All for Glory of Jesus Christ

Judul ini saya ambil dari pengalaman pribadi saya. Saat mengalami kegagalan dalam hubungan, saya kadang kala berpikir betapa buang-buang waktu untuk mencintai. Yah, mengingat yang lalu memang terasa menyesakkan.

Pernahkah berada dalam hubungan yang tidak seimbang? Merasa memberi terus dan tidak pernah menerima? Merasa dituntut terus untuk berubah sementara pasangan tidak mau berubah? Pernahkah merasa frustasi karena cinta yang tulus diberikan ternyata dicampakkan begitu saja?

Padahal sudah menerima apa adanya, berusaha memenuhi harapan pasangan, berusaha menjalin hubungan yang baik dengan pihak keluarga pasangan, selalu memikirkan kepentingan pasangan di atas kepentingan diri sendiri. Pernahkah Anda berada dalam posisi seperti itu?

Pernahkah berpikir bahwa apakah maksud Tuhan dengan semua ini? Mengapa Tuhan memberikan perasaan cinta dan mengapa kalau Ia tahu itu hanya membawa luka, mengapa tidak Ia stop saja?

Pernahkah berpikir bahwa waktu mencintai ternyata tidak tepat? Karena si dia ternyata telah memiliki pasangan tetap (istri/suami) namun ternyata mengaku sebagai seorang single. Kondisi lain memang single, tetapi tidak mungkin menjadi pasangan kita karena ternyata terlibat hubungan yang rumit dengan seseorang.

Lebih rumit lagi ketika harus berbesar hati menyatukan pasangan suami-istri yang di ambang perceraian. Ketika harus menuntun sang suami untuk bertobat. Ketika harus membukakan mata seseorang mengenai indahnya hidup di tengah kekecewaan. Ketika harus membela seseorang yang berbohong demi arti hubungan baik keluarga, bahkan setelah hubungan itu usai.

Bahkan yang lebih tragis lagi ketika hubungan berakhir atau tidak mungkin terjadi, seseorang itu mengatakan:

“Sangat beruntung orang yang mendapatkan kamu.”

Akan tetapi betapa ironis dan paradoksnya karena ternyata walaupun ia mengatakan hal tersebut, ia tidak mau menjadi orang yang sangat beruntung itu.

Ah, ketika melihat ke belakang memang terasa menyakitkan. Ya, semua itu pernah saya alami. Sakit? Hahahaha, jelas. Bahkan saya sering berpikir seperti di judul artikel hari ini:

“Buang-buang waktu saja mengalami cinta, memikirkan cinta, memberikan cinta. Untuk apa, kalau pada akhirnya harus mengalami sakit? Bahkan setelah memberikan cinta dengan tulus dan menerima apa adanya.”

Terkadang kalau tenggelam pada nostalgia masa lalu, mengingat yang telah lewat terasa menyesakkan dada. Kenangan akan cinta yang hancur, harapan yang tak terwujud, impian yang musnah.. ah tragis.

Hanya saja dari saat ngobrol-ngobrol bersama dengan seorang teman baru saya, saya mendapatkan suatu pemikiran baru. Tidak pernah membuang waktu untuk mencintai. Mengalami cinta itu adalah salah satu berkat, karena tidak semua orang bisa mencintai.

Entahlah mungkin saya termasuk orang yang bebal atau terlalu optimis, tetapi setiap kali hubungan itu gagal… setelah melewati fase sedih-bangkit, saya selalu percaya bahwa suatu hari saya akan menemukannya. Saya percaya bahwa seseorang di sana telah Tuhan ciptakan untuk saya. The perfect one, the right one, the one for me.

Mungkin saya termasuk orang yang hopelessly romantic, sehingga saya percaya hal semacam itu. Tapi pengalaman orang tua saya, juga pengalaman kakak-kakak saya, pengalaman teman-teman saya; semuanya membentuk saya untuk percaya hal itu.

Saat ini saya masih menunggu “the one”. Beberapa waktu lalu, saya berpikir telah menemukannya. Seseorang yang terpisah jauh sekali lokasinya dengan saya. Setiap kali berkomunikasi dengan dirinya, saya merasa sangat terhubung dengannya.

Seseorang yang saya kagumi, sahabat baik, seseorang yang saya sungguh bangga bisa berkenalan dengannya. Seseorang yang pada saat yang sama mengantarkan saya untuk semakin mencintai Tuhan Yesus.

Saya waktu itu berpikir telah menemukan “the one”. Dia memenuhi setiap hal yang saya pikirkan mengenai diri seorang pasangan hidup, bahkan sampai ke aspek terkecil. Memang dia tidak sempurna, tapi setidaknya saya belum pernah menemukan orang yang semengagumkan dirinya.

Sayangnya ternyata saya hanya bermimpi. Dia bukan “the one”. Saya tidak tahu apakah memang dia bukan “the one” untuk saat ini atau untuk selama-lamanya. Tetapi menerima kenyataan itu, sungguh tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Terasa begitu melelahkan, terasa begitu menyakitkan, terasa begitu membuang-buang waktu. Sampai ketika saya berbicara dengan teman saya itu, dia mengatakan tidak pernah membuang waktu untuk mencintai.

Belajar mencintai berarti belajar menerima bahwa tidak selalu orang yang kita cintai akan mencintai kita juga. Seperti yang pernah saya tuliskan dalam sebuah puisi, mencintai berarti belajar, mengetahui, bertumbuh, dan memberi.

Tidak selalu dalam belajar sekali jadi alias langsung pintar. Tidak selalu dalam suatu proses dapat langsung mengetahui. Tidak selalu dalam suatu proses akan bertumbuh pesat. Tidak selalu memberi itu akan menerima kembali dari orang yang sama.

Hanya saja, setelah saya renungkan memang tidak pernah buang-buang waktu untuk mencintai seseorang. Mungkin cinta itu tidak kembali pada saya, tetapi setidaknya cinta itu tinggal dalam diri orang itu.

Yah, proses perjalanan panjang, walau penuh air mata; namun juga membawa saya pada pemahaman akan sejumlah karakter manusia. Membawa saya pada pengenalan sejumlah individu baru yang terkait; baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dari suatu proses ke proses lain memang setidaknya saya belajar satu atau lebih hal. Saya belum menguasai semua hal berkaitan dengan cinta, hidup, dan manusia. Bahkan mungkin sampai akhir hidup, saya mungkin belum akan menjadi ahli dalam bidang itu. Tetapi kesempatan untuk belajar dan bertumbuh, itulah kesempatan yang diberikan saat mencintai.

Apakah hatimu sedang sakit? Apakah cintamu terkoyak? Apakah impian dan harapanmu musnah? Jangan kuatir, percayalah walaupun sekarang hatimu sakit, suatu hari kau akan menemukan cinta sejati itu.

Kuncinya adalah: beranikah kau menembus batas untuk memulihkan dirimu, berani mencintai lagi, melepaskan belenggu masa lalu, dan terus melangkah menyongsong cinta sejati itu?

Cinta sejati pasti pernah kita rasakan. Dari Tuhan, dari orang tua, dari sahabat-sahabat kita: cinta tanpa pernah pamrih, tidak meminta balasan, cinta penuh ketulusan. Jika kita berani menembus batas luka dan kepedihan, untuk berdamai dengan masa lalu kita, dan melangkah maju; suatu hari nanti pasti kita akan menemukan cinta sejati itu.

Saya percaya cinta sejati itu ada. Saya percaya pasangan saya, “the one” sudah ada di suatu tempat. Saya menantang Anda untuk menembus batas: beriman dan melangkah untuk menggapainya.

Beranikah Anda?

Iklan

Comments on: "Buang-buang Waktu untuk Mencintai" (12)

  1. Santi santi 😀
    at least lo ngalahin gw, karena dulu gw ge er sama orang yg jam 3 pagi bela-belaim kirim balasan email ke gw. ha ha ha
    bisa mencintai adalah anugrah, at least lo tahu diri lo normal 😉 dan mampu banget untuk mencintai orang dengan cara yg benar dan seksama, so next time, orang lain mo bilang apa, yg tahu kebenarannya adalah diri kita sendiri.

    • Hahahah, at least gua ga menyesal karena udah berusaha mencintai sebanyak yang gua bisa. No regret at all sih walau kadang kalau melihat ke belakang suka mikir betapa ga adilnya dunia hahahaha :).

  2. hmm…. klo gw, gw belajar banyak. yahh walaupun hub ny harus berakhir, tapi gw pikir gw ga akan jadi gw yg sekarang kalau gw ga ngelewatin semua ny itu.

    justru yg gw rasa sia2 tuh 4taun belakangan ini. mungkin karena gw merasa semua yg gw laku in belakangan ini membuahkan hasil. hahaha…

    @c santi : btw, ga adil dmn ny c?

    • Hahaha, good for you. Emang sih gua blajar banyak sekali kog :). Jadi seperti yang g bilang, ga pernah buang2 waktu kog untuk mencintai, walaupun hasilnya tidak sesuai yang gua harapin.

      Hmm… yah terlalu panjang kalau diceritain. Intinya: saat lu udah tulus sayang sama seseorang, berusaha mendukung, menerima apa adanya bahkan saat terburuk dia; tapi ternyata balasannya benar2 menyakitkan.. yah ga adil kan :).

  3. hmm… sebener ny keadilan tuh relatif. tergantung acuan kalo kata einstein.

  4. kalo kata dosen logika :
    Tuhan itu Adil.
    Hidupmu diatur Tuhan.
    berarti Hidup itu Adil. hahahahahaa 😀

  5. Dalil 0 : Jokes dont need to make sense

  6. saya ga mampu berkata apapun, tapi apa yang menjadi rasa kesakitan mu, saya yakin adalah penyesalan seumur hidup org tersebut. GOD BLESS U

    • Saya sekarang sudah tidak terlalu merasa sakit kog, hanya kalau melihat ke belakang kadang-kadang saja jadi berpikir kog bisa begitu. Biasa kalau sedang melankolisnya keluar, ya suka melihat ke belakang dan merenung. Tapi saya percaya, kalau memang bukan jodoh saya berarti bukan yang terbaik. Saya percaya Tuhan sudah menyiapkan seorang pria yang luar biasa dan terbaik untuk saya di depan. Thanks untuk responnya yang sangat simpatik. Gbu too.

  7. good deal or GOD deal, itulah manusia kadang merasa bahwa pilihannya baik tapi belum tentu menurut Tuhan baik. mungkin hal ini juga terjadi dengan orang tersebut. hanya saja mungkin alasan nya untuk tidak berhubungan lagi sangat terburu buru. who knows? but keep it on girl, u diserved to have a wonderfull life.

    bless u sista santi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: