All for Glory of Jesus Christ

Sisi Mata Uang Logam

Memasuki bulan September tentu saja kita akan masuk tema baru. Tema bulan ini adalah “Menembus Batas”. Jadi saya akan membahas berbagai tema yang kemungkinan menggelitik pikiran Anda.

Topik hari ini adalah mengenai cara pandang. Ada berapa sisi dalam satu mata uang logam? Nyaris semua orang, termasuk saya berkata dua. Suatu hal yang umum dipakai oleh semua orang. Teori probabilitas mengenai uang logam selalu akan mengatakan uang logam memliki dua sisi. Jadi, untuk mendapatkan masing-masing sisi terdapat peluang 50%.

Hal yang menarik ketika saya menuliskan komentar mengenai hal tersebut di blog salah seorang kenalan baru saya, yang saya harap dapat menjadi teman saya. Dia katakan bahwa terdapat tiga sisi dalam satu mata uang logam dan sisi yang sering tidak terperhatikan adalah sisi ketebalan uang logam.
Menarik sekali ya? Saya juga sebelumnya tidak pernah memperhatikan hal ini. Oleh karena itu, dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang saya alami akhir-akhir ini, saya mendapat topik bulan ini “Menembus Batas”.

Cara pandang kita ditentukan oleh banyak hal. Mulai dari tata nilai yang kita pegang, pendidikan dalam keluarga, pendidikan formal maupun informal yang kita miliki, pengalaman-pengalaman yang dialami, dan perjumpaan dengan orang-orang.

Cara pandang kita bisa bergeser, bahkan berubah 180 derajat. Cara pandang kita sangat penting karena akan menentukan cara kita melihat hidup. Cara kita melihat hidup akan menentukan hidup kita.

Saya akan mengetengahkan satu buku novel yang menceritakan mengenai perubahan cara pandang yang pada akhirnya mengakibatkan perubahan cara hidup. Buku ini ditulis oleh John Grisham berjudul “Street Lawyer”. Buku yang entah sudah berapa tahun yang lalu saya baca.

Dikisahkan ada seseorang bernama Michael Brock yang tadinya berprofesi sebagai pengacara di kantor pengacara ternama. Lalu terjadi suatu kejadian penyanderaan di kantor itu dan polisi menembak penyandera itu. Ketika hal itu terjadi, Michael lalu menelusuri penyebab penyanderaan itu.

Michael lalu bertemu dengan Mordecai Green, seorang aktivis pengacara jalanan. Dari sana, Michael lalu menemukan bahwa kantor pengacara tempatnya bekerja terlibat suatu kejadian yang menyebabkan meninggalnya sejumlah orang dari tempat pemukiman gelandangan.

Itulah titik balik dalam kehidupan Michael. Ketika mencoba mengetengahkan hal itu kepada kantor pengacara tempatnya bekerja, Michael malah dituduh menjadi pelaku kejahatan. Akhirnya Michael berusaha membuktikan dirinya tidak bersalah dan menjadi pengacara jalanan.

Kerja keras Michael akhirnya berbuah. Kantor pengacara itu akhirnya menemukan pengacara yang memang bertanggung jawab atas kejadian yang menyebabkan tewasnya sejumlah orang di pemukiman gelandangan.

Dalam dunia yang penuh dengan berbagai macam informasi, kita bisa terheran-heran akan begitu banyaknya informasi yang ada. Semua informasi yang ada dapat mempengaruhi cara pandang kita, entah dalam hal positif atau negatif. Lalu bagaimana?

Adalah tugas kita untuk menjadi kritis dalam berpikir dan melihat sesuatu. Hal ini memang tidak mudah, terutama bila kita memang terbiasa melihat sesuatu tanpa mengupasnya. Saya termasuk orang seperti itu. Saya terbiasa menerima sesuatu apa adanya.

WYSWYG (what you see is what you get) itu merupakan suatu istilah yang dalam komputer yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita lihat di layar, itulah yang akan dituangkan dalam kenyataannya. Misalnya dalam program-program aplikasi untuk mengetik, jika kita mengetik huruf “A” maka jika kita cetak kita akan mendapatkan huruf “A” tersebut.

Permasalahannya dalam hidup ini seringkali tidak WYSWYG. Lalu bagaimana cara kita untuk mengetahui bahwa cara pandang kita terhadap sesuatu itu sudah benar? Ada tiga cara:

1. Dengan hikmat. Tuhan memberi kita akal pikiran tentu saja untuk berpikir. Tetapi bukan sekedar berpikir, kita sangat membutuhkan hikmat. Hikmat ini dimulai saat kita hidup sesuai kehendak Tuhan. Baca dalam “Hikmat” untuk pembahasan lebih lanjutnya.

2. Dengan pandangan pihak lain. Dalam hal ini, kita perlu menggunakan hikmat kita untuk memilih pihak yang akan kita mintai pendapatnya. Terkadang saat kita sendiri melihat suatu permasalahan, kita bisa jatuh pada melihat dari suatu sisi miring tertentu (deviasi).

Deviasi akan semakin besar saat kita semakin terlibat dalam suatu permasalahan. Contoh: kekasih kita meminta putus hubungan. Saya cukup yakin deviasi cara pandang kita akan jauh lebih besar daripada jika ada teman yang bercerita bahwa kekasihnya meminta putus hubungan dengannya.

Meminta pandangan dari pihak lain dapat membantu kita untuk mengurangi deviasi tersebut. Bukankah “Berdua lebih baik daripada seorang diri”? Karena saat kita tidak bisa melihat suatu permasalahan secara jernih, orang yang kita mintai bantuan dapat melihatnya secara obyektif.

3. Dengan meminta tuntunan Roh Kudus. Tuhan Yesus memberikan kepada kita Roh Kudus untuk menolong dan menuntun kita dalam hidup ini. Dalam hal ini diperlukan suatu hubungan yang akrab dengan Roh Kudus untuk benar-benar mengetahui tuntunan-Nya. Ingat: dalam hidup tidak pernah ada yang sifatnya instan. Semua itu ada prosesnya.

Mari kita arahkan hati dan pikiran kita pada Tuhan senantiasa. Hikmat (akal pikiran dan kebijaksanaan) kita sendiri bisa salah. Pandangan dan hikmat orang lain bisa salah. Ketika kita tidak sungguh-sungguh mendengar suara Roh Kudus dan mengira itulah suara Roh Kudus, jelas yang kita peroleh akan salah.

Tetapi saat kita arahkan hati dan pikiran kita pada Tuhan senantiasa, Tuhan akan membimbing kita untuk memiliki cara pandang yang tepat dalam kehidupan. Entah kita peka atau tidak mendengar suara Roh Kudus, entah kita memiliki hikmat atau tidak, entah kita memiliki orang-orang yang dapat kita mintai pandangannya atau tidak, jika memang kita hidup dengan senantiasa berpijak pada kehendak Tuhan, pasti Tuhan bisa membukakan tuntunan-Nya bagi kita.

Ya, Ia adalah Allah yang tidak terbatas. Kalau Ia dibatasi oleh kepekaan kita, berarti Ia bukan Allah yang Maha Kuasa. Kalau Ia dibatasi oleh hikmat yang kita miliki, berarti Ia tidak Maha Kuasa. Bahkan kalau Ia dibatasi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, Ia tidak Maha Kuasa.

Karena Ia Maha Kuasa, asalkan kita memang sungguh hidup seturut kehendak-Nya, Ia akan bisa membukakan, mengubahkan, memulihkan, membaharui cara pandang kita. Saat cara pandang kita sudah seturut kehendak Tuhan, saat itulah hidup kita juga akan diubahkan.

Siap menembus batas cara pandang yang keliru?

(Catatan kaki: Terima kasih kepada Lex dePraxis untuk koreksinya mengenai tiga sisi mata uang logam).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: