All for Glory of Jesus Christ

Romantisme Picisan?

Sebelum masuk ke pembahasan hari ini saya akan membahas sejumlah hal yang menarik berkaitan dengan artikel-artikel terdahulu. Ternyata ada sejumlah teman yang secara pribadi langsung mengirimkan pesan lewat yahoo messenger kepada saya. Mengatakan berbagai komentar berkaitan dengan judul artikel yang saya jadikan status dalam yahoo messenger.

Hahahaha, saya geli sekali. Ternyata saya cukup berhasil membuat sejumlah orang penasaran. Mudah-mudahan Anda termasuk orang yang penasaran itu sehingga hari ini dan hari-hari berikutnya Anda kembali ke sini untuk membaca.

Bahkan satu hal yang menarik lagi. Sesuai topik bulan ini “Menembus Batas”, kemarin terjadi penembusan batas top hits artikel hahahaha. Ya saya jadi ingat ketika Bulan Juni yang lalu tepatnya di tanggal 1 Juni, topik saya membahas mengenai “Breakthrough” atau “Terobosan” ternyata saat itu juga terjadi breakthrough dan bahkan artikel itu oleh seorang teman baik saya dianggap sebagai breakthrough tersendiri.

Memang saya sangat percaya dalam Tuhan tidak ada yang sifatnya kebetulan. Saya benar-benar menikmati tercengang demi tercengang setiap harinya menyaksikan karya-Nya yang luar biasa.

Kembali ke artikel hari ini. Apakah kesan Anda saat membaca judul di atas? Mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat karena setuju? Atau menggeleng-gelengkan kepada dengan intensitas tinggi karena tidak setuju? Mari kita lihat saja pada akhir membaca artikel ini respon Anda kelak. Konteks artikel ini masih dalam pernikahan.

Ketika membayangkan “Romantisme” apa yang langsung tergambar dalam benak Anda? Bunga mawar merah? Coklat? Lagu cinta? Boneka-boneka lucu bertuliskan “I love you”, “I miss you”, “I need you” dan seterusnya-seterusnya itu? Ataukah puisi-puisi cinta? Lagu-lagu cinta yang khusus dibuat untuk si dia?

Saya yakin sebagian (terutama wanita) yang membaca sampai sini akan mengangguk-anggukkan kepala (dan saat awal saat membaca judul artikel ini akan menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat). Saya juga termasuk yang mengangguk-anggukkan kepala di sini dan menggelengkan kepala di awal.

Contoh lain dari romantisme yang saya akan tambahkan lagi: makan malam romantis ditemani lilin-lilin bernyala, dengan suara musik lembut di latar belakang, pada malam hari melihat bintang-bintang di kejauhan sana. Sudah ada yang menghela nafas dan berkata:

“Oh, so sweet?”

Hahahaha, mari kita eksplorasi lebih lanjut. Saya ingin memanjakan imajinasi Anda hari ini. Ketika malam hari melihat bintang-bintang berkilauan, Anda berbagi segelas coklat hangat sambil mengobrol menikmati indahnya pemandangan. Ketika sampai di hari yang padat dan melelahkan, si dia tiba-tiba menelpon dan mengatakan:

“I just want to say how much I love you.”

Ah, membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat mengetik ini. Bahkan ketika berjalan-jalan di tepi pantai melihat ombak berkejaran, entah sambil berkejar-kejaran juga atau membuat istana pasir bersama. Menunggu matahari terbit di kala pagi di tepi pantai atau menunggu saat matahari mulai tenggelam. Hanya bersamanya.

Atau bahkan hanya kata-kata sederhana:

“Kamu sangat berarti bagiku.”

Atau mungkin seperti yang saya telah tuliskan di satu novel saya “Sampai ke Keabadian”. Melamar seorang wanita di lantai paling atas Menara Eiffel, Paris. Melihat kelap-kelip bintang dan lampu-lampu di Menara Eiffel menyala.

Bagaimana? Sudah mulai mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum-senyum sendiri ketika membaca sampai sini pertanda setuju bahwa hal-hal itu romantis dan Anda tidak menganggap romantisme sebagai picisan? Ah ya, saya berharap ya. Kalaupun belum, saya akan terus membawa Anda sampai ke akhirnya.

Sekian banyak hal yang merupakan hal-hal romantis yang telah saya tuliskan tadi, sayangnya begitu bersemangat dilakukan baik sang pria maupun sang wanita hanya dikala hubungan pranikah (pendekatan, pacaran, tunangan). Ketika pernikahan sudah terjadi, maka hal-hal di atas menjadi romantisme picisan.

Ah sayang sekali, sangat sayang, beribu kali sayang. Mengapa demikian? Kebanyakan pria dan wanita yang sudah menikah memiliki pola pikir:

“Toh sudah dapat, sudah jadi suami/istri saya, untuk apalagi romantis-romantisan? Seperti orang tidak ada kerjaan saja.”

Dengan kata lain: romantisme picisan kalau sudah menikah.

Padahal romantisme itu penting sekali. Rutinitas keseharian akan membawa kepada kejenuhan. Kejenuhan yang tidak diatasi berpotensi kuat untuk menimbulkan konflik demi konflik. Kalau konflik demi konflik terus terjadi tanpa penyelesaian yang memuaskan, akhirnya timbulah kekecewaan.

Kekecewaan yang terus bertumpuk akhirnya meletup dan meledak, sehingga muncullah perceraian di mana-mana. Siapa yang bersorak paling senang? Ibliskah? Mungkin dia salah satu di dalamnya. Setidaknya sejumlah orang yang dapat mengambil keuntungan dari situ akan bersorak senang.

Hal yang pasti pernikahan dimaksudkan sekali saja sampai maut memisahkan, dan bukan sampai ketukan palu hakim memisahkan. Apa yang dipersatukan Tuhan jangan diceraikan oleh manusia. Selain masing-masing pasangan akan terluka, anak-anaklah yang menjadi korban paling besar dalam perceraian.

Oleh karena itu, artikel ini dibuat untuk meletupkan kembali cinta para suami istri. Romantisme sangat penting, bahkan sesudah menikah menjadi lebih penting lagi. Kalau dulu mungkin Anda berargumen romantisme penting karena:

“Ya, kan perlu untuk mendapatkan si dia.”

Setelah pernikahan maka Anda perlu berargumen lebih perlu lagi karena: para suami merupakan perpanjangan tangan Allah untuk menjadi pemimpin (leader) Anda, pelindung (protector) Anda, kekasih (lover) Anda, sahabat (best friend) Anda, dan penyedia kebutuhan (provider) Anda (hal ini sudah dibahas dalam “From Best Friend to Lover”, “Money in Relationship”). Sementara para istri merupakan perpanjangan tangan Allah untuk menjadi penolong (helper) Anda, kekasih (lover) Anda, sahabat (best friend) Anda, dan pemelihara (nurturer) Anda.

Bukankah harusnya lebih all-out lagi untuk saling memberikan keromantisan satu dengan lainnya? Tidak akan pernah romantisme menjadi picisan, kecuali jika Anda tidak pernah mempraktekkannya.

Para suami perlu belajar untuk menjadi romantis. Para wanita walaupun umumnya romantis, tapi ada juga yang tidak romantis. Jadi perlu belajar juga untuk romantis. Romantisme tidak hanya sekedar dan sebatas yang saya sudah sebutkan tadi di atas.

Masih banyak lagi hal yang dapat disebut dalam kategori romantisme. Bahkan Arlyn istri Ray Mossholder menyebutkan dalam buku “Pernikahan Plus” bahwa hal yang dianggapnya romantis adalah ketika mengecat bersama Ray. Ya, saat berdua saja dengan suami/istri itu merupakan saat yang romantis.

Saya bahkan melihat ada satu kejadian yang luar biasa romantis. Ketika di Paris saya melihat ada sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Sang suami dan istri ini berjalan sambil bergandengan tangan. Ketika akan keluar dari bis, sang suami membukakan dulu pintu untuk sang istri dan menunggu di bawah bis untuk menjaga sang istri turun. Cerita perjalanan saya dan keluarga dapat dibaca mulai “Cerita Perjalanan Bagian-1 (20 Juni 2009)”.

Ah romantis luar biasa! Romantisme tidak harus berakhir ketika pernikahan sudah dijelang. Romantisme harus bertahan sampai maut memisahkan.

Jika Anda di awal menganggukkan kepala dengan antusias sebagai tanda menyetujui bahwa romantisme adalah picisan ketika membaca judul artikel ini, saya berharap sampai sini Anda sudah menggelengkan kepala setidaknya dengan perlahan. Dalam arti Anda tidak menyetujui bahwa romantisme itu picisan dalam pernikahan.

Selamat menembus batas romantisme dalam pernikahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: