All for Glory of Jesus Christ

Sensasi

Hmm jadi tergelitik buat nulis ini. Tadinya saya menulis untuk http://utopiavision.blogspot.com, tapi ternyata malah jadi panjang lebar hahaha. Jadi ya sudah, saya pindahkan ke sini saja untuk artikel hari ini. Saya perhatikan beban hidup itu mendorong orang untuk mencari sensasi dengan cara berbeda-beda. Sensasi tentunya untuk menghilangkan beban hidup itu, tapi ternyata bukannya menghilangkan atau setidaknya mengurangi malahan membuat suatu beban baru yang lainnya (baca: masalah baru).

Rutinitas bagi sebagian orang terasa begitu membosankan. Lalu kemudian dicarilah sensasi demi sensai untuk mengurangi atau menghilangkan rutinitas itu. Contoh: yang pacaran/menikah sesudah berjalan sekian lama mulailah merasa pacaran/menikah sebagai suatu hal yang rutin, biasa, monoton, hilang greget.

Untuk mengatasi kebosanan akibat rutinitas (baca: beban) itu, akibatnya mulailah dicari sensasi demi sensasi. Mulai dari mencari TTM (teman tapi mesra) atau HTS (hubungan tanpa status), PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain) (dua istilah ini buat yang sudah menikah biasanya), Pelacur (pelayan curhat, tapi bisa juga dalam arti sesungguhnya) yang dari curhat bisa berlanjut ke jalan bareng akhirnya perselingkuhan dimulai.

Ah, ah, ah, masalahnya saat si TTM, HTS, PIL, WIL, Pelacur sudah menjadi bagian dari rutinitas; pada akhirnya siklus yang sama akan berulang kembali. Mencari TTM, HTS, PIL, WIL, dan Pelacur baru untuk mengurangi/menghilangkan rutinitas (baca: beban). Begitu seterusnya, begitu seterusnya.

Fiuh mengetikkan dan membayangkannya saja sudah membuat saya merasa capek. Di sini saya bukan sedang menuding atau menuduh, tapi hanya ingin menggelitik dan menanamkan suatu pengertian.

Bagi yang pacaran, ya itu bukan titik akhir memang. Masih ada pilihan untuk putus jika memang hubungan tidak berjalan dengan baik. Akan tetapi, jika memang masih ada kemungkinan untuk diperbaiki dan berjalan terus, mengapa tidak pilihan itu yang diambil?

Tertarik dengan yang lain itu tidak menjadi alasan untuk mengakhiri hubungan. Mengapa demikian? Karena saat memulai hubungan dengan yang baru tapi masih dengan pola berpikir dan pola sikap yang sama, hanya akan menghasilkan sesuatu yang sama.

Pacaran bukanlah ajang coba-coba. Bukanlah ajang trial and error. Bukan ajang untuk fit dan proper test. Saya sudah pernah bahas mengenai Tujuan Pacaran di sini. Kalau memang mau fit dan proper test seharusnya itu terjadi pada saat sebelum pacaran. Istilahnya dalam masa penjajakan (pengenalan lebih jauh, pendekatan/PDKT). Bahkan saya pribadi lebih menyarankan untuk fit dan proper test itu dilakukan satu tahap sebelumnya lagi: pada masa perkenalan.

Pacaran itu adalah sarana untuk menuju pernikahan. Jadi sudah semestinya pacaran pun mencerminkan hal itu. Bukan dalam hal sex-nya (karena sex hanya kudus saat pernikahan), tetapi dalam hal komitmen, belajar untuk menerima perbedaan, untuk melakukan langkah-langkah saling mencocokkan (karena tidak ada 2 orang yang benar-benar cocok 100%, yang ada adalah 2 orang yang berusaha untuk menjadi cocok). Hal itu hanya dapat dilakukan setelah sekian waktu berjalan dan juga dengan komitmen penuh: kesetiaan.

Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau, tetapi rumput sehijau itu jelas perlu perawatan. Bukankah lebih menarik bila melihat rumput kita pun sehijau itu (atau lebih hijau); bukan karena mencoba rumput lain terlebih dahulu tetapi dengan berusaha menjadikan rumput kita sehijau itu dengan perawatan dan juga dengan kerja keras. “Hijau” pun itu sifatnya relatif.

Rutinitas, kebosanan, beban? Ah, itu hanya ada dalam pikiran saja. Hal yang ada dalam pikiran itupun relatif sifatnya. Apalagi bagi yang sudah menikah, itu berarti Anda sudah di “no turning back point”, titik tidak ada lagi jalan kembali. Dengan menanamkan seperti itu, berarti Anda akan berjalan terus ke depan dan tidak memilih jalan lain: seperti bercerai atau mencari PIL atau WIL misalnya.

Mencintai itu pilihan. Mencintai itu tindakan. Semakin kita memilih dan bertindak untuk mencintai, semakin kita memupuk cinta itu. Dalam pilihan dan tindakan, terdapat ketetapan hati untuk membuat suatu perubahan.

Dari salah satu status di facebook teman saya, saya memperoleh kutipan ini:

“Banyak orang berpikir untuk mengubah dunia, tapi tidak ada orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.”

Ah kutipan yang sangat menggelitik. Kitalah dunia yang perlu diubah. Saat cara pandang kita diubah, saat itu pula hati kita akan diubahkan. Itulah sebabnya dikatakan:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Di situ yang ditulis adalah pembaharuan budi, bukan pembaharuan perasaan. Mengapa bukan pembaharuan perasaan? Karena perasaan mudah sekali berubah, sementara pikiran kita tidak demikian.

Saat pikiran kita diubahkan, perasaan kita juga diubahkan. Juga kehendak kita akan dibentuk untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Mengasihi bukanlah rutinitas. Mengasihi bukanlah beban. Setia bukanlah rutinitas. Komitmen bukanlah rutinitas. Setia dan komitmen adalah karena mengasihi.

Siap menembus batas untuk mengatasi rutinitas (beban) hubungan dengan cara pandang Allah?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: