All for Glory of Jesus Christ

Jiwa

Hari ini sebenarnya sudah ada topik lain untuk dibahas, tapi ketika saya di gereja tiba-tiba ada satu hal yang menyeruak dalam pikiran saya.

“Mengapa manusia senang dengan hal-hal yang menimbulkan rasa enak?”

Sekejap saya mendapat jawabannya: karena memang dalam jiwa manusia terdapat unsur perasaan (emosi) sehingga membutuhkan pemenuhannya dalam bentuk pencarian rasa enak itu. Saat itu saya tertegun beberapa saat, kemudian membuat saya mengerti akan suatu hal yang saya sering tanyakan kepada diri sendiri.

Itulah sebabnya manusia cenderung suka akan hal-hal yang menyenangkan dirinya. Itu sebabnya firman yang lunak itu cenderung disukai. Teologi kemakmuran dan kesuksesan cenderung laris manis, sementara doa Habakuk sangat minim sekali diperdengarkan dalam gereja.

Doa Habakuk itu adalah doa yang mencakup bahwa seandainya kondisi diri tidak dalam keadaan makmur (dalam keadaan sulit, miskin), maka Habakuk akan tetap memuji Tuhan, tetap akan bersuka cita karena Tuhan.

Tadi pagi sedikit berbeda dari kebiasaan setiap minggu, saya dan ibu saya tidak beribadah pada pukul 07.00, tetapi pada pukul 09.15. Ya, karena memang pada umumnya dari tahun ke tahun pada pagi hari kami sulit meninggalkan rumah pada hari Lebaran karena biasanya jalan dekat rumah kami digunakan untuk ibadah Idul Fitri.

Tetapi ternyata saya tidak menyesal datang pukul 09.15, ya saya mendapatkan satu jawaban untuk pertanyaan mendadak saya. Manusia dalam jiwanya setidaknya terdapat tiga unsur, yaitu pikiran (rasio), perasaan (emosi), dan kehendak. Ketiga inilah yang membentuk manusia, Anda dan saya sehingga menjadi manusia-manusia yang unik.

Dalam jiwa manusia selalu rasio, emosi, dan kehendak bermain bersama. Jika kemudian terjadi pertanyaan:

“Salahkah gereja jika memberikan sesuatu yang dapat memenuhi rasa enak dan rasa menyenangkan?”

Jawabannya: Tidak! Tapi jika hanya itu saja, maka sayang sekali. Masih ada dua aspek lain, yaitu rasio dan kehendak. Jika hanya aspek rasa saja yang disentuh, akibatnya akan timbullah suatu kecanduan untuk terus memenuhi aspek rasa terus.

Akibatnya aspek rasio dan kehendaknya jadi tumpul. Bagaimana jika mengedepankan aspek rasio? Itu salahkah? Tentu saja tidak! Aspek rasio merupakan salah satu yang terdapat dalam jiwa manusia, jelas ini pun perlu disentuh.

Tapi jika melulu hanya aspek rasio saja yang disentuh, maka jadilah manusia-manusia tanpa perasaan, dingin, tanpa simpati kepada orang lain. Bahkan karena rasio manusia terbatas, sulit sekali bagi manusia untuk dapat mengerti segala hal.

Lewat perasaan, Allah membuat manusia dapat menerima hal-hal yang berada di luar jangkauan akalnya. Lewat perasaan pula, Tuhan membentuk manusia untuk bisa berhubungan baik dengan sesamanya.

Manusia karena diciptakan menurut image Allah, jelas merupakan makhluk yang luar biasa. Satu-satunya makhluk yang dapat mengenali Allah, memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan Tuhan, ya karena dalam manusia ada roh.

Selain roh, aspek perasaan dalam jiwa manusia juga berfungsi untuk menggapai saat aspek rasio tidak dapat menalar sesuatu. Jadi rasio dan perasaan sengaja ditanam Allah untuk membuat manusia lengkap. Allah tidak menjadikan robot-robot tanpa perasaan, juga tidak menjadikan manusia tanpa otak yang tak bisa berpikir, namun menjadikan manusia yang lengkap: dapat merasa dan dapat berpikir.

Kedua hal itu kemudian bekerja sama untuk menyentuh satu aspek lain dalam jiwa: kehendak. Kehendak sendiri dapat bekerja tanpa rasio dan perasaan menyentuhnya, yaitu saat tubuh atau roh bekerja untuk menyentuhnya.

Kebutuhan atau keinginan tubuh dapat mengaktivasi kehendak bekerja. Contoh: tubuh lapar, maka kehendak bekerja untuk makan dan memenuhi kebutuhan itu. Begitu pula dengan kebutuhan dan keinginan roh. Contoh: roh selalu memiliki kebutuhan dan keinginan untuk menyembah sesuatu yang lebih tinggi, dalam hal itu kehendak akan bekerja untuk memenuhi hal itu.

Pada manusia yang telah menerima Tuhan, maka kehendak menyembah Tuhan akan bekerja. Jika belum, maka kehendak menyembah ini akan dipenuhi untuk menyembah sesuatu hal.

Jelas dalam segala sesuatu perlu adanya keseimbangan. Perasaan, pikiran, dan kehendak yang ditanam Tuhan dalam jiwa manusia jika tanpa pengendali yang benar akan menjadi kacau. Oleh karena itu selain tubuh dan jiwa, manusia dikaruniakan roh. Bahkan bagi orang yang telah menerima Kristus, roh ini diperlengkapi dengan Roh Kudus sendiri, Allah sendiri.

Permasalahannya adalah: jika kita (Anda dan saya) mengaku sebagai orang yang telah menerima Kristus, maka kita harus hidup dalam tuntunan Allah sendiri. Jika perasaan, pikiran, dan kehendak kita saat ini tidak sesuai dengan tuntunan Allah, maka mau tidak mau, suka tidak suka haruslah kita paksa untuk berjalan dalam tuntunan Allah.

Jadi bukan lagi memanjakan rasa enak, rasa senang, rasa bahagia. Bukan pula memanjakan pikiran masuk akal, pikiran mudah. Juga bukan memanjakan kehendak mampu melakukan sesuatu. Tapi intinya adalah: apapun yang kita sedang rasakan, apapun yang sedang kita pikirkan, apapun yang kita kehendaki, semua harus berpusat pada melakukan kehendak Allah dan berada dalam tuntunan Allah.

Itulah yang dikatakan sebagai menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan setiap hari. Tidak peduli kondisi apapun yang terjadi, tidak perlu suasana hati seperti apapun yang dirasakan, tidak peduli kecamuk pemikiran apapun yang berlomba-lomba di dalam benak, tidak peduli ingin melakukan sesuatu atau tidak, inilah tantangan kita: menembus batas jiwa kita dan melakukan kehendak Tuhan: hidup dalam tuntunan-Nya.

Siap?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: