All for Glory of Jesus Christ

Diam

Sebelumnya saya sudah pernah menulis artikel dan lagu dengan judul yang sama, namun dalam penulisan yang agak berbeda, yaitu menggunakan huruf kapital semua. Kali ini saya akan menuliskan artikel dengan tidak menggunakan huruf kapital semua.

Apakah Anda adalah orang yang pendiam? Jarang berbicara sama sekali? Apakah Anda adalah orang yang sama sekali tidak pendiam? Selalu berbicara setiap saat?

Diam merupakan suatu tindakan tidak berbicara sama sekali. Di kitab Amsal dikatakan: Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri. Jadi sangat jelas di sana bahwa diam merupakan suatu hal yang baik jika dibandingkan dengan menghina orang lain.

Di sana bahkan dikatakan orang yang diam sebagai dikatakan orang yang pandai, berakal budi. Mengapa bisa dikatakan demikian? Saat diam, kita bisa memikirkan hal yang lebih tepat dikatakan atau dengan diam kita bisa lebih fokus dan terarah dalam menghadapi suatu permasalahan.

Seorang teman saya merupakan seseorang yang benar-benar ahli mempraktekkan diam ini. Teman saya ini memang bukan orang yang emosional, namun tegas dan sangat efektif dalam hidupnya dari yang saya simpulkan. Memiliki banyak kesibukan dalam keluarga, di tempat kerja, maupun di gereja, namun ia merupakan orang yang sangat peduli pada orang lain.

Saya menemukan bahwa ia sangat pandai dalam mendengarkan orang lain. Saat orang berbicara, ia diam. Mendengarkan dengan seksama dan diam saja. Ketika sudah selesai, barulah ia akan membahas segalanya dengan runtut.

Terkadang ia hanya membahas sedikit saja, tetapi yang dia katakan sungguh mengena. Saya sangat kagum kepadanya. Ia merupakan orang yang sangat sibuk, tetapi sangat efektif dalam kehidupannya.

Saya hari-hari ini sedang diajarkan untuk diam. Diam juga bicara mengenai tenang dalam pikiran, kondisi yang tenang, dan terkendali. Bicara masalah diam dalam kategori yang satu itu, saya bisa dibilang belum berhasil.

Mengapa demikian? Karena saya memiliki kecenderungan untuk berpikir, menganalisis, dan berpikir lagi. Untuk bisa tenang saja dalam pikiran, agak sulit bagi saya. Pada akhirnya saya menemukan bahwa diam merupakan solusi yang terbaik.

Untuk bisa diam memang diperlukan menjaga pikiran. Saat pikiran mulai tidak dijaga fokusnya dengan baik, saat itu berbagai pemikiran dan analisis bisa mulai melanda. Padahal pemikiran dan analisis saja tanpa suatu fakta, bukti, atau tindakan yang mendukung tidak akan mengubah kondisi yang terjadi.

Akibatnya adalah lelah dan letih. Diam sangat bermanfaat untuk mengistirahatkan diri dan memperoleh semangat kembali. Saat diam, saat itulah kita bisa lebih mendengar suara Tuhan. Saat kita terlalu “berisik”, baik dalam kata-kata ataupun dalam pikiran, sulit bagi kita mendengar suara Tuhan.

Suara Tuhan yang saya maksudkan adalah firman Tuhan. Seperti sudah saya bahas sebelumnya, suara Tuhan bisa disampaikan melalui berbagai macam cara, tetapi saya hanya akan membahas cara yang paling umum.

Saat berdiam diri dan saat pikiran tenang, barulah kita dapat mencerna firman Tuhan dengan lebih baik. Saat kita sibuk berbicara ke sana kemari atau saat kita sibuk berpikir ini dan itu, sulit bagi kita untuk bisa mengerti firman Tuhan.

Hal yang sering terjadi saat hal itu dilakukan, entah kita tidak mendapatkan apapun dari membaca firman Tuhan atau kita memaksakan pengertian dan pemikiran kita sendiri.

Diam juga bisa merupakan tindakan tidak berbuat apa-apa. Diam dalam kategori ini baik pada saat kita memang sedang mempertimbangkan sesuatu. Tidak diam sebelum diam merupakan kecerobohan. Mengertikah Anda maksud saya? Hehehe, tidak apa-apa kalau tidak mengerti, karena saya sengaja untuk menggelitik pikiran Anda.

Tidak diam yang saya maksudkan adalah bertindak dan diam dalam arti di sana adalah dalam arti tenang, mendengarkan, melihat kemungkinan yang ada. Jadi arti kalimat tadi sesungguhnya adalah: bertindak dahulu sebelum mempertimbangkan adalah kecerobohan.

Berapa banyak orang yang melakukan hal itu kemudian menyesal? Hal yang menarik dicatat dalam Keluaran: TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja. Asyik sekali bukan kalau itu yang terjadi?

Bukan berarti diam itu merupakan simbol kemalasan. Diam di sini lebih ke ungkapan bijaksana dan taat, ikut kehendak Tuhan; walaupun mungkin kita memiliki ide yang “lebih baik” untuk bertindak sesuatu. Mengapa kata “lebih baik” itu saya beri tanda kutip? Karena memang hal yang menurut manusia lebih baik, belum tentu benar lebih baik menurut Tuhan.

Salah satu bukti diam yang luar biasa adalah ketika Tuhan Yesus ditangkap, Ia tetap diam; tidak membalas, tidak melarikan diri, juga ketika ditanya ia tetap diam. Sebenarnya jika Tuhan Yesus mau pergi, sangat bisa sekali. Jika Tuhan Yesus mau memberikan bukti, bahwa Ia adalah Allah sendiri, itu juga bisa sekali.

Kalau begitu, mengapa Ia tetap diam? Ia tetap diam karena Ia terlalu mengasihi manusia: Anda dan saya. Ia tetap diam supaya kita semua dapat diselamatkan, dapat mengalami hidup yang baru. Ia diam demi kita semua dapat dibebaskan dari belenggu dosa.

Berjalan bersama Tuhan, kita akan melewati berbagai macam hal. Berjalan bersama Tuhan, tidak selalu hal yang manis dan menyenangkan yang kita alami. Jika memang kita perlu diam, diamlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: