All for Glory of Jesus Christ

Bicara

Berkaitan dengan topik hari ini, saya jadi teringat kepada keponakan saya yang masih kecil. Walaupun masih kecil, tetapi ia sangat pandai bicara. Terkadang seperti seorang yang sudah besar saja, sangat menggelitik memperhatikan hal yang dibicarakannya.

Kemampuan berbicara seseorang berkembang pesat mulai dari kanak-kanak sampai dewasa. Dari bayi yang belum bisa berbicara apapun, kemudian mulai mengucapkan kata pertama, lalu sampai bisa merangkai kata. Semakin bertambah besar umumnya kemampuan berbicara seseorang semakin bertambah.

Bicara merupakan suatu bentuk komunikasi. Dalam komunikasi terdapat dua jenis komunikasi, yaitu lisan dan tulisan. Bicara merupakan bentuk komunikasi lisan. Dalam berbicara, tidak cukup hanya melibatkan kata-kata saja, tetapi juga melibatkan intonasi, kuat/lemah suara, bahkan sampai ke bahasa tubuh.

Bicara merupakan suatu aspek yang penting dalam hidup kita. Begitu pentingnya sampai-sampai ada dikatakan: Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Ada suatu nasehat menarik dari teman ayah saya yang sudah meninggal. Saya mendengar nasehat ini dari ayah saya. Begini nasehatnya: berbicara itu tidak bayar, jadi jangan sungkan-sungkan untuk menyapa. Setidaknya ada empat hal yang perlu diingat, yaitu mengucapkan salam, “terima kasih”, “maaf”, dan permisi.

Suatu nasehat yang sederhana, namun maknanya sangat dalam. Salam yang diucapkan (“pagi”, “siang”, “sore”, “malam”) sebenarnya kalau mau dimaknai berarti kita mengucapkan doa bagi yang kita ucapkan salam. “Selamat pagi” artinya kita mendoakan orang tersebut untuk mengalami pagi yang menyenangkan. Begitupun untuk “selamat siang”, “selamat sore”, dan “selamat malam”.

“Terima kasih” bermakna kita menerima kasih yang diberikan oleh seseorang kepada kita. Kasih yang diberikan itu bisa dalam bentuk barang, bisa dalam bentuk pujian, bisa dalam bentuk bantuan apapun. “Terima kasih” juga menyatakan penghargaan kita akan hal yang dilakukan atau dikatakan orang lain kepada kita.

“Maaf” bermakna kita bersungguh-sungguh menyesal. “Maaf” bermakna dengan kerendahan hati mengakui bahwa orang lain lebih benar, lebih mampu, lebih baik, dll. “Maaf” juga bermakna kita menyadari bahwa diri kita keliru dan berniat untuk memperbaikinya.

“Permisi” bermakna kita meminta izin dari seseorang. “Permisi” juga bermakna ungkapan sopan santun dan menghargai orang lain. “Permisi” bisa juga bermakna sebagai bentuk sapaan.

Alangkah banyak makna yang terkandung dari sejumlah kata yang sehari-hari kita umum jumpai. Itu baru empat kata saja namun maknyanya sudah sangat banyak. Bicara, selain untuk berkomunikasi, juga berguna untuk menjalin hubungan, memupuk pengertian, dan untuk mencapai tujuan.

Saya belum bisa menemukan satu bidang pun dalam hidup ini yang tidak membutuhkan bicara di dalamnya. Di Mazmur banyak dibahas mengenai bicara. Kita sebaiknya bicara dengan: jujur dan berhikmat. Keduanya telah pernah dibahas sebelumnya. Silakan dicari di daftar isi blog jika Anda berminat.

Kita bisa berlatih bicara. Karena manusia adalah makhluk kebiasaan, semakin kita sering berlatih semakin pandailah kita. Ini juga termasuk dalam berbicara. Jadi kecuali orang yang memang sedari lahir mengalami kelemahan tubuh dalam hal kemampuan berbicara (tuna wicara), seharusnya semua orang dapat dan pandai berbicara.

Musa yang tidak pandai bicara ternyata bisa juga berbicara karena Allah membantunya. Jadi memang selalu ada dua jalur, yaitu supra (karena kuasa Allah) dan natural (karena usaha manusia). Seperti sudah saya bahas, jika supra bergabung dengan natural, itulah hal yang luar biasa.

Tuhan Yesus sendiri berbicara dengan sangat luar biasanya dalam pengajaran-Nya. Ia menggunakan bahasa lambang, perumpamaan, dan cerita dari kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang sederhana yang diucapkan Tuhan Yesus ternyata begitu sarat makna dan jika dibedah bisa begitu banyak makna yang dapat diambil.

Ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Jika memang kita harus berdiam diri, diamlah. Jika memang kita harus berbicara, berbicaralah. Saat berjalan bersama Tuhan, sepanjang jalan kita perlu berbicara, berkomunikasi kepada-Nya. Ia Allah yang peduli yang mengerti dan mau menerima kita apa adanya.

Kekecewaan, kesedihan, kebingungan, kegembiraan, kebahagiaan, semua itu bisa kita ungkapkan kepada Tuhan. Berbicaralah dengan Tuhan di sepanjang jalan dan biarkan perjalanan yang panjang jadi tak terasa.

Siap berbicara?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: