All for Glory of Jesus Christ

Seks Tanda Cinta

Pembahasan ini sebenarnya secara judul mirip dengan artikel “Sex Tanda Cinta?” akan tetapi kontekstualnya berbeda. Kalau “Sex Tanda Cinta?” kontekstualnya adalah pada hubungan pranikah (pacaran) sedangkan pembahasan kali ini adalah pada pembahasan pascanikah (berkeluarga).

Sebenarnya istilah yang tepat adalah hubungan seksual dan bukannya seks. Karena seks itu arti sesungguhnya adalah alat kelamin. Tapi untuk singkatnya baiklah tidak masalah jika kita menghilangkan kata “hubungan” di sini.

Para suami dan istri, artikel hari ini khusus saya bahas untuk Anda. Semoga artikel ini bisa menembus pemikiran Anda dan membuat suatu tatanan pemikiran yang baru. Seks sungguh merupakan tanda cinta bagi para pasangan suami istri.

Saya baru saja menamatkan membaca buku “Pernikahan Plus” yang ditulis oleh Ray Mossholder. Salah satu yang dibahas di sana adalah mengenai kehidupan seksual pasangan suami istri. Saya akan menuliskan beberapa intisari yang dibahas di sana untuk menjadi bahan pemikiran Anda.

Hubungan seksual merupakan suatu kado yang indah dari Allah untuk setiap pasangan suami istri. Sebuah kado yang dibuka sebelum waktunya akan menghilangkan sensasi kebahagiaan saat menerimanya. Bayangkan Anda mendapat kado beberapa hari sebelum ulang tahun Anda dengan pesan bahwa Anda hanya boleh membukanya pada hari ulang tahun Anda.

Ternyata rasa penasaran Anda jauh lebih besar dari kepatuhan Anda pada isi pesan si pemberi. Ketika dibuka ternyata memang bagus, akan tetapi akan lebih baik jika Anda menunggu pada hari ulang tahun Anda untuk membukanya.

Mengapa? Karena penantian itu memiliki suatu nilai tersendiri. Penantian menimbulkan suatu antisipasi dan sensasi tersendiri. Penantian meningkatkan kesenangan saat melihat dan membuka kado tersebut. Segala sesuatu indah pada waktunya.

Masalahnya adalah ada pasangan suami istri yang tidak bisa menikmati keindahan itu. Padahal hubungan seksual memang khusus diciptakan Allah untuk pernikahan. Saya akan mengutip satu kalimat dalam buku tersebut:

“Allah memaksudkan seks antara seorang suami dan istrinya untuk menciptakan suatu keakraban yang penuh kasih sayang yang membuat dua orang yang berbeda menjadi “satu” sepanjang hayat.”

Seks itu kudus, indah adanya. Suami dan istri perlu menikmati hubungan seksual itu. Malah sesuatu yang salah jika pasangan suami dan istri merasa hubungan seksual sebagai sesuatu yang kotor.

Rambu-rambu untuk para suami-istri dalam hubungan seksual yang saya dapatkan dalam buku ini adalah:

  1. Seks secara ekslusif dirancang bagi suami istri, yang benar-benar hanya mereka berdua saja.
  2. Jangan ada tindakan seksual yang dipaksakan jika hal itu menyakiti salah satu pasangan.
  3. Tidak boleh ada rasa sakit yang terlibat dalam tindakan seks.
  4. Seks haruslah menjadi tindakan pemberian dan bukan pemaksaan.

Dalam kaitannya dengan poin pertama yang dapat saya bahas adalah pornografi dan percabulan tidak berkenan di hadapan Allah. Hubungan seksual hanyalah untuk satu suami dan satu istri.

Para suami, membayangkan wanita lain saat berhubungan seksual dengan istri Anda itu adalah perzinahan karena Anda menghadirkan orang ketiga dalam hubungan seks yang seharusnya bersifat ekslusif. Hal yang sama juga berlaku bagi para wanita.

Berkaitan dengan poin dua yang dapat saya bahas adalah hubungan seksual merupakan tindakan kasih. Oleh karenanya tentu saja tidak boleh ada unsur pemaksaan ataupun menyakiti pasangan.

Di dalam buku ini dibahas bahwa hubungan seks anal itu disingkirkan oleh Allah karena resiko infeksi yang tinggi dan dapat menimbulkan penyakit. Dalam hal itu juga berarti hubungan seks oral juga termasuk dalam kategori yang sama. Ditulikan bahwa

“Affection (kasih sayang) dan infection (infeksi) tidak bisa berjalan bersamaan.”

Dalam poin ketiga hal yang dapat saya bahas adalah hubungan seksual seharusnya tidak menimbulkan rasa nyeri. Jika hubungan seksual menimbulkan sakit, ini perlu diperiksakan ke dokter untuk mengetahui kemungkinan gangguan yang terjadi.

Poin keempat hubungan seksual merupakan ungkapan pemberian kasih yang besar dari seorang suami kepada istri dan sebaliknya. Bagaimana bila sang istri lelah sedangkan sang suami menginginkan hubungan seksual? Dalam hal ini, tentu saja harus didasari oleh kasih. Jika memang kasih menjadi dasar dalam pernikahan, masalah ini tidak akan menjadi suatu hal yang rumit dan berlarut-larut.

Hal yang sangat menarik dibahas dalam buku ini adalah organ seks yang paling penting di tubuh manusia adalah otak. Saya sangat tergelitik ketika membaca hal ini. Ternyata ada kelanjutannya. Komunikasi yang lembut dan penuh kasih terhadap istri ini sangat penting, bahkan jauh sebelum hubungan seksual berlangsung.

Para istri perlu berdandan dan berpakaian (atau tidak berpakaian) untuk menyenangkan para suami. Hubungan seksual merupakan kerja sama antara suami dan istri karena memang nature antara tubuh seorang pria dan wanita itu berbeda.

Semoga pembahasan ini dapat menembus batas pemikiran para suami dan istri sehingga seks merupakan tanda cinta bagi suami/istri Anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: