All for Glory of Jesus Christ

Pernahkah Anda membuat surat kuasa? Dengan surat kuasa itu berarti memberikan kuasa kepada seseorang untuk melakukan sesuatu seperti yang dituliskan di dalamnya. Apakah dasar membuat surat kuasa? Kepercayaan bahwa seseorang akan melakukan sesuatu di dalam surat kuasa itu sebaik-baiknya.

Pada umumnya orang yang kita berikan kuasa untuk melakukan sesuatu adalah orang yang kita percayai. Setiap hari sesungguhnya kita sedang ditantang membuat surat kuasa. Oh ya? Masa? Ya, Tuhan setiap hari sedang menunggu kita membuat “surat kuasa”.

Jika Ia kita sebut Tuhan dan Raja, juga jika kita sebut Ia Juru Selamat, maka sudah selayaknya kita membuat “surat kuasa” untuknya setiap hari. Untuk apa? Untuk bertindak sesuai dengan kehendak-Nya bagi kita. Tuhan bisa saja bertindak bahkan tanpa “surat kuasa” kita. Jelas, Ia Tuhan yang Maha Kuasa.

Namun dalam sejumlah aspek, Ia menunggu kita benar-benar mengandalkan Dia, menaruh percaya kepada-Nya. Untuk apa? Untuk membentuk karakter kita, membuat kita bertumbuh.

Masalahnya adalah kita seringkali lebih ingin mengatur segala sesuatu sendiri. Kita lebih suka mengontrol hidup kita sendiri dan menempatkan Tuhan jauh-jauh di belakang. Setelah terjadi segala kekacauan dan kita bingung mencari jalan keluar, barulah kita ingat: ah, lupa, Tuhan ditaruh jauh-jauh di belakang.

Berarti kalau begitu, Tuhan bukan lagi Tuhan, tetapi ban serep. Anda tahu kan ban serep? Posisinya biasanya di bawah mobil atau di belakang mobil. Diperhatikan dan dibutuhkan hanya pada saat kondisi darurat: saat salah satu ban mobil tidak berfungsi dengan baik.

Tuhan mati bagi kita, bagi Anda dan saya, bukan untuk berfungsi sebagai ban serep. Ia adalah Allah yang luar biasa sopan. Jika kita mengesampingkannya, maka Ia tidak akan memaksa kita untuk mengedepankan-Nya. Namun jika kita mengesampingkan-Nya lalu persoalan mulai terjadi, jangan mulai marah kepada-Nya.

Kadang-kadang posisi Tuhan itu begitu serba salah. Sudah dikesampingkan, tetapi saat ada masalah masih menjadi kambing hitam. Begitu ada masalah baru dicari dan diharapkan menyelesaikan masalah secepatnya.

Tuhan bukan juga jalan pintas. Bukan kopi dan mie instan yang begitu diseduh jadi. Walaupun Tuhan bisa membuat berbagai mujizat, Tuhan tidak setiap kali bekerja secara instan. Mengapa demikian? Karena Ia lebih ingin kita bertumbuh dalam karakter kita dan mengenal Dia secara utuh, bukan hanya terkagum-kagum akan pesona kuasa dan kekuatan-Nya untuk kemudian setelah itu kembali tenggelam dalam kesibukan kita.

Seperti Kristus yang mengatakan “In manus tuas commendo spiritum meum (into your hands I entrust my spirit)” sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya, sekarang kita dituntut kepercayaan 100% kepada Tuhan. Ia minta kita mempercayakan seluruh diri kita: tubuh kita, jiwa kita, roh kita kepada-Nya. Ia minta kita mempercayakan seluruh hidup kita.

Percaya dan berserah kepada tuntunan dan bimbingan Tuhan bukan berarti kita diam saja dan tunggu Tuhan yang bekerja, tetapi justru kita aktif melakukan hal yang Tuhan mau: kehendak-Nya.

Hari ini apa yang Tuhan katakan kepada Anda? Lakukan itu. Jangan banyak tanya, lakukan saja. Percaya bahwa kalau Ia meminta Anda melakukan sesuatu berarti Ia merancangkan hal yang luar biasa bagi Anda.

Siapkah Anda menembus batas untuk percaya dan berserah penuh kepada-Nya?

Iklan

Comments on: "Surat Kuasa, Ban Serep, dan Produk Instan" (2)

  1. sangat bagus….artikelnya,,,,terus uptudatekan ya,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: