All for Glory of Jesus Christ

Nekat

Hari ini saya akan membahas mengenai kebiasaan nekat. Apakah nekat itu? Nekat adalah melakukan sesuatu tanpa pertimbangan, terutama jika dilakukan untuk hal-hal yang dapat membahayakan diri dan kelangsungan hidup.

Bagi stuntman atau stuntwoman (orang yang menggantikan aktor/aktris dalam adegan-adegan berbahaya) itu tidak termasuk nekat, karena mereka telah membuat sistem pengamanan tersendiri dan menggunakan teknik-teknik tertentu.

Lalu seperti apakah nekat itu? Nekat itu tanpa hikmat, jadi kalau ada suatu rencana ya dilaksanakan begitu saja dan begitu ada permasalahan yang timbul barulah berpikir cara untuk mengatasinya. Dua perkataaan yang paling sering dikatakan oleh orang nekat adalah “bagaimana nanti” dan “lihat saja nanti”.

Seharusnya bukan “bagaimana nanti” tetapi “nanti bagaimana”. Jadi harus ada pertimbangan-pertimbangan dalam melakukan segala sesuatu.

Amsal 3:21: Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,

Jika pertimbangan dan hikmat tidak kita gunakan dalam segala sesuatu, apalagi hanya mengikuti emosi (perasaan) belaka ini biasanya probabilitas terjadinya kejadian yang buruk tinggi. Memang Tuhan mengaruniakan intuisi kepada manusia (terutama pada wanita), juga Tuhan memberikan Roh Kudus untuk menuntun hidup kita.

Akan tetapi Tuhan juga memberikan kita hikmat. Jika intuisi itu benar dari Tuhan, maka pasti tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Jika sungguh itu adalah tuntunan dari Roh Kudus, pasti tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.

Tuhan adalah Allah yang konsisten. Ia tidak plin-plan, tidak plintat-plintut. Jadi tidak mungkin sehari Tuhan berkata A dan keesokannya berkata B. Kalau itu yang terjadi, sudah pasti itu bukan Tuhan yang berkata-kata.

Lalu bagaimana dengan perkataan “dicoba saja dulu, kalau tidak dicoba tidak tahu”. Nah untuk ini, benarnya setengah. Dalam arti kalau kita tidak mencoba, memang kita tidak akan tahu hasilnya. Akan tetapi tidak semua hal harus dicoba dulu untuk tahu hasilnya.

Contoh: merokok dapat menyebabkan sakit kanker, impotensi, dan lain-lain. Lalu Anda menyangsikan itu dan ingin mencoba untuk membuktikan kebenarannya. Inilah salah satu contoh nekat.

Mungkin Anda tidak mati seketika kalau merokok, tapi kalau harus menanggung resiko untuk sesuatu yang sudah Anda ketahui, bukankah ini sesuatu yang sia-sia dan sangat tidak perlu?

Contoh lain: memasuki pernikahan tanpa tahu karakter, kebiasaan, dan berbagai macam hal mengenai pasangan kita. Ini juga nekat. Jangankan pernikahan, kita membeli barang saja kita periksa dengan teliti bukan? Kita pilih dengan seksama bukan? Kita pastikan ukurannya pas bukan?

Bagaimana bisa kita menikah dengan nekat? Ibaratnya nekat itu terjun dari pesawat tanpa parasut. Peluang matinya tinggi sekali, kalau ada yang bisa selamat itu adalah kasih karunia Tuhan.

Saya teringat status yahoo messenger salah satu teman saya di forum jawaban.com. Di statusnya dia menuliskan “Apa bedanya antara iman dengan nekat?”

Ada suatu perbedaan yang cukup mendasar. Kalau bertindak berdasarkan iman, memang kita belum melihat bukti di depan mata, tapi memang hal yang kita lakukan itu sesuai dengan kehendak Tuhan, sesuai dengan talenta kita, dan memang kita mendapatkan arahan dari Roh Kudus untuk bergerak.

Tapi hati-hati untuk yang terakhir ini memang perlu sangat waspada, jika keliru fatal. Hal yang pasti Roh Kudus berbicara tidak akan berlawanan dengan Firman Tuhan. Kalau Roh Kudus menyuruh Anda untuk menikahi wanita lain padahal Anda sudah beristri ini pasti bukan suara Roh Kudus.

Jadi memang terdapat perbedaan mendasar, walaupun sama-sama belum melihat buktinya. Satu lagi yang perlu diingat: iman saja jika tanpa hikmat ini juga berbahaya. Contoh: kita mendapat tuntunan Tuhan untuk melakukan usaha A. Kita bergerak ke usaha A tapi tanpa kita mempersiapkan diri untuk mengetahui seluk-beluk usaha A.

Dalam hal itu, tetap saja inilah yang disebut sebagai nekat. Walaupun Tuhan menyuruh kita melakukan sesuatu, walaupun Tuhan bisa memberikan karunia-karunia Roh Kudus kepada kita, bukan berarti kita bisa menjadi pemalas dan tidak mempersiapkan segala sesuatunya.

Bisa saja terjadi ada kalanya pada saat kita bercita-cita sesuatu, kita sudah mempersiapkannya, namun ternyata Tuhan membelokkan cita-cita (impian) kita. Ini juga bisa saja terjadi. Tetapi kalau Tuhan membelokkan cita-cita (impian) kita, pasti impian baru yang Tuhan taruhkan dalam hati kita itu tidak akan keluar dari talenta yang kita miliki dan juga tidak akan berseberangan dengan kebenaran Firman-Nya.

Lalu bagaimana dengan impian lama kita? Apakah sia-sia kita telah mempersiapkannya? Tidak! Jika sesuatu diizinkan Tuhan, itu pasti ada alasannya. Entah untuk memberikan dasar pengetahuan bagi kita, entah untuk membentuk karakter kita. Hal yang pasti itu akan membawa kebaikan: bagi kita, juga bagi sesama.

Bagi yang mau nekat, saya tidak melarang tapi Anda harus siap dengan resiko dan konsekuensinya. Selamat berpikir dan semoga Anda sampai ke keputusan yang tepat.

Amin.

Comments on: "Nekat" (4)

  1. FB Comment from HK: Dalam hidup ini I think kita harus punya God and guts….

  2. FB Comment from R: Kalo org mw brspekulasi dlm bisnis mengikuti insting..pdhl sblm’y blm pnah itu tmsuk nekat bkn ci?

    • Tergantung. Kalau memang insting diikuti dengan persiapan dan pertimbangan matang, lihat potensi pasar dll, ga nekat. Tapi juga memang perlu tanya Tuhan, itu memang perlu dilakukan ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: