All for Glory of Jesus Christ

You don’t Know Me

Seberapa sering Anda bertemu dengan judul artikel tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Maksud saya bukan membaca judul artikel yang sama, tapi orang mengatakannya kepada Anda.

Pada dasarnya manusia memang kompleks. Terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. 3 unsur itu saja dalam diri manusia sudah membuatnya menjadi begitu kompleks. Ketika kita mencoba membuat suatu klasifikasi manusia, memang secara garis besar dapat kita bagi dua: pria dan wanita, tapi bahkan dalam 2 golongan besar ini pun tetap saja akan perlu kita buat klasifikasi lagi yang lebih khusus.

Pembagian klasifikasi manusia berdasarkan kepribadiannya merupakan suatu bentuk untuk memudahkan pemahaman yang sederhana kepada keragaman manusia. Pembahasan mengenai hal itu sudah pernah dilakukan dalam “Personality Plus”. Bahkan orang-orang dalam kelompok kepribadian yang sama sekalipun tetap sulit untuk benar-benar dimengerti 100%.

Mengapa demikian? Karena memang manusia diciptakan Tuhan unik adanya. Kembar pun itu unik, walaupun dari segi fisik mungkin mirip. Saya memiliki sejumlah teman kembar saat di SMP dan saya perhatikan bahwa mereka walau kembar berbeda dalam hal sifat, kesukaan, pembawaan, bahkan kalau sudah kenal benar fisiknya pun terlihat berbeda.

Hari ini saya akan membahas hal yang agak lain dari yang sudah saya tuliskan di atas. Saya sudah pernah membahas hal ini dengan seorang sahabat saya. Perkataan:

“You don’t know me.”

Ini bisa mengandung dua implikasi. Bisa berarti ya memang orang yang dilontarkan perkataan itu memang sungguh tidak mengenal dirinya atau satu lagi yang sering terjadi adalah bentuk tindakan defensif.

Hanya saja implikasi pertama pada umumnya tidak dinyatakan dalam bentuk kalimat judul artikel ini. Tapi paling sering orang berkata:

“Wah, saya tidak begitu kog.”

“Ah salah tuh.”

Atau kalimat-kalimat semacam itu. Perkataan “You don’t know me” biasanya bersumber dari rasa tidak aman dan rasa diserang sehingga merasa perlu mempertahankan diri. Bentuknya bermacam-macam dan bukan hanya lewat perkataan tersebut.

Saya sendiri mengakui bahwa saya masih berjuang mengatasi hal ini walaupun biasanya saya tidak menggunakan kalimat tersebut haahhaha. Seorang sahabat saya menyatakan dengan jelas kelemahan saya di sektor yang satu ini yang bahkan saya sendiri tidak menyadarinya. Membuat saya terdiam ketika teman saya menyatakannya dengan tegas.

Penyebab terutama yang saya dapatkan mengenai masalah self-defensif ini ada dua hal. Pertama: ketika memang tidak terbiasa menerima kritik yang dilontarkan. Kedua: ketika diri sedang berada dalam kondisi penuh tekanan.

Alasan satu dan dua saling berkaitan erat. Ketika tidak terbiasa menerima kritik, maka kita membuat suatu kondisi kritik sebagai tekanan tambahan yang masuk ke dalam diri kita. Ketika diri kita sedang dalam kondisi penuh tekanan, maka kita cenderung lebih memandang sesuatu secara personal.

Hal ini saya sadari karena pada umumnya memang pada saat saya paling lelah, baik secara fisik atau mental, mekanisme self-defensif saya paling cepat bekerja. Self-defensif ini bahkan sudah ada sejak zaman dahulu kala. Ya, ketika zaman Adam dan Hawa.

Ketika Tuhan mencari Adam dan Adam sadar dirinya berdosa, ia merasa suatu tekanan yang besar sehingga mekanisme self-defensifnya langsung bekerja: menyalahkan Hawa. Padahal kalau mekanisme itu tidak diaktifkan, saya cukup yakin hasilnya akan berbeda. Kalau saja Adam mengakui memang dirinya bersalah dan bukannya mengaktifkan mekanisme self-defensif, hasilnya akan berbeda jauh.

Begitu juga Hawa ketika Adam menjalankan mekanisme self-defensifnya, Hawa juga menjalankan sistem yang sama: menyalahkan ular (si Iblis). Akibatnya seperti kita semua sudah tahu, Adam dan Hawa akhirnya harus meninggalkan Taman Eden dan tinggal di bumi.

Saya masih belajar dalam area ini, sehingga penulisan artikel ini juga bertujuan untuk memberikan pembelajaran bagi saya. Ya, memang dalam penulisan artikel terkadang saya jadi belajar juga mengenai artikel tersebut dalam hidup saya.

Hal yang paling baik saat memang salah, diakui saja. Jika memang kita tidak salah, tidak perlu mengaktifkan mekanisme self-defensif. Jadi selain perlunya pembelajaran menerima kritik dan senantiasa bersuka cita, juga diperlukan kemampuan mendengarkan yang baik.

Dalam ketiga hal itu saya akui saya masih jauh di bawah standar rata-rata. Tapi membuat pengakuan dan mengambil langkah untuk perubahan, itu adalah langkah untuk terjadinya perubahan itu sendiri. Saya sedang di dalam proses tersebut dan saya menantang Anda yang memiliki kecenderungan tersebut untuk melakukan yang sama sehingga perubahan dapat terjadi.

Mari kita bersama-sama menembus batas self-defensif.

Comments on: "You don’t Know Me" (2)

  1. Reblogged this on P.E.L.A.N.G.I and commented:
    ternyata bilang “you don’t know me” tuh merupakan suatu bentuk self-defensif yah kak?? padahal sering bangett loh aq nyebut gini..,, sambil nyanyi kayak lagunya sapa gitu.. “you don’t know me, you don’t know me, you don’t know me at all”, hahahaha..:D
    kayaknya musti belakar lagi dah ini..:)

    • Tergantung, Beta. Bisa ya bisa engga seperti di pembahasan itu😀. Thanks ya udah komentar dan baca ya, saya seneng kalau ada yang baca apalagi ada yang komentar🙂. God bless you!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: