All for Glory of Jesus Christ

Topik hari ini diambil dari kata-kata Latin berikut: nisi Dominus frustra (if not the Lord, [it is] in vain). Jika bukan Tuhan, maka sia-sia. Hal ini merupakan kependekan dari Mazmur 127, “nisi Dominus aedificaverit domum in vanum laboraverunt qui aedificant eam nisi Dominus custodierit civitatem frustra vigilavit qui custodit” (unless the Lord builds the house, they work on a useless thing who build it; unless the Lord guards the community, he keeps watch in vain who guards it).

Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai berikut “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga”.

Di sini terkandung suatu makna penting bahwa titik tolak dari segala sesuatu adalah kehendak Tuhan. Kita bisa saja bekerja keras, membanting tulang, setiap hari, setiap jam, setiap saat, akan tetapi jika hal yang kita lakukan bukan berada dalam kehendak Tuhan akan sia-sia saja.

Bukankah sangat tragis orang kaya yang tidak dapat menikmati kekayaannya? Kekayaannya kemudian yang menikmati adalah orang lain: dokter (karena yang bersangkutan terlalu lelah lalu jatuh sakit), psikolog/psikiater (karena yang bersangkutan mengalami depresi karena sibuk memikirkan ini dan itu), apotek (karena harus membeli obat), dan lain-lain.

Bukan berarti saya mengatakan semua orang kaya pasti seperti itu, akan tetapi pada intinya yang terpenting adalah tahu benar kehendak Tuhan bagi kita. Entah kita kaya atau tidak, asalkan kita menghidupi kehendak Tuhan bagi kita dalam setiap harinya, maka kita adalah orang yang berbahagia.

Apakah orang kaya berarti tidak hidup sesuai kehendak Tuhan? Jangan salah kaprah ya. Orang hidup sesuai kehendak Tuhan itu bukan ditentukan oleh kekayaannya. Contohnya: Yohanes Pembabtis yang miskin itu hidup sesuai kehendak Tuhan. Daud yang kaya, itu juga hidup sesuai kehendak Tuhan.

Jadi bukan berarti kalau kaya itu hidup sesuai kehendak Tuhan dan kalau miskin itu tidak hidup sesuai kehendak Tuhan. Juga berlaku sebaliknya. Apapun kondisi kita, selama kita setia melakukan firman-Nya dan menaruh iman percaya kita kepada Kristus, itulah melakukan kehendak Allah.

Itulah sebabnya Kristus katakan ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Inti dari kehendak Tuhan adalah kita melakukan firman-Nya.

Ada satu hal yang menarik yang saya temukan ketika sedang chatting dengan seorang teman. Melakukan kehendak Tuhan berarti melakukan saja; bukan berpikir-pikir, bukan berasa-rasa. Seperti Abraham yang ketika disuruh mempersembahkan Ishak sebagai kurban padahal Abraham meminta dengan sangat seorang anak.

Kalau berpikir-pikir, semestinya Abraham akan mengurungkan niatnya. Ya, anaknya ini dia minta dengan sangat kepada Allah. Masa diminta kembali? Tidak masuk akal bukan?

Kalau berasa-rasa, semestinya Abraham akan merasa marah, sedih, kesal, kecewa dengan Allah. Ya, ini anaknya yang sudah dia tunggu-tunggu, mengapa diminta kembali? Tapi Abraham tidak berpikir-pikir, tidak berasa-rasa; ia setia melakukan kehendak Allah. Akhirnya sampai hari ini namanya tercatat sebagai Bapa orang beriman.

Kehendak Tuhan bagi kita ada dalam firman-Nya. Jika satu hari kita melakukan 1 firman dan setiap hari kita melakukannya, berarti dalam satu tahun ada 365 firman yang kita genapi.

Anggaplah umur kita sekarang 30 tahun. Berarti kalau dikalikan sudah berapa? Di atas 10.000 firman. Jangankan 10.000 firman, jika kita setia melakukan 1 firman saja, itu kita sudah menjadi orang yang berbahagia. Bayangkan kalau kita melakukan 10.000 firman.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, asalkan kita masih pegang erat tangan Tuhan, maka semuanya tidak menjadi masalah. Asalkan Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita, maka apapun yang terjadi itu baik adanya.

Nisi Dominus frustra (if not the Lord, [it is] in vain). Jika bukan Tuhan, maka itu semua sia-sia. Mari kita menembus batas pemikiran dan perasaan kita untuk setia melakukan firman-Nya, karena itu kehendak-Nya bagi kita.

Iklan

Comments on: "Bukan Berpikir-pikir, Bukan Berasa-rasa" (9)

  1. Amin! Semua di rencanakan baik adanya buat kita.. Walau kdg kala kenyataan ngga spt yg kita inginkan..

    • Kalaupun tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tapi kalau itu yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita pasti ada maksud Tuhan di baliknya. Kadang yang kita inginkan yang menurut kita baik, enak, menyenangkan bagi kita; tapi Tuhan yang paling tahu yang terbaik bagi kita. Seperti obat, memang pahit, tapi itu membawa kesembuhan bagi kita.

  2. hiks…. justru ini yg bikin gw pusing mo ngapain seuda kuliah… no clue at all…

    • Sambil tunggu lulus, ya mulai doa tanya Tuhan lu harus kemana :). Plus kalau memang niat kerja ya mulai susun lamaran. Biasanya apa yang Tuhan mau, ga jauh dari yang lu usahain. Kalau memang di luar itu, pasti dikasih tau kog. Cuma kuncinya ya banyak2 tanya dan minta kepekaan.

  3. gw ga peka sama sekali… nanya ny uda dari smster7 padahal.. huff… gpp lah i like surprise. hahaha…

  4. Thx masukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: