All for Glory of Jesus Christ

Seks dan Berdoa

Pembahasan hari ini masih saya ambil dari buku “Pernikahan Plus” yang ditulis oleh Ray Mossholder. Konteksual artikel ini tentu saja dalam hubungan pernikahan. Jadi ini hanya diterapkan dalam pernikahan saja, di luar itu tidak. Apa hubungan antara seks dan berdoa? Banyak tentu saja hahaha.

Kalau ditanya mana yang lebih rohani antara seks dan berdoa? Keduanya sama rohaninya bahkan dalam hal-hal tertentu seks lebih rohani? Tercengang? Ingin protes? Mungkin akan ada yang berpikir begini. Sesuai yang saya tulis di “Prioritas”, bukankah prioritas pertama kita adalah Tuhan?

Jawaban saya adalah benar! Memang demikian. Artikel ini juga dibuat tidak untuk menyanggah atau berlawanan dengan artikel tersebut atau prinsip-prinsip yang saya telah tuliskan sebelumnya.

Relax! Perlahan-lahan saya akan mengantar Anda menembus batas pemikiran Anda. Doa adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Mengenai doa telah saya bahas dalam “Dimensions of Prayer” dan “Power of Prayer”.

Bahkan kalau saya boleh memberikan kesaksian berkaitan dengan doa, Tuhan bekerja dengan sangat luar biasa melalui doa. Ya, sebenarnya Tuhan tidak memerlukan doa-doa kita. Ia Allah yang Maha Kuasa yang melampaui apapun juga.

Mengapa kita perlu berdoa kalau begitu? Bukankah Ia yang Maha Tahu yang bahkan sudah mengetahui sebelum kita berdoa? Jawabannya karena Ia ingin membuat kita belajar lewat doa. Dalam doa ada unsur ketekunan, iman, kerendahan hati, dan tunduk kepada Allah.

Unsur doa inilah yang juga harus ada dalam diri setiap suami dan istri dalam pernikahan. Kembali ke topik hari ini, kapan saat seks dan doa menjadi sama rohaninya? Atau bahkan kapan saat seks lebih rohani daripada berdoa?

Sebelum saya menjawab hal ini sesuai dengan yang tertulis di buku tersebut, saya kembali akan menuliskan bahwa seks bukan satu-satunya hal yang ada dalam pernikahan. Masih banyak hal lain yang ada dalam pernikahan selain seks. Tetapi seks memiliki porsi yang penting, mengapa?

Karena puncak dari keintiman dan saling memberi dalam suatu pernikahan itu dituangkan dalam bentuk hubungan seksual. Dalam buku lain yang baru saya baca “Seks Dimulai dari Dapur” yang ditulis oleh Dr. Kevin Leman dituliskan bahwa:

“Seks ada dalam pernikahan. Seks hanya ada dalam pernikahan.”

Itulah kehendak Allah dalam pernikahan. Di luar pernikahan, seharusnya tidak ada hubungan seksual. Hari-hari ini seks menjadi terdegradasi (turun) nilainya sebagai sesuatu yang kotor, menjijikkan, dan murahan itu karena memang sudah menyimpang dari kehendak Tuhan.

Sekedar bocoran sedikit, artikel sesudah ini akan membahas “Seks Dimulai dari Dapur”. Nantikan saja hahahaa. Alkitab membahas dengan jelas bahwa hendaklah Anda memiliki pasangan yang seiman dan sepadan dengan Anda. Hal ini sudah dibahas dalam “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”.

Saat Anda tidak memilih pasangan yang sepadan, saat itulah Anda memikul beban yang seharusnya bukan beban Anda. Perbedaan iman berarti perbedaan cara pandang, perbedaan nilai, dan yang terlebih berat adalah perbedaan dalam mendidik nilai rohani anak-anak yang diperoleh dari pernikahan.

Bagi Anda yang telah memilih jalan itu, saya tidak sedang menghakimi Anda. Jika itu yang terjadi, bukanlah suatu kebetulan Anda membaca artikel ini.

Jika suami/istri Anda berbeda iman dengan Anda, berdoalah lebih banyak untuk mereka. Kasihilah istri Anda entah Anda mengerti atau tidak mengerti mereka (ini saya ambil dari buku “Pernikahan Plus”). Bahkan kadang-kadang seks menjadi lebih rohani dari doa, yaitu saat suami/istri Anda menghendaki hubungan seks, jangan menolak dengan dalih ingin berdoa.

Semakin Anda “rohani” dengan berdalih berdoa, melakukan segala macam kegiatan rohani, tetapi terus-menerus meninggalkan suami/istri Anda, bahkan menolak berhubungan seks karena ingin berdoa, ini akan menyebabkan suami/istri Anda semakin merasa marah karena Anda lebih memilih Allah daripada dirinya. Cemburu tepatnya.

Bukannya malah semakin tertarik kepada Tuhan, malah semakin benci dan menjauh karena merasa Tuhan merebut suami/istrinya. Ada satu kesaksian di buku “Pernikahan Plus” ini. Seorang wanita datang menangis kepada Ray Mossholder karena suaminya tidak suka ia melayani sebagai penyanyi di gereja karena ia begitu sibuk untuk melayani sampai-sampai suaminya merasa kesepian.

Lalu Ray Mossholder mengatakan kepadanya bahwa suaminya adalah orang yang perlu ia layani. Akhirnya sang wanita ini meninggalkan pelayanannya sebagai penyanyi di gereja dan 6 bulan kemudian sang suami akhirnya dimenangkan dan sekarang sang wanita melayani kembali sebagai penyanyi di gereja dan sang suami bersaksi dalam kebaktian-kebaktian itu.

Indah sekali bukan? Seks dalam pernikahan dapat menjadi lebih rohani daripada doa. Bahkan karena itulah Paulus mengatakan bahwa tidak boleh suami istri tidak memenuhi kebutuhan seksual pasangannya bahkan untuk berdoa, jika sang pasangan tidak setuju. Persetujuan pasangan ini penting.

Pernikahan bukan hanya semata mengenai seks, namun seks hanya ada dalam pernikahan. Semoga dengan membaca artikel ini dapat menembus batas pemikiran Anda mengenai seks dalam pernikahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: