu benar kelemahan kita. Ia mengetahui keseluruhan diri kita. Oleh karena itu, jika memang Ia memberi kesempatan kepada kita untuk memimpin, itu jelas bukan suatu hal yang kebetulan.

Di dalam Tuhan tidak ada yang sifatnya kebetulan. Kebetulan itu berarti sesuatu yang terjadinya sesuai dengan peluang (probabilitas) tertentu. Jadi bisa terjadi, bisa juga tidak. Jika dalam Tuhan ada yang bersifat kebetulan, berarti Ia bukan Tuhan karena dapat dikalahkan oleh probabilitas kejadian.

Bersiaplah untuk menjadi pemimpin-pemimpin yang terbaik. Jika sekarang kita masih berada dalam tahap menjadi pengikut, tetap setia. Ingat:

Lukas 16:10: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

Jika kita tidak setia dalam tahap menjadi pengikut, maka kita tidak akan dipercaya menjadi pemimpin. Maka persiapkan diri kita dari sekarang, karena jika kita setia, Tuhan yang setia sudah berjanji: siapa setia dalam hal kecil akan dipercayakan hal yang besar.

Siap menjadi pemimpin?

Amin.

Iklan

Comments on: "Pengikut" (5)

  1. FB Comment from SM: bagaimana untuk menjadi pemimpin dirinya sendiri ?

    • Memang langkahnya selalu mulai dari diri sendiri dulu baru bisa berangkat ke memimpin orang lain. Untuk memimpin diri sendiri: harus tahu mengenai diri sendiri (kekuatan dan kelemahan).

      Untuk bisa tahu mengenai diri sendiri itu jug…a harus disertai dengan mengenal Tuhan. Mengapa demikian? Karena Tuhan sang pencipta manusia, jelas Ia yang paling tahu seluruh keberadaan kita.

      Untuk bisa kenal Tuhan, kita buka hati dan undang Tuhan masuk dalam hidup kita (ini yang sudah saya bahas di notes “For the Love of Myself” itu). Lalu dari sana, tentu saja kita perlu mengenal Tuhan dari kebenaran Firman-Nya (perlu baca Alkitab setiap hari, merenungkannya, dan melakukannya).

      Pada saat itulah kita akan bisa menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan bahkan bagi orang lain. Pada hakekatnya, seluruh keberadaan manusia tidak bisa terlepas dari keberadaan Tuhan yang menciptakannya. Untuk menjadi pemimpin, perlu kenal dan dekat dengan Tuhan dulu.

      • FB Comment from KRC: salah 1 cara menjadi pemimpin adalah…
        stop being floating mass.
        you born original, don’t die a copy.
        God put’s more than thousand originality in you, you just don’t realized it.

        …semua tindakan kecil yang menginspirasi, menggerakkan, memberi antusiasme baru, itu semua adalah kepemimpinan.

        apakah hal2 kecil yang bisa menyentuh dan mengubahkan?
        ga cuma khotbah koq, kadang sebuah senyum saja bisa melegakan beban orang lain yang menderita. kata-kata hiburan yang diucapkan tepat waktu(bukan lecture). waktu yang disisihkan untuk mendengarkan pun bisa menginspirasi.

        jadi seberapa banyak hidup orang lain yang sudah berhasil anda sentuh sehingga ada perubahan(baik tentunya).
        ketika anda menyentuh mereka, secara tidak langsung anda adalah pemimpin mereka.
        jaga hati supaya motif tindakan itu tetap murni buat Tuhan.
        intinya kepemimpinan adalah pelayanan dengan cinta.

        God bless.

  2. FB Comment from RS:
    I believe untuk mengoreksi suami diperlukan kesabaran luar biasa, penundukan diri luar biasa kepada otoritas Tuhan, dan penerimaan apa adanya kepada suami. Inilah bentuk kasih yang bisa diaplikasikan istri kepada suami. Ini perlu dijelaskan… karena kasih yang diperlukan istri dari suami berbeda dengan kasih yang diperlukan suami dari istri, yaitu Respect.

    Di Ulangan 28:13, orang2 paling suka bagian ini:
    “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,”

    Tetapi selalu melupakan bagian selanjutnya:
    “apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,”

    Padahal, yang terakhir ini adalah syarat supaya bagian pertama digenapi. Just want to stress this one.

    Overall, thank you.

    Marilah kita belajar untuk menjadi pemimpin dengan menjadi pengikut Tuhan Allahmu, mendengarkan perintahNya dan melakukannya dengan setia.

    Gbu
    R

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: