All for Glory of Jesus Christ

It’s Not My Cup of Tea

Ah, bicara tentang judul artikel ini jadi mengingatkan saya pada segelas jasmine tea yang harum dan hangat hahahahahaa. Yah, maklum saya penggemar berat jasmine tea.

Saya pertama kali mengenal frase ini pada suatu acara televisi “Dancing with The Star”. Hal ini sudah pernah saya ceritakan sebelumnya di “Cerita Perjalanan Bagian-8 (29 – 30 Juni 2009)”. Silakan membacanya jika Anda tertarik.

Arti dari frase ini adalah sesuatu hal itu adalah bukan selera saya. Pernahkah Anda pergi berbelanja dengan teman atau pasangan Anda? Bagaimana saat teman atau pasangan Anda menanyakan selera Anda mengenai sesuatu hal yang berbeda dengan seleranya?

Kejadian lain: Anda pergi makan bersama teman, pasangan, dan keluarga Anda. Ternyata mereka semua memiliki selera yang berbeda-beda. Bagaimana cara Anda menyikapinya?

Contoh lain lagi: saat Anda dan teman, pasangan, dan keluarga Anda berbeda pendapat akan sesuatu hal. Bagaimana cara Anda menghadapi hal tersebut?

Saya cukup yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah adalah Allah yang menyukai perbedaan. Buktinya: Ia menciptakan manusia berbeda-beda. Ada yang kulit putih, kekuningan, kecoklatan, sampai ke hitam. Warna mata dari biru, abu-abu, coklat, hitam. Masih banyak lagi kalau mau ditinjau. Itu hanya dari aspek fisik.

Belum lagi dari aspek karakter, kepribadian, latar belakang, dan lain-lain, begitu beranekaragamnya manusia ciptaan Tuhan ini. Jika Tuhan saja gandrung akan perbedaan itu, mengapa kita tidak?

Berbeda bukan berarti kita jadi harus menyama-nyamakan diri. Tidak juga. Tapi asalkan masing-masing bisa saling mengerti dan menghormati satu dengan lainnya, tidak akan ada masalah. Coba bayangkan kalau dunia ini isinya penuh manusia seperti Anda semua. Walau semenarik apapun diri Anda, kalau dunia ini isinya penuh dengan manusia yang sama dengan Anda pasti jadi tidak menarik lagi.

Bagaimana cara kita bertindak untuk menghadapi perbedaan ini? Kuncinya ada dua: kasih dan hikmat. Bukankah kasih adalah hal yang terbesar di atas segalanya? Bahkan melebihi hikmat sekalipun? Kasih akan membuat kita bisa mengerti orang lain dan hikmat bisa membuat kita menghormati orang lain.

Lalu bagaimana mengatasi perbedaan jika Anda ditanya? Misal mengenai selera dan Anda tidak menyukainya? Cukup katakan bahwa itu bukan selera Anda. Mengapa perlu takut untuk berbeda pendapat? Pada saat Anda mengatakan perbedaan pendapat, itu hal yang normal dan wajar. Hanya saja perlu Anda sampaikan dengan kasih dan hikmat.

Ada kalanya kita perlu belajar dari selera dan pendapat orang lain. Ada kalanya kita perlu bertahan dengan selera dan pendapat kita. Untuk tahu saat dan jenisnya, tentu saja kedua kunci tadi akan sangat berperanan: kasih dan hikmat.

Jadi siap mengatakan:

“It’s Not My Cup of Tea?”

Selamat menembus batas perbedaan selera dan pendapat.

Iklan

Comments on: "It’s Not My Cup of Tea" (2)

  1. Hallo san,gw bru liat blog ini,waah keren abiess 🙂
    I like it a lot,baru tau tyt kmu bikin blog ky gini hehehe
    Bagus bgt san,sharingnya,jd berkat jg buat gw,
    mau donk kirimin ke email gw alamat blognya.
    gw bru liat pas lo pasang di fb,thx yaah

    • Thanks, Lin :). Puji Tuhan kalau bisa memberkati lu. Ok, tar gua kirim email ya alamat blog gua. Kalau mau di-share ke temen2 yang laen juga boleh. Semakin banyak orang yang bisa dijangkau, berarti kemungkinan memberkati semakin gede hehehe. Gbu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: