All for Glory of Jesus Christ

Tangis

Hari-hari ini Indonesia, negeri kita tercinta sedang menangis. Tangisan pilu karena gempa yang melanda: di Padang, lalu disusul dengan gempa di Gorontalo dan Manokwari. Tangisan demi tangisan memenuhi negeri ini.

Melihat korban demi korban jatuh bergelimpangan, rumah dan bangunan yang hancur, bahkan kesulitan setelah pascagempa: kesulitan makanan, air bersih, obat-obatan; Indonesia sungguh menangis.

Saya menulis diiringi oleh suara hujan yang mengalir dengan deras. Membasahi bumi yang kering, seolah-olah ingin mengatakan turut menangis pula. Ah yang terakhir itu tentu saja saya hanya mendramatisasi.

Tangis merupakan suatu bentuk ekspresi jiwa yang terdalam: kepedihan, sakit, terluka, kehilangan, simpati; walaupun kegembiraan dan sukacita juga bisa diekspresikan dalam bentuk tangis. Tangis sebetulnya merupakan representasi emosi karena larut dalam suatu situasi.

Mungkinkah Anda menangis jika Anda tidak larut dalam suatu situasi? Melihat film, membaca buku, mendengarkan lagu, kotbah, cerita, puisi, atau apapun juga; hal-hal yang bahkan tidak bersentuhan dengan hidup kita tapi saat hal itu kita larut di dalamnya menyebabkan tangis menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi.

Tangis sesungguhnya adalah anugerah Tuhan bagi kita. Dalam suatu penelitian diungkapkan bahwa usia harapan hidup wanita dan pria ternyata untuk wanita memiliki harapan hidup lebih tinggi daripada pria. Hal ini ternyata karena wanita dapat mengekspresikan emosinya dengan lebih bebas daripada pria, terutama dalam hal menangis.

Dalam kultur patriakhi yang begitu kuat, pria diindoktrinasi untuk tidak menangis. Sedari kecil, kepada seorang anak laki-laki ditanamkan bahwa seorang laki-laki haruslah kuat. Dipatrikan dalam sanubari dan hati yang paling dalam dalam diri setiap anak laki-laki bahwa menangis merupakan bentuk kelemahan.

Padahal, setiap pria dilahirkan dengan juga memiliki perasaan: dapat sedih, dapat sakit, dapat kecewa, dapat terluka, dapat kehilangan. Pria berhak untuk menangis. Bukan berarti saya mendorong pria untuk setiap menghadapi sesuatu lalu menangis. Tidak demikian. Hanya saja jika memang menghadapi kondisi yang begitu menekan, tidak ada salahnya bagi pria untuk menangis.

Tangis merupakan ekspresi yang melepaskan. Terutama saat berhadapan dengan situasi yang menguncangkan dan kehilangan yang teramat sangat, tangis sangat berguna untuk meluapkan emosi yang terpendam.

Emosi yang terpendam bisa bersifat korosif (menggerogoti) jika tidak menemukan penyaluran yang wajar. Emosi terpendam yang ditumpuk secara terus-menerus bahkan akan dapat meledak secara tidak terkendali hanya karena dipicu oleh suatu kejadian kecil.

Akibatnya akan sungguh fatal. Ledakan emosi biasanya akan menimbulkan banyak kehancuran: baik material (kalau melibatkan benda-benda tertentu), tubuh (jika melibatkan menyakiti secara fisik), dan jiwa (jika melibatkan menyakiti secara jiwa).

Tangis bisa merupakan suatu bentuk kasih. Lebih mudah bagi kita untuk menangis bagi seseorang yang dekat di hati kita daripada menangis untuk seseorang yang tidak kita kenal.

Hal ini dengan gamblang dinyatakan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus, yaitu demikian: Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.

Karena begitu besar kasihnya untuk jemaat itu, sampai-sampai ia mencucurkan air mata. Bahkan seorang wanita menangis untuk mencuci kaki Tuhan Yesus, karena ia begitu mengasihi-Nya.

Hal ini dicatat dalam Lukas, yaitu: Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

Tangisan ternyata bisa merupakan ekspresi kasih yang begitu besar. Air mata untuk membasahi kaki Tuhan Yesus, untuk membersihkan kotoran yang mungkin menempel. Tangis melambangkan hati yang mau berkorban untuk membuat orang lain menjadi lebih baik.

Berjalan bersama Kristus, tidak berarti hidup kita akan mulus, lancar, dan baik-baik saja. Berjalan bersama Kristus, bisa saja hidup kita berisi dengan tangis juga. Hanya saja ketika tangis itu hadir dalam hidup kita, kita tahu bahwa kita menangis bukan percuma.

Karena setiap apapun yang terjadi dalam hidup kita, jika itu Ia izinkan pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Kalaupun saat ini Anda sedang menangis dan hari-hari Anda diliputi dengan air mata, tetaplah berjalan bersama dengan-Nya. Mari kita berjalan senantiasa bersama Tuhan, walaupun dalam tangis sekalipun.

Comments on: "Tangis" (2)

  1. SAYA juga turut berdukacita atas kejadian yang meninpa saudaara kita,tapi saya percaya semuanya itu tidak terjadi secara kebetulan,pasti ada rencana indah dari Tuhan dibalik semuanya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: