All for Glory of Jesus Christ

Melompat

Saya tiba-tiba jadi teringat suatu kejadian mungkin sekitar 7 tahun yang lalu. Waktu itu saya pergi berenang bersama teman saya. Di kolam renang itu sepi dan hanya ada saya dan teman saya. Ada satu papan lompat di situ.

Teman saya begitu tenangnya untuk melompat. Ia menantang saya untuk melompat. Saya baru tahu bahwa saya ternyata takut ketinggian. Padahal waktu itu jarak antara papan lompat dengan air tidak terlalu jauh. Ketika teman saya terus menyuruh saya melompat dan panas matahari begitu menyengat, akhirnya saya putuskan untuk melompat juga.

Entahlah tiba-tiba saja saya jadi teringat pengalaman itu. Untuk melompat bagi teman saya yang tanpa rasa takut, mudah saja baginya. Tetapi bagi saya yang begitu takut, ternyata dibutuhkan dorongan untuk melakukannya.

Dalam perjalanan hidup kita berjalan bersama Tuhan, seringkali kita dihadapkan pada tantangan untuk melompat. Melompat selain butuh keberanian, juga butuh pertimbangan. Hanya keberanian saja bisa-bisa celaka.

Bayangkan kalau teman saya melompat dengan tidak melihat-lihat posisi papan lompat. Bisa-bisa dia terantuk dan lebih mengerikan lagi adalah kemungkinan untuk tenggelam.

Melompat butuh suatu hentakan yang kuat untuk melakukannya. Untuk dapat melompat dibutuhkan suatu pijakan yang mantap. Kalau seseorang sedang dalam kondisi bersemangat, tidak ragu-ragu, dan tidak takut, akan lebih mudah bagi yang bersangkutan untuk melompat.

Bagaimana kalau seseorang sedang dalam keadaan lemah, penuh pergumulan, merasa tidak yakin dengan hal yang sedang dihadapinya? Tentu dibutuhkan suatu penopang, pijakan, dan dasar yang kuat.

Hari ini luar biasa sekali kotbah yang saya dengarkan di gereja. Saya pikir ini pas sekali untuk saya bagikan di sini. Pendeta yang hari ini berkotbah membagikan demikian.

Setiap orang percaya memiliki Roh Kudus, Allah sendiri di dalam dirinya namun banyak orang lupa akan hal itu. Hal ini terutama semakin terasa ketika kondisi penuh tantangan dan pergumulan (tahun-tahun kering) menerpa.

Mengapa hal ini terjadi? Dibahas bahwa manusia karena dikaruniai panca indera, membuat manusia menjadi terbiasa untuk mengukur segala sesuatu berdasarkan panca inderanya.

Akibatnya ketika menghadapi Tuhan yang terlalu besar untuk ditangkap dengan panca indera, manusia juga tetap terbiasa untuk memakai panca indera untuk mengetahui keberadaan Tuhan. Sehingga ketika tahun kering tiba, manusia jadi lupa bahwa Tuhan selalu beserta dengannya.

Hal yang lebih menarik lagi dikatakan bahwa ada dua hal yang bisa membuat manusia tetap ingat bahwa Tuhan selalu berserta dengannya. Pertama adalah sikap hati yang positif dan tidak melulu hanya melihat hal yang buruk yang ada. Hal ini hanya mungkin terjadi jika didasari oleh iman, bahwa Allah selalu beserta kita.

Kedua adalah kreativitas. Dalam masa sukar, sikap positif yang diasah dengan kreativitas akan membuat orang dapat bertahan menghadapi berbagai tantangan yang ada.

Saya sungguh terberkati oleh kotbah hari ini. Kotbahnya tidak bertele-tele, tidak memanjakan emosi, namun sarat dengan makna dan sangat menggugah kesadaran.

Sebuah kata yang menginspirasi bisa menjadi suatu pendorong untuk bangkit kembali. Seorang teman yang mendukung bisa menjadi cambuk penyemangat untuk maju terus, di tengah segala situasi yang tidak menguntungkan. Sebuah kotbah yang menghentak pikiran, itu bisa membangkitkan dan membakar semangat untuk tidak kalah dalam kondisi apapun.

Tuhan bisa berbicara dalam cara apapun. Bisa lewat kotbah, bisa lewat ucapan seorang teman atau bahkan orang asing yang tidak Anda kenal sekalipun, bisa lewat film, bisa lewat pembacaan firman Tuhan yang Anda lakukan sendiri atau bersama dengan sesama saudara seiman, bisa lewat hal-hal sehari-hari yang terjadi di sekitar Anda, atau bahkan dengan suara halus yang Anda dengar di dalam hati Anda.

Itulah suatu pendorong untuk kita senantiasa maju. Untuk melompat saat memang kita harus melompat. Untuk melompat butuh penopang, pijakan, dan dasar yang kuat. Salah melompat fatal. Jika Tuhan sudah berbicara kepada kita, melompat sajalah!

Kalau memang Tuhan yang arahkan, Ia juga yang akan bertanggung jawab sampai akhir. Ia adalah Allah yang tidak pernah mengecewakan anak-anak-Nya. Ia Allah yang melindungi dan membentuk anak-anak-Nya.

Bila memang Anda sedang dalam pergumulan untuk melompat, Anda tidak sendiri. Pastikan Anda memiliki penopang, pijakan, dan dasar yang kuat untuk melompat. Setelah itu, melompatlah.

Siap melompat?

Comments on: "Melompat" (1)

  1. siap. saya melompat. bersama Tuhan Yesus Kristus akhirnya saya punya keberanian untuk melompat dalam kehidupan. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: