All for Glory of Jesus Christ

Paradoks

Saya sedang memikirkan sesuatu. Mengapa hal-hal yang bersifat paradoks justru sekarang kian marak terjadi? Contoh: acara-acara yang tidak bermuatan nilai positif, bahkan bersifat degradatif terhadap nilai-nilai luhur bangsa, itulah yang marak di layar kaca sekarang ini.

Tayangan menyuguhkan kekerasan, mistik, horor, caci maki, perendahan harkat dan martabat; itulah yang banyak sekali ditayangkan di sana. Sayangnya karena memang saluran televisi hanya ada sekian saja, jadi yah penonton dipaksa (dibuat menurut?) untuk menonton tayangan semacam itu.

Bukankah hal yang paradoks kalau kita setiap hari mencoba berpikir positif, memasukkan hal-hal yang baik, benar, manis, indah, penuh kebajikan, layak dipuji ke dalam otak kita; sementara pada saat yang sama kita menonton, mendengar, membaca hal-hal yang bersifat kebalikannya?

Oh ya, sebelum lupa, siapa tahu ada yang belum tahu artinya paradoks. Dari wikipedia, saya mengambil definisinya adalah sebagai berikut:

Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi.

Jadi bukankah suatu hal yang paradoks kalau seseorang menyuruh orang lain berhenti merokok padahal dirinya ternyata juga merokok? Paradoks juga kalau seseorang mengatakan salah kalau orang lain yang berpacaran dan belum memikirkan pernikahan, padahal dirinya sendiri juga seperti itu: dalam keadaan berpacaran dan belum memikirkan pernikahan.

Alangkah mudahnya menilai sesuatu dari kondisi orang lain, akan tetapi saat diri sendiri memasukkan kondisi pada kondisi orang lain; nahhh… saat itulah baru terasa situasi yang sesungguhnya. Sungguh mudah untuk mengatakan A, B, C; akan tetapi saat menjalani situasi yang sama.. apakah mudah mengatakan A, B, C?

Paradoks tidak selalu bersifat negatif. Tuhan Yesus dalam pengajarannya juga mengajarkan hal-hal yang paradoksial. Contoh salah satu paradoks yang diajarkan Tuhan Yesus: ketika Nikodemus seorang pemimpin agana Yahudi datang pada Tuhan Yesus untuk mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah seorang guru yang diutus Tuhan karena mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus tidak mungkin dilakukan oleh orang pada umumnya jika tanpa penyertaan Allah.

Herannya Tuhan Yesus bukannya menyambut hal itu dengan riang atau senang hati, tetapi malah menyambut hal itu dengan suatu pernyataan yang sangat aneh. Tuhan Yesus malah mengatakan mengenai seseorang tidak mungkin melihat Kerajaan Allah jika tidak dilahirkan kembali.

Dalam pikiran Nikodemus, kelahiran kembali itu sesuatu yang paradoks karena tidak mungkin seseorang akan dilahirkan kembali. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah besar lalu harus masuk ke dalam rahim ibu dan lahir kembali? Tapi justru hal-hal paradoks itu yang digunakan Tuhan Yesus untuk memulai diskusi.

Ketika dijelaskan lahir baru adalah bukan masuk ke dalam rahim ibu, tetapi lahir dari air dan Roh atau dengan kata lain adalah pertobatan yang sungguh-sungguh. Bertobat secara sungguh-sungguh berarti menyangkal daging, memikul salib, dan mengikut Kristus setiap hari.

Saat menyangkal daging (bisa berbuat dosa, tapi tidak berbuat dosa); saat itulah kita menghidupi roh dan dipimpin oleh Roh. Semakin sering kita mengikuti daging kita, semakin kita membuat roh kita perlahan-lahan mati.

Salah satu paradoks yang paling terkenal di Indonesia adalah mengenai dunia yang semakin lama semakin gila dan orang yang tidak ikut gila tidak akan bisa ikut maju di dalamnya. Masalahnya kalau semua orang sudah gila, bagaimana bisa ikut maju? Bukankan seni tampil beda itu justru yang menjadi suatu daya tarik yang besar?

Dunia ini justru membutuhkan orang-orang waras yang bisa menjungkirbalikkan semua ramalan edan itu. Dunia ini membutuhkan orang-orang dengan kesadaran penuh untuk dapat membuat perbedaan. Dunia ini butuh orang-orang yang dipimpin oleh nilai-nilai yang tak pernah akan surut oleh perubahan zaman. Pada akhirnya dunia ini butuh Tuhan.

Di tengah semua paradoks yang terjadi, inilah tantangan kita. Untuk membawakan jawaban kepada dunia yang haus dan lapar. Maukah kita menjadi penembus batas paradoksial dunia: sebagai garam dan terang dunia?

Iklan

Comments on: "Paradoks" (8)

  1. Paradoks. Ya, saya rasa itu kata kunci bagi kita. (Jangan menjadi serupa dgn dunia ini!) Nice writing! 😉

  2. “Jadi bukankah suatu hal yang paradoks kalau seseorang menyuruh orang lain berhenti merokok padahal dirinya ternyata juga merokok? Paradoks juga kalau seseorang mengatakan salah kalau orang lain yang berpacaran dan belum memikirkan pernikahan, padahal dirinya sendiri juga seperti itu: dalam keadaan berpacaran dan belum memikirkan pernikahan.” –> ini bukan ny hypocrite ya?

  3. blackenedgreen said:

    Changed the theme, it worked…yay!… anyway…

    Yang agak mengkhawatirkan, bagi orang-orang di seberang sana, blog-blog, tulisan-tulisan, ide-ide seperti inilah yang merupakan paradox.

    “Apa salahnya dengan caci maki, pornografi, mistik, kekerasan? mereka laku dijual!” Sama njelimetnya dengan orang-orang yang mengisi sejarah manusia, mereka punya “pijakan” sendiri yang mereka pakai untuk menilai segala sesuatu. Persepsi bisa jadi fakta, dan paradox? yep, segala macam tembok yang dari sudut mereka berpijak, dianggap absurd.

    Tapi semuanya itu kan hanya bisa-bisanya manusia saja, misalnya, apa betul sih kelakuan kita selama ini yang mengukur tata surya menggunakan waktu, mungkin mahluk mars (kalau ada) bisa ketawa ketiwi waktu dengerin guru fisika kita menjelaskan konsep waktu.

    Tuhan bisa jadi sangat simpel, bisa jadi sangat kompleks, manusia selamanya bingung, disitu hebatnya. Kalau bicara batas paradoxial manusia, batas yang mana? Untuk memberikan jawaban kita harus tahu pertanyaannya, dan menyelami cara pikir mereka, kenapa pertanyaan itu sampai muncul.

    Mmmm, hanya penilaian subjektif saja, selama ini gereja sepertinya memutuskan untuk tidak bertindak head-on. Gereja membawa kebenaran? Tentu, tapi menutup telinga terhadap conviction pihak lain cukup menyedihkan juga. Seperti gagal mendapatkan sampel racun dari ular yang sangat berbisa, hanya karena ular itu sepertinya terlalu menjijikkan untuk “ditangani”. Padahal bakalan banyak yang bisa ditolong dengan antidote itu.

    Menjadi penembus batas paradoxial manusia? Saya mau, dan saya masih belajar melakukannya, juga tentang paradox. Apakah Tuhan akan menolong saya? ngg, saya tidak begitu perduli, juga segala macam berkat, pahala, saya merasa ini adalah tugas wajib tiap-tiap manusia. Saat Yesus datang lagi nanti dan menepis semuanya ke abyss, saya cuma berharap satu saja: semua pertanyaan saya terjawab, bagi saya pribadi, itu adalah berkat terbesar, walaupun jika nantinya saya dilempar ke neraka sekalipun. Saat itu, tidak ada lagi paradox.

    Ceers!

    • Tuhan pasti menolong setiap orang yang mau hidup dalam ketetapan-Nya. Terhadap orang berdosa pun Ia tetap menolong, apalagi terhadap orang yang mau berjalan dalam rancangan dan jalan-Nya. Yah, kalau mau menilai sesuatu memang tidak ada yang sempurna, kecuali Tuhan. Bahkan saat kita melihat pada diri kita sendiri, semakin dalam kita melihat ke diri kita semakin banyak ketidaksempurnaan yang kita lihat di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: