All for Glory of Jesus Christ

Rough Diamond

Hari ini pembahasannya tentang berlian kasar. Tentu saja bukan berlian dalam arti yang sesungguhnya, tapi berlian sebagai simbol saja. Saya yakin para wanita setidaknya tahu sedikit mengenai berlian.

Setidaknya dari pelajaran geografi dulu di sekolah kita mendapatkan pengetahuan mendasar mengenai berlian. Berlian adalah mineral yang tersimpan di dalam bumi, berbentuk seperti batu tapi berkilau.

Berlian kasar itu adalah berlian yang baru diambil dari bumi dan biasanya bentuknya tidak menentu, tidak terlalu berkilau karena bercampur dengan tanah dan debu. Kalau mau diperhatikan dengan seksama, kita setiap hari bertemu dengan “berlian kasar” di mana-mana.

Ya, berapa banyak dari Anda yang bertemu dengan orang-orang yang di luarnya menunjukkan karakter keras, kasar, mengesalkan, dan bahasa gaulnya itu jutek (galak)? Berapa banyak dari Anda yang setelah mengenal “berlian-berlian kasar” ini kemudian jadi berubah pikiran?

Sesungguhnya setiap orang pada dasarnya baik, karena Tuhan menciptakan manusia sungguh amat baik. Hanya saja manusia kemudian mengalami berbagai hal dan jangan salah, hal-hal tersebut pun sebenarnya dari skala yang paling buruk sampai skala yang paling baik tergantung respon manusia terhadapnya.

Respon negatif terhadap suatu peristiwa mengantarkan manusia kepada suatu perubahan dari yang tadinya sangat amat baik mulai berkurang kadarnya. Seperti berlian yang awalnya berkilau sempurna, setelah pemakaian sekian lama akan mulai memudar kilauannya.

Apakah respon Anda terhadap berlian milik Anda yang telah pudar kilauannya? Setahu saya, sejumlah toko berlian memiliki pelayanan pasca jual yang baik sekali berkaitan dengan itu. Jadi kalau Anda membeli berlian di suatu toko dan memang toko tersebut memiliki pelayanan pasca jual yang baik, Anda dapat meminta menggosok berlian Anda kapanpun jika memang berlian Anda sudah mulai pudar kilauannya.

Terhadap berlian yang Anda miliki, Anda bisa menggosoknya. Bagaimana terhadap “berlian-berlian kasar” yang Anda miliki? Suami/istri Anda? Anak-anak Anda? Kekasih Anda? Teman-teman Anda?

Ternyata seringkali kita lebih sayang pada berlian daripada “berlian”. Mengerti maksud saya? Ya, seringkali kita lebih menghargai berlian (benda) daripada “berlian” (manusia). Padahal Allah menempatkan “berlian” di atas apapun, bahkan begitu berharganya “berlian” itu sampai-sampai Ia mau memberikan nyawa-Nya bagi setiap “berlian”.

Kitalah “berlian-berlian kasar” itu. Semua dari kita adalah “berlian-berlian kasar”. Memang ada yang tingkat keredupannya banyak, ada yang relatif lebih sedikit, ada yang relatif lebih terpoles, ada yang sama sekali masih belum dipoles. Ada yang sudah dibentuk tertentu, ada juga yang masih dalam bentuk setengah jadi, ada juga yang masih dalam bentuk mentah.

Kitalah “berlian-berlian kasar” itu. Dari yang paling suci sampai yang paling bejat, itulah kita, sang “berlian-berlian kasar”. Oleh karena itu, seperti moto yang biasa tertempel di bis-bis kota, sesama “berlian kasar” dilarang saling menusuk.

Kalau mau melihat ke dalam diri kita, sesungguhnya masih banyak hal yang perlu kita perbaiki. Masih banyak hal yang perlu kita ubah. Masih banyak hal yang perlu kita kembangkan. Ketika orang lain memberikan saran perubahan, berarti kita mendapatkan bantuan untuk “menggosok” kilau kita. Untuk membuat kita semakin berkilau, semakin indah, untuk menjadi sempurna.

Proses penggosokkan memang tidak mudah, tidak menyenangkan, tapi itulah proses yang memang perlu kita alami. Hanya saja sayangnya sesama “berlian kasar” cenderung suka merasa “berlian” yang dimilikinya yang paling indah dan melihat “berlian” lain tidak seindah “berlian” miliknya.

Yah, itu keputusan kita. Apakah kita akan fokus pada melihat “berlian” orang lain atau fokus pada melihat “berlian” diri kita? Jika orang lain “menggosok” kita karena memang ia mengasihi kita dan memang ia ingin membentuk kita menjadi Perfect Shape Diamond, puji Tuhan.

Sayangnya orang cenderung tidak “menggosok” untuk memunculkan kualitas sesungguhnya dari si “rough diamond” malah hanya sekedar menilai, ingin tahu, dan biasanya tidak cukup berhenti sampai di situ. Proses-proses keji berikutnya juga terjadi: memotong “berlian” sehingga bentuknya menjadi rusak, cacat, dan kehilangan nilai sangat amat baiknya yang mula-mula.

“Berlian-berlian kasar” di manapun kau berada, kau berharga. Kau sangat indah dan memukau. Hanya saja kau belum menyadari itu. Kau begitu takut untuk memancarkan kilaumu. Kau begitu takut saat kau membuka dirimu, orang akan melihat “cacatmu” dan menolak engkau. Padahal tidak demikian, kau berharga, sadarilah itu.

Memang kau adalah “berlian kasar”, memang kau jauh dari sempurna, memang kau memiliki “cacat” di sana sini, tapi begitupun semua orang. Semua orang adalah berlian-berlian kasar. Semua orang punya “cacat”, semua orang punya kelemahan, semua orang punya keterbatasan.

Biarkan orang melihat itu. Tidak perlu menutupi dengan berbagai cara untuk terlihat sempurna dan berkilau, karena semua itu tidak membawamu ke mana-mana. Hanya membuatmu terperosok lebih dalam dan lebih dalam lagi: dalam rasa ketidakberhargaan.

“Berlian-berlian kasar” di manapun kau berada, mari bangkit. Mari saling “menggosok” satu dengan lainnya supaya semua menjadi semakin berkilau, semakin indah. Satu “berlian kasar” yang berubah dapat membuat satu perbedaan, namun bila semua “berlian kasar” berubah, maka akan mengubah dunia ini.

Mari kita terus menggosok “berlian kasar” yang kita miliki supaya bisa bersinar semakin indah setiap hari. Bersamaan dengan itu, mari kita bersama-sama menjadi penggosok “berlian-berlian kasar”, menerima mereka apa adanya, membantu mereka menunjukkan kilau mereka yang tersimpan di dalam.

Semoga artikel ini dapat menembus batas kesadaran dan menembus batas hati kita untuk bertindak sesuatu, terutama bagi “berlian-berlian kasar” di luar sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: