All for Glory of Jesus Christ

Pagi

Satu bulan sudah usai. Bulan September sudah berlalu. Sekarang kita memasuki bulan baru. Bulan baru berarti kita memasuki tema baru. Sebelum saya menjelaskan mengenai tema artikel bulan ini, saya akan menceritakan sesuatu terlebih dahulu.

Kembali saya ingin mengatakan bahwa:

“There’re no coincidences in God.”

Ya, tidak ada kebetulan dalam Tuhan. Hal ini sudah seringkali saya sebutkan dalam artikel saya, baik di blog ini maupun di blog yang lain. Mengapa demikian? Karena memang tidak ada kebetulan dalam Tuhan.

Kembali hari ini saya dengan tidak bosan-bosannya ingin menuliskan hal itu. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan dengan penetapan tema artikel bulan ini. Setiap akhir bulan biasanya saya merencanakan tema bulanan yang baru.

Karena tema bulan kemarin adalah “Menembus Batas”, saya kemarin berpikir tema yang kira-kira pas untuk menyambung tema bulan kemarin. Hmm… saya tidak mengerti, tapi saya hanya menemukan satu tema, yaitu “Walk with You” (“Berjalan Bersama-Mu”).

Saya pada waktu menemukan tema yang baru sebenarnya agak ragu-ragu. Saya berusaha berpikir keras untuk mencari alternatif tema yang lain, namun tidak berhasil. Mengapa saya menjadi ragu-ragu dengan tema baru ini dan berusaha keras untuk mencari tema yang lain?

Alasannya karena saya pikir “Menembus Batas” itu dari segi topik bulanan maupun harian, bersifat relatif lebih keras dibandingkan topik bulanan dan harian dari artikel bulan-bulan sebelumnya. Sehingga saya pada saat mencari tema bulanan yang baru, saya mencari topik yang lebih keras lagi sebenarnya.

Akan tetapi, ya seperti yang saya sudah ceritakan, ternyata saya hanya menemukan satu tema, yaitu “Walk with You”. “Walk with You” merupakan tema yang lembut dan manis, sementara “Menembus Batas” merupakan tema yang keras dan menyentak.

Oleh karenanya tema bulan lalu dan bulan ini sangat kontras. Karena saya kemarin ragu-ragu, saya belum menyusun topik harian sampai hari ini. Akan tetapi, pembicaraan dengan seorang teman memberikan konfirmasi pada saya bahwa ini adalah topik yang tepat.

Ya, saya memang sudah biasa setiap hari berbincang-bincang dengan teman saya melalui messenger saya. Hari ini saat berbincang-bincang, tiba-tiba teman saya memberikan link dari suatu forum. Isi link itu adalah kesaksian dari seseorang yang mengalami hidupnya diubahkan dan disentuh Tuhan secara luar biasa.

Kesaksian-kesaksiannya sungguh menyentuh hati. Saya meneteskan air mata ketika membacanya. Bagi Anda yang berminat silakan membacanya di sini. Teman saya memberikan beberapa link, namun menurut saya yang paling menyentuh adalah yang link-nya saya sertakan di sini.

Begitu saya sudah selesai membaca keseluruhan kesaksian yang dituliskan di link tersebut, saya benar-benar yakin bahwa “Walk with You” merupakan tema yang tepat. Karena itu siang hari ini juga saya langsung menyusun topik harian, yang mengantar kita kepada topik hari ini.

Apa yang Anda rasakan pada pagi hari? Ketika terjaga dari tidur yang lelap, dengan selimut yang membungkus tubuh. Kehangatan masih begitu lekat terasa. Kenyamanan kamar, gelapnya sinar mengundang untuk kembali tidur.

Setidaknya itu yang saya rasakan. Hening, nyaman, hangat; setidaknya ketiga kata itu yang dapat saya katakan berkaitan dengan pagi. Kelembutan bantal, guling, dan ranjang, kenyamanan seprai dan selimut yang membungkus; ah nikmatnya.

Pagi adalah suatu awal yang baru bagi setiap hari. Pagi juga awal untuk setiap kali menyapa seorang sahabat akrab: Bapa, Yesus, dan Roh Kudus. Saat pertama terjaga dan menikmati kehangatan kamar, itulah saat teduh yang paling lembut namun paling intens yang saya rasakan.

Sambil berbaring menikmati masuknya hari baru, mengobrol dalam hati dengan Tuhan. Setelah itu, menikmati mengobrol dengan diri sendiri. Semua itu pada pagi hari.

Kemudian alarm mulai menjerit, kehangatan pun harus ditinggalkan dan mulai bersiap menjelang hari. Ya, jika hari itu saya harus mengajar, saya akan bersiap-siap dahulu. Setelah beres semuanya, saya akan meluangkan waktu sejenak untuk membaca firman Tuhan untuk hari itu. Baru akhirnya berangkat.

Jika saya tidak harus mengajar hari itu, saya akan menikmati pagi yang lebih panjang dan baru membaca firman Tuhan setelah benar-benar terjaga. Pagi merupakan masa persiapan bagi datangnya hari.

Kita semua mengalami pagi dalam hidup kita. Pagi baik yang sudah saya jelaskan, yaitu awal dari setiap hari, namun juga “pagi” yang lain yang belum saya jelaskan. Pagi sebagai masa persiapan bagi datangnya hari, begitu pula “pagi” bagi hidup kita: persiapan bagi kehidupan kita.

Bila kita akan ujian, jelas kita akan mempersiapkannya dengan cara belajar. Bila kita akan bekerja, jelas kita akan mempersiapkannya dengan memastikan tidak datang terlambat dan memastikan rencana kerja hari itu sudah disusun. Bila kita akan menjalankan bisnis, jelas kita akan mempersiapkannya dengan memastikan ketersediaan barang/jasa, mengaturnya, merencanakannya.

Bagi yang melajang dan menemukan seseorang yang tepat, jelas akan mempersiapkan diri untuk memasuki masa pengenalan yang lebih intens (yang biasa dikenal dengan masa pacaran dan tunangan). Bagi yang sudah memiliki kekasih, akan mempersiapkan diri untuk memasuki masa pernikahan. Bagi yang sudah menikah, akan mempersiapkan diri untuk memasuki masa menjadi orang tua.

Bagi yang menjadi orang tua, akan mempersiapkan diri menjadi kakek dan nenek. Bagi kakek dan nenek, akan mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya.

Memang fase-fase itu bisa saling melengkapi. Mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya memang tidak selalu pada saat sudah menjadi kakek dan nenek atau dengan kata lain sudah berumur lanjut, tapi memang harus dari sekarang kita persiapkan. Hanya saja saya menuliskan dalam bentuk rentetan fase yang umum terjadi demikian.

Pagi merupakan momen penentuan akan hari selanjutnya. Hal yang kita siapkan itu menentukan hari kita. Jika pagi kita matang, kita menjalani hari dengan lebih mudah. Jika masa persiapan kita matang, tahap selanjutnya berjalan dengan lebih lancar.

Pagi selain merupakan masa persiapan, juga merupakan momentum yang menyentak. Ketika beralih dari tidur ke terjaga, terdapat suatu fase terjaga. Untuk beralih dari kehangatan kamar ke dinginnya cuaca pagi, terdapat fase terbangun. Ketika alarm berbunyi sebagai penanda pagi, itulah momentum penyentak.

Untuk bisa mempersiapkan hidup, pada umumnya kita membutuhkan pagi: momentum yang menyentak itu. Hal-hal yang membuat kita tersadar, terdorong, terpacu, termotivasi untuk mempersiapkan hari dan hidup; itulah pagi.

Itulah sebabnya penting pada pagi, kita mengisi pikiran kita setiap hari dengan firman Tuhan. Mengapa? Karena kita butuh sentakan yang akan membuat kita tersadar, terdorong, terpacu, termotivasi untuk melangkah pasti di tengah ketidakpastian.

Selain firman Tuhan, Tuhan bisa berbicara dengan banyak cara: lewat kata-kata lembut dalam hati, lewat perkataan orang lain, lewat kejadian, lewat film, lewat buku, dan lain-lain. Akan tetapi, untuk mudahnya dan bersifat umum, saya sarankan firman Tuhan sebagai media untuk momentum penyentak hari dan hidup kita.

Setiap hari berjalan bersama Tuhan, kita membutuhkan Dia untuk mempersiapkan hari dan hidup kita. Kita membutuhkan Dia untuk pagi. Apakah Anda sedang dalam pagi? Jangan lupa untuk selalu mengikutsertakan Tuhan.

Nikmati pagi bersama-Nya. Masuklah dalam pagi bersama-Nya. Berjalanlah bersama Tuhan setiap hari, termasuk dalam pagi Anda.

Selamat pagi!

Iklan

Comments on: "Pagi" (1)

  1. that is true,dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan,karena dalam hidup ini sudah berlaku semua hukum-hukum dan ketetapan Tuhan,ada unsur sebab dan akibat dari semua yang terjadi dibumi ini.Begitupun dalam diri manusia itu,akan jadi apa dan bagaimana manusia itu nantinya bergantung dari apa yang ia lakukan pada masa sekarang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: